Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang menyela di tengah rapat menarik perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Sesaat kemudian, pintu terbuka diikuti seorang staf Arkatama muncul di baliknya
“Maaf mengganggu, Pak Ravian.”
Ravian mengangkat wajah. "Ada apa?"
“Pak Elang Mahesa sudah menyelesaikan penelaahan yang diminta Pak Raksa,” lapornya.
Sorot mata Gatra berubah tipis, sangat tipis sampai tidak ada yang menyadari perubahan itu sempat ada.
Ravian terdiam sesaat. Ia memang sudah tahu jika Elang ditempatkan di Arkatama Group untuk sementara, tetapi ia tidak tahu jika Elang juga akan masuk dalam pertemuannya dengan Vardhana.
“Persilakan masuk,” ucap Ravian akhirnya.
Staf itu mengangguk, kemudian melangkah mundur, beberapa detik kemudian Elang muncul membawa laptop dan sebuah map tebal.
Sejenak, tatapannya menyapu ruangan. Berhenti sebentar pada Gatra -pria yang pernah ia lihat di acara makan malam di kediaman Arkatama. Kemudian beralih pada Kresna. Ia belum pernah bertemu pria itu sebelumnya, tetapi tidak sulit menebak siapa Kresna Vardhana.
Elang memberikan anggukan sopan. “Maaf mengganggu pertemuan.”
Ravian menunjuk kursi kosong di sampingnya. “Duduklah.”
Elang mengangguk, lalu mengambil duduk di samping Ravian, meletakkan map serta laptop yang ia bawa di meja, menyalakannya, dan menghubungkannya dengan layar proyektor yang ada.
Kresna menatap Elang dari atas sampai bawah dengan tatapan skeptis yang disamarkan sempurna. “Maaf, Anda siapa?”
“Elang Mahesa. Analis Daneswara yang sementara ditempatkan di Arkatama.”
Alis Kresna terangkat. “Analis eksternal?”
“Benar,” jawab Elang.
Kresna tersenyum, menyiratkan usiran halus. “Kalau begitu mungkin laporan Anda bisa disampaikan setelah pertemuan ini selesai.”
Elang tidak tersinggung. Ia justru menarik satu lembar kertas dari map yang ia bawa, dan meletakkannya ke meja di sisi yang bisa dijangkau Kresna.
“Laporan saya berkaitan langsung dengan proposal yang sedang Bapak bicarakan.”
Kresna menoleh kepada Ravian. “Saya tidak diberi tahu pihak luar akan mengakses data kerja sama kita”
Elang belum menjawab ketika Gatra lebih dulu berbicara. “Itu juga yang ingin saya tanyakan.”
Tatapan Gatra berpindah ke Elang. “Sejauh apa akses yang Anda gunakan?”
Elang menarik lembar berbeda dari mapnya dan kembali meletakkannya di meja. “Semua akses saya tercantum di sini.”
Gatra mengambilnya. Ravian ikut melihat.
Di lembar itu tertulis dengan jelas. Surat otorisasi penelaahan Vardhana Resources. Mendapatkan persetujuan dari kantor Direktur Utama, dan rekomendasi langsung Raksa selaku pendiri Arkatama Group. Batas akses serta tujuan pemeriksaan pun tercantum jelas.
Gatra membaca sampai bagian bawah. Tidak ada celah untuk meminta Elang pergi dari ruang pertemuan.
“Lanjutkan.” ucap Gatra akhirnya seraya meletakan lembar kertas itu ke meja.
Elang mengangguk. Ia menekan satu tombol pada keyboard yang membuat halaman pada laptop berpindah ke layar, membuat pandangan semua orang beralih dari Elang ke layar.
“Saya tidak menemukan masalah pada nominal penawaran,” Elang memulai.
Kresna tersenyum samar, merasa Elang dan Ravian tidak jauh berbeda. Namun kalimat berikutnya membuat ketenangan di wajahnya retak.
“Masalahnya justru ada pada alasan kenapa Vardhana bisa memberikan harga serendah itu.”
Elang membuka tabel pertama. “Dua dari empat jalur pasokan utama diubah. Salah satunya menggunakan perusahaan perantara yang baru berdiri sebelas bulan lalu.”
Elang menggeser dokumen.
“Perusahaan ini tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang sesuai dengan volume kontrak.”
Kresna langsung menyela. “Kami menggunakan fasilitas pihak ketiga.”
“Saya tahu.”
Jawaban Elang keluar begitu cepat, lalu ia membuka lembar berikutnya. “Itu justru masalah berikutnya.”
Senyum yang semula menghiasi wajah Kresna memudar. “Fasilitas pihak ketiga yang digunakan terdaftar atas perusahaan lain yang saat ini sedang menghadapi sengketa terkait asal bahan baku.”
Ravian menarik dokumen itu mendekat. Gatra ikut membaca.
Senyum di wajah Kresna lenyap. “Itu bukan perkara Vardhana.”
“Belum.” Elang balas menatap pria yang duduk di depannya tanpa kehilangan ketenangan. “Tapi kalau Arkatama menandatangani kontrak menggunakan jalur tersebut, risikonya ikut berpindah kepada Arkatama.”
“Risiko bisa dikelola,” sanggah Kresna.
“Tentu.” Elang mengangguk setuju, tapi kemudian melanjutkan. “Kalau nilainya sepadan.”
Ia membuka kalkulasi berikutnya. “Dalam skenario gangguan distribusi selama dua bulan saja, penghematan dua puluh tiga persen yang Bapak tawarkan akan habis untuk menutup biaya penggantian pemasok dan keterlambatan produksi.”
Ravian terdiam.
Kresna menatap angka di layar. “Itu perhitungan hipotetis.”
“Semua analisis risiko selalu dibuat sebelum masalah terjadi.” Elang menutup satu berkas. “Kalau menunggu sampai masalahnya nyata, itu bukan analisis. Itu laporan kerugian.”
Ruangan mendadak sunyi.
Ravian hampir tidak mampu menahan reaksi di wajahnya, kagum, terkejut, dan tak percaya, semua bertumpuk menjadi satu. Gatra menatap Elang lebih lama dari sebelumnya.
Kresna menyilangkan tangan. “Dan rekomendasi Anda?”
“Tidak melanjutkan proposal ini.,” jawab Elang tegas.
Kresna tertawa pendek. “Pak Ravian belum memutuskan.”
“Benar.” Elang tetap tenang. “Keputusan ada pada Pak Ravian. Tapi saya ditugaskan memberikan analisis, bukan mengatakan apa yang ingin didengar.”
Ravian menatap dokumen di tangannya. Semua yang beberapa menit lalu terlihat menguntungkan sekarang tampak berbeda.
Gatra mengetukkan jemarinya di meja. “Risikonya tetap bisa dinegosiasikan dalam kontrak,"
Elang menoleh pada Gatra. “Bisa. Asalkan Vardhana mengganti jalur pasokan bermasalah dan memberikan jaminan tanggung jawab penuh, tentu bisa dinilai ulang.” ia beralih pandang pada Kresna. “Apakah Vardhana bersedia?”
Kresna diam. Hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk memberi jawaban.
Elang mengangguk kecil. “Saya rasa itu sudah menjelaskan semuanya.”
Rahang Kresna mengeras. “Anda cukup berani.”
Elang tidak bereaksi.
Kresna melanjutkan. “Untuk seseorang yang bahkan bukan bagian dari keluarga ini.”
Elang hanya merapikan dokumennya. “Saya tidak dibayar untuk menjadi bagian dari keluarga Arkatama.” Tatapannya terangkat, bibirnya terukir senyum tipis namun menunjukkan ketenangan yang tak goyah sedikit pun.
“Saya dibayar untuk menemukan risiko sebelum Arkatama membayarnya dengan kerugian.”
“Pak Ravian," tatapan Kresna menajam saat pandanganya beralih dari Elang ke Ravian. “Saya datang untuk berbicara dengan orang yang memiliki kewenangan membuat keputusan.”
Ravian membuka mulut. Namun sekali lagi tekanan yang kembali ia rasakan membuat bibirnya terkatup rapat. Ia menatap Elang, beralih pada Gatra, kemudian ke Kresna dan berakhir di dokumen di meja.
Wajahnya kembali terangkat beberapa saat kemudian, tatapannya bertemu dengan Elang. Entah mengapa, sorot mata yang Elang berikan memberinya sedikit keberanian. Ada ketenangan dalam diri pemuda itu yang mengingatkannya pada ayahnya. Bedanya, kali ini ketenangan itu bukan untuk mengambil keputusan, melainkan seperti dorongan agar ia berani mengambil keputusan sendiri.
Pandangan Ravian beralih pada Kresna yang masih menunggu, mengembuskan napas pelan sebelum ia berkata dengan nada tegas untuk pertama kalinya.
“Arkatama tidak akan melanjutkan proposal ini.”
Kresna diam.
Ravian melanjutkan sebelum tekanan berikutnya kembali datang. “Saya tidak melihat alasan untuk mengambil risiko sebesar itu hanya demi harga yang terlihat lebih murah.”
Elang tidak bergerak, tetapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Kresna tertawa hambar. “Baik.” Ia berdiri diikuti dua stafnya. “Kalau itu keputusan Anda.”
Namun sebelum Kresna sempat mengambil proposalnya, Elang menggeser map tersebut ke arah salah satu staf Vardhana.
“Bawa kembali semuanya.”
Kresna menoleh.
Elang berdiri. “Arkatama tidak membutuhkan revisi ketiga untuk proposal yang sama.”
Udara dalam ruangan seolah membeku. Ravian menatap Elang.
Bahkan Gatra sedikit menyipitkan mata.
Kresna maju setengah langkah. “Anda sedang mengusir saya?”
Elang tidak tersenyum. “Pak Ravian sudah memberikan keputusan, saya hanya memastikan waktu semua orang tidak terbuang lebih lama.”
Wajah Kresna berubah dingin. Tatapannya bertahan beberapa detik pada wajah Elang. Cara pemuda di hadapannya berbicara dengan tenang membuat ia merasa seperti sedang berhadapan dengan Damar secara langsung.
“Siapa nama Anda tadi?”
“Elang Mahesa.”
Kresna mengangguk pelan. “Saya akan mengingatnya.”
Elang mengulurkan tangan ke arah pintu, sebuah gestur pengusiran halus. “Silakan.”
Tidak ada nada tinggi, tanpa ancaman, namun maknanya sangat jelas.
Pertemuan selesai tanpa pertemuan berikutnya.
. . .
. . .
To be continued...
semoga setelah ni kebenaran segera di bongkar biar si Bram mempertanggung jawab kan perbuatan ny ,,
ayoo kak zira jgn lama2 ,,