Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4.Dosen Baru di Depan Kelasku
Semalam setelah pertemuan itu, aku hampir tak memejamkan mata. Bayangan wajah Arga, sorot matanya yang tajam namun teduh, serta suara bicaranya yang tenang namun berwibawa terus berputar tanpa henti di dalam kepalaku. Aku masih tak percaya bahwa sosok yang baru saja kitemui adalah orang yang kelak akan mendampingi sisa hidupku. Perasaan bercampur aduk—antara takut, ragu, dan rasa penasaran yang entah mengapa semakin besar. Namun satu hal yang kusadari: pertemuan itu tak seburuk yang kubayangkan. Meski begitu, aku belum siap untuk sepenuhnya menerimanya. Masih ada waktu, pikirku. Masih ada waktu untuk mengenalnya lebih jauh.
Pagi itu, matahari bersinar terang menyapa kota. Aku bersiap berangkat ke kampus seperti biasa, berusaha menata kembali perasaanku agar tetap tenang dan fokus pada kuliah. Aku menyisir rambut rapi, mengenakan seragam almamater dengan rapi, lalu berangkat dengan perasaan yang berusaha kupertahankan agar tetap tenang. Di dalam mobil, pikiranku sempat melayang kembali pada sosok Arga, namun aku segera menggeleng pelan. Fokus dulu pada kuliah, Lisna. Anggap saja dia orang baru yang baru saja kamu kenal. Semuanya akan berjalan pelan-pelan.
Sesampainya di kampus, suasana sudah riuh dengan hiruk-pikuk mahasiswa yang berdatangan. Aku berjalan menyusuri lorong yang sudah sangat kukenal, menuju ruang kelas tempat mata kuliah Hukum Dasar akan dimulai. Teman sebangkuku, Rina, sudah menunggu di sana sambil melambaikan tangan riang.
"Lisna! Kamu datang juga! Katanya hari ini ada dosen pengganti, lho. Dosen kita yang biasa sakit, jadi digantikan sama dosen baru yang katanya baru saja pulang dari luar negeri," ujar Rina berbisik penuh antusias begitu aku duduk di sebelahnya. "Katanya sih masih muda, tampan, tapi sangat tegas. Banyak yang bilang dia cukup dingin dan tak banyak bicara. Kamu sudah dengar belum?"
Aku hanya menggeleng pelan sambil merapikan buku catatan di atas meja. "Belum tahu, Rin. Semoga saja beliau baik dan mudah dimengerti cara mengajarnya."
Tak lama berselang, suara bel pertanda masuk kelas berbunyi nyaring. Keributan di dalam kelas perlahan mereda. Semua mahasiswa duduk rapi di tempatnya masing-masing, menanti kehadiran sosok yang akan mengajar kami hari itu. Jantungku berdetak biasa saja, tak ada firasat aneh sama sekali. Aku sama sekali tak menyangka bahwa detik-detik berikutnya akan kembali menggoncang dunianya.
Pintu kelas terbuka perlahan.
Langkah kaki terdengar tegas dan berirama mendekati meja dosen di depan. Perlahan sosok itu melangkah masuk, berdiri tegak di hadapan kami semua, dan meletakkan map berkas di atas meja dengan tenang.
Seketika itu juga, napasku tertahan. Tubuhku terasa kaku terpaku di tempat. Mataku terbelalak lebar, tak mampu berkedip sedikit pun.
Di sana, berdiri sosok yang tak asing lagi bagiku. Wajah yang sama, rahang yang tegas, sorot mata yang tajam namun teduh, serta pembawaan yang penuh wibawa yang baru saja kitemui kemarin sore.
Itu Arga.
Arga adalah dosen baru kami.
Dunia serasa runtuh seketika di hadapanku. Rasanya seperti mimpi buruk yang tak mungkin terjadi. Jantungku berdegup kencang sekali, seakan mau meledak di dalam dada. Tanganku yang tadi memegang pena kini gemetar hebat, pena itu hampir terlepas dari genggamanku. Aku mencubit pelan lenganku, berharap ini hanyalah khayalan semata, namun sosok itu tetap berdiri tegak di sana, nyata dan tak terbantahkan.
Arga menatap seluruh ruangan dengan tenang, seakan tak terjadi apa-apa. Namun saat tatapannya jatuh tepat ke arahku, ada keraguan yang sekejap melintas di matanya, lalu digantikan oleh ekspresi yang tetap dingin dan profesional. Ia tak menunjukkan tanda-tanda mengenalku, seakan kami belum pernah bertemu sebelumnya.
"Selamat pagi, semuanya," ucapnya dengan suara yang sama persis seperti kemarin, namun kini terdengar lebih tegas dan berwibawa, menggema memenuhi seluruh ruangan kelas. "Perkenalkan, nama saya Arga Pratama. Mulai hari ini saya akan menggantikan Bapak Darto mengajar mata kuliah Hukum Dasar hingga beliau pulih kembali."
Suasana kelas hening seketika. Beberapa mahasiswi saling berbisik pelan, tampak terpesona oleh ketampanan dan wibawanya, namun aku hanya bisa duduk diam mematung, menelan rasa kaget yang luar biasa. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa calon suamiku sendiri ternyata adalah dosen yang akan mengajariku setiap hari? Mengapa takdir mempertemukan kami dalam keadaan yang begitu rumit dan tak terduga seperti ini?
Sepanjang jam kuliah berlangsung, rasanya aku tak sanggup mencerna apa pun yang ia sampaikan. Setiap kali ia berbicara, setiap kali ia melangkah melewati bangku-bangku kami, atau setiap kali pandangannya tanpa sengaja berpapasan dengan mataku, rasanya seolah ada aliran listrik yang menyambar sekujur tubuhku. Aku mencoba menunduk, berusaha menyembunyikan kegugupan yang nyata-nyata kurasakan. Rina yang duduk di sebelahku sesekali menoleh heran melihatku yang begitu diam dan pucat.
"Lisna, kamu kenapa? Mukamu pucat sekali. Sakit?" bisik Rina pelan.
Aku hanya mampu menggeleng lemah tanpa berani menatapnya. "Tidak apa-apa, Rin. Mungkin hanya sedikit kurang tidur."
Sementara itu, Arga mengajar dengan sangat baik. Penjelasannya runtut, cerdas, dan sangat mudah dimengerti. Ia menjawab pertanyaan mahasiswa dengan bijaksana dan tenang, namun tak sekalipun ia melirikku lebih lama dari pada mahasiswa lain. Ia bersikap seolah kami benar-benar orang asing yang baru pertama kali bertemu. Sikap profesionalnya begitu sempurna, hingga membuatku bertanya-tanya: apakah baginya pertemuan kemarin hanyalah sekadar formalitas perkenalan saja?
Jam kuliah yang terasa berjalan selamanya itu akhirnya usai. "Sekian untuk pertemuan pertama kita hari ini. Silakan pelajari kembali materi yang sudah saya jelaskan. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya," ucap Arga terakhir kali, lalu merapikan berkasnya dan berjalan keluar kelas dengan tenang.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, aku menghela napas panjang seakan baru saja mengangkat beban berat dari pundakku. Keringat dingin membasahi pelipisku. Pikiranku berkecamuk tak karuan. Betapa rumitnya takdir ini. Di luar kelas dia adalah calon suamiku, namun di dalam kelas dia adalah guruku yang harus kuhormati dan kuturuti. Dan sekarang, aku harus berhadapan dengannya setiap hari dalam situasi yang sangat membingungkan.
Aku menatap kosong ke arah pintu yang baru saja dilaluinya. Pertemuan ini sungguh tak pernah kubayangkan sama sekali. Dan entah mengapa, perasaan yang tadinya samar kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan menakutkan sekaligus menarik. Aku tahu, perjalanan ini takkan mudah. Dan aku baru saja menyadari, bahwa takdir kami ternyata telah terjalin jauh lebih dekat dari yang pernah aku duga.
bersambung...