Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22 - Di Depan Pak Hendra
Pagi itu, Arman datang ke rumah utama Wiratmaja dengan wajah kurang tidur.
Raka sudah lebih dulu tiba bersama Nadia. Pak Hendra yang memanggil mereka. Bu Lilis duduk di ruang tengah, wajahnya tegang. Tante Mira juga ada, membawa buku catatan kecil seperti orang yang sudah siap menghadapi rapat keluarga.
Arman berhenti di ambang pintu ketika melihat Nadia.
"Kenapa dia ikut?"
Nadia menyesap teh.
"Selamat pagi juga, Mas Arman."
Pak Hendra menatap putranya.
"Dia istri Raka. Masalahmu semalam datang ke rumah mereka. Jadi dia berhak hadir."
Arman ingin membantah, tapi melihat wajah ayahnya, ia menelan kata-katanya.
Bu Lilis berkata pelan, "Duduk, Man."
Arman duduk.
Pak Hendra tidak membuang waktu.
"Raka sudah menceritakan kejadian semalam. Sekarang saya ingin dengar dari mulutmu. Kamu mau menikahi Bella atau tidak?"
Arman mengepalkan tangan di atas lutut.
"Aku..."
Ia melirik Nadia. Nadia menatap balik tanpa ekspresi.
"Aku mau bertanggung jawab," katanya akhirnya.
Pak Hendra tersenyum dingin.
"Itu bukan jawaban. Kamu mau menikahi Bella atau tidak?"
"Mau."
"Dengan sadar?"
"Iya."
"Tanpa menyalahkan Bella setiap hari?"
Arman terdiam.
Tante Mira langsung mencatat sesuatu.
Arman menoleh.
"Tante, kenapa dicatat?"
Tante Mira mengangkat wajah.
"Karena keluarga ini terlalu sering lupa kata-kata sendiri."
Nadia hampir tertawa.
Bu Lilis memijat kening.
Pak Hendra melanjutkan, "Kalau kamu menikah dengan Bella, kamu tinggal di kontrakan yang sudah saya siapkan tiga bulan pertama. Setelah itu, bayar sendiri."
"Tiga bulan?" Arman berseru. "Ayah, mana cukup?"
"Cukup untuk orang yang mau belajar."
"Gaji bengkel kecil."
"Kalau kecil, belajar hidup kecil."
Arman menatap lantai.
Di kehidupan lalu, Nadia pernah mendengar kalimat serupa dari Pak Hendra kepada orang lain. Namun kepada Arman, dulu Pak Hendra terlalu sering lunak. Mungkin karena Arman cucu harapan. Mungkin karena keluarga terlalu ingin menutup kekurangannya dengan peluang.
Kali ini, aib datang terlalu terbuka.
Pak Hendra tidak bisa pura-pura.
Arman berkata pelan, "Aku masih mau daftar seleksi."
"Boleh. Tapi tidak dengan rekomendasi saya. Kamu daftar seperti orang lain."
Wajah Arman memucat.
"Ayah..."
"Kalau kamu memang layak, kamu akan lolos tanpa saya membersihkan jalan."
Bu Lilis tampak tidak tega.
"Pak, jangan terlalu keras. Arman tetap anak kita."
Pak Hendra menoleh kepadanya.
"Justru karena dia anak kita, jangan kita besarkan menjadi laki-laki yang mengira semua perempuan bisa dipakai menutup kesalahannya."
Bu Lilis terdiam.
Kalimat itu mengenai bukan hanya Arman, tapi juga dirinya. Semalam dan hari-hari sebelumnya, ia memang lebih sibuk mengukur kerusakan nama keluarga daripada luka Nadia.
Raka duduk diam, tapi Nadia merasakan bahunya sedikit rileks.
Pak Hendra berkata lagi, "Lamaran sudah dilakukan. Akad dua minggu lagi. Sebelum akad, kamu dan Bella ikut konseling pranikah di KUA. Saya tidak mau ada lagi drama lari tengah malam."
Arman mendengus.
"Bella yang lari."
Raka menatapnya.
"Dan kamu yang membuatnya lari."
Arman menatap pamannya.
"Om sekarang pintar sekali menilai."
Nadia meletakkan cangkir.
"Mas Arman, kalau tidak ingin dinilai, jangan tampil buruk di depan banyak orang."
"Aku tidak bicara denganmu."
"Tapi kamu bicara tentang kejadian di terasku."
Arman hendak membalas, tapi Pak Hendra memukul meja.
"Cukup!"
Ruangan langsung hening.
Pak Hendra berdiri.
"Arman, kamu pikir semua orang menyerangmu. Padahal semua orang sedang menahan akibat dari perbuatanmu. Kalau kamu terus merasa korban, saya bisa batalkan bantuan tiga bulan kontrakan itu."
Arman langsung diam.
Uang selalu lebih efektif daripada nasihat.
Nadia melihatnya dengan jelas.
Pak Hendra duduk kembali.
"Sekarang pulang. Mandi. Kerja. Sore nanti datang ke rumah Pak Darto, minta maaf pada Bella dan keluarganya atas kejadian semalam."
"Minta maaf?"
"Iya."
"Tapi dia juga..."
"Kamu mau saya ulang dari awal?"
Arman menutup mulut.
"Tidak."
Ia berdiri dan pergi tanpa menyalami siapa pun.
Bu Lilis memanggil, "Arman."
Arman berhenti sebentar, tapi tidak menoleh.
"Jangan lupa makan."
"Iya."
Jawaban itu pendek, dingin.
Setelah pintu tertutup, Bu Lilis memejamkan mata.
"Dia marah sekali."
Pak Hendra berkata, "Biar."
"Pak..."
"Lebih baik dia marah sekarang daripada menghancurkan perempuan lain setelah menikah."
Bu Lilis terdiam.
Tante Mira menutup buku catatannya.
"Aku setuju."
Nadia berdiri.
"Kalau begitu kami pamit."
Pak Hendra menatapnya.
"Nadia, maaf semalam mereka mengganggu rumah kalian."
"Saya sudah memberi batas, Pak."
"Saya dengar."
Pak Hendra tersenyum tipis.
"Bagus."
Bu Lilis tiba-tiba berkata, "Nadia."
Nadia berhenti.
"Ya, Bu?"
Bu Lilis tampak kesulitan. Bibirnya bergerak, tapi kalimat tidak langsung keluar.
Akhirnya ia berkata, "Kalau Raka batuk malam, ada obat yang biasa saya simpan. Nanti saya berikan."
Nadia menunggu.
"Terima kasih, Bu."
Bu Lilis mengangguk kaku.
Itu bukan permintaan maaf. Belum. Tapi bukan serangan juga.
Dalam perjalanan pulang, Raka tampak diam.
Nadia menoleh.
"Mas Raka kepikiran?"
"Sedikit."
"Tentang Arman?"
"Tentang Mas Hendra."
"Kenapa?"
Raka memandang jalan.
"Dulu dia tidak setegas itu. Mungkin kalau dia lebih tegas sejak awal, banyak hal tidak terjadi."
Nadia tahu Raka tidak hanya bicara tentang Arman. Ia bicara tentang dirinya sendiri. Tentang masa kecil, banjir, sakit, dan keluarga yang membungkus rasa bersalah dengan perlindungan.
"Orang berubah ketika sesuatu terlalu jelas untuk diabaikan," kata Nadia.
"Kamu percaya orang bisa berubah?"
Nadia diam sesaat.
"Bisa. Tapi aku tidak mau menggantungkan hidupku pada kemungkinan itu."
Raka menatapnya sekilas.
"Jawaban yang adil."
Mereka sampai rumah kecil menjelang siang. Nadia membuat nasi goreng dari sisa nasi. Raka memotong mentimun. Kali ini potongannya masih terlalu tebal, tapi Nadia tidak mengomentari terlalu banyak.
Saat mereka makan, ponsel Nadia berbunyi.
Sari.
"Nad, Bu Ratna datang ke warungku."
Nadia meletakkan sendok.
"Ada apa?"
"Dia bilang Bella sakit lagi setelah kejadian semalam. Dia minta kamu datang."
Nadia menatap Raka.
Raka tidak berkata jangan. Ia hanya menunggu.
"Mbak, Bu Ratna minta aku datang sebagai apa? Kakak? Tante? Atau orang yang bisa mereka salahkan?"
Sari di seberang diam.
"Aku juga berpikir begitu," katanya pelan.
"Bilang aku tidak datang. Kalau Bella sakit, bawa ke dokter. Kalau Bella takut, bicara dengan calon suaminya."
"Baik."
Panggilan selesai.
Raka mengambil sendok lagi.
"Kamu yakin?"
"Iya."
"Tidak takut dibilang kejam?"
Nadia tersenyum.
"Aku sudah pernah dibilang lebih buruk oleh orang yang lebih buruk."
Raka tertawa pelan.
Namun sore hari, kabar itu tetap datang.
Bu Ratna membawa Bella ke rumah utama Wiratmaja, bukan ke dokter. Ia meminta bertemu Pak Hendra. Katanya, Bella trauma setelah Arman semalam ingin membatalkan akad. Katanya, demi menenangkan Bella, tanggal akad harus dipercepat.
Pak Hendra menolak.
Untuk pertama kalinya, Bu Ratna pulang dari rumah Wiratmaja tanpa mendapatkan apa pun.
Nadia mendengar kabar itu dari Tante Mira.
Ia tidak terkejut.
Bu Ratna akan mencoba lagi.
Orang yang terbiasa menang dengan air mata tidak langsung berhenti hanya karena sekali ditolak.
Tapi sekarang, air mata itu harus melewati terlalu banyak pintu yang sudah dikunci.
Sore itu, Raka menerima pesan dari Pak Hendra. Isinya pendek: Terima kasih sudah bicara jelas tadi.
Raka membaca pesan itu dua kali.
Nadia melihatnya.
"Dari Pak Hendra?"
Raka mengangguk dan menunjukkan layar.
Nadia tidak menggoda. Ia tahu pesan sesingkat itu mungkin berarti banyak untuk Raka. Dalam keluarga yang terbiasa menutup masalah dengan kalimat "sudahlah", ucapan terima kasih bisa terdengar seperti pintu kecil terbuka.
"Mas Raka senang?"
"Sedikit."
"Boleh senang banyak."
Raka tersenyum.
"Saya belum terbiasa."
"Nanti juga terbiasa. Sama seperti aku membiasakan diri tidak merasa bersalah."
Mereka saling menatap, lalu kembali ke piring masing-masing.
Setelah makan, Raka mencatat jadwal kontrol di kalender dinding. Nadia melihat tanggal itu, lalu menambahkan satu catatan kecil di bawahnya: beli jahe.
Raka membaca tulisan itu.
"Untuk obat?"
"Untuk teh. Obat dari dokter tetap nomor satu."
"Baik, Bu Nadia."
Nadia menunjuknya dengan sendok.
"Jangan mulai."
Raka tersenyum. Rumah kecil itu kembali tenang, seolah rapat keluarga tadi hanya suara jauh yang tidak boleh menetap terlalu lama.
🤣🤣🤣