NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter / Tamat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Liana menatap Mario dengan raut wajah sedikit cemberut, menahan ringisan pelan di pipinya.

"Mario, panggil aku Liana saja, jangan 'Ibu'. Dulu waktu awal kita kenal, kamu memanggilku Liana, kadang Mbak... sekarang malah jadi Ibu. Aku merasa jadi tua," protes Liana dengan suara serak yang memaksakan keceriaan.

Mendengar protes Liana, Rista langsung melirik tajam ke arah Mario, seolah menemukan sekutu.

"Nah, kan! Sudah kubilang dari tadi di jalan, panggil Liana saja, kamu tidak percaya! Malah ngeyel bilang kalau Liana itu sekarang istri Bos, jadi harus panggil Ibu," omel Rista dengan gaya khasnya.

Mario hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan canggung, melirik sekilas ke arah Kenzo untuk meminta persetujuan.

Kenzo, yang sedang merapikan mangkuk bekas makan Liana, hanya menyunggingkan senyum tipis—sebuah pemandangan langka dari sang pimpinan Black Cobra.

Rista kemudian kembali menatap Liana dengan tatapan prihatin namun penuh tekad.

"Liana, aku sudah mengajukan libur selama dua hari ke depan. Aku yang akan menemani dan menjagamu di sini selagi kamu bed rest. Jadi, kamu tidak perlu khawatir sendirian."

Rista lalu beralih menatap Kenzo yang masih berdiri di sisi ranjang.

"Kenzo, kamu pergi saja dulu urus pekerjaanmu dan keperluan lainnya di luar sana. Biar Liana aku yang jaga sepenuhnya. Kamu pasti sibuk, kan?"

Mendengar kata 'keperluan lainnya', dahi Liana mengernyit pelan.

"Keperluan apa?" tanyanya curiga, menatap suaminya lekat-lekat.

Instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.

Kenzo tersentak kecil di dalam hati. Ia tentu saja tidak mungkin berkata jujur di depan Liana bahwa 'keperluan lainnya' adalah rencana untuk menghancurkan Roy, Kania, dan seluruh geng Red Skull demi membalas dendam atas apa yang mereka lakukan pada istri dan calon anaknya. Liana tidak boleh tahu, wanita itu butuh ketenangan total.

Dengan raut wajah setenang air dan senyuman yang begitu meyakinkan, Kenzo mengelus pucuk kepala Liana.

"Keperluan pasien di rumah sakit lain, Sayang. Ada operasi penting yang harus aku tangani dan delegasikan siang ini," jawab Kenzo berdusta dengan sempurna khas seorang dokter profesional.

"Nah, sudah dengar kan? Sana lekas pergi, Dok. Pasienmu menunggumu. Istrimu aman di tanganku!" usir Rista dengan gaya setengah bercanda, mengibaskan tangannya ke arah pintu.

Kenzo mengecup dahi Liana sekali lagi, membisikkan kata cinta sebelum akhirnya memutar tubuh.

Ia memberikan kode lewat pandangan mata kepada Mario. Tanpa bersuara, Mario mengangguk paham.

Begitu pintu kamar rawat tertutup di belakang mereka, aura hangat dan kebapakan Kenzo seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang.

Tatapannya berubah setajam elang, penuh kilat pembunuhan yang sempat tertunda kemarin.

Kenzo berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, diikuti oleh Mario di belakangnya.

"Di mana mereka sekarang?" tanya Kenzo dengan suara bariton rendah yang sangat mengancam.

"Geng Red Skull sedang berkumpul di markas utama mereka di kawasan pelabuhan timur. Roy dan Kania dipastikan ada di dalam gedung tersebut untuk merayakan kesuksesan rencana mereka kemarin," lapor Mario lugas, tanpa berani menatap mata sang ketua yang kini tampak sangat mengerikan.

Langkah kaki Kenzo tidak melambat sedikit pun. Ia mengeluarkan ponselnya, mengirimkan satu pesan singkat ke Bunga dan Willy.

"Ayo kita ke sana," desis Kenzo dingin, rahangnya mengeras.

"Kita tunjukkan pada mereka, apa akibatnya jika berani menyentuh milik sang pimpinan Black Cobra."

Semua anggota inti Black Cobra sudah berkumpul di halaman luas mansion utama Kenzo.

William, Bunga, Mario, beserta puluhan anak buah pilihan bersenjata lengkap telah bersiap di atas kendaraan mereka masing-masing.

Suasana di mansion itu begitu mencekam, dipenuhi aura haus darah yang pekat.

Di dalam kamar pribadinya, Kenzo melangkah mendekati cermin besar.

Ia menanggalkan jas putih dokter dan kemeja rapinya, menggantinya dengan setelan taktis serba hitam yang pas di tubuh kekarnya. Ketenangan seorang dokter bedah telah menguap sepenuhnya, berganti menjadi sosok kryptonite bagi para musuhnya.

Kenzo kemudian mengambil masker hitam andalannya, memasangnya hingga menutupi sebagian wajah.

Terakhir, ia mengambil sebuah bandana hitam khusus.

Di sudut bandana itu, terdapat sulaman benang merah berbentuk inisial nama yang dijahitnya sendiri dengan penuh perasaan: KzL (Kenzo & Liana).

Ia mengikatkan bandana itu erat-erata di kepalanya, seolah membawa kekuatan dan restu dari sang istri untuk pertempuran hidup dan mati ini.

Setelah mengenakan sarung tangan kulit hitamnya, Kenzo menatap ponsel di genggamannya.

Layar menunjukkan foto Liana yang sedang tersenyum manis.

Demi menjaga fokus dan memastikan Liana tidak menghubunginya di tengah pertempuran yang bisa memicu kecurigaan sang istri, Kenzo menekan tombol daya.

Click.

Ponselnya mati total. Untuk sementara waktu, dunia luar tidak akan bisa mencapainya sampai urusan darah ini selesai.

Kenzo melangkah keluar dengan gagah, menuruni anak tangga mansion.

Di halaman, sebuah motor sport besar serba hitam sudah meraung-raung siap tempur.

Tanpa sepatah kata pun, Kenzo langsung menaiki motornya.

"Meluncur ke pelabuhan! Jangan sisakan satu pun dari mereka hidup-hidup!" perintah Kenzo dingin dari balik maskernya.

BRMMMM!!!

Kenzo menarik gas motornya dalam-dalam, melesat memimpin di barisan paling depan bagai malaikat pencabut nyawa yang membelah jalanan kota.

Di belakangnya, konvoi besar geng Black Cobra bergerak serentak menuju pelabuhan timur, siap meratakan markas Red Skull dengan tanah.

Suasana siang hari di kawasan pelabuhan timur yang biasanya bising oleh aktivitas bongkar muat kini mendadak senyap dan menegangkan saat konvoi motor hitam geng Black Cobra berhenti mendadak di depan sebuah gudang besar berkarat yang menjadi markas Red Skull.

Tanpa aba-aba, Kenzo yang berada di barisan terdepan langsung mengarahkan motornya menembus pintu kayu gudang.

BARRRRK!

PRANGGG!

Kaca-kaca jendela di sekeliling gudang pecah berkeping-keping akibat hantaman benda dan tekanan udara di luar. Debu dan serpihan kaca berhamburan ke lantai.

Di dalam ruangan utama, Roy dan Kania yang sedang duduk santai menikmati kemenangan semu mereka seketika terperanjat kaget.

Mata mereka terbelalak lebar saat melihat sosok pria berpenampilan serba hitam dengan bandana bertuliskan KzL dan masker menutupi wajahnya berdiri tegak di tengah puing-puing kaca.

Kenzo membuka helm full face-nya dengan gerakan perlahan, memperlihatkan sepasang mata merah yang memancarkan aura kematian yang begitu pekat.

Ia tersenyum dingin—senyuman iblis yang membuat darah siapa pun mendadak membeku.

"Apakah kalian tidak merindukan aku?" suara bariton Kenzo menggelegar dingin di dalam gudang yang luas itu.

Sebelum Roy sempat berdiri sepenuhnya untuk menguasai keadaan, Kenzo melesat bagai kilat.

Ia menerjang maju, mencengkeram kerah baju Roy, dan melayangkan satu pukulan telak tanpa ampun tepat di rahang pria itu.

BUGH!

"Ini yang kalian lakukan kepada istriku, ha?!" murka Kenzo dengan suara penuh tekanan amarah yang membakar.

Di sisi lain, Kania yang hendak berteriak dan kabur langsung disergap oleh William dan Bunga.

Tanpa pandang bulu, William merenggut tubuh Kania dan memasukkannya paksa ke dalam sebuah karung goni kasar—persis seperti apa yang mereka lakukan pada Liana di markas kemarin.

"INI?!! RASAKAN INI!" bentak William sambil membanting karung berisi Kania ke lantai.

BUGH!

BUGH!

"TOLONG! AMPun! Kenzo, tolong! Jangan bunuh aku!" teriak Kania histeris dari dalam karung goni, meronta-ronta dalam keputusasaan yang luar biasa.

Kenzo tidak memperdulikan jeritan itu. Ia kembali beralih pada Roy yang sudah tersungkur lemas di lantai dengan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

"Kalian menyumpal mulut istriku... kalian menyiksa wanita yang sedang hamil!" suara Kenzo bergetar hebat, namun penuh dengan kemutlakan seorang algojo.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Kenzo menghajar Roy bertubi-tubi tanpa belas kasihan.

Setiap hantaman tinjunya seolah mewakili setiap tetes air mata dan rasa sakit yang dirasakan Liana di ruang bawah tanah yang pengap.

Roy yang sudah tidak berdaya hanya bisa batuk darah, memuntahkan cairan merah kental ke lantai semen, lalu merangkak lemah sambil memohon ampun.

"A-ampun... Kenzo... aku mohon ampun... jangan bunuh aku..." rintih Roy terbata-bata.

Kenzo berdiri tegak di atas kepala Roy, napasnya memburu kencang, tinjunya yang terbalut sarung tangan kulit masih mengepal erat dengan sisa-sisa amarah yang siap mencincang pria di bawahnya.

"Bos, jangan! Ingat Liana!" seru William dengan napas terengah.

"Biarkan polisi yang menghukum mereka! Jangan kotori tangan Bos untuk sampah-sampah ini. Ibu Liana butuh Bos di sisi-Nya dalam keadaan bersih!"

Kenzo menatap tajam ke arah Roy dan Kania yang sudah tidak berdaya, lalu menghembuskan napas berat untuk meredam gemuruh di dadanya.

Ia memejamkan mata sejenak, mengingat wajah istrinya.

“Tapi Kenzo, apakah kamu tidak jijik membersihkannya?”

Dan suara lirih Liana sebelum kembali pingsan:

“A-aku mencintaimu, Kenzo..”

Bayangan wajah Liana yang tulus, rapuh, namun penuh cinta seolah menyentak kesadaran Kenzo kembali ke permukaan.

Istrinya sedang menunggunya di rumah sakit. Liana berjuang mempertahankan nyawa dan anak mereka.

Jika ia menjadi pembunuh hari ini, apa bedanya ia dengan sampah-sampah di hadapannya ini? Apa kata Liana jika ia tahu tangan suaminya berlumuran darah kotor seperti mereka?

Kenzo menarik napas dalam-dalam, mengendurkan kepalan tangannya yang gemetar.

Ia perlahan bangkit berdiri dan melempar senjata tajam yang sempat ia selipkan di balik jaket taktisnya jauh ke lantai sudut ruangan.

Melihat ketua mereka mulai melunak, William segera maju dan menahan lengan Kenzo, sementara Bunga menjaga karung tempat Kania berteriak-teriak histeris.

"Bawa mereka..." ucap Kenzo dingin dengan suara baritonnya yang serak.

"Serahkan mereka ke kantor polisi. Pastikan hukum memenjarakan mereka seumur hidup tanpa celah."

William dan Mario mengangguk patuh. Tanpa membuang waktu lagi, anak buah Black Cobra segera menyeret Roy dan Kania keluar dari gudang untuk diserahkan kepada pihak berwajib, membiarkan hukum manusia meremukkan sisa hidup mereka.

Sementara Kenzo, dengan langkah cepat namun pasti, segera berbalik menuju motornya, menyalakan kembali ponselnya, dan melesat kembali ke rumah sakit—kembali pada satu-satunya wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

1
Muft Smoker
wah udh tamat aja kak ,, kirain nunggu little cobra gede dulu ,,
tp ttap makasih kak buat cerita ny ,, meski singkat Dan tdk bertele2 ,, tp suka ma alur ny ,, dtggu next ceritany yx kak ,,

sehat2 selalu kak ,,
Muft Smoker
astagaaaa ,, org lgi pda sibuk nangis ,, si bumil malah asik berenang😂😂😂😂😂
Bunga Andthea
huhuhu cepet bgt tamat nya kak,
my name is pho: 🥰🥰
Nantikan novel yang lainnya ya kak
terima kasih
total 1 replies
Bunga Andthea
huwaa kakak ny baik bgt hari ini triple up
Muft Smoker
lanjuuut kak
Arumi
psikopat 😭
Muft Smoker
duuuh deg2an iikh ,,
semoga kenzoo cepat sampai dan menyelamatkan Liana ,,
Bunga Andthea
dobel up kak
Muft Smoker
semoga ad keajaiban ,, sebelum bnr2 jauuun Liana bisa di selamatkan ,,
Bunga Andthea
up lgi kak
Bunga Andthea
dobel up dong kak
Muft Smoker
nah kan Rista akhirnya km menemukan sosok yg baik ,, meski ia salah satu anggota geng motor ,,
Muft Smoker
udh Rista jgn iri dg Liana Krn punya suami kyak kenzoo ,,
mario juga kyaknya gx kalah keren koq ,,
🍒WINA🍒
Kenzo dalam keadaan kena obat perangsang telah menodai liana, kasian nasibnya liana ingin menolong org yg terluka apes diperkosa...

liana sampai kehilangan kehormatannya sangat dijaganya, hancur hidup liana yg memperkosa tidak bertanggungjawab langsung kabur aja🤣🤣🤭
Bunga Andthea
lagi kak dobel up kak
Bunga Andthea
sedih bgt liat keadaan Liana,
sumpah kak Lo bikin deg degan
Muft Smoker
yaaa kak ,, masa pemeran utama meninggoy ,, 😱😱😱😱😱😱
Inarairlan 0811
Kania or Rista ka
my name is pho: Kania kak.
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Bunga Andthea
ehh ehh tor jngan main" ya ini kenapa jdi gini liana nya
sri hastuti
lah kok spt itu thor, selamatkan liana thor, kl tdk bisa jd monster itu kenzo ,bisa diterjang semuanya , kenapa baru bahagia sebentar sdh spt ini 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!