Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Interview di RS Pejaten
Nadia tiba di RS Pejaten tiga puluh menit lebih awal.
Ia memakai kemeja putih yang disetrika semalam, celana bahan gelap, dan sepatu hitam yang sudah lama tidak ia pakai sejak Dimas mulai berkata perempuan menikah tidak perlu terlalu mengejar karier. Di dalam tas ada CV, fotokopi STR, ijazah, sertifikat pelatihan, buku kecil, dan stetoskop lama yang sudah ia bersihkan.
Di depan pintu kaca rumah sakit, ia berhenti.
Orang-orang keluar masuk dengan langkah cepat. Perawat mendorong kursi roda. Seorang ayah menggendong anak demam. Bau antiseptik bercampur kopi dari kantin dekat lobi. Semua terasa akrab, tetapi juga jauh, seperti rumah yang pernah ia tinggalkan terlalu lama.
Ponselnya bergetar.
Sari: Masuk. Jangan berdiri seperti orang mau minta maaf.
Nadia hampir tertawa di depan pintu.
Ia membalas: Mama lihat dari mana?
Sari: Ibu tahu anak sendiri.
Nadia memasukkan ponsel ke tas dan masuk.
Petugas HR memeriksa berkasnya, memberi nomor antrean, lalu mempersilakan ia menunggu di ruang kecil dekat poliklinik. Ada empat pelamar lain. Dua lebih muda, satu seumuran, satu tampak sangat percaya diri dengan map kulit mahal. Mereka saling tersenyum kaku.
Nadia duduk, membuka buku kecil, lalu menutupnya lagi. Ia tidak butuh menghafal jawaban. Ia butuh mengingat dirinya sendiri.
Namanya dipanggil pukul sepuluh lewat lima.
Di ruang interview ada tiga orang: dokter senior bernama dr. Wibowo, kepala HR, dan manajer layanan medis. Tidak ada Arman. Tidak ada orang yang menyebut nama Sari. Tidak ada senyum berlebihan.
Anehnya, itu membuat Nadia lega.
"Dokter Nadia Wulandari," kata dr. Wibowo sambil membaca CV. "Pengalaman IGD cukup panjang."
"Iya, Dok."
"Kenapa ingin pindah ke RS Pejaten?"
Pertanyaan pertama langsung menusuk bagian yang ia siapkan sejak malam. Nadia bisa menjawab dengan kalimat aman tentang pengembangan karier dan lingkungan profesional. Semua benar, tetapi terlalu rapi.
Ia menarik napas.
"Saya sedang menata ulang hidup pribadi, Dok. Saya ingin kembali ke jalur kerja yang jelas dan punya kesempatan berkembang ke program spesialis. Urusan pribadi saya sedang diproses, tetapi saya tidak ingin itu mengganggu tanggung jawab saya sebagai dokter."
Kepala HR mengangkat alis sedikit. "Urusan pribadi yang dimaksud?"
"Proses cerai gugat."
Ruangan hening sebentar.
Nadia menjaga punggung tetap tegak. Ia tidak akan meminta maaf karena mengatakan kebenaran.
Manajer layanan medis bertanya, "Apakah jadwal sidang nanti akan mengganggu shift?"
"Jika ada panggilan sidang, saya akan lapor jauh hari dan mengikuti aturan cuti atau tukar jadwal. Saya terbiasa bekerja dalam tekanan. Saya tidak akan meninggalkan pasien karena masalah pribadi."
Dr. Wibowo menatapnya lebih lama. "Terima kasih sudah jujur."
Setelah itu pertanyaan menjadi teknis. Penanganan nyeri dada. Triase pasien anak. Keluarga pasien yang agresif. Pasien perempuan yang datang dengan suami yang menjawab semua pertanyaan. Nadia menjawab satu per satu. Awalnya suaranya kaku. Lalu saat masuk ke wilayah medis, tubuhnya seperti menemukan ritme lama.
"Jika pasien perempuan tampak takut bicara karena pendampingnya terlalu dominan?" tanya dr. Wibowo.
Nadia tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu terlalu dekat.
"Saya akan pisahkan pasien dengan alasan pemeriksaan fisik atau administrasi yang wajar, ditemani perawat perempuan. Lalu saya tanyakan langsung apakah ia merasa aman. Kalau ada indikasi kekerasan atau paksaan, dokumentasi medis harus jelas dan mengikuti alur perlindungan pasien."
"Kalau pendamping marah?"
"Kita jelaskan prosedur. Rumah sakit tidak boleh membiarkan pasien kehilangan suara di ruang periksa."
Dr. Wibowo mencatat. "Kalimat yang tegas."
Nadia menahan napas. "Saya belajar dari pengalaman."
Ia tidak menjelaskan pengalaman siapa.
Wawancara berlangsung hampir satu jam. Saat keluar, kakinya sedikit lemas. Ia masuk toilet, mencuci tangan, lalu menatap wajahnya di cermin.
Tidak cantik. Tidak segar. Tidak seperti perempuan yang hidupnya mudah.
Tapi matanya tidak kosong.
Ia mengirim pesan kepada Sari:
Interview selesai. Aku tidak menangis.
Balasan datang cepat:
Itu bukan syarat diterima, tapi Ibu bangga.
Nadia tersenyum.
Ia turun ke kantin untuk membeli kopi. Baru saja menerima gelas, ia melihat Dimas di koridor belakang.
Ia tidak sendiri.
Livia berjalan di sampingnya, mengenakan blazer krem dan membawa map rumah sakit. Mereka tidak bergandengan tangan. Namun Dimas menunduk terlalu dekat ketika Livia berbicara. Wajahnya lembut, wajah yang dulu membuat Nadia percaya bahwa ia laki-laki sabar.
Livia melihat Nadia lebih dulu.
Senyumnya membeku setengah detik, lalu kembali sopan.
"Mbak Nadia."
Dimas menoleh. Wajahnya langsung berubah. "Nad? Kamu ngapain di sini?"
Pertanyaan itu seperti tamparan kecil.
"Interview."
"Di sini?"
"Iya."
Dimas melirik Livia, lalu kembali ke Nadia. "Kamu tidak bilang."
"Aku tidak wajib lapor semua hal padamu lagi."
Livia memeluk map ke dada. "Mbak, soal tas kemarin saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu."
Nadia menatapnya. "Kalau tidak tahu, kenapa gantungan huruf N hilang?"
Wajah Livia pucat.
Dimas cepat menyela, "Nad, jangan bikin keributan di rumah sakit."
"Aku tidak membuat keributan. Aku bertanya."
"Kita bicara di luar."
"Tidak."
Nadia meletakkan kopi di meja tinggi dekat koridor. Dengan gerakan tenang, ia menyalakan perekam suara di ponselnya dan memasukkannya ke saku luar tas. Tidak mencolok, tetapi cukup.
Dimas melihat gerakan itu. "Kamu rekam?"
"Kita di tempat umum. Bicara baik-baik."
"Matikan."
"Tidak."
Livia menatap Dimas. "Mas, mungkin saya duluan."
Mas.
Nadia mendengar panggilan itu dengan jelas. Bukan Pak Dimas. Bukan Dokter Dimas. Mas.
Dimas juga sadar. Ia menoleh tajam kepada Livia, tetapi terlambat.
Nadia mengambil kopi. "Terima kasih. Itu cukup."
"Nad, jangan salah paham."
"Aku sudah terlalu sering diminta tidak salah paham saat yang salah berdiri di depan mata."
Dimas mendekat setengah langkah. "Kamu berubah."
"Iya."
"Ini semua karena ibumu."
Nadia menatapnya. "Tidak. Mama hanya menunjukkan pintu. Aku yang jalan."
Ia melewati mereka.
Di lift, barulah tangannya mulai dingin. Ia mengirim pesan kepada Sari:
Aku lihat Dimas dengan Livia. Dia memanggilnya Mas. Aku rekam.
Sari membalas:
Kamu aman?
Aman. Aku pergi.
Beberapa detik kemudian, pesan Sari masuk lagi.
Itu baru anak Ibu.
Pintu lift menutup. Nadia melihat bayangannya di permukaan logam. Di tasnya ada berkas interview. Di ponselnya ada rekaman baru. Di dadanya ada sakit yang tidak lagi membuatnya ingin kembali.
Ketika lift turun, email dari HR masuk.
Dokter Nadia, mohon menunggu hasil akhir. Tim medis memberikan catatan positif atas interview hari ini.
Nadia membaca kalimat itu dua kali.
Di lantai atas, Dimas masih bersama Livia.
Di layar ponselnya, masa depan kecil baru saja mengetuk.
Nadia tidak langsung pulang. Ia duduk di bangku lobi, membuka rekaman, dan memberi nama file: Dimas Livia RS Pejaten. Lalu ia menulis catatan singkat di aplikasi ponsel.
Tanggal. Jam. Lokasi. Siapa yang hadir. Kalimat "Mas" dari Livia. Reaksi Dimas. Tidak ada opini. Tidak ada makian.
Ia mengirim file dan catatan itu kepada Pak Surya.
Balasan datang beberapa menit kemudian:
Saya terima. Jangan sebar. Simpan untuk mediasi atau sidang jika dibutuhkan.
Nadia menatap kata mediasi. Dulu ia membayangkan mediasi sebagai ruang orang dewasa saling memaafkan. Sekarang ia tahu mediasi juga bisa menjadi meja tempat perempuan harus membawa bukti agar tidak dipaksa pulang.
Sebelum keluar, dr. Wibowo kebetulan melewati lobi. Ia berhenti sebentar.
"Dokter Nadia."
Nadia berdiri. "Dok."
"Apa pun hasil administrasi nanti, jawaban Ibu soal pasien yang kehilangan suara tadi saya catat baik."
Nadia tidak tahu harus berkata apa. "Terima kasih, Dok."
"Rumah sakit butuh dokter yang bisa melihat pasien, bukan hanya gejalanya."
Kalimat itu membuat tenggorokan Nadia panas. Ia menunduk sopan, lalu keluar dari lobi sebelum air mata sempat naik.
Di luar, udara siang terasa keras. Ia memesan ojek online, berdiri di titik jemput, dan memegang tasnya erat-erat. Di dalam tas itu ada stetoskop, berkas interview, dan rekaman suami yang memanggil perempuan lain dengan nama terlalu dekat.
Aneh sekali, pikirnya.
Hari itu ia merasa hancur dan hidup pada saat bersamaan.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??