NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Malam Badai

Hujan mengetuk kaca villa seperti ribuan kuku kecil yang kehilangan kesabaran.

Tan Erlyn duduk sendirian di ruang tengah, memeluk lutut di atas sofa abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya. Lampu gantung di atas kepala berkedip sekali, lalu menyala lagi dengan cahaya kuning yang lemah. Di luar sana, lereng Batu tenggelam dalam kabut, pohon-pohon pinus membungkuk diterpa angin, dan jalan masuk menuju villa berubah menjadi aliran air hitam.

Pukul sebelas lewat dua belas menit.

Empat tahun lalu, pada malam hujan yang hampir sama, hidup Erlyn patah di satu tempat yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sejak malam itu, ia tidak pernah lagi memanggil seorang laki-laki dengan sebutan yang dulu keluar begitu mudah dari mulutnya.

Koh.

Yu Chisen adalah kakak tirinya. Bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah di antara mereka. Hanya dua orang anak dari dua keluarga yang disatukan oleh pernikahan orang tua, lalu dipaksa tumbuh di bawah atap yang sama, berbagi meja makan yang sama, bau bunga melati yang sama, dan rahasia yang sama sekali tidak pantas lahir di sebuah rumah keluarga.

Rahasia itu punya suara hujan.

Punya bau lantai kayu basah.

Punya nama yang tidak berani Erlyn sebut sejak ia terbang ke London.

Ponselnya bergetar di meja. Sekali. Lalu mati.

Erlyn tidak langsung mengambilnya. Seharian ini ia sudah terlalu banyak menerima pesan, dari Papa yang baru bebas dan menyuruhnya pulang, dari Vivian yang masih cerewet dari London, dari Juwanto yang menulis dengan gaya seolah ia tidak pernah bisa diam. Tetapi ada satu nama yang sejak empat tahun lalu tidak pernah muncul di layar ponselnya.

Ko Chisen.

Nama itu muncul sore tadi, hanya mengirim satu alamat.

Tidak ada salam.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada kata rindu.

Hanya alamat villa di Batu, seolah empat tahun diam bisa ditebus dengan sebuah titik lokasi.

Erlyn tertawa pendek ketika pertama kali membacanya. Tawa yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. Ia hampir menghapus pesan itu. Hampir memblokir nomor itu. Hampir menelepon Papa dan berkata bahwa ia akan langsung pulang ke Jalan Kenanga, bukan ke tempat yang dipilih laki-laki itu.

Tetapi pada akhirnya ia tetap datang.

Mungkin karena ia bodoh.

Mungkin karena ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar meninggalkan rumah itu, rumah kolonial di Jalan Kenanga, loteng yang selalu terkunci, meja makan panjang, dan seorang laki-laki dingin yang dulu selalu berdiri di tempat paling jauh tetapi memperhatikan semuanya.

Angin menghantam pintu kaca balkon sampai tirainya bergerak. Erlyn menoleh. Pantulan dirinya di kaca tampak pucat. Rambutnya yang sebahu masih sedikit lembap karena hujan ketika ia turun dari taksi dua jam lalu. Kemeja putihnya sudah kering di bagian lengan, tetapi ujung celana panjangnya masih menyimpan noda lumpur dari halaman depan.

Ia terlihat seperti orang yang kembali ke medan perang tanpa membawa senjata.

"Bagus, Erlyn," gumamnya pada diri sendiri. "Empat tahun belajar fisika di London, pulang-pulang tetap bisa dibodohi satu alamat."

Suara itu tenggelam oleh guntur.

Ia berdiri, berjalan ke dapur kecil, lalu membuka lemari satu per satu. Tidak ada makanan berat. Hanya beberapa bungkus mi instan, kopi sachet, dan sekotak teh yang masih tersegel. Di atas meja ada dua botol air mineral. Semuanya terlalu rapi. Terlalu baru.

Villa ini bukan tempat tinggal. Ini tempat menunggu.

Dan Erlyn benci karena ia tahu siapa yang sedang ia tunggu.

Ia mengambil satu botol air, membuka tutupnya, lalu minum dua teguk. Tangannya tidak gemetar. Ia cukup bangga pada hal kecil itu. Dulu, setiap kali Chisen berdiri terlalu dekat, tubuhnya lebih dulu mengkhianati isi kepalanya. Napasnya berubah pendek. Jantungnya tidak tahu aturan. Telapak tangannya dingin, padahal wajahnya panas.

Sekarang tidak.

Sekarang ia sudah dua puluh tiga. Ia sudah melewati musim dingin London sendirian, ujian yang membuat kepala hampir pecah, hari-hari ketika nyeri perut membuatnya meringkuk di lantai kamar mandi, dan malam-malam ketika ia menelan ibuprofen sambil menatap langit-langit kamar sewa.

Ia tidak akan hancur hanya karena satu nama.

Lampu berkedip lagi.

Kali ini lebih lama.

Erlyn mendongak. "Jangan mati sekarang."

Seolah menantangnya, seluruh ruangan langsung gelap.

Ia memejamkan mata, menarik napas pelan. Di luar, hujan semakin keras, menabrak genting, kaca, tanah, semua yang bisa dihantam. Bau lembap naik dari sela pintu. Dalam gelap, villa itu tiba-tiba terasa jauh lebih besar, seolah dindingnya mundur beberapa langkah dan meninggalkan Erlyn di tengah ruangan yang kosong.

Ia meraba meja, mengambil ponsel, menyalakan senter. Cahaya putih kecil jatuh ke lantai, memantul pada koper hitamnya yang masih tertutup di dekat pintu.

Satu koper.

Empat tahun hidupnya diringkas menjadi satu koper, satu tas laptop, dan satu nama yang masih bisa membuatnya pulang.

Erlyn menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa perih.

Tidak.

Ia bukan pulang karena Chisen.

Papa sudah bebas. Itu alasannya. Ia pulang karena Papa, karena rumah yang dulu pernah menjadi tempat paling hangat dan paling menyakitkan dalam hidupnya. Ia pulang karena Mama pernah dimakamkan dengan bunga melati di sana. Ia pulang karena ada urusan yang harus diselesaikan.

Bukan karena laki-laki yang mengusirnya dari kamar pada malam badai itu.

Bukan karena punggung lebar yang pernah ia sentuh, lalu menepis tangannya seolah sentuhan itu dosa.

Ponselnya kembali bergetar.

Erlyn mengangkat layar.

Vivian: Udah sampai? Jangan bilang kamu sendirian di villa serem begitu.

Erlyn mengetik dengan satu tangan.

Sudah. Aman.

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan:

Kalau besok aku nggak balas, cari mayatku di Batu.

Balasan Vivian datang hampir seketika.

Jangan bercanda. Aku serius.

Erlyn tersenyum tipis. Sebelum sempat membalas, suara lain terdengar dari luar.

Bukan guntur.

Bukan angin.

Suara mobil.

Tubuh Erlyn menegang.

Lampu depan menyapu jendela ruang tengah, putih dan tajam, lalu hilang ketika mobil berhenti di halaman. Mesin mati. Hujan langsung memenuhi kembali seluruh ruang, seolah suara mobil itu tidak pernah ada.

Erlyn berdiri di tempatnya.

Ia tidak bergerak selama beberapa detik. Ponsel di tangannya masih menyala, senter mengarah ke lantai. Dadanya terasa sempit, tetapi anehnya napasnya justru terlalu tenang. Seperti tubuhnya sudah tahu bahwa detik ini akan datang bahkan sebelum pikirannya siap.

Langkah kaki terdengar di teras.

Berat.

Terburu-buru.

Basah.

Lalu ketukan di pintu.

Satu kali.

Tidak keras. Tidak panik. Hanya satu ketukan pendek yang terlalu dikenalnya.

Erlyn menatap pintu kayu itu. Empat tahun tidak cukup untuk membuat seseorang lupa cara laki-laki itu mengetuk. Dulu di Jalan Kenanga, Chisen selalu mengetuk seperti itu sebelum masuk ke kamarnya, satu ketukan saja, lalu suara rendahnya menyusul dari luar.

Erlyn, sudah tidur?

Atau:

Er, buka pintunya.

Atau, pada malam yang seharusnya tidak pernah terjadi:

Keluar.

Jari-jari Erlyn mengencang di sekitar ponsel. Ia ingin membiarkan pintu itu tertutup. Ia ingin laki-laki di luar sana merasakan dingin, hujan, dan penolakan yang dulu ia berikan begitu mudah.

Tetapi tangan Erlyn sudah bergerak sebelum kebenciannya selesai bicara.

Ia berjalan ke pintu.

Setiap langkah membuat lantai kayu berderit pelan. Di ambang pintu, ia berhenti. Senter ponselnya memantul pada gagang pintu kuningan. Di luar, seseorang berdiri sangat dekat, hanya dipisahkan oleh selembar kayu dan empat tahun yang tidak pernah mereka bicarakan.

Erlyn membuka kunci.

Pintu bergerak ke dalam.

Angin basah langsung menyambar wajahnya. Hujan miring masuk melewati teras, membawa dingin yang membuat kulit lengannya meremang.

Di bawah cahaya senter yang gemetar, Yu Chisen berdiri di sana.

Kemeja hitamnya menempel pada tubuh. Rambutnya basah, jatuh di dahi. Wajahnya lebih tirus daripada ingatan Erlyn, garis rahangnya lebih tajam, tetapi matanya tetap sama. Gelap, tenang, dan terlalu pandai menyembunyikan apa pun yang terjadi di dalamnya.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Hujan mengisi semua kalimat yang mereka telan.

Chisen menatapnya dari kepala sampai kaki, cepat, hampir tidak terlihat, seperti memastikan ia utuh. Kebiasaan lama. Kebiasaan yang dulu membuat Erlyn merasa aman dan sekarang membuatnya ingin tertawa.

"Erlyn," katanya akhirnya.

Suara itu rendah. Lebih berat. Tetapi masih suara yang sama.

Nama Erlyn patah di udara di antara mereka.

Ia mengira akan marah. Mengira akan langsung menamparnya. Mengira akan berkata sesuatu yang tajam, sesuatu yang sudah ia susun selama bertahun-tahun di kamar sempitnya di London.

Tetapi yang keluar hanya napas.

Chisen melangkah setengah inci, lalu berhenti, seolah baru sadar ia tidak punya hak untuk masuk begitu saja.

Bagus. Setidaknya ia masih ingat.

Erlyn menurunkan ponselnya sedikit. Cahaya senter jatuh ke sepatu kulit Chisen yang penuh lumpur, lalu ke tetesan air yang jatuh dari ujung lengan bajunya ke lantai teras.

Empat tahun.

Dia berdiri di sana, basah kuyup, dan Erlyn tidak tahu harus marah atau menangis.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!