Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya. Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: SANG KOLONEL YANG BERLUTUT
Ide brilian dari Letkol Reyes ternyata benar-benar menjadi malapetaka administratif paling mematikan sekaligus paling menggelikan dalam sejarah karier militer Kapten Ayu.
Pagi itu, di meja kerja Satuan Pendidikan Bintara, Ayu memeriksa berkas Laporan Kesiapan Kurikulum Pendidikan Triwulan yang harus ditandatangani berjenjang. Namun, karena otaknya sudah menyerupai benang kusut pasca-sidang dadakan dari Ibu Hedy malam sebelumnya—ditambah dengan ancaman radikal bahwa Victor akan dinikahkan dengan wanita lain—fokus Ayu menguap seratus persen. Di lembar buram paling belakang berkas nota staf tersebut, Ayu yang sedang melamun frustrasi tanpa sadar mencoret-coret sebuah kalimat keluh kesah menggunakan pulpen hitamnya.
Sebuah tulisan tangan yang sangat rapi, namun isinya benar-benar membuat siapapun yang membaca akan langsung tersedak:
“Tuhan, aku harus bagaimana... Andaikan aku masih gadis dan lajang, mungkin dengan senang hati aku akan menerima Victoria sebagai suamiku.”
Harusnya, berkas itu disaring dan diperiksa terlebih dahulu oleh Letkol Reyes selaku komandan langsungnya. Sialnya, Reyes bukan sekadar komandan yang kaku. Reyes adalah pria yang tahu persis seluruh riwayat asmara rumit antara kakak iparnya dan Ayu. Lagipula, mereka tidak lupa sejarah bahwa Ayu adalah partner taktis terbaik Reyes dalam misi "comblang" yang berhasil menyatukan Reyes dengan Shaneen dulu.
Begitu Reyes membaca catatan darurat di ujung bawah kertas putih itu, sebuah seringai jahil langsung terukir di wajah sang Letkol. Alih-alih mencoret atau menyuruh Ayu merevisinya, Reyes dengan sengaja—tanpa belas kasihan—menyelipkan lembar buram itu di barisan paling depan map tebal, lalu memerintahkan ajudannya untuk langsung mengirimkan berkas tersebut ke meja kerja Danpusdikmil, Kolonel Victor. Reyes sengaja membiarkan umpan lambung itu mendarat tepat di sasaran.
Itulah alasan utama mengapa Sersan Satu Johan tiba-tiba muncul di ruangan Ayu dengan wajah tegang, membawa perintah mutlak yang tak bisa ditolak untuk menghadap ke gedung utama Mako Atas sekarang juga.
Langkah kaki Ayu terasa seberat timah saat menyusuri koridor beton Mako Pusdikmil. Begitu ia mengetuk pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja Danpusdikmil yang luas dan beraroma kayu cendana, atmosfer di dalam ruangan langsung terasa mencekik.
Kolonel Victor sedang duduk tegak di balik meja komando besarnya. Di hadapannya, map tebal dari Satdikba sudah terbuka lebar. Begitu Ayu mengambil sikap sempurna dan memberi hormat, Victor tidak membalas dengan formalitas biasa. Pria raksasa berseragam PDH lengkap itu hanya mengangkat selembar kertas putih—kertas buram yang memuat tulisan tangan rahasia milik Ayu.
"Ksatria Bukit Raya sejak kapan mengubah format nota staf menjadi surat curahan hati kepada Tuhan, Kapten Ayuni?" suara bariton Victor menggema rendah, dingin namun sarat akan intimidasi yang disengaja.
Sontak, Ayu langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Wajahnya seketika memerah sempurna karena rasa malu yang luar biasa hingga ke ubun-ubun. Ia memalingkan wajahnya ke arah samping, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasanya saat ini Ayu seperti sedang dilanda pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa kecerobohan sekonyol itu lolos sampai ke meja sang Danpusdikmil? Ini benar-benar sabotase dari Letkol Reyes!
Victor berdiri dari kursi kebesarannya. Tubuh tegapnya yang setinggi 195 sentimeter itu melangkah memutari meja, berjalan perlahan mendekati Ayu yang masih berdiri mematung laksana terdakwa. Langkah sepatu lars Victor berdentum pelan di atas lantai, meningkatkan debar jantung Ayu berkali-kali lipat.
Victor berhenti tepat di depan Ayu, memangkas jarak di antara mereka hingga Ayu bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan aroma minyak baret milik sang Kolonel.
"Katakan Ayu, aku harus apa biar kamu mau menerimaku?" desak Victor, suaranya merendah, menuntut jawaban langsung dari bibir wanita yang dicintainya.
Ayu melangkah mundur satu tapak, mencoba mencari ruang bernapas. "Mohon izin, Komandan... berkas itu salah input, saya akan segera revisi—"
"Katakan Ayu, aku harus apa biar kamu mau menerimaku?"
Victor kembali melangkah maju, mengabaikan kalimat formalitas Ayu. Ayu kembali mundur, namun sialnya, ruang kerja itu seolah menyempit. Punggung Ayu akhirnya membentur permukaan dingin dinding tembok kokoh ruangan tersebut. Ia terkepung sepenuhnya di bawah bayangan tubuh besar Victor.
"Katakan Ayu, aku harus apa biar kamu mau menerimaku?"
"Katakan Ayu, aku harus apa biar kamu mau menerimaku?"
"Katakan Ayu, aku harus apa biar kamu mau menerimaku?"
Pertanyaan yang sama persis terdengar berulang kali hingga lima kali dengan presisi yang sangat tepat, laksana dentum berondongan meriam yang menghantam bertubi-tubi ego dan dinding pertahanan Ayu. Suara Victor tidak meninggi, namun getaran frustrasi dan tuntutan kepastian di dalamnya begitu pekat merayap di udara.
Ayu seketika menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya yang bergetar. Rasanya hari ini dia seperti ditarik paksa kembali ke masa lalu. Jarak mereka yang sangat amat dekat membuat Ayu tahu dan sadar sepenuhnya, inilah Victoria yang asli. Pria ini tidak akan membiarkan Ayu lolos atau mundur barang satu jengkal pun sebelum ada kata kepastian yang keluar dari mulutnya hari ini.
"Aku tanya sekali lagi—"
"Victoria... ku mohon jangan seperti ini!"
Runtuh sudah. Pertahanan kokoh Kapten Intelijen itu hancur lebur seketika. Ayu menangis sejadi-jadinya di balik tangkupan kedua tangannya. Isak tangis yang selama ini ia pendam dalam-dalam akhirnya pecah. Pikirannya benar-benar berkecamuk hebat. Beban mentalnya sudah mencapai batas maksimal, apalagi setelah Shaneen membanting pintu di depannya dan Ibu Hedy pergi dengan tatapan kecewa yang teramat dingin. Semua orang yang ia sayangi berbalik marah padanya karena ketakutannya sendiri.
"Lalu aku harus apa, Ayu?!"
Suara Victor mendadak meninggi, sarat akan rasa putus asa yang mendalam. Sudah tidak bisa menahan gelora emosi dan rasa frustrasinya yang menumpuk selama bertahun-tahun, Victor secara refleks mengayunkan tinjunya, menghantam keras dinding tembok kokoh tepat di samping kepala Ayu.
BRAKK!!
Satu hantaman keras itu membuat buku-buku jari tangan kanan Victor seketika robek dan mengalirkan darah segar yang membasahi permukaan semen.
Melihat darah yang menetes, Ayu seketika panik luar biasa. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh kepedulian yang langsung mengambil alih akal sehatnya. Ayu langsung memukul dada bidang Victor dengan kepalan tangan kecilnya, meluapkan kemarahannya pada kebodohan pria di hadapannya.
"Kamu benar-benar menyebalkan! Bodoh! Kenapa harus melukai dirimu sendiri?!" gerutu Ayu di sela-sela tangis dan kepanikannya.
Dengan gerakan cepat, Ayu menarik tangan kanan Victor yang terluka, membawanya ke depan bibirnya lalu meniup-niup luka robek itu dengan napasnya yang tersengal-sengal, mencoba mengurangi rasa sakit yang dialami Victor seolah pria itu masih remaja belasan tahun yang terluka akibat jatuh dari sepeda.
Namun, rasa sakit di tangannya sama sekali bukan titik fokus Victor saat ini. Tatapan mata Victor terkunci rapat pada wajah panik Ayu. Omelan itu... kata-kata yang menyebutnya bodoh dan menyebalkan, serta perhatian tulus yang ditunjukkan Ayu saat meniup lukanya... semuanya adalah dejavu sempurna dari tujuh tahun yang lalu. Sifat Ayu tidak berubah sedikit pun. Kepedulian wanita ini padanya masih tetap sama, utuh, dan mendalam.
Victor benar-benar sudah mantap dengan pilihan hatinya. Detik ini juga, ia tahu bahwa Ayu adalah resmi pemilik hatinya secara mutlak dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh wanita mana pun di dunia ini, tidak peduli apa statusnya sekarang.
Dengan pergerakan yang teramat cepat, Victor kehilangan kendali atas akal sehatnya. Rasa rindu, cinta, Frustrasi, dan candu yang tertahan selama bertahun-tahun meledak begitu saja. Victor langsung merengkuh pinggang Ayu, menarik tubuh wanita itu mendekat, lalu menundukkan kepalanya untuk mencium dan melumat habis bibir Ayu.
Itu adalah bibir yang sama yang pernah ia cium satu kali dulu semasa mereka masih memadu kasih di masa lalu. Ada rasa manis, kehangatan, dan sensasi candu yang luar biasa yang seketika menjalar ke seluruh aliran darah Victor. Logikanya mati, bagaimana pun caranya, Ayu harus menjadi miliknya secara sah.
Ayu sontak membulatkan sepasang matanya sempurna karena terkejut dengan serangan mendadak yang melanggar batas tersebut. Menggunakan sisa kekuatannya, Ayu dengan tegas menggigit bibir bawah Victor hingga pertautan itu terputus paksa.
AH!
Pria raksasa itu sedikit meringis, melangkah mundur satu tapak sambil menyeka setitik darah di bibirnya. Ayu menatap lurus ke dalam manik mata Victor dengan tatapan yang sangat tajam, napasnya memburu, dadanya naik turun karena amarah dan keterkejutan. Victor benar-benar sudah melewati batas kedinasan dan kehormatan seorang perwira hari ini.
Namun, sebelum Ayu sempat melayangkan makian atau tamparan, hal tak terduga terjadi.
Kolonel tegap yang ditakuti di lapangan itu perlahan menurunkan tubuh raksasanya. Di atas lantai ruang kerja Mako yang dingin, seorang Kolonel Victoria menekuk kedua lututnya—ia berlutut pasrah di hadapan Ayu. Victor meraih kedua belah tangan Ayu yang masih gemetar, menggenggamnya teramat erat, lalu menyandarkan kening dan kepalanya tepat di posisi perut Ayu.
Bahu tegap pria itu tampak bergetar pelan. Victor—pria yang jarang sekali, bahkan tidak pernah menunjukkan kelemahan atau kesedihannya di depan siapapun—kini luruh sepenuhnya. Sejak dulu dan dari dulu, hanya Ayu yang tahu dan paham betul luar-dalam dari sifat, karakter, dan segala kerapuhan di balik seragam gagah pria ini.
Dan sekarang, yang sedang berlutut memohon di bawah kaki Ayu bukanlah seorang Danpusdikmil yang memegang tongkat komando tertinggi di Bukit Raya. Yang ada di sana hanyalah seorang pria biasa bernama Victoria, yang sedang mengemis cinta dan kepastian dari seorang wanita yang amat sangat ia cintai sejak dulu hingga detik ini. Bahkan ketika wanita itu merasa dirinya sudah tidak layak, tidak sempurna, atau dihantui trauma masa lalu karena status jandanya, Victor tetap keras kepala berpikir bagaimana caranya agar Ayu mau menerimanya kembali.
"Victoria..." ucap Ayu lirih, nada suaranya mendadak melunak, turun hingga ke titik paling rendah akibat rasa haru yang luar biasa hebat meremas dadanya.
Di dalam ruangan kerja yang luas itu, kini hanya tersisa keheningan yang magis dan deru napas mereka berdua yang saling bersahutan. Sementara itu, di luar pintu kayu yang tertutup rapat, Sersan Satu Johan tetap berdiri dengan sikap sempurna. Apapun suara hantaman dinding, pecahan tangis, atau keributan yang ia dengar dari dalam sana, Johan tampaknya memang sudah ditakdirkan untuk mendadak budeg seketika. Fokus matanya tetap lurus ke depan, seolah-olah tidak ada kejadian luar biasa apa pun yang sedang merombak takdir dua anak manusia di dalam sana.