"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesunyian yang riuh
...Jakarta, 12 Juni 2025...
Pukul 01.37 WIB
Napas Samuel memburu. Ia berlari sekuat tenaga dari kejaran seseorang misterius bertudung hitam yang terus membuntutinya tanpa suara. Di dalam labirin gang sempit itu, Samuel berteriak histeris memanggil dua nama yang entah mengapa tidak kunjung menampakkan diri.
"RIZA! AHMAD! Sialan, orang itu ngikutin gue mulu!"
Samuel mengambil tikungan tajam ke arah kanan di sebuah persimpangan. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci. Tepat di depannya, sosok bertudung hitam itu sudah berdiri tegak, mengacungkan sebuah pistol Glock 19 lurus ke arah wajahnya.
Bang!
"Waaaaah!"
Samuel tersentak bangun dengan teriakan yang tertahan di tenggorokan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sunyi, menyadari dirinya masih berada di dalam kamar apartemennya yang aman.
Samuel melirik jam tangan di pergelangan kirinya yang berpendar redup. Angka digital menunjukkan pukul 01.37 WIB.
Hanya ada satu kesimpulan yang berputar di kepala Samuel saat ini: Deduksi Ahmad kemarin salah total, atau ada sesuatu yang sengaja ditutupi oleh rekannya itu.
Masa bodoh dengan rasa kantuk dan badannya yang menuntut hak untuk beristirahat, Samuel menyibak selimutnya. Ia beranjak menuju ruang kerja, menyalakan lampu meja, dan mulai mengumpulkan kembali seluruh berkas hasil penyelidikannya yang berantakan, bersanding dengan salinan dokumen deduksi milik Ahmad.
Samuel memulai analisisnya dari sang korban utama: Pejabat Negara berinisial C.
Ahmad menduga motif pembunuhannya adalah balas dendam karena ide reformasi pertanian milik Yogi dipergunakan oleh Pejabat C tanpa izin. Bagi logika Samuel, poin ini memang memiliki dasar yang kuat. Dari rekam jejak digital yang ia temukan, Pejabat C dan Yogi memang pernah bekerja di instansi kementerian yang sama dan berada di dalam tim riset yang sama.
Pejabat C dikenal luas sebagai sosok yang membawa gelombang reformasi pertanian besar-besaran di negara ini. Tapi, apakah semua itu murni ide Yogi? Dari mana Ahmad bisa tahu sedetail itu? gumam Samuel dalam hati sembari membolak-balik lembar profil kedua orang tersebut.
Ia menelusuri arsip jurnal ilmiah lama milik Pejabat C. Benar saja, di sana tercantum nama Yogi sebagai asisten peneliti. Semasa hidupnya, Pejabat C memang sempat menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Yogi adalah salah satu mahasiswa bimbingan sekaligus asisten dosen kepercayaannya dalam proyek riset reformasi pertanian tersebut. Fakta ini justru membuat Samuel semakin pening. Jika mereka sedekat itu, motif pembunuhan murni karena "sakit hati idenya dicuri" rasanya terlalu dangkal dan tidak masuk akal untuk memicu pembunuhan berencana sekacau ini.
Sembari meregangkan otot lehernya yang kaku, pandangan Samuel beralih pada lembar informasi mengenai Riza yang tergeletak di sudut meja.
Riza bekerja di bawah naungan ID FOOD—holding BUMN pangan menteri pertanian.
Jabatan tinggi, sering lembur, cantik, ramah... bener-bener tipe wanita idaman korporat banget, haha, batin Samuel, sedikit tersenyum kecil di tengah situasi tegang ini.
Sreeek...
Suara gesekan halus dari arah belakang seketika memutus lamunan Samuel. Sensor bahaya di otaknya langsung menyala. Dengan refleks seorang penyelidik, Samuel membalikkan badan dengan cepat, tangannya bergerak cepat ke bawah laci meja—siap menarik senapan Glock 21 yang selalu ia simpan dengan rapi untuk situasi darurat seperti ini.
Namun, gerakannya tertahan.
Rupanya yang berdiri di sana hanyalah Riza. Dengan mata yang setengah terpejam karena kantuk dan segelas air putih di tangan kanannya, wanita itu menatap Samuel heran. "Kau sedang apa? Bukankah kasusnya sudah selesai?" ucap Riza dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Samuel menghela napas lega, menurunkan ketegangannya. Ia tidak tega melihat Riza yang harus ikut terjaga karena mengkhawatirkannya, dan berniat menyuruh wanita itu kembali ke kamar untuk tidur. Namun, tepat sebelum kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah kilatan sirkuit di otak Samuel mendadak terhubung.
ID FOOD itu bergerak di sektor pangan dan pertanian.
Yogi adalah sarjana S1 Pertanian dari IPB.
Pejabat C sempat menjabat sebagai Menteri Pertanian, sekaligus dosen dan atasan Yogi dalam riset reformasi pertanian.
Semua ini terlalu benderang untuk disebut kebetulan. Target yang diincar oleh sang dalang adalah orang-orang yang menguasai sektor pertanian negara. Tapi, apa sebenarnya motif besar di balik pembantaian ini?
Riza yang penasaran melihat Samuel malah melamun, berjalan mendekat. Ia menarik kursi kerja yang biasa diduduki Ahmad, lalu duduk tepat di sebelah Samuel untuk mengintip papan bukti. "Ada yang bisa kubantu?" tanyanya, mencoba mengusir kantuk.
Samuel menatap Riza dengan binar semangat yang kembali menyala. "Ada! Tapi... untuk sekarang, mending lu tidur aja dulu, Riz."
Riza menggelengkan kepalanya tegas, menolak perintah tersebut.
Samuel yang tipikal malas berdebat panjang akhirnya membiarkan Riza tetap di sana. Pikirannya kini beralih pada sosok tersangka lain: Wisnu.
Wisnu sepertinya sama sekali tidak memiliki benang merah dengan rantai birokrat ini. Dia hanyalah seorang pemuda yang kebetulan ditangkap pihak kepolisian karena kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang di sekitar lokasi kejadian. Hal itu yang membuat opini publik langsung menuding Wisnu sebagai pelaku pembunuhan Pejabat C. Memang harus diakui, banyak petunjuk fisik di lapangan yang mendadak mengarah pada Wisnu, seolah-olah sengaja disiapkan agar dia bersalah. Namun, Wisnu sama sekali tidak punya motif politik atau ekonomi untuk menghabisi Pejabat C.
"Riza, kau dulu lulusan Universitas Udayana, kan?" tanya Samuel tiba-tiba.
Riza yang sudah menaruh wajahnya di atas permukaan meja kerja Samuel yang dingin menjawab malas, "Ya, aku lulusan Udayana. Aku bahkan tahu sosok Wisnu yang sempat jadi tersangka itu..."
Mata Samuel membelalak. Ia seakan baru saja menemukan ujung benang merah yang kusut. "Wisnu juga lulusan Udayana? Lu berdua sama-sama mengambil fakultas pertanian di sana, Riz?!"
Dengan kesadaran yang sudah berada di ambang batas tidur, Riza menjawab tidak keruan, "Tidak... dan ya..."
Samuel mengacak rambutnya frustrasi. Jawaban menggantung dari Riza membawanya kembali ke jalan buntu. Apakah keterlibatan Wisnu di lingkaran ini murni sebuah kebetulan sial, atau ada konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar alumni kampus?
Kepala Samuel mendadak berdenyut hebat. Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya meruntuhkan pertahanan fisiknya. Sama seperti Riza, Samuel akhirnya menyerah. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menaruh wajahnya di sana, dan membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam tidur yang lelap di samping wanita itu.