NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kemudi dan Rencana Perjalanan Rahasia

Deru mesin bertenaga besar dari SUV hitam metalik yang baru dibeli Zenix terdengar halus namun bertenaga saat kendaraan gagah itu membelah kepadatan arus lalu lintas jalanan ibu kota. Di dalam kabin mobil yang sejuk dan beraroma harum kulit premium, kesunyian sempat bertahan selama beberapa menit. Zenix fokus mengendalikan setir dengan tangan kanannya yang dihiasi cincin perak, sementara tangan kirinya bersandar santai di dekat tuas transmisi.

Di kursi penumpang sebelah kiri, Silvia duduk sembari memeluk salah satu tas belanjaan kosmetiknya. Namun, pandangan matanya sama sekali tidak beralih dari jajaran tas kertas besar di jok belakang yang berisi gamis, jilbab, sandal flat, hingga sebuah kotak beludru merah kecil berisi cincin emas putih berlian. Rasa penasaran yang sejak tadi ditahannya di dalam mall kini sudah berada di ambang batas. Gadis remaja itu menggeser posisi duduknya menjadi agak miring, menghadap penuh ke arah profil samping wajah abangnya yang tampak tegas di balik kacamata hitam.

"Abang..." panggil Silvi dengan nada suara cempreng yang sengaja dilembut-lembutkan, mencoba merayu. "Silvi udah enggak tahan lagi, nih. Kepalaku bisa pecah kalau Abang enggak cerita sekarang. Itu barang-barang cewek di belakang buat siapa? Abang punya pacar, kan? Siapa namanya? Dia orang mana, Bang? Kuliah di kampus yang sama juga, atau model?"

Zenix melirik sekilas ke arah adiknya melalui sudut mata, lalu kembali menatap lurus ke depan jalan tol. Ia tahu, menyembunyikan rahasia dari seorang adik yang keras kepala dan manja seperti Silvi hanya akan memicu interogasi yang lebih parah di rumah. Terlebih lagi, setelah insiden labrakan Jennie tadi, Zenix merasa Silvi berhak tahu mengapa dirinya begitu membenci tipe-tipe gadis kota yang angkuh.

Zenix menghela napas pendek, lalu tangan kirinya bergerak melepas kacamata hitamnya, menaruhnya di dasbor. "Namanya Anisa," ucap Zenix dengan nada suara berat yang mendadak melembut secara drastis saat melafalkan nama itu. "Dia bukan anak kuliah seumuran kita, bukan juga model kota. Dia gadis bersahaja yang tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Beringin Sakti, tepat di tepi batas Hutan Sangker."

Mendengar jawaban yang sangat tidak biasa itu, Silvi sempat tertegun. Di dalam benaknya, ia membayangkan abangnya yang seorang bad boy metropolitan akan berkencan dengan mahasiswi modis, bukan seorang gadis desa terpencil.

"Anisa...?" beo Silvi, mengulang nama itu dengan perlahan. "Gadis desa? Terus, kok Abang bisa ketemu sama dia?"

Sambil terus mengemudikan mobil barunya dengan kecepatan stabil, Zenix mulai membuka tabir rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Dengan tutur kata yang tertata, Zenix menceritakan kembali peristiwa beberapa bulan lalu ketika dirinya, Jovanka, Deandra, Sasti, dan Susan tersesat di tengah malam karena mobil mereka dihadang oleh beberapa bandit di pinggiran Hutan Sangker. Ia menceritakan bagaimana mencekamnya suasana malam itu, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah pondok bambu sederhana yang dihuni oleh seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara.

Zenix menceritakan dengan sangat detail bagaimana kepribadian Anisa yang begitu santun, keteguhan imannya yang luar biasa, serta kemerduan suara tadarus subuhnya yang menggema menembus kabut hutan, yang tidak hanya menenangkan jiwa Zenix yang liar, tetapi juga mampu meredam amukan tak kasat mata dari mahluk-mahluk gaib Hutan Sangker.

"Anisa itu berbeda dari semua gadis yang pernah Abang temui di kota ini, Silvi," lanjut Zenix, tatapannya menerawang jauh menembus kaca depan mobil. "Di saat cewek-cewek lain melihat Abang karena harta, ketampanan, atau popularitas, Anisa bahkan tidak peduli dengan semua itu. Dia melihat Abang sebagai manusia biasa yang perlu diingatkan tentang arah hidup. Doa-doa subuhnya dari kejauhan yang membuat Abang bisa berubah jadi lebih baik dan dapat nilai terbaik di kampus sekarang."

Silvi mendengarkan setiap bait cerita abangnya tanpa menyela sedikit pun. Matanya yang bulat tampak berbinar-binar haru. Sebagai seorang adik, ia bisa merasakan ada ketulusan dan rasa hormat yang sangat mendalam dari nada suara Zenix. Ini pertama kalinya ia melihat sang Pangeran Es berbicara panjang lebar tentang seorang wanita dengan binar mata yang begitu hidup. Rasa khawatir Silvi bahwa abangnya akan mendapatkan pacar yang jahat seketika sirna, digantikan oleh rasa kagum yang membuncah terhadap sosok Anisa.

"Dengar, Silvi," ucap Zenix tiba-tiba, memutus lamunan adiknya dengan nada suara yang kembali serius dan penuh penekanan. "Kamu adalah orang kedua di dunia ini yang tahu tentang keberadaan Anisa dan hubungan kami, selain Mama. Bahkan Papa pun belum Abang kasih tahu karena Abang mau memantaskan diri dulu sebelum membawanya ke kediaman Dirgantara. Jadi, Abang minta... jangan pernah bilang siapa-siapa tentang hal ini, termasuk ke Papa. Biar ini menjadi rahasia kita bertiga dulu untuk sementara waktu. Paham?"

Silvi langsung mengangguk mantap, meletakkan jari telunjuk dan tengahnya di depan dahi membentuk tanda hormat. "Siap, Kapten! Silvi janji bakal kunci mulut rapat-rapat di depan Papa. Ini rahasia suci kita!"

Suasana di dalam kabin mobil kembali mencair, namun rasa penasaran Silvi kini beralih ke hal lain. "Eh, bentar, Bang... kalau barang-barang di belakang itu buat Kak Anisa, berarti Abang mau pergi nemuin dia dalam waktu dekat dong? Kapan?"

"Besok subuh," jawab Zenix singkat. "Ujian kampus sudah selesai, dan Abang punya waktu luang beberapa hari sebelum liburan semester resmi dimulai. Abang mau mengantarkan surat baru, sekaligus memberikan semua hadiah ini secara langsung menggunakan mobil baru ini."

Mendengar kata 'besok', jiwa petualang dan rasa manja Silvi seketika bergejolak hebat. Ia langsung mencengkeram lengan jaket kulit Zenix dengan antusiasme yang meledak-ledak. "Abang!!! Aku mau ikut!!! Please, Silvi mau ikut ke Desa Beringin Sakti! Aku pengen banget ketemu langsung sama Kak Anisa, pengen lihat seanggun apa cewek yang bisa bikin Abang es ku ini jadi bucin akut!" rengek Silvi dengan mata bulatnya yang berkedip-kedip memelas.

Bukan hanya karena ingin bertemu Anisa, tetapi di dalam benak remaja Silvi, ia juga sangat penasaran dengan cerita mistis yang baru saja dituturkan oleh Zenix. Sebagai anak yang lama tinggal di luar negeri yang serba modern, cerita tentang adanya demit, roh gentayangan, dan istana gaib di Hutan Sangker terdengar seperti plot film horor fantasi yang sangat menantang untuk disaksikan langsung dari batas aman.

Zenix sempat mengernyitkan dahi, tampak menimbang-nimbang risiko membawa adiknya yang manja dan cengeng ke daerah tepi hutan terkutuk itu. "Di sana tidak ada mall, Silvi. Jalannya rusak, hawanya dingin, dan gubuk Anisa sangat sederhana. Kamu yakin tidak akan menangis minta pulang?"

"Enggak akan, Bang! Aku janji bakal jadi adik yang penurut dan kuat!" tegas Silvi sembari mengangkat tangan kanannya membentuk gestur berjanji.

Zenix diam sejenak, menatap kesungguhan di wajah adiknya. Di satu sisi, ia berpikir ada baiknya membawa Silvi agar adiknya bisa belajar tentang arti kesederhanaan dan ketulusan hidup dari Anisa. Akhirnya, Zenix mengangguk setuju. "Oke, kamu boleh ikut. Tapi ada satu syarat mutlak."

Zenix menatap adiknya dengan tajam. "Kamu harus berjanji di depan Mama dan Papa malam ini, jangan pernah mengatakan kalau kamu ikut Abang pergi ke Desa Beringin Sakti. Kalau Papa sampai tahu kita ke daerah hutan angker, Papa pasti tidak akan mengizinkan. Kamu harus buat alasan lain... katakan saja ke Papa kalau kita berdua mau pergi liburan singkat ke vila puncak atau ke Bandung untuk merayakan kepulanganmu ke Indonesia. Mengerti?"

"Gampang itu, Bang! Urusan mengarang alasan di depan Papa biar Silvi yang atur, Papa pasti percaya kalau aku yang merengek," jawab Silvi dengan cengiran nakal khasnya.

Setelah mengamankan komitmen dari sang adik, Zenix segera mengambil ponselnya yang terhubung dengan sistem audio mobil via bluetooth. Sembari terus menyetir, ia menekan tombol panggilan cepat ke nomor kontak Jovanka. Tidak butuh waktu lama bagi sahabat karibnya itu untuk mengangkat panggilan.

"Halo, Jovan. Besok subuh lu ada acara enggak?" tanya Zenix langsung to the point tanpa basa-basi.

"Enggak ada, Zen. Kampus kan lagi libur pasca ujian. Ada apa nih? Mau balapan lagi?" tanya Jovanka dari seberang telepon.

"Bukan. Besok subuh, jam empat pagi, gua mau jalan ke Desa Beringin Sakti pakai mobil baru gua. Gua mau ngajak lu sama Sasti untuk ikut. Tapi untuk Deandra dan Susan, kali ini enggak usah diajak dulu, soalnya nanti di gubuk bambu milik Anisa tempatnya tidak akan muat kalau kita pergi berenam ditambah adik gua, Silvi," jelas Zenix panjang lebar.

Mendengar nama Desa Beringin Sakti disebut, suara Jovanka di seberang telepon langsung berubah penuh semangat. "Serius lu, Zen?! Wah, pas banget! Gua juga udah kangen sama suasana tenang di sana, sekalian mau mastiin keadaan neng geulis Anisa. Oke, gua bakal kabari Sasti sore ini juga biar dia siap-siap. Besok jam empat subuh kita langsung kumpul di titik biasa, ya!"

"Oke. Ingat, jangan telat," ucap Zenix sebelum mematikan sambungan telepon dengan senyuman puas.

Rencana perjalanan besar itu akhirnya resmi tersusun rapi. Di dalam benak Zenix, ia sudah tidak sabar untuk memacu SUV hitam barunya menembus batas provinsi, membelah kegelapan jalanan luar kota, dan menembus kabut mistis di pinggiran Hutan Sangker. Dengan kehadiran Jovanka yang humoris, Sasti yang dewasa, serta Silvi yang ceria, perjalanan kali ini dipastikan akan terasa jauh lebih hidup.

Zenix melirik ke arah jok belakang sekali lagi, menatap tas perhiasan mewah dan gamis-gamis anggun yang tersimpan di sana. Esok hari, di bawah naungan langit subuh pedesaan dan di hadapan kesucian Hutan Sangker, ia akan membuktikan kepada dunia dan kepada dirinya sendiri bahwa cinta sejati yang dirajut di atas selembar kertas surat lama akan segera mewujud menjadi sebuah ikatan janji suci yang nyata di atas lingkar cincin perak dan emas putih. Roda takdir baru saja berputar, dan Zenix siap mengemudikannya menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!