Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH HUJAN
Sebelum nama Zahran Adrian Adiguna menjadi nama yang terlarang untuk diucapkan di kediaman keluarga Yoora, dan sebelum Catalea Yoora memakai gaun pengantin putih yang akhirnya ia tinggalkan, mereka hanyalah dua orang remaja belia yang dipertemukan oleh takdir di sebuah sudut kota yang basah.
Pertemuan pertama mereka terjadi empat tahun lalu, di tahun kedua Alea kuliah di Bandung. Sebagai putri dari pemilik imperium kuliner raksasa Rotasi Company, Alea tidak diizinkan hidup santai.
Ayahnya menempatkannya di salah satu gerai bakery pusat di kota tersebut untuk belajar bisnis dari tingkat paling bawah sebagai pelayan dan kasir, tanpa boleh membawa-bawa nama besar keluarganya.
Sore itu, hujan badai melanda kawasan Dago. Angin kencang membuat jalanan macet total, dan sebagian besar pelanggan memilih berteduh di dalam gerai roti. Alea yang mengenakan apron merah khas Rotasi Company sibuk mengelap meja dan mengantarkan pesanan yang tak kunjung reda. Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, seorang pria dengan jaket denim yang basah kuyup melangkah masuk. Rambut hitamnya lepek karena air hujan, namun sepasang mata tajamnya langsung menyapu ruangan yang padat.
Pria itu adalah Zahran. Saat itu, Zahran sedang menyelesaikan tahun terakhirnya di jurusan arsitektur dan baru saja menyelesaikan magang di salah satu proyek hotel milik keluarganya. Ia sedang stres berat karena cetak biru desainnya ditolak oleh sang ayah, yang terkenal keras dan perfeksionis.
"Selamat datang di Rotasi Bakery, mau memesan apa?" sapa Alea dengan senyum ramah yang tulus, bukan senyum formalitas korporat yang biasa ia tunjukkan di kemudian hari.
Zahran menatap papan menu dengan dahi berkerut, tampak bingung dan kelelahan. "Apa saja yang manis dan bisa dimakan dengan cepat. Saya butuh asupan gula untuk otak saya yang hampir meledak."
Alea terkekeh pelan. Suara tawa yang renyah itu entah bagaimana berhasil meredakan ketegangan di pundak Zahran. "Kalau begitu, saya sarankan Croissant Amande dengan isi krim almon manis, ditambah secangkir cokelat panas dengan sedikit taburan kayu manis. Itu menu terbaik kami untuk meredakan stres."
"Boleh. Tolong satu," jawab Zahran sambil merogoh dompetnya.
Ketika Alea mengantarkan pesanan itu ke meja sudut tempat Zahran duduk, ia melihat meja tersebut sudah dipenuhi oleh gulungan kertas kalkir dan sketsa bangunan yang berantakan. Sebagai sesama orang yang dituntut untuk meneruskan bisnis keluarga, Alea tahu persis guratan frustrasi di wajah pria itu.
"Desain yang bagus," puji Alea spontan sambil meletakkan cangkir cokelat panas.
"Tapi struktur atap di bagian lobi ini... apa tidak terlalu berat jika menggunakan material semen murni?" tambah Alea lagi sambil menatap lurus rancangan itu.
Zahran mendongak, terkejut mendengarkan komentar dari seorang pelayan toko roti.
"Kamu mengerti arsitektur?" ujar Zahran
"Tidak terlalu. Tapi ayahku sering mengajakku ke proyek pembangunan pabrik baru Rotasi Company. Aku hanya sering mendengar para kontraktor mengeluhkan hal yang sama," Alea tersenyum tipis.
"Selamat menikmati rotinya." Ujar Alea lembut.
Sejak sore yang basah itu, gerai Rotasi Bakery di Dago menjadi markas rahasia Zahran. Hampir setiap tiga kali seminggu, Zahran akan datang, duduk di meja yang sama, dan memesan menu yang sama. Awalnya mereka hanya bertukar sapaan canggung, namun perlahan, percakapan mereka berkembang menjadi diskusi panjang tentang mimpi, tekanan keluarga, hingga hal-hal sepele seperti lagu favorit.
Zahran tidak tahu bahwa Alea adalah anak pemilik dari Rotasi Company yang sahamnya sedang meroket. Begitupun Alea, ia tidak tahu bahwa Zahran adalah putra tunggal dari Adiguna Group, raksasa properti yang saat itu sedang bersaing sengit berebut lahan strategis dengan perusahaan ayahnya di beberapa provinsi. Di dalam toko roti itu, status sosial mereka tanggal. Mereka hanya Zahran dan Alea remaja yang beranjak dewasa dan bertumbuh menjadi seperti apa yang keluarga mereka ingin kan.
Cinta tumbuh di antara aroma mentega yang dipanggang dan kepulan asap cokelat panas. Zahran jatuh cinta pada kemandirian Alea, pada binar matanya yang cerdas saat membahas strategi pemasaran, dan pada kehangatan hatinya yang mampu menenangkan ambisi liarnya. Sementara Alea jatuh cinta pada ketulusan Zahran pria pertama yang mendengarkan keluh kesahnya tanpa embel-embel
"kamu harus kuat demi perusahaan."
Enam bulan setelah pertemuan pertama, di bawah payung hitam yang sama saat hujan gerimis mengguyur pelataran kampus, Zahran menggenggam tangan Alea.
"Alea, aku tidak tahu masa depan seperti apa yang menanti kita dengan semua tuntutan keluarga kita masing-masing," ucap Zahran dengan suara baritonnya yang mantap, menatap lurus ke dalam manik mata Alea.
"Tapi aku tahu satu hal. Aku ingin menghadapi masa depan itu bersamamu. Mau pencapaianku diakui oleh ayahku atau tidak, aku hanya butuh kamu yang bangga padaku. Kamu mau jadi kekasihku?"
Alea tidak butuh waktu untuk berpikir. Dengan air mata haru yang menggenang, ia mengangguk.
"Ya, Zahran. Aku mau."
Masa-masa itu adalah musim semi dalam hidup mereka. Mereka menghabiskan waktu dengan kesederhanaan yang mewah. Berjalan menyusuri jalanan kota tua, mencicipi kuliner kaki lima di pinggiran jalan, dan saling mendukung saat ujian akhir. Zahran bahkan sering menemani Alea hingga larut malam saat gadis itu harus menghitung stok opname toko roti, membantunya mengangkat dus-dus tepung yang berat tanpa mengeluh sedikit pun.
Puncak dari kebahagiaan mereka terjadi saat perayaan ulang tahun Alea yang ke-22. Zahran membawa Alea ke sebuah bukit yang menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota Bandung. Di sana, di dalam mobil Zahran yang sederhana, pria itu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya bukan cincin berlian mahal, melainkan sebuah gelang perak dengan liontin berbentuk gandum kecil—simbol dari awal mula cinta mereka di toko roti.
"Ini belum seberapa, Alea," bisik Zahran sambil memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Alea.
"Tapi aku berjanji, suatu hari nanti, setelah aku sukses dan membangun hotel pertamaku sendiri, aku akan melamarmu di depan dunia. Aku akan meminta izin pada ayahmu dengan caraku sendiri."
Alea memeluk Zahran dengan erat, menghirup aroma parfum maskulin bercampur wangi hujan yang selalu melekat pada tubuh pria itu.
"Aku tidak butuh kemewahan, Zahran. Aku hanya butuh kamu."
Namun, gelembung kebahagiaan itu pecah dengan sangat kejam tepat di tahun kedua hubungan mereka.
Persaingan bisnis antara Rotasi Company dan Adiguna Group mencapai titik didih ketika kedua perusahaan memperebutkan hak akuisisi atas sebuah rantai waralaba kuliner legendaris di Jawa Tengah. Konflik itu meluas hingga ke ranah pribadi. Ayah Alea mengetahui hubungan putrinya setelah seorang detektif swasta menyerahkan foto-foto kebersamaan Alea dan Zahran di Bandung.
Malam itu, di ruang kerja rumah utama keluarga Yoora yang megah namun dingin, Ayah Alea menggebrak meja dengan sangat keras.
"Kamu tahu siapa laki-laki ini, Catalea?!" bentak sang ayah sambil melemparkan foto-foto itu ke lantai.
"Dia adalah anak dari pria yang hampir membuat proyek ekspansi kita di tiga provinsi bangkrut! Keluarga Adiguna itu licik! Mereka pasti memanfaatkanmu untuk mencari tahu rahasia resep dan strategi bisnis Rotasi Company!"
"Tidak, Ayah! Zahran tidak tahu siapa aku! Kami saling mencintai dengan tulus!" Alea membela, bersujud di kaki ayahnya sambil menangis histeris.
"Putuskan dia besok, atau Ayah akan pastikan izin usaha hotel pertama yang sedang dibangun Zahran di Yogyakarta dibatalkan lewat koneksi kita! Ayah juga akan menarik seluruh sahammu di Rotasi Company dan mengasingkanmu ke luar negeri!" Ancaman sang ayah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Di sisi lain, Zahran juga menghadapi badai yang sama dari ayahnya. Hubungan mereka dihantam dari dua arah oleh ego dan ambisi korporat yang tak mengenal belas kasihan.
Pertemuan terakhir mereka sebagai kekasih terjadi di tempat yang sama dengan tempat mereka memulai: di sudut gerai Rotasi Bakery. Sore itu tidak ada hujan, namun langit mendung hitam pekat seolah ikut berduka.
Alea datang dengan mata yang sembap dan tangan yang bergetar. Di atas meja, ia meletakkan gelang perak berliontin gandum yang diberikan Zahran.
"Zahran... kita harus selesai," ucap Alea dengan suara yang nyaris habis karena terlalu banyak menangis.
Zahran tertegun, wajahnya mengeras. "Kenapa, Alea? Karena kita anak dari dua musuh bisnis? Aku tidak peduli dengan bisnis mereka! Aku bisa melepas nama Adiguna demi kamu!"
"Tapi aku tidak bisa, Zahran!" kebohongannya terasa seperti belati yang menusuk lidahnya sendiri. Alea terpaksa berbohong demi melindungi karier dan masa depan proyek perdana Zahran yang diancam akan dihancurkan oleh ayahnya.
"Aku adalah pewaris Rotasi Company. Aku sadar, masa depanku adalah membesarkan perusahaan ini, bukan hidup dalam pelarian bersamamu. Hubungan kita... hanya kesalahan masa muda." Ujar Alea datar.
Zahran menatap Alea dengan pandangan ketidakpercayaan, lalu beralih pada gelang perak di atas meja. Rasa terluka yang teramat sangat berubah menjadi kemarahan yang dingin di matanya.
"Jadi... selama ini aku hanya mainan bagimu untuk melarikan diri dari kebosanan hidupmu sebagai orang kaya?" suara Zahran bergetar oleh amarah dan kekecewaan yang hebat.
"Baik. Jika itu maumu, Catalea Yoora. Aku akan pergi. Tapi ingat satu hal... kamu tidak akan pernah bisa melupakan aroma toko roti ini, karena di sinilah kamu membuang satu-satunya orang yang mencintaimu tanpa peduli berapa banyak uang di rekeningmu."
Zahran berdiri, meninggalkan gelang perak itu di atas meja, dan melangkah keluar dari toko roti tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.
Sejak hari itu, hubungan mereka mati secara resmi. Tiga tahun berlalu, keduanya bertransformasi menjadi sosok yang dingin di dunia bisnis. Zahran sukses memimpin Adiguna Group dengan tangan besi dan meredam dendamnya, sementara Alea berjalan seperti robot yang mematuhi setiap perintah ayahnya—termasuk menerima perjodohan dengan Reynald Pratama.
Namun, benih cinta yang tertanam selama dua tahun di Bandung itu ternyata tidak pernah benar-benar mati. Benih itu hanya tertidur, menunggu badai yang tepat untuk mengoyak kembali takdir mereka di hari pernikahan Alea.