Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Siapa Pemilik Rumah ?
" Ya wes ini uang nya , maturnuwun ya kang mudah - mudahan laris manis jualan nya " .
" Aamiin .. maturnuwun mbak yu , eh tapi ngomong - ngomong rumah mbak yu sebelah mana kok ngga kelihatan " .
" Aku ma suami ku tinggal di rumah ini kang " . Bu Wati menunjuk rumah besar di belakang nya .
" Serius mbak yu tinggal di rumah itu ? " .
" Iya kang , baru semalem sih " .
" Mudah - mudahan betah mbak yu , jangan lupa perbanyak baca doa dan sholawat buar selalu selamat " .
" Iya kang maturnuwun " .
" Ya wes mbak yu aku mau lanjut ke desa sebelah " .
" Eh kang tunggu ! " .
" Apa mbak yu ? " .
" Desa sebelah nama nya desa apa ? " .
" Desa Rejo Sari mbak yu , maen saja ke sana orang nya baik - baik kok " .
" Iya kapan - kapan kalau sudah ngga repot " .
" Besok kalau mau belanja lagi aku biasa lewat jam seginj mbak yu , kalau ngga lewat ya berarti ngga jualan alias meliburkan diri , hehehehe .. " .
Sepeninggal penjual sayur bu Wati bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju ke dapur , disana sudah ada suami nya yang tengah memperbaiki pintu belakang .
" Kenapa mas pintu nya ? " .
" Cuma lepas saja engsel nya , ini sudah bisa di pasang lagi , kamu mau masak apa bu ? " .
" Sayur kangkung sama tempe goreng pak " .
" Sambel juga bu ? " .
" Pasti kalau itu pak , makan kalau ngga ada sambel rasanya ada yang kurang . Oh ya pak tadi penjual sayur bilang kalau desa Rejo Sari ada di dekat sini " .
Pak Soni dan bu Wati bergegas menyelesaikan pekerjaan masing - masing karena hari juga sudah mulai siang .
" Apa kita hari ini ke desa Rejo Sari saja bu ? " .
" Tapi pak , ibu tadi sudah terlanjur masak buat sehari , apa besok saja ya pak kita ke sana ? "
" Ya wes lah bu kalau gitu besok saja kita ke desa Rejo Sari " .
" Makan dulu pak " .
" Iya bu , sebentar bapak cuci tangan dulu " .
" Edan ya pak , kalau ibu perhatikan perabot nya kelihatan masih baru - baru semua ini pak cuma dengan model jadul , tinggal di bersihkan saja sudah kelihatan kinclong lagi " .
Bu Wati tercengang memperhatikan semua barang - barang mewah khas keraton yang masih terlihat mulus meskipun sudah sangat berdebu .
" Iya ya bu padahal sudah di tinggal lama tapi kok nggak ada yang rusak , belum lagi meja makan ini bu kelihatan sangat mewah enggak ada goresan sedikit pun " .
" Pintu sama jendela nya saja kelihatan sangat mahal pak , kayu nya sebagus ini apa nggak rugi ya pak di tinggal begitu saja sama pemilik nya ? " .
" Yang jelas ya sangat rugi , karena perabotan seperti ini , tanah nya yang luas dan bahkan ada seperti warung makan di depan meskipun rumah ini ada di dalam hutan , bisa bikin tempat wisata bu " .
" Ah entahlah pak , yang jelas ibu sangat suka dengan tata letak ruangan - ruangan di rumah ini , andai kita juga punya rumah seperti ini ya pak ? " .
Pak Sono menarik napas dalam - dalam , " Mungkin pemilik rumah ini sekarang ada di luar negeri bu , kita juga nggak tau kapan mereka akan kembali ke rumah ini " .
" Yang banyak pak makan nya , biar bapak bisa gemuk lagi " .
" Ah ibu ini , bapak sudah tua kalau gemuk lagi malah akan semakin terasa berat kalau berjalan jauh " .
Pak Soni dan bu Wati melanjutkan makan dan sesekali bercanda ringan . Suasana menghangat apalagi jarang - jarang mereka bisa seperti ini .