Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendiko Dawuh Oom Victor
"Tumben elu bisa bijaksana, Gaban," ucap AKP Samsudin saat mereka berada dalam mobil usai menemui kedua orang tua Yugi.
"Mungkin karena gue mau jadi bapak ya. Apalagi anak gue udah tahu jenis kelaminnya cowok. Jadi ya ... macam warning buat aku sih besok cara ngedidiknya gimana. Tidak bisa sama macam Kenzie atau Zane tapi setidaknya, gue ambil cara Dok Lucky dan Pak Victor mendidik anak laki mereka. Jujur, Sam ... Aku ingin anakku seperti keluarga Sultan Pratomo. Bukan kekayaannya tapi how they educate their heir." AKP Ghafar menatap kedua orang yang saling mengacuhkan satu sama lain di ruang tamu.
"Ban, gue yakin elu bakalan jadi bapak yang baik. Karena lihat adik lu. Bapak lu orang baik, adik lu bisa jadi dokter spesialis kandungan juga karena hasil didikan elu dan bapak lu. Meskipun elu udah nggak ada emak, tapi adik lu bisa sukses berkat elu berdua. Bapak lu bisa menutupi kekurangan tiadanya emak lu. Elu bisa jadi Abang yang baik. Kasih contoh ke adik lu bahwa hidup lurus bikin semuanya enak." AKP Samsudin menstater mobilnya.
"Thanks Sharivan. Gue sama Juleha sebenarnya tidak kepikiran punya anak tapi Allah kasih rejeki. Berarti Beliau tahu kan kita mampu?" tanya AKP Ghafar ke AKP Samsudin.
"Yoi. Tapi ... Bini lu itu namanya Juliet, bukan Juleha!"
***
Kombes Arief dan Kombes Fariz mendatangi rumah Marwan, salah satu korban pembunuhan. Mereka disambut oleh kedua orangtuanya yang tampak terpukul dengan kenyataannya.
"Kami sudah tahu anak kami g@y dan melambai, Pak Arief. Tapi ... Siapa yang tega melakukan itu? Dokter forensik yang kami temui awalnya tidak mau memberitahukan apa penyebab kematiannya tapi kami desak ...." Burhan, ayah Marwan, menyeka air matanya. "Sungguh kami tidak mengira anak kami tewas dengan ... Kondisi seperti itu."
Dua Kombes itu hanya terdiam. Mereka sudah mendapatkan data dari Daisy dan dokter Lila serta dokter Adiwilaga yang melakukan autopsi. Jujur, keduanya juga bingung kenapa harus dalam kondisi itu.
"Apakah ... Marwan merasa kesakitan, Pak Arief? Pak Fariz?" tanya Cita, ibu Marwan.
"Dari hasil test labnya, Nak Marwan dalam kondisi tidak sadar Bu. Itu baru test awal karena kami belum mendapatkan hasil terbaru zat apa yang dipakai oleh si pelaku. Tapi intinya ... Nak Marwan tidak merasakan saat ... Anda tahu lah," jawab Kombes Fariz.
"Apakah Bapak dan Ibu kenal dengan korban satu lagi? Yang bernama Andy?" tanya Kombes Arief.
"Kenal Pak. Setahu saya dan istri, dia sudah tidak punya orang tua. Kami selalu mengira mereka pasangan. Kami tahu kami salah membiarkan putra kami menjadi g@y dan tidak mencari pertolongan ... Bukan suatu hal yang dibenarkan juga ... tapi kami ingin anak kami bahagia," jawab Burhan.
"Mungkin kalau anak kami dibawa untuk terapi, dia masih ada ya sekarang?" tanya Cita.
Kombes Fariz dan Kombes Arief hanya terdiam. "Kami tidak bisa menjawabnya."
***
Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
Sore harinya para anggota yang pergi keluar, kembali ke markas dan melihat tiga remaja di sana sibuk dengan laptopnya. Mereka menatap ke arah kedua ayah yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Mereka dapat info apa?" tanya AKP Samsudin.
"Mereka menemukan ayahnya Thomas alias Nimas. Dan Ozie, nama bapaknya Thomas, itu pegawai pasukan oranye. Dia tahu kondisi anaknya pas meninggal gimana," jawab Iptu Casey.
"Cris, gimana di museum?" tanya AKBP Rosita.
"Semua artifak yang kita temukan di galeri, itu palsu. Yang asli entah kemana," jawab Iptu Cristiano.
Brigjen Victor mengusap wajahnya. "Damn it! Dibawa kemana itu semua?"
"Yakin sudah dibawa pergi ke luar negeri. Jadi kita punya dua kasus. Satu kasus pembunuhan Akbar Maulana, kedua kasus pembunuhan dua banci, Marwan dan Yugi. Kita bagi tugas saja. Gaban, Sharivan, Cris dan Casey, kalian cari pembunuh berantai itu bersama Trio Detektif bukan Jupe, Peter dan Ben. Yang artifak, biar kita-kita yang ratingnya tinggi karena pasti berhubungan dengan orang punya kuasa. Is that okay?" tanya Kombes Steven.
Sheva, Kenzie dan Zane auto mendongak. "Kita sama Oom Gaban dan Oom Sharivan?" tanya Sheva dengan muka usil.
"Iya," jawab Kombes Steven.
"Yaaayyy!" seru ketiganya heboh.
AKP Ghafar dan AKP Samsudin hanya bisa menunduk. "Naseeeebbbb!"
"Tapi kalian nanti dibantu Pak Dean dan Dok Wayan kok," sahut Brigjen Victor.
"Yaaayyy! Ada pawangnya!" seru kedua uchū Keiji itu heboh.
Ketiga remaja itu melongo. "Kok sama Opa Dean sih?" protes Kenzie.
"Kenz, take it or leave it?" pendelik Brigjen Victor.
"Sendiko dawuh Oom Piktor," jawab Kenzie sambil manyun.
"Dasar!"
***
Medical Examiner RS Bhayangkara Jakarta
Daisy bersama timnya akhirnya bisa menyelesaikan proses autopsi para korban kecelakaan di jalur palang pintu kereta api. Sepanjang proses penyatuan kondisi jenazah, dua residennya ngomel-ngomel.
"Apa sih susahnya berhenti tidak sampai lima menit! Mati kan kalian sekarang!" omel dokter Pipit kesal.
"Pipit, tidak boleh gitu," tegur Daisy. "Hormati jenazah."
"Buat apa Dok! Kegoblokan hakiki itu! Ayah saya adalah masinis kereta api yang sering menemui anomali seperti ini! Heran! SDM macam gini kok ya masih ada! Sekarang mati semua kan?" balas Pipit kesal. "Ayah itu sampai sempat trauma saat bawa Argo Anggrek yang menabrak seorang bapak dan anaknya yang mau berangkat sekolah. Padahal sudah mau masuk Gambir. Mbok ya mikir! Eh lupa. Otaknya udah berceceran!"
Daisy mendelik ke arah residennya sementara dokter Ginanjar dan dokter Lila melongo mendengar juniornya ngomel panjang lebar. Mereka tidak heran karena yang sering disalahkan adalah masinis dan kereta apinya. Padahal itu jalur milik kereta api dan pengguna jalan lain harus menghormatinya. Ditambah pengereman kereta api itu tidak sama seperti ngerem mobil atau motor.
Kereta api membutuhkan jarak pengereman yang sangat panjang, berkisar antara 132 meter hingga lebih dari 1 kilometer, bergantung pada kecepatan dan bobot rangkaian. Kereta tidak bisa berhenti mendadak karena massa yang masif dan sistem rem udara yang bekerja bertahap di tiap gerbong.
"Pipit, meskipun kamu jengkel. Di sini kamu harus menahan emosi kamu. Hari ini saya bisa maklumi tapi next kalau ada kasus seperti ini lagi, kamu jangan ngamuk seperti tadi ya?" tegur Daisy pelan tapi tegas.
"Baik Dok Daisy. Maafkan saya yang emosi ... Karena auto flashback teringat bagaimana ayah saya harus cuti dua Minggu untuk menghilangkan trauma nya," jawab Pipit. "Alhamdulillah direktur KAI bisa memahami situasinya jadi Ayah tetap dapat gaji meskipun dipotong seminggu."
"Kita maklum, Pit. Tapi hop ya?" senyum dokter Ginanjar.
"Iya Dok. Maaf."
***
Yuhuuu up Sore yaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Iya, sedikit lagi dijadikan samsak dojo ama dok Lucky
sayangnya sekarang mungkin akan kena batunya🤣🤣