NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Retakan pada Umpan

Layar monitor di ruang kerja Alana masih menampilkan baris kode hijau yang berkedip teratur. Di ruangan yang hanya diterangi pendaran siber itu, Julian dan Adrian bekerja dalam keheningan yang intens. Jari-jari mereka tidak lagi menari dengan santai; ada ketegangan yang merayap di pundak si genius bersaudara itu. Di hadapan mereka, Alana duduk sembari memutar-mutar pena perak di jemarinya, tatapannya lurus pada grafik transfer data.

"Umpan siber sudah dilepas, Alana," ujar Julian, memecah kesunyian dengan suara yang agak serak. "Kami baru saja selesai meretas dan menggunakan akun logistik milik Doni—mantan kepala logistik era Ayah yang kemarin datanya kita temukan. Dokumen palsu tentang pengalihan jalur maritim Italia itu sekarang terlihat seolah-olah dikirim langsung dari komputer pribadinya. Jika faksi luar yang menyuap Doni satu tahun lalu masih memantau pergerakannya, mereka akan langsung menyedot berkas ini."

Alana tidak langsung merespons. Dia menghentikan putaran penanya, mengetuk ujung logamnya ke atas meja kaca. Duk. Duk. "Seseorang yang bisa memanfaatkan Doni untuk menembus paviliun barat satu tahun lalu tidak bergerak hanya karena melihat daging segar, Julian. Dia akan mengaturnya terlebih dahulu."

Tepat saat kalimat Alana berakhir, layar monitor di bagian tengah mendadak berkedip merah. Suara peringatan sistem siber berdenging pendek—bukan tanda bahwa umpan telah dimakan, melainkan tanda adanya intrusi balik yang sangat agresif.

"Tunggu dulu..." Adrian mencondongkan tubuhnya, matanya melebar di balik kacamata. "Ada pelacakan balik. Seseorang tidak menyalin dokumen kita, Alana. Mereka sengaja membiarkan dokumen itu terbuka, lalu menggunakan celah protokolnya untuk menyusup ke peladen cadangan kita di paviliun barat!"

"Sial, dia tahu ini perangkap," desis Julian, jemarinya langsung bergerak gila-gilaan di atas papan ketik untuk membangun dinding pertahanan baru. "Dia tidak memakan umpannya. Ditambah lagi, lihat algoritma enkripsi ini..."

Julian tiba-tiba terhenti. Wajahnya yang biasanya penuh percaya diri mendadak berubah pucat.

"Ada apa, Julian?" tanya Alana, matanya menyipit tajam.

"Enkripsi ini... ini kode satelit militer yang sama dengan yang digunakan oleh para penyerang paviliun barat satu tahun lalu," bisik Julian, suaranya agak bergetar. "Kode yang selama ini kita sebut sebagai The Architect. Penyerang itu sengaja meninggalkan jejak digitalnya di sini."

Adrian dengan cepat menyisir data log yang masuk, mencoba membongkar lapisan perlindungan The Architect. Detik berikutnya, sebuah nama muncul di sudut layar, tersembunyi di balik tanda tangan digital aliansi global angkatan lama.

"Bukan The Architect..." Adrian mendongak menatar Alana dengan tatapan tidak percaya. "Nama aslinya keluar dari basis data lama ayah. Ini... Arthur Vance."

Pintu ruang kerja terhantam terbuka kasar. Dominic masuk dengan langkah lebar yang berat, diikuti oleh Cedric dan Xavier. Aura ketiga pria itu sangat pekat, namun kali ini ada kilat kewaspadaan yang tidak biasa di mata mereka.

"Kalian melihatnya di sistem?" tanya Dominic, suaranya rendah dan berat. "Sistem pertahanan luar di gerbang barat mendadak mati selama tiga puluh detik. Cedric baru saja memeriksa polanya."

"Itu gaya sabotase Arthur Vance," cetus Cedric, rahangnya mengetat hingga urat lehernya menonjol. Pria yang biasanya haus darah itu kini tampak menahan diri. "Mantan penasihat strategi aliansi global. Pria tua licik yang dulu sering duduk di ruang kerja Ayah untuk menegosiasikan batas wilayah mafia Eropa. Aku tahu bajingan itu serakah, tapi aku tidak menyangka dia berani mengkhianati dinasti Garrick sampai sejauh ini."

Xavier memeriksa ponselnya, wajah tampannya mengeras. "Jaringan bank gelap yang kita gunakan di Zurich juga mendadak mengalami freeze. Arthur Vance baru saja memotong akses informasi finansial kita di sana menggunakan pengaruh lamanya. Dia bergerak lebih cepat dari perkiraan kita, Alana. Dia tahu kita sedang mengincarnya melalui Doni."

Ruangan itu mendadak terasa sempit oleh ketegangan yang mencekik. Konflik yang mereka kira akan berjalan mudah di bawah kendali dinasti Garrick, kini berbalik arah. Musuh mereka bukan sekadar mafia amatir yang bisa diselesaikan dengan otot Dominic atau pasukan bayangan Cedric. Arthur Vance adalah rubah tua yang membantu membangun fondasi aliansi dunia bawah tanah Eropa—dia tahu setiap jengkal kekuatan dan kelemahan dinasti Garrick karena dia adalah orang yang mengamati mereka sejak era Victor Garrick.

Alana berdiri dari kursinya. Tidak ada ketenangan mistis yang berlebihan; sekelebat kilat frustrasi muncul di matanya sebelum langsung digantikan oleh fokus yang tajam. Dia menyadari satu hal: meremehkan Arthur Vance dan menganggapnya sebagai musuh baru adalah kesalahan pertamanya. Pria itu adalah hantu dari masa lalu ayahnya.

"Julian, putus seluruh koneksi peladen cadangan sekarang. Biarkan dia mengambil data kosong yang tersisa, jangan biarkan dia melacak peladen utama," perintah Alana, suaranya terdengar dingin dan lugas. "Kak Xavier, jangan coba-coba menyentuh aset di Zurich lagi. Arthur sengaja memancing kita untuk membuka celah hukum agar otoritas Swiss bisa membekukan aset dinasti Garrick atas tuduhan pencucian uang."

Xavier mengangguk, menyadari jebakan hukum yang hampir saja dia masuki karena terlalu terburu-buru. "Hampir saja. Rubah tua itu menggunakan hukum privasi Swiss sebagai perisai sekaligus senjata untuk menjebak balik langkah finansialku."

Alana melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah laut malam Monako. Angin malam berdesir pelan, memantulkan bayangan wajahnya di kaca. "Dia tidak memakan umpan kita karena dia tahu kita yang memegang kendali di Monako. Dia ingin memindahkan medan pertempuran ini ke wilayahnya—ke Swiss, di tempat perlindungannya, di mana kita tidak memiliki keunggulan absolut."

Dominic mengepalkan tinjunya, namun kali ini gerakannya penuh perhitungan taktis, menyadari bahwa lawan mereka adalah mantan mentor strategi aliansi. "Jika penasihat tua itu ingin kita datang ke Swiss, maka kita akan datang. Tapi kita tidak akan datang sebagai tamu yang menyerahkan leher. Kita harus mengubah rencana."

"Benar," sahut Alana, berbalik menghadap kelima kakaknya. Tatapannya penuh antisipasi terhadap adu kecerdasan yang sesungguhnya. "Arthur Vance mengira dia telah memenangkan ronde pertama dengan meretas balik sistem kita dan menunjukkan taring lamanya. Dia merasa di atas angin karena berhasil memblokir langkah Kak Xavier."

Alana berjalan mendekati meja strategi, menatap peta digital wilayah St. Moritz yang terpajang di layar. "Kita akan berpura-pura panik. Julian, biarkan beberapa sistem sekunder kita terlihat pincang akibat serangannya tadi. Buat seolah-olah dinasti Garrick sedang mengalami krisis internal akibat kembalinya sang hantu masa lalu. Kita akan memberikan apa yang dia inginkan: kesan bahwa sang Ratu remaja dan kakak-kakaknya yang impulsif telah kehilangan kendali karena ketakutan."

Seringai tipis yang berbahaya kini muncul di wajah Alana, sebuah ekspresi murni dari seorang pemain catur yang siap mengorbankan beberapa pion demi menjebak raja lawan. "Saat dia merasa posisinya benar-benar aman dan mulai melonggarkan pertahanannya untuk merayakan kemenangan atas anak-anak Victor Garrick... di situlah kita akan masuk ke Swiss dan mencabut jantung pertahanannya dari dalam."

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!