Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 20.
Suara ombak menghantam dermaga, bercampur dengan angin malam yang membawa aroma garam dan mesiu. Lampu sorot dari menara pelabuhan menerangi ratusan pria bersenjata yang kini saling berhadapan. Tidak ada seorang pun yang bergerak, semua menunggu siapa yang akan menarik pelatuk lebih dulu.
Di satu sisi berdiri pasukan Romanov dengan formasi sempurna. Di sisi lain, organisasi Moretti dan Kensington terjebak di tengah pelabuhan setelah satu-satunya jembatan keluar diledakkan.
Lorenzo Sullivan melangkah turun dari tangga besi dengan tenang. Setiap langkahnya terdengar jelas di tengah keheningan. Wajahnya tetap datar, namun tatapan matanya tajam seperti pemangsa yang telah menemukan mangsanya.
Di hadapannya, Michael menggenggam pistol dengan erat.
Tatapan kedua pria itu bertemu, tak ada kebencian yang diucapkan. Namun semua orang tahu... mereka berdua sama-sama ingin menjatuhkan lawannya.
"Jadi ini jebakan." Dante Moretti menyeringai tipis.
Antonio Romanov tertawa kecil dari sisi kiri. "Kau baru menyadarinya?"
Leon Romanov berdiri beberapa langkah di belakang putranya. Meski usianya tak lagi muda, aura yang dipancarkannya masih cukup untuk membuat banyak orang menundukkan kepala.
"Sudah puluhan tahun aku berada di dunia ini, Dante," ucap Leon tenang. "Jangan mengajariku cara berperang."
Rahang Dante mengeras, ia memberi isyarat kecil. Puluhan anak buahnya langsung mengangkat senjata, begitu pula pasukan Romanov.
Udara terasa semakin berat.
"Aku pernah menganggapmu lawan yang layak." Lorenzo menatap Michael tanpa berkedip.
Michael membalas tatapan pria itu. "Lalu sekarang?"
"Mulai malam ini... kau hanyalah pria yang menghalangi jalanku."
Kalimat itu membuat darah Michael mendidih, ia sadar Lorenzo sengaja memancing emosinya. Namun sebelum siapa pun sempat bergerak—
Dor!
Satu tembakan memecah keheningan. Bukan berasal dari Romanov, bukan pula dari pihak Lorenzo. Melainkan dari salah seorang anak buah Moretti yang kehilangan kesabaran, peluru itu meleset dan menghantam tiang baja. Dalam sekejap... neraka pecah.
"Serang!" Suara Antonio menggema.
Ratusan pria Romanov bergerak bersamaan, rentetan tembakan memenuhi udara. Ledakan granat mengguncang gudang kosong, peluru berhamburan dari segala arah.
Beberapa anak buah Moretti langsung tumbang bahkan sebelum sempat membalas. Michael ikut bergerak mencari perlindungan di balik kontainer baja, Aaron berada tepat di sampingnya.
"Tuan! Mereka sudah menyiapkan posisi penembak!"
Michael melirik ke atap gudang.
Benar saja, belasan sniper Romanov sudah menguasai titik tertinggi.
"Turunkan mereka!" Aaron memberi aba-aba.
Beberapa penembak Kensington langsung membalas, suara tembakan saling bersahutan tanpa henti.
Di sisi lain...
Lorenzo berjalan di tengah baku tembak seolah hujan peluru bukan ancaman baginya. Dua pria Moretti menyerbu dari kanan, Lorenzo bahkan tidak mengubah ekspresi.
Dor! Dor!
Dua peluru mengenai dahi mereka hampir bersamaan, tubuh keduanya roboh tanpa sempat mendekat. Melihat itu, beberapa anak buah Moretti mulai mundur ketakutan.
"Itu iblis..."
"Jangan dekati dia!"
Namun Lorenzo terus maju, setiap tembakannya selalu menemukan sasaran. Tidak ada peluru yang terbuang sia-sia.
Di kejauhan, Michael melihat semuanya. Kini, ia memahami mengapa Lorenzo begitu ditakuti. Pria itu bukan hanya pemimpin, dia sendiri adalah senjata.
Sementara itu, Antonio memimpin pasukan dari sisi timur. Dengan senapan otomatis di tangannya, ia bergerak agresif, mematahkan pertahanan lawan sedikit demi sedikit.
"Dor! Dor! Dor!"
Beberapa kendaraan Moretti meledak setelah terkena tembakan peluncur granat. Api mulai membakar sebagian pelabuhan, dan asap hitam memenuhi langit malam.
"Sialan!" Dante mengepalkan rahang. Ia tidak menyangka Romanov telah menyiapkan perang sebesar ini.
"Mundur ke gudang kedua!" teriaknya.
Namun sebelum anak buahnya sempat bergerak—
Boom!
Gudang kedua ikut meledak, seluruh jalan mundur tertutup kobaran api.
Wajah Dante berubah pucat. "Mereka sudah menghitung semuanya..."
Leon Romanov memandang dari kejauhan dengan wajah tenang. "Perang bukan dimenangkan oleh orang yang paling kuat. Tetapi oleh orang yang paling sabar menunggu lawannya masuk ke perangkap."
...*****...
Sementara kekacauan terjadi di pelabuhan, Romanov Estate tetap tenang.
Velicia sedang berada di ruang kerja pribadinya. Di depannya terbentang layar besar yang menampilkan kondisi pelabuhan secara langsung melalui drone pengintai. Ia mengamati setiap pergerakan tanpa sedikit pun kepanikan.
Seorang anggota masuk sambil menundukkan kepala. "Nona, seluruh operasi berjalan sesuai rencana."
"Korban dari pihak kita?"
"Lima orang luka ringan, belum ada korban jiwa."
"Evakuasi mereka."
"Baik."
Pria itu pergi, Velicia kembali menatap layar. Tatapannya berhenti pada sosok Michael yang sedang bertempur di tengah hujan peluru. Untuk sesaat, ia terdiam. Namun hanya sesaat, lalu ekspresinya kembali dingin.
"Aku sudah memberimu kesempatan memilih jalanmu sendiri, Michael. Dan kau... tetap memilih berdiri di pihak musuh."
Wanita itu menutup layar tanpa sedikit pun keraguan. Di hatinya, Michael bukan lagi suami atau pria yang pernah ia cintai sepenuh hati, melainkan lawan yang harus ia kalahkan.
Di pelabuhan...
Pertempuran masih berlangsung.
Dante mulai menyadari keadaan semakin buruk, lebih dari separuh pasukannya telah tumbang.
Ia segera mendekati Michael. "Kita harus keluar dari sini!"
"Belum!" Michael menggeleng, tatapannya terkunci pada Lorenzo. "Aku tidak akan mundur sebelum menjatuhkan pria itu."
Dante menyeringai. "Kalau begitu... ayo kita lihat siapa yang lebih dulu mati."
Di kejauhan, Lorenzo perlahan mengangkat pistolnya. Tatapannya bertemu dengan Michael sekali lagi, lalu mereka saling membidik. Jari keduanya mulai menyentuh pelatuk. Namun tepat pada detik itu... suara mesin helikopter terdengar dari langit malam.
Semua orang refleks mendongak. Tiga helikopter tempur muncul dari balik awan, terbang rendah menuju pelabuhan.
"Itu bukan milik kita." Antonio mengernyit.
Leon pun mengangkat wajah. "Lalu... milik siapa?"
Tak lama kemudian, lambang organisasi asing terlihat jelas di badan helikopter.
"Bantuan akhirnya datang." Dante Moretti tersenyum lebar.
Namun senyum itu membeku ketika pintu helikopter terbuka, orang-orang bersenjata yang turun justru mengarahkan moncong senjata ke arah pasukan Moretti.
Suara dari pengeras terdengar dingin.
"Atas perintah Dewan Dunia Bawah, Operasi pembersihan dimulai."
Wajah Dante langsung berubah drastis, karena ia baru tersadar... musuh yang datang malam ini ternyata bukan hanya Romanov. Ada kekuatan lain yang mulai ikut bermain, dan perang dunia bawah kini berubah menjadi konflik yang jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣