Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.
Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan Hangat
Sam di belakang kemudi mengawasi secara diam-diam melirik pergerakan sang Tuan di kursi penumpang melalui kaca. Pria yang mengenakan stelan jas rapi itu mendesah pelan sembari memfokuskan pandangannya kedepan. Entah mengapa akhir-akhir ini Tuannya mengalami banyak perubahan. Semenjak kehadiran Zara yang tanpa sengaja, hingga berakhir menjadi istri kedua Tuannya, sedikit banyak mampu merubah sikap datar dan tak banyak bicara Tuannya itu.
Sam menepikan kendaraan di area parkir bangunan berlantai tiga yang menjual ponsel dan smarth phone terlengkap dari berbagai merk.
"Tuan, kita sudah sampai. Apakah Tuan berniat untuk memilihkannya sendiri untuk Nona?" Keduanya masih belum beranjak dari tempat duduk masing-masing.
Arka diam sejenak. Menimang untung dan ruginya.
"Biar aku saja yang memilihnya, aku tau ponsel semacam apa yang pas untuk istri mungilku itu." Arka meraih handle pintu mobil dan keluar bahkan sebelum sam sempat membukakan pintu untuknya.
Dengan kaki panjangnya, pria tinggi menjulang itu berjalan cepat menuju tempat yang ia inginkan. Beberapa penjaga tempat seketika memberikan pelayanan terbaik kala mengetahui siapa pengunjung yang datang.
Sam yang masih tertingal pun berjalan cepat untuk mengejar Tuannya. Dirinya mengelengkan kepala tak percaya akan apa yang di lihat oleh kedua netranya kini. Arka terlihat bersemangat, bahkan untuk memilih dan membelu benda yang tak pernah Tuannya itu lakukan sebelumnya.
"Dan apa itu?" gumam sam pada dirinya sendiri kala Tuannya memilih ponsel keluaran terbaru dengan warna merah muda.
Tuan bahkan mengesampingkan rasa malunya hanya untuk memilih benda yang cocok untuk istrinya.
Sam semakin mendekat, mensejajari Tuannya.
"Bagaimana, Zara pasti sangat menyukainya," ucap Arka berbangga sembari menunjukan ponsel berwarna merah muda dengan hiasan berlian di salah satu sisinya.
Sam menelan ludahnya kasar. Sejujurnya ia engan menjawab mengingat beberapa pekerja perempuan tengah menatap kearah mereka.
"Tentu Tuan. Nona Zara pasti sangat menyukainya." Sungguh jawaban penuh keterpaksaan yang terlontar dari bibir Sam.
Arka tersenyum senang, dan meraih selebar kartu dari dalam dompetnya. Penjaga toko pun dengan hati-hati menerimanya dan tak berapa lama menyerahkannya kembali beserta sebuah paper bag berukuran sedang berisikan ponsel yang ia beli.
Sepanjang jalan menuju mobil bahkan setelah kuda besi itu mulai melaju menyibak kehidupan malam kota, senyum tak luntur dari sudut pria tampan berjambang tipis tersebut. Ia memandang sejenak bungkusan kotak di tangannya, senyumnya kian mengembang. Wajah cantik istrinya, bergentayangan dalam fikiran.
"Aku tak sabar melihatnya memainkan tombol-tompol ponsel merah muda ini dengan jemari lentik mungilnya." Arka tergelak, kemudian mengusap pelan wajah lelahnya.
Sam yang tengah menggengam kemudi seketika menegang, mendengar ucapan Tuannya, namun dirinya hanya terdiam dan enggan untuk berkomentar.
Hingga mobil memasuki gerbang toko bunga pun Arka masih tetap tersenyum, namun kali ini dirinya tampak mengatur nafas dan menata detak jantungnya yang seketika tak beraturan saat berada semakin dekat dengan gadis yang disayanginya.
Sam dengan cekatan membuka pintu untuk Tuannya. Wajah bahagia yang sempat di tunjukan majikannya itu kini berubah gugup. Bahkan sempat menyaksikan jika Arka menarik nafas dalam dan berdehem beberapa kali sebelum memasuki pintu utama toko bunga.
Sam sekuat tenaga menahan gelaknya, namun dirinya yang masih berdiri di samping mobil itu pun dikejutkan oleh kehadiran dua penjaga keamanan yang tengah bertugas.
"Tuan Sam," sapa seorang penjaga.
"Apa ada yang Tuan-tuan cari malam-malam begini. Nona Anastasya pun sedang tidak ada di toko," imbuh penjaga lainnya.
"Ada sesuatu yang ingin kami cari dan ini tidak melibatkan Nona Anastasya. Kalian tidak perlu khawatir, saya akan bertanggung jawab jika nantinya akan timbul masalah."
Kedua penjaga itu pun mengangguk, dan mempersilahkan Sam untuk ikut masuk bersama Arka.
Pintu toko bunga yang tak terkunci mempermudah Arka untuk masuk kedalam. Tak mendapati sang istri di lantai dasar, ia berjalan menaiki tangga penghubung menuju lantai dua. Wajah lelah itu berbinar seketika kala mendapati sesosok mungil yang dicari.
Tubuh mungil dengan dres rumahan berwarna pastel selutut yang terlihat pas membungkus tubuhnya itu tampak berdiri memunggunginya, dan rambut setengah basah yang tergerai begitu saja bahkan sesekali bergoyang indah seirama gerakan tangan yang tengah menggengam spatula.
Arka menelan salivanya kasar. Tubuh mungil yang selalu ia rindukan dan selalu ingin ia dekap.
"Zara," gumam pria itu lirih lalu mendekati sang istri yang tengah memasak hingga memeluknya dari belakang.
Zara yang terkesiap nyaris berteriak dan memukul seseorang yang tengah mendekapnya dengan spatula, namun rengkuhan erat tangan kokoh mengurungkan niatnya dan menyadari siapa pemilik lengan tersebut yang sudah tak asing baginya.
"Tuan Arka!" pekik Zara. "Kenapa Tuan datang kemari?" tanyanya lagi, masih setengah terkejut.
Arka menautkan kedua alisnya. Wajahnya menunduk, mensejajarkan dengan wajah istrinya. "Kenapa aku datang kemari?" ulang pria itu mengikuti ucapan sang istri. "Bukankah aku suamimu? Apakah aku dilarang untuk menemui istriku sendiri?" Arka kian mendekatkan wajahnya pada Zara. Hingga ujung hidung mancungnya menyentuh puncak hidung mungil istrinya.
Zara mulai gelagapan dan salah tingkah. nyaris tak ada jarak di antara wajah keduanya. Akan tetapi dekapan tangan arka begitu menghangatkan tubuhnya. Hingga tak ada alasan baginya untuk menolak dan justru terlihat menikmatinya.