Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Meskipun pembagian warisan baru dilakukan sekarang, ketiga putra keluarga Lin sebenarnya telah memiliki rumah masing-masing yang terpisah dari rumah utama orang tua mereka.
Semua itu bermula karena Zhao Xiuying. Pada bulan pertama kehamilannya, ia membuat keributan besar di rumah mertuanya. Penyebabnya adalah ketidakpuasannya terhadap sikap kedua mertuanya yang dinilai terlalu memanjakan keluarga anak sulung.
Ibu mertuanya selalu memberikan pekerjaan ringan kepada Su Yulan--- istri anak sulung, sementara pekerjaan yang paling banyak dan berat justru dibebankan kepadanya. Setelah mengetahui dirinya hamil, Zhao Xiuying tidak lagi mampu menahan amarahnya. Keributan yang ia buat bahkan sampai menarik perhatian kepala desa.
Setelah melalui musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa setiap keluarga anak laki-laki akan tinggal terpisah, meskipun jaraknya masih berdekatan dengan rumah utama.
Bangunan rumah keluarga Lin sendiri tidak terlalu luas. Setelah dua rumah tambahan didirikan, halaman depan dan pekarangan belakang yang sebelumnya lapang pun terasa semakin sempit.
Sayangnya, pemilik tubuh ini adalah sosok yang pasif dan tidak pandai memperjuangkan haknya. Akibatnya, ia tidak mendapatkan sebidang tanah yang layak untuk membangun rumah. Pada akhirnya, rumahnya didirikan di lahan pertanian yang terpencil, tepat di bawah kaki gunung.
Meski lokasinya berdekatan dengan hutan dan mengharuskannya untuk selalu waspada, bagi Lin Chen saat ini tempat itu justru merupakan pilihan yang sempurna.
Rumah sederhana di kaki gunung tersebut dapat menjadi tempat baginya untuk menenangkan pikiran. Sebagai seseorang yang sepanjang hidupnya selalu percaya pada sains, ia kini dipaksa menerima sesuatu yang berada di luar nalar dan pengetahuan ilmiahnya--- reinkarnasi.
Lin Chen berjalan menuju rumahnya yang berada di kaki gunung, mengandalkan ingatan yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh asli.
Sesampainya di sana, ia mengembuskan napas lega. Setidaknya, rumah itu tidak serapuh dan sebobrok rumah-rumah MC yang sering digambarkan dalam cerita fantasi.
Memang, rumah tersebut tidak beratapkan genteng dan lantainya masih berupa tanah yang dipadatkan, tetapi bangunannya masih tergolong baru dan terbuat dari kayu yang kokoh. Ukurannya pun cukup luas.
Dari ingatan yang ia warisi, Lin Chen mengetahui bahwa pemilik tubuh asli sengaja membangun rumah yang lebih besar dibandingkan rumah saudara-saudaranya karena sang istri. Sayangnya, mereka berpisah sebelum rumah itu benar-benar selesai dibangun.
Begitu membuka pagar kayu sederhana, pandangannya langsung tertuju pada halaman yang bersih dan terawat. Di bawah pohon mangga yang rindang, terdapat sebuah bangku panjang dari kayu yang bentuknya menyerupai sofa sederhana tanpa sandaran.
Selain itu, tidak ada hal lain yang terlalu mencolok.
Saat membuka pintu rumah, ia melihat ruang utama yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan. Sebuah meja kayu dan beberapa kursi kayu tersusun rapi di tengah ruangan.
Rumah itu memiliki tiga kamar tidur. Satu kamar utama berukuran lebih besar, sementara dua kamar lainnya sedikit lebih kecil, tetapi masih cukup luas untuk ditempati dua orang.
Tampaknya, pemilik tubuh asli pernah membayangkan kehidupan keluarga yang hangat bersama mantan istrinya. Ia bahkan telah menyiapkan dua kamar tambahan lengkap dengan ranjang dan lemari kayu sederhana, seolah yakin bahwa suatu hari rumah itu akan dipenuhi suara anak-anak.
Lin Chen melangkah ke bagian belakang rumah dan menemukan dapur serta kamar mandi.
Dapur tungku tradisional dengan periuk tembikar yang berada di atas tungku. Tumpukan kayu bakar memenuhi sudut ruangan, cukup untuk digunakan dalam waktu yang lama.
Di samping dapur terdapat sebuah ruangan kecil yang berisi ember kayu untuk mandi. Namun, sumurnya justru berada di luar rumah.
Lin Chen sedikit mengernyit. Entah mengapa, tempat mandi dan sumur dibuat terpisah. Mungkin itu adalah kebiasaan masyarakat setempat, atau bisa jadi demi menjaga kebersihan dan kenyamanan penghuni rumah.
Tubuh ini memang orang yang rajin, sebelum berkumpul untuk membahas harta warisan dia masih sempat bekerja di ladang. Dan sekarang tubuhnya terasa lengket dan agak bau asam.
Lin Chen berjalan ke sumur, dalam ingatan nya katrol belum muncul pada zaman ini. Jadi dia hanya bisa mengambil air langsung menggunakan tali rami yang di ikatkan pada ember kayu.
Ember yang berada di ruang mandi jauh lebih besar, jadi dia bolak-balik untuk mengisi air sampai penuh. Tidak ada keluhan karena kehidupan modern nya berubah, malahan dia sangat antusias dan bersemangat.
Tubuh barunya ini benar-benar kuat!!
Biasanya, sekedar berjalan satu lantai pun dia akan langsung kelelahan. Namun sudah bolak-balik menimba dan mengangkat air dia tidak merasakan lelah sama sekali, malah merasa tubuhnya semakin panas berkeringat--- dan hal ini terasa nyaman ia rasakan.
Setelah ember di dalam ruang mandi penuh, Lin Chen langsung melepaskan pakaian nya. Gayung yang terbuat dari batok kelapa itu ia gunakan untuk mengguyur air ke atas kepalanya.
"Hah, rasanya menyegarkan..."
Tidak ada sabun untuk rakyat miskin, jadi dia harus puas mandi dengan air saja. Lin Chen menggosok semua bagian tubuh nya, sampai akhirnya mencuci muka selama tiga balikan karena terlalu berminyak.
Setelah merasa segar, Lin Chen menatap memperhatikan tubuh barunya.
Kulit coklat gandum yang sehat, tubuh kekar dengan delapan otot perut sempurna. Tangan panjang dan besar--- terlihat sangat kokoh. Dia menatap wajahnya dari pantulan air ember, hidung mancung, mata rubah yang tajam, bibir tipis dan memiliki sigma yang sempurna.
Wajah ini bisa di bilang tampan, hanya saja sering tertutupi debu tanah dan berminyak sehingga tidak enak untuk di lihat.
Rambutnya terikat pendek seperti ikatan rambut seorang samurai yang dia lihat di film animasi jepang.
Saat menyentuh rambutnya, Lin Chen menyadari jika dia harus menghabiskan air yang tersisa untuk mencuci rambutnya.
Setengah batang dupa kemudian.
Lin Chen sudah berbaring di atas ranjang kayu, ini mungkin merupakan mandi terbersih tubuh ini. Karena dalam ingatan nya, mandi yang di lakukan tubuh asli hanya sekedar menyiram kan air ke tubuh-- tidak sampai menggosok sedetail dirinya.
"Hah... Entah kehidupan ini akan berjalan baik atau tidak."
Lin Chen mulai mengingat-ingat, tubuh ini adalah seorang petani, namun dari ingatan yang dia terima pemilik tubuh ini juga bisa berburu dan membuat kerajinan.
Itulah sebabnya perabotan rumah ini cukup lengkap, namun kemampuan berburu... Lin Chen mengingat-ingat dan kemudian wajahnya menjadi jelek.
"Ini bukan sekedar pasif lagi, pemilik tubuh ini benar-benar bodoh!"
Pemilik tubuh sering berburu dan mendapatkan hewan buruan, namun beberapa orang tertentu sering memanfaatkan nya.
Mereka menjual kemalangan mereka sehingga bisa mendapatkan daging dari pemilik tubuh ini dengan harga rendah atau bahkan gratis.
Lin Chen menghela napasnya. "Hah..."
[ Ding! .... ]