"Ugh ..." Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ...
sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Plotwis
--
"Apa? Apa yang kamu katakan Nayra?"
"Hmmm!" Suaraku mengerang keras. "Mas! Aku sudah tahu semuanya! Sekarang aku tidak ingin melihat mu lagi."
"Nayra! Apa maksud mu! Aku tidak pernah ada niatan seperti itu. HAAA!" Tangannya menunjuk wajah Nayra."Dengar Nayra! Jangan pernah menuduh ku! Apa buktinya? HAAA!!!"
Perlahan air mata ku keluar dengan sendirinya. "HAH!! Mas .. Kam sadar apa yang kamu lakukan.?!"
"Baik' Nayra! Aku dan keluargaku akan pergi dari sini! Tapi ingat satu hal! Aku tidak pernah ada niatan sekalipun untuk menyakiti mu! Apalagi anak yang ada di dalam kandungan mu! Darah daging ku sendiri."
"Terlambat mas! Semua sudah terlambat ... Hiks ... Sekarang cepat enyah dari hadapan ku ..."
Perasaan ku semakin lega, setelah aku melampiaskan semuanya. Kini keluarga itu tahu siapa sekarang diriku. Aku bukan lagi Nayra yang dulu—Nayra yang bisa mereka hina, se hina-hina nya
...══════ஜ▲ஜ══════...
Di suatu tempat.
Ardiansyah berada di dalam ruangan Kakek Nayra—Atmadja.
Dirinya memasuki kamar tempatnya di kurung.
Ceklek
"Bagaimana? Apakah Anda senang dengan tempat baru ini?"
Sang kakek menoleh kearahnya. "Hmmm! Ka—" ucapnya menunjuk Ardiansyah.
"Hmmm! Apa kamu terkejut melihat ku?" Ardiansyah tersenyum kaku. "Pecundang! Mungkin itu yang bisa aku katakan sekarang ... Ayah'..."
Sang kakek terkejut. Mendengar perkataan Ardiansyah yang memanggil nya dengan sebutan ayah'.
"Si— siapa ka-kamu?" Tanya sang kakek yang saat ini kondisi kejiwaannya sedang bermasalah.
Ardiansyah perlahan mendekatinya.
"Aku adalah anak dari wanita yang kamu lecehkan, keparat!" Bisik Ardiansyah tajam di telinga Atmadja—ayah kandungnya.
BRAKKK!!!
Ardiansyah menggebrak meja.
Seketika Atmadja langsung terkejut, tubuhnya melonjak naik keatas, di iringi ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat saat itu.
"Cepat katakan? Dimana kamu menyembunyikan adikku? Cepat katakan?!" Tanya Ardiansyah sambil berteriak dengan suara yang mengerang keras.
"Katakan dimana kamu menyembunyikan adik perempuan ku.?" Matanya merah penuh kemarahan. "KATAKAN SEKARANG! HAAA!!!" Suaranya bergetar—menggema di dalam ruangan.
"Hmmm—" sang kakek tidak berkata apa-apa selain menggelengkan kepalanya.
"Cepat katakan! Aku tahu kamu tidak benar-benar gila' dimana adikku?!" Ucap Ardiansyah, terus mendesaknya agar berbicara.
"Jika bukan karena keluarga Baskara, yang menyelamatkan aku dan ibuku, mungkin aku dan ibuku sudah lama mati. Wanita itu, dia adalah dalang dari semua ini." Bentak nya semakin keras. "Laki-laki brengsek!!!"
Di dalam ruangan yang begitu besar, namun hening Ardiansyah terus mendesaknya agar mengatakan dimana ayahnya menyembunyikan adik perempuan yang selama ini dia cari.
"Ibukku Ningrum! Wanita desa yang kamu perkosa dulu, dia yang telah melahirkan ku." Ardiansyah memegang dagu ayahnya. "Aku di titipkan di panti asuhan. Gara-gara perbuatan bejat mu itu. Aku menderita di sana!"
"Namun apa? Lima tahun kemudian! Ibuku menikah dengan anak mu! Tanpa ia tahu bahwa wanita itu telah melahirkan seorang putra dari ayahnya sendiri." Ardiansyah tersenyum menyeringai penuh amarah.
Atmadja perlahan mengeluarkan air matanya. Dirinya menatap wajah Ardiansyah dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ternyata selama ini wanita itu telah melahirkan seorang putra —darah dagingnya sendiri.
"Kamu' anakku? Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Air mata kesedihan mengalir deras dari wajahnya.
"Wanita itu dia yang ingin membunuh ibuku." Menunjuk wajah ayah kandungnya. "Wanita yang sekarang menjadi menantu mu! Pria tua sialan!!"
Saat itu Ardiansyah mengikat ayah kandungnya sendiri. Supaya dia tidak bisa kabur dari ruangan itu.
"Anakku ...." Suaranya pelan dan berat untuk berkata-kata.
"Sepertinya kamu benar-benar gila' sekarang!"
BRAKKK!!!
Ardiansyah menendang mejanya di depannya. "HAAA!!!"
"Pria tua! Apa kamu bisu? Katakan? Dimana adikku."
Ardiansyah mencengkram lehernya, urat dahinya berkedut—menatap tajam dan penuh amarah dengan bola mata' yang semakin merah.
"HAAA!! Sial tidak ada gunanya bertanya kepada orang gila' seperti kamu!!"
Ardiansyah melepaskan cengkeraman tangannya, kemudian menghirup nafas panjang.
"Hhhmmm ... Dengar! Aku akan menghancurkan seluruh keluarga mu dan mengambil semuanya. Aku pastikan hidup mereka menderita sama seperti yang aku alami selama ini. Aku akan membalaskan dendam ibuku. Kepada kamu dan seluruh keluarga mu."
Tak ... Tak ... Tak ...
Ardiansyah keluar dari ruangan itu.
"Buka ikatannya, dan ingat jangan sampai dia kabur dari sini." Ucap Ardiansyah kepada anak buahnya.
Selama ini Ardiansyah terus mencari keberadaan adik perempuannya. Setelah ibunya kecelakaan kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Dirinya sempat melihat Atmadja membawa kabur adik perempuannya dan memalsukan kematian ibunya.
Namun saat itu dirinya masih belum mengerti. Walaupun dirinya tahu. Karena saat mendengar bahwa ibunya mengalami kecelakaan ia sempat kabur dari panti asuhan dan bertemu dengan keluarga Baskara yang mengantar dirinya pergi ke rumah sakit.
Sampai akhirnya karena kejadian itu dirinya di angkat menjadi anggota keluarga Baskara yang kini telah menjadikan dirinya menjadi seperti sekarang ini.
Namun sampai sekarang Ardiansyah belum mengetahui siapa adik perempuan nya itu.
Sebelumnya Ardiansyah terus mencari keberadaan adik perempuan nya itu. Demi sang ibu yang kehilangan akal sehatnya (Gila) karena kehilangan adiknya, yang kini di rawat di sebuah rumah sakit jiwa.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Ardiansyah kembali ke rumahnya.
Dirinya duduk di sofa besar yang terletak di ruang tengah, ia kemudian mengambil botol anggur dengan kadar alkohol yang tinggi.
Walaupun rencana yang ia atur sedemikian rupa sehingga akhirnya ia sedikit lagi berhasil mendapatkan semuanya. Namun ia belum juga menemukan keberadaan adik perempuannya itu.
Dengan perasaan marah dan sedikit putus asa, Ardiansyah mabuk berat malam itu
--
Ceklek
--
Nayra yang baru saja kembali setelah mengusir seluruh keluarga mantan suaminya, masuk ke dalam rumah.
Sekarang Nayra sudah menyiapkan rencana balas dendam nya kepada Aqila. Kali ini ia akan benar-benar menghancurkan hidup Aqila dengan perlahan agar dia tahu rasa sakit yang ia rasakan.
Namun saat melihat Ardiansyah. Nayra tertegun. Ia melihat Ardiansyah yang sedang mabuk berat sendirian di tengah ruangan.
"Ardiansyah!!"
Nayra berjalan mendekatinya. "Kamu mabuk?" Tanya Nayra, kemudian melihat botol-botol anggur yang kosong di atas meja.
"Lepaskan!!! Lepaskan aku!" Teriak Ardiansyah saat mabuk.
Nayra kemudian memapah Ardiansyah masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek!
BRUGGG!!!
Ardiansyah terkapar di atas ranjang tempat tidurnya. Nayra kemudian melepaskan jas dan sepatu yang masih Ardiansyah pakai.
SRET!!!
Saat itu Nayra teringat sesuatu. Matanya kemudian tertuju pada lemari pakaian Ardiansyah yang menyimpan sebuah brankas kecil di dalamnya.
"Ini adalah kesempatan ku untuk mencari tahu apa yang ada di dalam brankas itu."
Nayra berdiri di depan lemari pakaian Ardiansyah.
Krek!
Tangannya membuka lemari pakaian itu dan mengambil kotak brankas kecil yang hanya bisa di buka oleh sandi dan sidik jari Ardiansyah.
"Ardiansyah! Apa yang kamu sembunyikan di dalam brankas ini?" Nayra bertanya di dalam hatinya.
SRET!
Nayra menempelkan sidik jari Ardiansyah.
Krek!
Kotak brankas akhirnya terbuka.
Nayra kemudian melihat isi kotak itu. Tiba-tiba saja dirinya terdiam, tangan nya menutupi mulutnya dengan mata' yang terbelalak—terbuka lebar saat melihat isi kotak itu.
--
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...