NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Mabuk Berat

Hari itu... pertemuan dengan investor berjalan lebih lancar dari yang diperkirakan. Dara dan Rina hampir tidak memiliki waktu untuk bernapas. Sejak pagi mereka terus berpindah dari ruang rapat ke ruang presentasi. Dokumen berganti dokumen, laporan berganti laporan.

Namun semua kerja keras itu terbayar. Kesepakatan yang dibahas selama beberapa bulan akhirnya mencapai tahap final. Saat keluar dari gedung pertemuan, Rina langsung menghela napas panjang.

"Akhirnya selesai juga."

Dara ikut tertawa kecil. "Kakiku rasanya mau copot."

"Masih mending. Otakku rasanya mau meledak."

Mereka berdua tertawa.

Di depan mereka, Alexander sedang berbicara dengan beberapa investor. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Tidak banyak bicara, tetapi setiap kata yang keluar selalu membuat lawan bicaranya memperhatikan.

Tak lama kemudian seluruh rombongan kembali ke hotel. Pukul enam sore, Dara dan Rina sudah kembali ke kamar mereka.

Rina masih sibuk di depan laptop. "Aku harus menyelesaikan proposal revisi ini malam ini."

Dara yang baru selesai mandi mengangguk. "Aku bantu ya?"

"Nggak usah. Kamu istirahat saja."

Dara akhirnya duduk di sofa sambil mengecek beberapa email kantor.

Sementara itu...

Di kamar lain, Alexander baru saja keluar dari kamar mandi ketika ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk, kemudian satu lagi. Lalu beberapa file. Tatapannya turun ke layar. Nomor tidak dikenal. Awalnya ia berniat mengabaikannya. Namun ketika melihat isi pesan pertama, wajahnya langsung berubah dingin.

Beberapa foto dan beberapa video Sabrina bersama pria yang selama ini menjadi selingkuhannya. Alexander langsung membeku. Meski semua itu bukan hal baru baginya, melihat bukti-bukti tersebut secara langsung tetap terasa seperti luka lama yang kembali dibuka.

Rahangnya mengeras. Tangannya menggenggam ponsel semakin kuat. Beberapa menit berlalu. Lalu tanpa banyak berpikir, Alexander mengambil kunci mobil dan keluar dari hotel.

Malam hari...

Sebuah klub eksklusif di pusat kota Surabaya. Lampu-lampu remang memenuhi ruangan. Musik mengalun keras, Alexander duduk sendirian di area VIP. Di atas meja sudah ada beberapa gelas kosong. Dan satu botol yang isinya terus berkurang.

Beberapa wanita mencoba mendekat. "Sendirian?"

"Tidak ingin ditemani?"

"Kamu terlihat bosan."

Namun Alexander bahkan tidak menoleh. Ia hanya terus meminum minuman di depannya. Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 9 malam, kini pandangannya mulai kabur.

Sementara itu di sudut lain ruangan, Pak Ganjar yang sejak awal bertugas mengawasi atasannya mulai khawatir. Ia belum pernah melihat Alexander minum sebanyak ini. Pria itu jelas sedang mabuk berat. Pak Ganjar segera keluar dari area klub dan menghubungi Rina.

Beberapa detik kemudian telepon tersambung.

"Halo, Pak Ganjar?"

"Nona Rina..."

"Ada apa?"

Pak Ganjar menghela napas. "Tuan Alexander."

Rina langsung menegakkan badan. "Kenapa dengan Tuan Alexander?"

"Beliau sekarang ada di klub."

"Apa?"

"Dan beliau mabuk."

Rina langsung memijat pelipisnya. Masalahnya, proposal yang sedang ia kerjakan harus selesai malam ini dan dikirim sebelum pukul sepuluh. Kalau ditinggalkan sekarang, semuanya akan berantakan.

"Aduh..."

Rina menatap Dara yang sedang duduk tidak jauh darinya. Lalu muncul satu ide. "Dara."

"Hm?"

"Kamu bisa bantu aku?"

Beberapa menit kemudian...

Dara kini sudah berdiri di lobby hotel dengan wajah bingung. "Kenapa kamu ajak aku kesini?"

Rina menjelaskan semuanya pada Dara tentang Alexander yang mabuk berat.

Dan Dara seketika membeku. "Aku."

Rina mengangguk cepat. "Iya."

"Tapi kenapa harus aku?"

"Karena aku nggak bisa pergi," jawab Rina sedikit panik.

"Tapi itu Tuan Alexander."

"Iya, aku tahu."

Dara semakin gugup. "Tapi aku nggak mungkin menjemput beliau sendirian."

"Pak Ganjar ada di sana."

"Itu tetap aneh, Rin."

Rina menggenggam kedua tangan Dara. "Tolong Dara, kali ini aja."

Dara langsung terdiam.

Lima belas menit kemudian...

Ia sudah duduk di kursi belakang mobil hotel bersama Pak Ganjar. Sepanjang perjalanan menuju klub, jantungnya terus berdebar. Entah kenapa firasatnya mengatakan malam ini tidak akan berjalan baik-baik saja.

Dan ternyata, firasatnya benar. Karena begitu memasuki area VIP klub tersebut, Dara langsung melihat Alexander. Duduk sendirian, dengan beberapa gelas kosong di atas meja. Kemeja hitamnya sedikit berantakan, dan kini Alexander Wiratama Dirgantara terlihat begitu lelah dan rapuh.

Area VIP klub itu tidak terlalu ramai. Namun tetap saja, membawa seorang CEO yang sedang mabuk berat bukanlah hal yang mudah.

Dara berdiri kaku beberapa detik menatap Alexander. "Tuan..." panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Alexander hanya duduk bersandar di sofa dengan satu tangan menutupi matanya.

Pak Ganjar menghela napas. "Sepertinya Tuan Alexander sudah terlalu banyak minum."

Dara menelan ludah. Ini pertama kalinya ia melihat Alexander dalam kondisi seperti ini. Biasanya pria itu selalu terlihat tenang, dingin, dan terkendali.

Namun sekarang, ia terlihat sangat lelah. "Tuan Alexander?" panggil Dara lagi.

Kali ini Alexander perlahan membuka mata. Tatapannya tampak kabur. Beberapa detik ia menatap Dara tanpa berkedip. Seolah sedang memastikan wanita di depannya nyata.

"Dara?"

"Iya, Tuan."

Alexander mengernyit pelan. "Kenapa kau di sini?"

Dara dan Pak Ganjar saling berpandangan. "Pak Ganjar menghubungi Rina, dan aku hanya menggantikan Rina."

Alexander hanya mengangguk pelan. Kemudian kembali menutup mata.

Pak Ganjar langsung bergerak. "Baiklah, Tuan. Kita pulang."

Butuh beberapa menit sebelum akhirnya mereka berhasil membantu Alexander berdiri. Namun begitu berdiri, tubuh pria itu langsung sedikit oleng.

"Hati-hati, Tuan."

Refleks Dara ikut menopang lengannya. Dan entah bagaimana, akhirnya mereka berhasil membawa Alexander keluar menuju mobil. Di dalam mobil, Pak Ganjar duduk di kursi pengemudi.

Sedangkan Dara dan Alexander berada di kursi belakang. Awalnya Dara mengira semuanya akan berjalan tenang. Ternyata tidak, karena beberapa menit setelah mobil berjalan. Alexander tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahunya.

Deg.

Tubuh Dara langsung menegang. Astaga, bau alkoholnya sangat kuat. "Tuan..." panggil Dara pelan.

Tidak ada jawaban.

Alexander justru semakin bersandar. Kepalanya kini hampir menempel di dadanya. Dara langsung panik, sedangkan dari balik spion, Pak Ganjar melihat semuanya dengan senyum tipis yang berusaha disembunyikan.

"Tuan Alexander memang jarang mabuk, tapi sekalinya mabuk begitu," ucapnya pelan.

Dara hanya bisa tersenyum canggung. Beberapa detik kemudian. Tanpa sadar Alexander menggerakkan tangannya. Lalu, memeluk pinggang Dara.

Deg!

Mata Dara langsung membelalak. "T-Tuan?"

Namun Alexander sama sekali tidak sadar. Pria itu justru terlihat semakin nyaman. Seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat.

Dara benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Melepasnya terasa tidak tega, membiarkannya juga membuat jantungnya hampir copot.

Sementara Pak Ganjar di depan memilih fokus menyetir sambil menahan senyum.

Lalu tiba-tiba, Alexander bergumam pelan. Namun cukup jelas untuk didengar. "Dasar wanita sialan..."

Dara menunduk menatapnya.

Alexander masih memejamkan mata. Wajahnya terlihat jauh lebih muda saat tidak memasang ekspresi dingin seperti biasanya.

"Aku tidak ingin kembali lagi dengannya..." Suara itu terdengar serak. Lelah dan penuh kekecewaan.

Dara langsung tahu siapa yang dimaksud... Sabrina. Untuk sesaat, dadanya terasa sesak. Karena baru kali ini ia benar-benar melihat luka yang selama ini disembunyikan Alexander.

Pria itu selalu terlihat kuat, selalu terlihat tidak tergoyahkan. Padahal kenyataannya tidak, Alexander hanyalah seseorang yang sedang berusaha bertahan.

Beberapa detik kemudian, pria itu kembali bergumam. "Aku capek..."

Kalimat sederhana itu membuat Dara terdiam. Lalu perlahan, tanpa sadar, ia menepuk pelan punggung Alexander.

Seperti yang sering ia lakukan kepada ibunya saat sedang sedih. "Sudah tidak apa-apa, Tuan," bisiknya lirih.

Alexander tidak menjawab. Namun pelukannya sedikit mengendur Dan kini, wajahnya terlihat jauh lebih tenang. Sedangkan Pak Ganjar yang melihat semuanya dari kaca spion hanya tersenyum kecil. Entah kenapa, ia merasa malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang bahkan belum disadari oleh kedua orang itu.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!