NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi di Super Market

Waktu berputar dengan ritme yang lambat sekaligus menyiksa bagi Naura. Menjelang pukul lima sore, ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke supermarket terdekat seperti yang telah disepakatinya dengan Arka tadi pagi.

Naura mengenakan pakaian kasual yang sederhana,celana jins biru tua longgar dipadukan dengan blus sewarna salem dan flat shoes. Rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang masih tampak sedikit pucat.

Pukul lima tepat, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Naura.

[“Aku sudah di jalan menuju Grand Supermarket yang ada di dekat kompleks. Kamu bisa naik taksi daring ke sana, atau aku bisa putar balik untuk menjemputmu?”]

Itu pesan dari Arka. Singkat, padat, namun entah mengapa selalu menyelipkan pilihan yang menghargai kenyamanan Naura.

Naura mengetik balasan dengan cepat bahwa ia akan langsung menuju ke sana menggunakan taksi daring agar Arka tidak perlu membuang waktu untuk berputar balik di tengah kemacetan Jakarta.

Sesampainya di supermarket besar tersebut, suasana cukup ramai oleh pengunjung yang mulai berbelanja sepulang kerja. Naura mendorong sebuah troli belanjaan berukuran sedang, berjalan menyusuri lorong yang berisi jajaran buah dan sayuran segar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena ia akan bertemu Arka, melainkan karena ia merasa asing dengan perannya saat ini. Memilih bahan makanan untuk seorang suami adalah hal yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya hingga seminggu yang lalu.

Sambil berjalan, Naura membuka kembali daftar makanan yang dikirimkan Arka melalui pesan teks beberapa jam sebelumnya. Daftar itu sangat spesifik: dada ayam tanpa tulang, salmon segar, brokoli, asparagus, telur organik, dan susu almon tanpa pemanis. Pria itu benar-benar menjaga pola makannya dengan sangat ketat dan sehat.

Saat Naura sedang memilah beberapa ikat asparagus hijau yang segar, sebuah bayangan tinggi tiba-kira berdiri tepat di sampingnya. Naura mengira itu adalah Arka. Namun, ketika ia mendongak dan bersiap memberikan senyuman canggung, napasnya seketika tercekat di tenggorokan.

Bukan Arka yang berdiri di sana.

Pria itu mengenakan kemeja kasual hitam yang kusut, dengan kancing atas yang terbuka berantakan. Wajahnya yang biasanya bersih kini tampak ditumbuhi rambut-rambut halus yang tidak tercukur, dan sepasang matanya terlihat merah, kuyu, serta dipenuhi oleh luka yang mendalam.

"Rama ..." bisik Naura, suaranya bergetar hebat. Ikat asparagus yang dipegangnya terlepas kembali ke dalam wadah.

"Naura," panggil Rama dengan suara yang serak dan bergetar, sarat akan kerinduan sekaligus keputusasaan yang tertahan selama berhari-hari.

Tanpa memedulikan tatapan beberapa pengunjung di sekitar mereka, Rama langsung maju selangkah dan mencengkeram kedua lengan atas Naura dengan erat, namun tidak sampai menyakitinya. "Nau, akhirnya aku bisa ketemu kamu. Kamu nggak pernah balas pesanku, kamu menghilang ... Kenapa kamu tega melakukan ini sama aku, Nau?"

Airmata yang telah Naura bendung sejak pagi kini merebak di pelupuk matanya. Melihat sosok Rama yang begitu berantakan karena dirinya membuat rasa bersalah di dalam dada Naura semakin menganga lebar. "Ram ... maaf. Tolong lepasin dulu, kita dilihat orang," lirih Naura sambil berusaha memundurkan langkahnya, namun cengkeraman tangan Rama di lengannya justru semakin mengencang.

"Aku nggak peduli, Naura! Aku nggak peduli dengan orang-orang ini!" seru Rama, suaranya mulai meninggi karena emosi yang meluap-luap. "Jelaskan sama aku, Nau. Kenapa kamu tiba-tiba menikah dengan laki-laki itu? Minggu lalu kita masih merencanakan masa depan kita, kita masih bahas warna dekorasi untuk lamaran kita! Kenapa setelah Om Rahardjo meninggal, kamu justru melempar diri kamu ke pelukan orang asing? Apa salahku, Naura?!"

"Papa ... Papa yang meminta ini, Rama," tangis Naura akhirnya pecah, bulir-bulir air mata meluncur deras membasahi pipinya.

Ia menggelengkan kepala dengan rasa putus asa yang sama besarnya. "Itu wasiat terakhir Papa sebelum meninggal di ICU. Aku nggak punya pilihan lain, Rama. Aku harus memenuhinya. Tolong mengertilah ..."

"Wasiat?" Rama tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan di telinga Naura. "Hanya karena sebuah kertas atau ucapan sebelum meninggal, kamu mengorbankan cinta kita yang sudah berjalan tiga tahun? Kamu tahu seberapa hancurnya aku, Nau? Aku datang ke masjid itu, aku memohon untuk bertemu kamu, tapi orang-orang sewaan suami kayamu itu mengusir aku seperti sampah!"

Cengkeraman tangan Rama kini berpindah ke pergelangan tangan Naura. Pria itu menarik Naura mendekat, matanya menatap lekat dengan binar ketidakwarasan yang dipicu oleh patah hati. "Ikut aku sekarang, Nau. Kita pergi dari sini. Ceraikan laki-laki itu. Kita bisa lari ke tempat di mana nggak ada yang kenal kita. Aku bisa membahagiakan kamu, aku bersumpah!"

"Nggak bisa, Rama! Lepasin! Ini salah!" Naura memberontak, berusaha menarik pergelangan tangannya yang mulai memerah akibat tarikan Rama. Ketakutan kini mulai menjalar di benak Naura saat melihat tatapan Rama yang semakin tidak terkendali. "Rama, tolong lepasin ... kamu menyakitiku!"

"Aku nggak akan lepasin kamu lagi, Naura! Kamu punya aku!"

Tepat saat Naura merasa tenaganya mulai habis untuk memberontak, sebuah tangan kekar dengan urat-urat yang menonjol tiba-tiba muncul dari arah belakang Naura.

Dengan satu gerakan yang sangat cepat, kuat, dan penuh perhitungan, tangan itu mencengkeram pergelangan tangan Rama yang sedang memegangi Naura, lalu menekannya dengan kekuatan yang membuat Rama seketika meringis kesakitan dan terpaksa melepaskan cengkeramannya dari tangan Naura.

Sebelum Naura sempat jatuh tersungkur karena kehilangan keseimbangan, sebuah lengan kokoh lainnya menangkap pinggangnya dengan sigap, menarik tubuh mungil Naura ke belakang sebuah punggung yang lebar dan tegap.

Aroma parfum maskulin yang familiar,campuran antara kayu cendana dan mint yang segar,langsung menyerbu indra penciuman Naura.

Naura mendongak dan menemukan punggung Arka yang berdiri kokoh layaknya sebuah benteng di hadapannya. Arka telah datang. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya, namun aura yang dipancarkannya saat ini jauh lebih dingin dan tajam daripada biasanya.

Arka berdiri tegak, menyembunyikan seluruh tubuh Naura di belakang punggungnya secara protektif. Mata elangnya menatap lurus ke arah Rama dengan pandangan yang begitu menusuk dan mematikan, seolah-olah ia bisa meruntuhkan lawannya hanya dengan tatapan mata.

"Siapa kamu?" tanya Rama sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman Arka tadi. Ia menatap Arka dengan pandangan penuh permusuhan, menyadari bahwa pria di hadapannya adalah suami sah dari wanita yang dicintainya.

"Aku adalah suami dari wanita yang sedang kamu seret secara paksa," jawab Arka. Suaranya terdengar sangat tenang, sangat rendah, namun memiliki artikulasi yang begitu tegas dan berwibawa hingga mampu membungkam kegaduhan kecil di lorong supermarket tersebut.

"Oh, jadi kamu pria yang sudah merebut Naura dari aku?" Rama maju selangkah dengan emosi yang menyala-nyala, menunjuk wajah Arka dengan telunjuknya yang bergetar. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang kami! Kamu cuma orang asing yang memanfaatkan situasi!"

Arka tidak terpancing emosinya sama sekali. Wajahnya tetap sedatar es, tidak ada gurat kepanikan atau amarah yang meledak-ledak pada ekspresinya. Sifat tenangnya yang luar biasa ini justru membuat aura intimasinya terasa semakin pekat dan berbahaya bagi siapa saja yang menantangnya.

"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di antara kalian di masa lalu," ucap Arka dingin, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang. "Namun, yang perlu kamu ketahui saat ini adalah, Naura adalah istri sahku di mata hukum dan agama. Dan sebagai suaminya, aku memiliki hak serta kewajiban mutlak untuk melindungi dirinya dari gangguan siapa pun,termasuk kamu."

Arka mengambil satu langkah maju, membuat Rama secara tidak sadar mundur selangkah karena terintimidasi oleh perbedaan postur tubuh dan karisma mereka yang terlampau jauh.

"Jika aku melihatmu mendekati, menyentuh, atau membuat istriku menangis lagi seperti ini," Arka menjeda kalimatnya, menurunkan suaranya hingga ke tingkat yang paling dalam namun penuh dengan ancaman yang nyata, "aku tidak akan segan-segan menggunakan seluruh jalur hukum dan otoritas yang aku miliki untuk memastikan kamu tidak akan pernah bisa berada di dekatnya lagi. Paham?"

Rama tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia menatap Arka, lalu beralih menatap Naura yang sedang bersembunyi di balik bahu Arka sambil terisak pelan dengan tangan yang memegangi ujung kemeja bagian belakang Arka. Melihat bagaimana Naura mencari perlindungan pada pria lain membuat sisa-sisa keberanian Rama runtuh total. Patah hati dan rasa malu yang luar biasa akhirnya memaksa Rama untuk berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan lorong supermarket dengan terburu-buru.

Setelah memastikan Rama benar-benar menghilang dari pandangan, ketegangan di bahu tegap Arka perlahan mengendur. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Naura. Ketika melihat wajah Naura yang basah oleh air mata dan tubuhnya yang masih sedikit gemetar, gurat kecemasan yang samar muncul di sepasang mata elang Arka.

Dengan tindakan yang sangat sopan dan berhati-hati, Arka mengulurkan tangannya, mengambil saputangan kain putih bersih dari saku celananya, lalu menyerahkannya kepada Naura tanpa menyentuh kulit wanita itu secara langsung, demi menghormati batasan mereka.

"Usap air matamu," kata Arka, suaranya kini telah kembali melunak menjadi bariton yang menenangkan seperti tadi pagi.

Naura mengambil saputangan itu dengan tangan yang masih bergetar. "Ter ... terima kasih, Kak. Dan maaf ... maaf karena aku sudah membuat kekacauan di sini," bisik Naura di sela-sela isak tangisnya yang mulai mereda. Ia merasa sangat malu karena urusan masa lalunya harus melibatkan Arka yang tidak tahu apa-apa.

Arka menatap pergelangan tangan Naura yang tampak sedikit memerah akibat cengkeraman Rama tadi. Sebelah tangannya terulur, tampak ingin menyentuh memar itu, namun ia segera mengurungkan niatnya dan menarik tangannya kembali ke samping tubuh. Sifat penyayang dan penghormatannya yang tinggi mengalahkan impuls instingtifnya.

"Aku sudah katakan tadi pagi, jangan meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahanmu, Naura," ucap Arka lembut namun bertenaga. "Kamu tidak merencanakan pertemuan ini. Sekarang, apakah kamu masih ingin melanjutkan belanja, atau kita langsung pulang saja?"

Naura memandang troli belanjanya yang baru terisi beberapa ikat sayuran. Ia menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan saputangan milik Arka, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya.

"Kita selesaikan belanjanya, Kak. Aku ... aku sudah berjanji untuk memasak malam ini," jawab Naura, mencoba bersikap tegar di depan suaminya.

Sebuah binar kekaguman yang tipis melintas di mata Arka melihat ketegaran Naura. Arka mengangguk pelan, lalu mengambil alih kendali troli belanja dari tangan Naura. "Baiklah. Mari kita selesaikan bersama. Beritahu aku apa saja yang masih kurang."

Di sisa waktu belanja sore itu, Arka berjalan di samping Naura, mendorong troli dengan sabar tanpa mengeluh sedikit pun ketika Naura memilih bumbu dapur atau membandingkan harga barang.

Kehadiran Arka yang protektif, sopan, dan penuh tanggung jawab di sampingnya perlahan-lahan mulai memberikan rasa aman yang baru bagi Naura,sebuah rasa aman yang mulai mengikis sedikit demi sedikit rasa asing di antara mereka berdua.

1
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!