NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Aspal jalanan yang dingin malam itu menjadi saksi bisu runtuhnya pilar-pilar kehormatan keluarga Baskara. Suara hantaman, deru napas yang memburu penuh amarah, dan erangan kesakitan saling bersahutan memecah keheningan gang yang sepi.

Reza, dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya dan luka jahitan di punggung yang kini telah robek sepenuhnya hingga menembus jaket hitamnya, terus melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah Hendra.

"Bajingan! Kau mengincar nyawaku, dan kau menghancurkan hidup paman tulus seperti Ayah Hani?!" raung Reza, suaranya parau oleh amarah dan rasa perih yang luar biasa di punggungnya.

Setiap ayunan tinjunya dibarengi dengan tetesan darah yang mulai membasahi kemeja rumah sakit yang ia kenakan di balik jaket.

Hendra, meski terkejut dengan kedatangan Reza yang tiba-tiba, bukanlah lawan yang mudah. Sebagai pria yang terbiasa menggunakan segala cara untuk bertahan hidup, ia memanfaatkan celah saat Reza meringis menahan sakit di punggungnya.

Dengan satu sentakan kaki yang kuat, Hendra berhasil menggulingkan tubuh Reza, membalikkan posisi hingga kini ia berada di atas keponakannya sendiri.

Hendra mencengkeram leher Reza dengan kedua tangannya, menekan saluran pernapasan pria muda itu dengan kekuatan penuh.

"Kau... anak ingusan yang tidak tahu diuntung! Jika bukan karena ayahmu yang egois itu, seluruh Baskara Group sudah berada di bawah kendaliku sejak lama! Kau tidak pantas mendapatkan apa pun, Reza!" desis Hendra dengan mata yang memerah penuh kegilaan.

Reza terbatuk, wajahnya mulai memucat karena kekurangan oksigen. Tangannya berusaha mencengkeram pergelangan tangan Hendra untuk melepaskan cekikan mematikan itu, namun kekesalan dan keputusasaan membuat kekuatan Hendra berlipat ganda.

Hani yang menyaksikannya dari atas aspal tidak bisa tinggal diam. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya kini menguap, digantikan oleh dorongan kuat untuk menyelamatkan pria yang telah mempertaruhkan nyawa demi dirinya untuk kedua kali.

Dengan menahan rasa sakit di lututnya yang berdarah, Hani merangkak cepat. Matanya menyapu sekitar dan menangkap sebongkah batu bata sisa perbaikan saluran air di dekat pembatas jalan.

Tanpa ragu sedikit pun, Hani mengangkat batu bata itu dengan kedua tangannya, berlari kecil, dan menghantamkannya ke punggung Hendra sekuat tenaga.

Brak!

Hendra mengerang keras, cekikannya pada leher Reza seketika terlepas saat tubuhnya terdorong ke samping. Reza langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya, terbatuk-batuk di atas aspal sambil memegangi lehernya yang memerah.

"Hani... lari..." bisik Reza dengan suara parau, pandangannya sempat mengabur akibat kekurangan oksigen dan kehilangan darah dari luka punggungnya.

Namun, Hendra yang sudah sepenuhnya kehilangan akal sehat akibat rencana busuknya yang berantakan, bangkit berdiri dengan cepat.

Wajahnya yang bersimbah darah akibat pecahan vas keramik sebelumnya kini tampak semakin mengerikan di bawah sorot lampu mobil yang masih menyala terang.

Ia tidak lagi memedulikan buku catatan atau flashdisk yang tergeletak di dekat sana, fokusnya kini hanyalah menghabisi orang yang telah menghancurkan masa depannya.

Hendra melangkah mundur beberapa langkah menuju semak-semak, tempat di mana pisau komandonya terlempar tadi. Dengan gerakan cepat, jemarinya kembali mencengkeram gagang senjata tajam itu. Bilah logam yang berkilat itu kembali terangkat tinggi.

"Kalian berdua... harus mati malam ini!" teriak Hendra, melangkah maju dengan tatapan membunuh yang mutlak.

Hani segera berdiri di depan Reza yang masih berusaha bangkit, merentangkan kedua tangannya sebagai perisai manusia. Ia tidak tahu dari mana datangnya keberanian itu, namun ia tahu ia tidak akan membiarkan Reza terluka lagi.

Tepat saat Hendra mengayunkan langkah pertamanya untuk menerjang mereka, dari ujung gang terdengar suara raungan sirene mobil polisi yang memekakkan telinga.

Cahaya lampu berwarna biru dan merah berkelebat hebat, memantul di dinding-dinding rumah tua di sekitar mereka. Tidak hanya satu, melainkan tiga mobil patroli polisi langsung berbelok tajam memasuki gang, mengepung area tersebut dalam hitungan detik.

"Kepolisian! Letakkan senjata Anda dan angkat tangan di atas kepala!" terdengar seruan tegas dari pengeras suara salah satu mobil polisi.

Belasan petugas bersenjata lengkap langsung turun dari kendaraan, mengarahkan moncong senjata mereka tepat ke arah Hendra.

Hendra membeku di tempatnya berdiri. Pisau di tangannya perlahan bergetar. Ia menoleh ke sekeliling, menyadari bahwa pelariannya telah berakhir.

Di belakang barisan polisi, pintu sebuah mobil sedan hitam terbuka, dan sosok Narendra Baskara melangkah turun dengan wajah yang sangat pucat namun guratan kekecewaan yang mendalam tercetak jelas di sana.

Narendra menatap adik kandungnya sendiri dengan pandangan yang hancur. "Hendra... jadi benar, itu kamu? Mengapa kamu tega melakukan ini pada anakku? Pada perusahaan kita? Dan pada almarhum ayah Hani?" suara Narendra bergetar menahan tangis.

Hendra menyadari bahwa segala sesuatunya telah selesai. Dengan senyuman getir yang penuh keputusasaan, ia menjatuhkan pisau komandonya ke atas aspal, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.

Dua petugas polisi dengan sigap langsung maju, memiting lengannya ke belakang, dan memborgol kedua pergelangan tangannya dengan kasar. Saat diseret melewati Narendra, Hendra hanya menunduk, tidak sudi menatap mata kakaknya lagi.

Begitu situasi berhasil dikendalikan, Hani langsung berbalik dan berlutut di samping Reza yang kini sudah jatuh terduduk, menyandarkan tubuhnya pada ban depan mobil SUV. Jaket hitam Reza sudah basah kuyup oleh darah segar yang merembes dari luka jahitannya yang robek terbuka.

"Pak Reza! Bertahanlah... tolong bertahan!" tangis Hani pecah. Ia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menekan luka di punggung Reza, mencoba menghentikan pendarahan yang kian hebat. Air matanya menetes pasrah mengenai bahu pria itu.

Reza tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir menyerupai tarikan garis bibir yang samar. Wajahnya sudah seputih kertas, dan kelopak matanya terasa sangat berat untuk tetap terbuka.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menyentuh lembut punggung tangan Hani yang berlumuran darahnya sendiri.

"Hani... syukurlah... kamu tidak apa-apa," bisik Reza, suaranya nyaris tak terdengar di antara hiruk-pikuk petugas medis yang mulai berdatangan membawa tandu darurat. "Aku... aku tidak terlambat, kan?"

"Tidak, Pak! Anda menyelamatkan saya. Tolong jangan banyak bicara lagi," ratap Hani, hatinya terasa seperti diremas dengan kejam melihat kondisi pria yang selama ini selalu mengusiknya di kantor, namun ternyata menyimpan ketulusan yang begitu besar hingga rela bertaruh nyawa untuknya.

Narendra berlari mendekat, wajahnya dipenuhi kepanikan luar biasa sebagai seorang ayah. "Reza! Tim medis, cepat bawa anak saya ke ambulans!" teriaknya bergetar.

Petugas medis dengan cekatan memindahkan tubuh lemas Reza ke atas tandu. Saat tandu itu mulai diangkat menuju ambulans yang lampu merahnya terus berputar, genggaman tangan Reza pada jemari Hani perlahan terlepas karena kesadarannya yang kian menipis.

Hani hanya bisa berdiri terpaku, menatap kepergian ambulans tersebut dengan dada yang sesak oleh kecemasan yang mendalam.

Dua jam kemudian, koridor Rumah Sakit Pusat Jakarta kembali menjadi saksi keheningan yang mencekam bagi Hani. Setelah luka-luka lecet di lutut dan tangannya diobati oleh perawat, Hani memilih untuk tetap duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi darurat.

Di tangannya, ia masih memeluk erat buku catatan hitam milik ayahnya dan flashdisk perak yang berhasil diselamatkan dari cengkeraman Hendra.

Narendra Baskara duduk beberapa kursi di sampingnya, menundukkan kepala dengan kedua tangan menopang kening. Pria paruh baya yang biasanya terlihat berkuasa dan tak tersentuh itu kini tampak sangat rapuh.

Hani menoleh pelan, lalu mengulurkan buku catatan hitam dan flashdisk tersebut ke hadapan Narendra. "Pak Narendra... ini adalah peninggalan almarhum ayah saya. Di dalam buku ini, ayah saya menuliskan semua bukti bagaimana Pak Hendra memanipulasi data delapan tahun lalu dan menjadikan ayah saya kambing hitam."

Narendra mengangkat kepalanya, menatap buku usang itu dengan tangan yang bergetar. Ia menerimanya dengan perlahan, membelai sampul kulitnya yang berdebu dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

"Hani..." suara Narendra tercekat di tenggorokan.

"Saya... saya tidak tahu harus berkata apa. Selama delapan tahun ini, saya telah menghidupi keluarga saya di atas penderitaan dan fitnah yang menimpa ayahmu. Kesombongan dan kebutaan saya telah menghancurkan nama baik pria paling jujur yang pernah bekerja untuk Baskara Group. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya... atas nama pribadi dan atas nama perusahaan."

Narendra menunduk dalam, sebuah tindakan yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun akan dilakukan oleh seorang pemilik konglomerasi besar di depan seorang karyawan biasa.

Hani mengembuskan napas panjang, membiarkan sebagian beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya mengalir keluar bersama helaan napasnya.

"Nama baik ayah saya adalah hal yang paling berharga bagi kami, Pak. Mengetahui bahwa Bapak akhirnya menyadari kebenarannya... itu sudah cukup bagi saya dan almarhum ayah."

Tepat pada saat itu, lampu indikator di atas pintu ruang operasi darurat berubah warna dari merah menjadi hijau.

Pintu ganda itu terbuka, dan seorang dokter bedah dengan pakaian hijau steril melangkah keluar sambil membuka masker medisnya. Wajah dokter itu tampak dipenuhi ketegangan yang belum mereda.

Narendra dan Hani seketika bangkit berdiri serentak, melangkah cepat mendekati sang dokter dengan jantung yang kembali berdegup kencang.

"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Narendra dengan suara memohon yang teramat sangat.

Dokter bedah itu menatap Narendra dan Hani bergantian, lalu mengembuskan napas panjang sebelum mulai berbicara dengan nada yang sangat serius.

"Pendarahan internal akibat robeknya jahitan lama berhasil kami tangani, dan untungnya tidak ada organ vital yang rusak akibat pergulatan tadi. Namun..."

Dokter itu menjeda kalimatnya, membuat atmosfer di koridor rumah sakit itu mendadak terasa membeku dan mencekam.

"Tubuh Pak Reza mendadak mengalami reaksi syok anafilaktik yang sangat parah selama proses operasi. Kami menemukan adanya zat kimia beracun asing yang masuk ke dalam aliran darahnya melalui luka terbuka, kemungkinan besar berasal dari bilah pisau yang digunakan dalam pergulatan sebelumnya. Pisau itu tampaknya telah dilapisi racun saraf dosis tinggi."

Wajah Hani seketika memucat, dan tangannya bergetar hebat mendengar penjelasan dokter. Racun saraf? Hendra benar-benar berniat memastikan Reza mati.

"Apa... apa dampaknya, Dok?" tanya Narendra, suaranya nyaris hilang karena syok.

Dokter itu menatap mereka dengan pandangan penuh simpati yang berat. "Zat beracun itu telah menyerang sebagian sistem saraf pusatnya sebelum kami sempat memberikan penawar. Saat ini, kondisi fisik Pak Reza memang sudah stabil, namun ia berada dalam kondisi koma yang sangat dalam. Kami tidak bisa memprediksi kapan... atau apakah dia akan pernah terbangun kembali."

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!