Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pagi yang Kaku
Cahaya keemasan yang sangat menyilaukan menusuk langsung menembus celah tirai apartemen, memaksa kelopak mata Cala terbuka perlahan. Suara dengung mesin penyejuk ruangan berpadu dengan bunyi klik mouse yang ditekan secara konstan tanpa henti.
Cala mengerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih berserakan. Pemandangan pertamanya adalah kerah kaos hitam polos dan garis rahang yang sangat tegas. Hembusan napas hangatnya sendiri memantul dari permukaan kulit yang sedingin es. Ia butuh beberapa detik penuh bagi otaknya untuk memproses posisi tubuhnya saat ini.
Pipi kirinya menempel dengan sangat nyaman di atas sebuah benda padat yang ternyata adalah lengan kanan Ronan.
Cala tersentak kaget bukan kepalang. Tubuhnya melompat mundur seketika, nyaris membuat kursi kayunya terbalik ke belakang jika ia tidak cepat-cepat menahan ujung meja kaca dengan kedua tangannya. Matanya membelalak lebar menatap pria tinggi besar di sebelahnya.
Ronan bahkan tidak menoleh sedikit pun. Postur pria itu masih sama persis seperti semalam. Punggungnya tegak kaku menghadap layar monitor ganda yang menyala terang. Bedanya, tangan kanan pria itu kini terkulai lemas di atas pangkuannya, terlihat sedikit pucat, sementara tangan kirinya masih sibuk mengetik kode-kode biner dengan kecepatan luar biasa.
"Astaga! Berapa lama aku tertidur menempel di sana?" seru Cala panik. Ia buru-buru merapikan rambut panjangnya yang berantakan bagai sarang burung. Wajahnya terasa panas membakar. "Kenapa kamu tidak menyingkirkan kepalaku, Dokter Gila? Kamu bisa mendorongku jatuh ke sofa atau membangunkan aku dengan suara kerasmu itu!"
Ia menatap wajah pria itu lama, dan menyadari ada lingkaran hitam yang sangat samar di bawah mata tajamnya yang biasanya selalu terlihat sempurna. Rasa bersalah pun langsung mencubit keras ulu hatinya, menyapu bersih seluruh omelan yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Ronan akhirnya menghentikan ketikan tangan kirinya. Pria itu menatap layar monitor sejenak sebelum perlahan memutar tubuhnya menghadap Cala. Wajah tampan itu sama sekali tidak memancarkan emosi, namun tangan kirinya mulai memijat pangkal lengan kanannya sendiri dengan gerakan memutar yang sangat kuat.
"Tepatnya delapan jam empat belas menit," jawab Ronan dengan suara serak khas orang yang belum tidur. "Dan aku tidak menyingkirkan kepalamu karena memutus siklus tidur gelombang lambat secara paksa hanya akan menurunkan fungsi kognitif otak manusia hingga tiga puluh persen. Aku butuh otakmu bekerja seratus persen hari ini untuk mengingat rute logistik musuh kita."
Cala mematung mendengar alasan medis konyol yang keluar dari mulut pria itu. Ia menatap lengan kanan Ronan yang terus dipijat. Lengan itu pasti mati rasa total karena tertindih beban kepalanya semalaman penuh.
"Lenganmu kebas total, kan?" selidik Cala dengan mata memicing tajam. Rasa bersalah mulai menyusup di dadanya, berbaur dengan rasa aneh karena pria gila kebersihan ini membiarkan lengan berharganya dijadikan bantal gratis semalaman. "Kamu sengaja tidak bergerak sama sekali? Kamu mengetik meretas server pelabuhan hanya menggunakan satu tangan kiri semalaman suntuk?"
Ronan mendengus pelan, menolak menatap mata Cala. Pria itu memijat otot bisepnya yang kaku layaknya batang kayu. "Jangan membuat asumsi dramatis yang tidak memiliki dasar ilmiah. Parestesia yang kualami ini murni akibat kompresi saraf ulnaris karena posisi duduk statis yang terlalu lama. Anatomi tubuhku cukup kuat untuk menahan tekanan fisik ringan."
"Pembohong yang sangat buruk," cibir Cala pelan, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Ia tahu betul gengsi pria ini setinggi gedung pencakar langit. Mengakui bahwa ia peduli sama saja dengan meruntuhkan seluruh citra manusia es yang ia bangun susah payah. Pria ini lebih rela tangannya mati rasa total daripada harus membangunkannya yang sedang kelelahan parah.