"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Serangan Balik
Keysa memalingkan wajahnya ke samping, memutus kontak fisik itu seketika. Hatinya berdesir aneh merasakan sentuhan posesif Arga, namun logikanya yang sedingin es langsung mengambil alih kendali.
"Jangan lakukan itu, Arga. Udara beku ini mulai membuat otakmu berhalusinasi tidak jelas," ucap Keysa pelan namun sangat tegas. Ia menarik kembali ujung jas abu-abu itu untuk menutupi tubuhnya rapat-rapat.
Arga hanya tersenyum tipis dalam gelap. Ia menahan rasa sakit luar biasa yang kembali menyerang jahitan di kepalanya akibat kelelahan. Laki-laki itu tidak memaksa Keysa untuk membalas sentuhannya, namun ia mempererat dekapannya, memastikan Keysa tetap merasa hangat sepanjang malam yang sangat menyiksa itu.
Waktu merangkak lambat bagai siput. Arga sama sekali tidak memejamkan mata. Ia terjaga menahan nyeri tulang rusuk dan denyut di tengkoraknya, bertindak sebagai tameng pelindung. Sementara itu, Keysa yang sudah kehabisan tenaga akhirnya jatuh dalam tidur yang gelisah bersandar pada dada suaminya.
Cahaya senter menyilaukan tiba-tiba menerobos masuk menyapu ruangan. Suara gerinda besi memotong rantai gembok dari luar terdengar memekakkan telinga. Pintu baja yang menjebak mereka akhirnya ditarik paksa hingga terbuka lebar.
"Bapak Arga! Mbak Keysa!" Reno berteriak histeris, berlari masuk diikuti lima anggota regu keamanan gedung. Jam di pergelangan tangan asisten junior itu menunjukkan pukul enam pagi.
Arga menyipitkan mata, mengangkat sebelah tangannya untuk menghalau silau cahaya. Tubuhnya kaku luar biasa. Keysa langsung terbangun dari tidurnya, mengerjapkan mata, dan buru-buru melepaskan diri dari pelukan suaminya. Tubuh perempuan itu masih sedikit gemetar menahan sisa hawa dingin. Pakaiannya kusut masai, namun raut wajahnya sudah kembali datar sedingin marmer.
"Panggil ambulans segera! Jahitan Bapak bisa infeksi parah!" panik Reno saat melihat wajah bos besarnya sepucat kapas.
"Tidak perlu ambulans," tolak Arga serak sambil dibantu berdiri oleh dua petugas keamanan. "Panggil saja dokter pribadi kantorku ke ruang istirahat CEO di lantai atas sekarang juga. Beri aku obat pereda nyeri dosis tinggi."
"Dan kamu, Keysa? Kamu harus ke rumah sakit sekarang juga," tatap Arga ke arah istrinya dengan raut khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
"Aku punya baju ganti cadangan di loker ruanganku. Mandi air hangat sepuluh menit di kamar mandi eksekutif sudah cukup untuk mengembalikan suhu tubuhku ke titik normal," jawab Keysa sangat taktis. Mata perempuan itu menajam, menyapu seluruh wajah regu keamanan yang menunduk tegang menahan takut. "Siapa kepala shift jaga ruang kontrol keamanan semalam?"
Seorang pria bertubuh gempal maju selangkah dengan keringat dingin membasahi seragamnya. "S-saya, Mbak Keysa. Nama saya Budi."
"Bagus. Jangan berani-berani pergi ke mana-mana. Tunggu aku di ruang kontrol pusat lima belas menit lagi."
Keysa tidak membuang waktu sedetik pun untuk menangisi nasib atau bermanja-manja akibat trauma terkurung semalaman suntuk. Tepat lima belas menit kemudian, setelah berganti dengan setelan kemeja biru tua yang bersih dan meminum segelas kopi panas untuk mengusir beku, ia sudah berdiri tegap di dalam ruang kontrol keamanan gedung yang dipenuhi puluhan layar monitor.
Arga ternyata menyusul datang. Laki-laki itu sudah mengganti kemejanya dengan kaus polo hitam cadangan dari lemari di ruangannya. Wajahnya masih meringis menahan sakit, namun sorot matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik Keysa dari ambang pintu ruangan.
Keysa mengambil alih komputer utama. Ia menekan keyboard dengan gerakan kilat. Barisan kode log sistem keamanan langsung terpampang jelas di layar.
"Sistem pendingin tidak mungkin berubah mode menjadi pembeku secara otomatis tanpa ada perintah manual dari komputer utama ini," desis Keysa. Ia menoleh menatap Budi yang gemetar hebat di sudut ruangan. "Log aktivitas sistem menunjukkan kata sandimu digunakan pada pukul delapan malam untuk mengunci pintu baja dan mengubah suhu ruang arsip secara drastis."
"I-itu pasti diretas dari luar jaringan, Mbak! Saya sedang pergi ke toilet saat kejadian itu berlangsung!" elak Budi dengan suara bergetar panik.
"Kamera pengawas lorong tiga yang mengarah langsung ke pintu ruang arsip tiba-tiba dimatikan tepat sepuluh detik sebelum pintunya dikunci. Diretas dari luar katamu?" Keysa tersenyum sangat tipis, sebuah senyum mematikan yang sukses membuat bulu kuduk Budi berdiri tegak. "Hanya orang yang duduk di ruangan ini yang bisa mematikan kamera secara spesifik. Berapa banyak uang suap yang diberikan keponakan Pak Hendra padamu untuk mengunci kami berdua di bawah sana, Budi?"
"Mbak Keysa menuduh saya tanpa bukti yang kuat!" bantah Budi mulai meninggikan suaranya.
Keysa merogoh tablet dari tasnya, menekan layar beberapa kali, lalu melemparkan benda pipih itu ke atas meja tepat di depan dada Budi. "Buktinya adalah transfer dana siluman sebesar lima puluh juta rupiah ke rekening pribadi istrimu tadi malam tepat pukul sembilan. Aku meminta akses khusus dari bank korporat kita belum lama ini. Mutasi rekening tidak pernah berbohong, Budi."
Budi langsung jatuh terduduk lemas, wajahnya pias kehabisan darah. Ia tidak menyangka asisten CEO ini bisa melacak jalur aliran uang ke rekening keluarganya secepat kilat.
"Kamu dipecat hari ini juga," vonis Keysa tanpa ampun, suaranya mengudara sedingin es. "Uang pesangonmu kutahan seratus persen untuk mengganti kerugian operasional perbaikan pintu baja yang rusak. Berkemas sekarang juga. Petugas akan mengawalmu keluar gedung sebelum aku memanggil kepolisian pusat atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana terhadap CEO."
Arga bersandar santai di kusen pintu ruang kontrol, bersedekap dada mengamati seluruh proses eksekusi tersebut. Tidak ada rasa ngeri sedikitpun di hatinya melihat kekejaman Keysa. Laki-laki itu justru merasa aliran adrenalinnya berpacu liar. Keysa adalah cerminan dirinya yang paling sempurna. Sisi tiran perempuan itu bekerja sangat memikat, membuat ego dominan Arga semakin meronta kuat ingin memonopoli Keysa seutuhnya. Ia tidak ingin ada satupun orang di kantor ini yang berani menatap istrinya, apalagi mencoba melawannya.
Selesai membereskan kekacauan menjijikkan itu, Keysa berjalan cepat kembali menuju ruangannya di lantai khusus CEO. Ia berniat menyusun draft laporan pemecatan Budi secepat mungkin. Namun, langkah kakinya terhenti mendadak saat ia keluar dari pintu lift.
Meja kerja kayunya yang selalu berada kokoh di depan pintu ruangan Arga, kini sudah menghilang tanpa sisa sedikitpun. Hanya ada karpet tebal yang kosong melompong. Dua orang petugas kebersihan terlihat baru saja selesai menggulung kabel telepon miliknya.
"Di mana letak meja kerjaku?" tanya Keysa dengan nada suara tinggi.
"Kami memindahkannya ke dalam ruangan pribadi Bapak Arga atas perintah beliau langsung, Mbak Keysa," jawab salah satu petugas itu takut-takut sambil menunduk hormat.
Keysa membuang napas kasar. Ia langsung melangkah lebar, mendorong pintu ganda ruang kerja suaminya dengan kuat. Matanya melotot tajam menyapu seisi ruangan. Benar saja, meja kerjanya kini sudah tertata rapi di dalam ruangan super besar tersebut. Posisinya menyamping menempel langsung dengan meja kebesaran milik Arga.
Arga sedang duduk tenang di kursinya, membiarkan dokter pribadinya selesai mengganti perban luka di kepalanya. Laki-laki itu menatap Keysa yang masuk membawa raut wajah penuh amarah mematikan.
Keysa berjalan mendekat, menatap meja kerjanya yang kini merapat menjadi satu kesatuan dengan meja CEO. Jarak mereka berdua kini bahkan tidak sampai satu meter saat sedang bekerja.
"Apa maksud semua kekonyolan ini, Arga? Ini melanggar batas privasi kerjaku," protes Keysa keras, meletakkan tabletnya di atas meja dengan bantingan pelan.
Arga memberi isyarat tangan pada dokter untuk segera keluar meninggalkan ruangan. Setelah pintu kayu ganda itu tertutup rapat, Arga mencondongkan tubuhnya ke depan. Laki-laki itu menatap lurus ke dalam manik mata Keysa dengan kilat kepemilikan dan obsesi yang sangat pekat.
"Mulai hari ini, tidak ada privasi di antara kita."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..