Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Flashback
23 juli 2022
Pagi itu, seperti biasa Gita memarkirkan motor kesayangannya di kantor penerbit terkenal tempatnya bekerja. Ia melepas helm bogo hitam yang selalu menemaninya bekerja lalu menggantungkannya pada spion.
Sudah hampir empat bulan Gita bekerja sebagai editor. Empat bulan yang penuh tantangan.
Sebagai anak baru, ia berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu. Ia tidak ingin hanya dianggap editor junior yang selalu mengikuti arahan senior tanpa mempunyai pendapat sendiri.
Gita berjalan masuk kedalam gedung sambil membawa tas ranselnya. Suasana kantor masih cukup sepi. Hanya ada beberapa karyawan kantor yang sudah duduk di kursi masing-masing, mempersiapkan pekerjaan mereka.
Ia sampai dimejanya. Meletakkan tas. Lalu menyalakan komputer.
"Pagi git." Gita menoleh.
Diana, Rekan kerja yang cukup dekat dengannya datang dengan segelas kopi.
"Pagi di."
Diana menarik kursi di sebelah Gita.
"Gimana penulis buku Terjerat Air Mata Buaya. Sudah bisa dihubungi?" Diana bertanya pada Gita sambil meniup kopi panas di tangannya.
Gita langsung menghela napas.
"Belum. Gue sudah chat. Sudah kirim email. Belum juga ada balasan." Gita mengerucutkan bibirnya.
Diana Tertawa kecil.
"Judulnya aja Terjerat Air Mata Buaya. Penulisnya bikin editornya ikut terjerat juga." ucap Diana bercanda.
Gita terkekeh.
"Garing banget jokes Lo." Gita menggeleng. Diana cuma nyengir.
Mereka mulai bekerja. Membuka email, mengecek revisi serta membaca pesan yang masuk.
Tidak lama kemudian, suara bariton terdengar.
"Pagi semuanya."
Suasana yang tadinya agak santai seketika sedikit berubah.
Gita menoleh.
Arjusena, pemimpin redaksi mereka. Pria yang terkenal tegas, disiplin dan sulit didekati.
Ia berjalan melewati meja-meja karyawan dengan setelan kerja rapi. Aroma maskulin samar tercium ketika ia melewati Gita.
Gita tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikannya. Karena pria itu memiliki daya tarik tersendiri. Sikapnya yang tenang, cara bicaranya yang tegas, dan bagaimana cara ia mengambil keputusan. Gita mengagumi Arjusena sebagai atasan yang Gita hormati.
"Gita."
Suara Diana membuat Gita tersadar.
"Hmm?" Gita bergumam.
"Gitu banget ngeliatnya, jangan-jangan naksir kamu sama pak Sena ya." Goda Diana.
"Ngaco." Gita menyangkalnya. Diana menyeringai.
Gita memutar bola mata. "Kerja sama "
Namun tanpa mereka sadari, dari dalam ruangan kaca Arjusena sempat melihat reaksi Gita. Pria itu tersenyum tipis.
...****************...
Arjusena duduk di ruangannya bersama Andrew membahas jadwal penerbitan beberapa buku.
"Untuk buku baru apa sudah mulai masuk tahap cetak?" Tanya Arjusena.
"Sudah masuk percetakan pak." Sahut Andrew.
Arjusena mengangguk.
"Pastikan tidak ada perubahan lagi setelah ini."
"Baik pak." jawab Andrew.
Andrew kemudian keluar. Ruangan kembali sunyi. Arjusena menyandarkan tubuhnya di kursi. Pandangan matanya tanpa sengaja kembali tertuju pada meja Gita.
Perempuan itu sedang serius membaca naskah. Arjusena sendiri tidak tahu sejak kapan ia mulai memperhatikannya.
Gita adalah editor baru yang cukup berbeda, karyawan baru biasanya cenderung diam dan mengikuti arahan. Namun Gita tidak. Ia selalu mempunyai pendapat yang mampu membuat seniornya berfikir ulang termasuk Arjusena.
Siang hari kantor mulai rame.
Gita sedang membaca sebuah naskah dengan wajah serius, keningnya berkerut.
"Ada yang salah?" Gita menoleh.
Arjusena berdiri disamping mejanya.
"Pak." Gita menegakkan duduknya. Arjusena melihat layar komputer.
"Naskah apa?"
"Novel yang baru masuk revisi, pak." Gita sedikit tegang. Arjusena mendekat, ia bisa mencium aroma parfum maskulin yang berkelas milik Arjusena.
"Bagaimana menurut kamu?" Gita terdiam.
Ia tidak menyangka Arjusena akan menanyakannya langsung.
"Kalau menutup saya...." Gita menjeda kalimatnya.
"Konfliknya kurang kuat." alis Arjusena terangkat sebelah.
"Kenapa?" tanya Arjusena, Gita menunjuk beberapa bagian.
"Tokoh utama terlalu cepat mengambil keputusan. Pembaca belum diberi alasan kenapa dia bisa berubah, jadi emosinya kurang terasa." jelas Gita.
Arjusena memperhatikan layar lalu menghadap Gita.
"Menurut kamu?"
Gita mengangguk.
"Saya kira editor baru biasanya hanya memberi catatan teknis." Arjusena berkata sambil menegakkan punggungnya dan memasukkan tangan ke kantong celananya.
"Kalau hanya memperbaiki typo itu tugas korektor, pak." untuk sesaat Arjusena terdiam.
Sudut bibirnya naik sedikit, senyum kecil. Hal yang jarang dilihat oleh karyawan lain.
"Bagus."
Satu kata sederhana, tapi entah membuat Gita menjadi senang.
Sejak saat itu, hubungan mereka perlahan berubah. Tidak langsung akrab tapi banyak interaksi kecil antara mereka.
Arjusena jadi sering bertanya pendapat Gita.
Awalnya Gita masih canggung, bagaimanapun Arjusena adalah atasannya. Tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa.
Gita melihat sisi lain didalam bosnya. Sesuatu yang membuat hatinya hangat. Arjusena sangat memperhatikan semua karyawannya lebih dari apapun. Padahal dulu Gita kira, Arjusena adalah pria yang kaku dan banyak aturan.
Ternyata ia salah.
Sire itu turun hujan dan satu persatu karyawan sudah pulang. Sedangkan Gita masih duduk di kursinya. Matanya lelah membaca naskah.
Ia melihat jam di komputer.
"Sudah malam." desahnya, Gita merenggangkan otot punggungnya.
"Kerja keras itu bagus, tapi jangan terlalu menekan dirimu." suara Arjusena berkata dengan tenang.
Gita menegakkan duduk ya dan menoleh. Ia melihat Arjusena sedang berjalan kearahnya. Pakaiannya sudah sedikit berbeda. Ia menanggalkan dasi birunya. Dan menggulung lengan kemeja putih hingga kesiku. Otot bisepnya terlihat jelas di balik kemejanya.
"Bapak..belum pulang?" tanya Gita basa-basi.
"Buat kamu." Arjusena menyodorkan secangkir kopi kepada Gita. Aroma kopi menyapa Gita.
"Dari tadi kamu membaca bagian yang sama." Arjusena mengetuk layar komputer Gita pelan.
"Bapak memperhatikan?" tanya Gita heran. Bahkan ia saja sampai tidak sadar sangking fokusnya.
"Saya memperhatikan semua bawahan saya." ucap Arjusena tertawa. Gita ikut tertawa diseruputnya kopi ditangannya.
"Tapi biasanya bapak tidak sampai membuatkan kopi." Gita mengatakan itu sambil mengangkat cangkirnya.
"Anggap saja itu hadiah karena kamu sudah bekerja keras." mata Arjusena terpaku pada Gita. Senyumnya kembali terbit. Untuk pertama kalinya Arjusena merasakan getaran didalam dadanya.
"Terima kasih." ucap Gita. Arjusena mengangguk.
Lalu ia berjalan menuju keruangannya. Namun baru beberapa langkah ia berhenti.
"Gita."
"Iya pak." sahut Gita.
"Kalau sedang tidak di kantor..." ia menatap Gita.
"Jangan panggil saya bapak." Gita melongo.
"Lalu panggil apa?" tanya Gita lirih.
"Panggil Arjusena atau mas juga boleh." Gita membulatkan matanya mendengarkan perkataan Arjusena.
"Mas katanya." Gita menggelengkan kepala, tidak mungkin pak Arjusena bicara begitu dengan karyawannya kan.
Gita melihat Arjusena masuk kedalam ruangannya. Gita berulangkali menggeleng tak percaya.
Dan hari-hari berikutnya Arjusena menjadi lebih perhatian pada Gita. Lebih protektif seperti mereka memiliki hubungan. Gita mulai merasa risih. Dengan perlakuan tak biasa Arjusena.
Hingga Gita perlahan menjaga jarak diantara mereka. Gita tidak pernah lagi lembur, jarang membalas pesan dari Arjusena. Dan perlakuan Gita itu sukses membuat Arjusena uring-uringan.
Gita mulai berbeda, ia tahu perempuan itu mulai menjaga jarak. Ia tahu banyak gosip tentang mereka. Ia tahu semua, baginya tak masalah karena memang benar. Rasa kagumnya pada gita.berubah menjadi suka lalu cinta. Hingga rasa ingin memiliki yang kuat atas Gita. semakin menjadi.
Hingga puncaknya.
Malam itu Gita dan teman kantornya, pergi berkaraoke di tempat karaoke yang baru saja dibuka karena ada promo mereka ingin mencobanya.
Arjusena mengikunya dari belakang. Lalu memesan satu room tepat disebelah room yang dipesan Gita dan teman-temannya.
Lampu remang dan alunan musik Ballad menggema seluruh ruangan. Diana sedang bernyanyi di depan teman-temannya. Gita tertawa senang.
"Eh gue kekamar mandi dulu." Gita mengeraskan suaranya pada utari yang sedang menghayati lagi. Utari mengangguk.
Gita keluar room dengan tas makeup dan ponsel miliknya. Arjusena berdiri saat melihat siluet Gita berjalan keluar room. Ia berdiri dibalik pintu roomnya, menunggu Gita kembali.
Saat Gita kembali. Dengan sekali tarikan. Mampu membuat Gita terhuyung masuk kedalam room. Alunan musik klasik memenuhi ruangan, lampu remang-remang mendukung suasana yang mencekam bagi Gita.
"Bapak " Gita terkejut. Matanya melebar.
Manik mata Arjusena menatap Gita intens. Lalu tersenyum miring.