Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memaafkan
...----------------...
Sejak awal Laura memutuskan ikut Arka pindah dari kota ke desa ini, hari-harinya dipenuhi dengan sikap dingin dan sindiran tajam dari Rohaya. Laura tidak pernah tahu apa salahnya, sampai hari itu membongkar semuanya.
Sinta—wanita kota yang dulu menjadi selingkuhan Arman hingga melahirkan Cia—datang menuntut hak. Di mata Rohaya, semua wanita kota adalah ancaman, sama liciknya dengan Sinta yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya di masa lalu.
Laura hanyalah korban dari trauma masa lalu Rohaya. Namun pagi ini, atmosfer di dapur terasa berbeda. Laura sedang menyeduh teh hangat ketika Rohaya masuk dengan langkah pelan, tidak lagi dengan hentakan kaki yang penuh amarah seperti biasanya.
Rohaya menatap Laura yang sedang menyeka meja dapur. bayangan bagaimana Sinta tempo hari mencaci-maki suaminya kembali terlintas.
Namun, saat melihat Laura yang selama ini selalu diam, sabar, dan tidak pernah membalas perlakuannya, hati keras Rohaya perlahan mulai retak.
Laura tidak bersalah. Laura bukan Sinta."Laura..." panggil Rohaya, suaranya terdengar parau dan jauh dari kesan ketus yang biasanya melekat. Laura menoleh, sempat menegang karena refleks bersiap menerima sindiran baru.
"Iya, bu? Ada yang bisa Laura bantu?" Rohaya berjalan mendekat, lalu duduk di kursi makan. Matanya menatap kosong ke cangkir teh yang baru diletakkan Laura.
"Kamu... apa kamu tidak menyesal ikut Arka tinggal di desa ini? Menghadapi ibu mertua sepertiku?" Laura tertegun. Ini pertama kalinya Rohaya berbicara dengan nada selembut ini.
Laura tersenyum tipis, lalu duduk di hadapan mertuanya. "Laura sayang sama Arka, bu. Menikah dengan Arka berarti Laura juga harus siap menerima dan belajar menyayangi kehidupan Arka di sini, termasuk ibu." Mendengar ketulusan itu, setitik air mata jatuh di pipi keriput Rohaya.
Rasa bersalah menghantam dadanya. "ibu yang salah, Laura. Selama ini ibu jahat sama kamu karena ibu selalu melihat Sinta di dalam diri kamu. ibu takut... ibu takut kamu akan menyakiti Arka seperti wanita kota itu menyakiti Mama"
Rohaya meraih tangan Laura, menggenggamnya dengan jemari yang gemetar. "Tapi Mama sadar, kamu wanita baik. Kamu tidak pantas menerima imbas dari dendam masa lalu ibu. Maafkan ibu ya, Nak..."Laura membalas genggaman tangan itu dengan hangat.
Kelegaan luar biasa membuncah di dadanya. Perjuangannya bertahan di desa ini akhirnya membuahkan hasil. "Laura sudah memaafkan ibu sejak lama. Kita mulai dari awal ya, bu" Di saat yang sama, tanpa mereka sadari, Arka berdiri di ambang pintu dapur. Langkahnya terhenti melihat pemandangan di depannya.
Ada rasa lega yang amat besar di hatinya melihat dua wanita yang paling dicintainya akhirnya bisa berdamai, di tengah badai kenyataan pahit bahwa Cia teman kampusnya dulu ternyata adalah saudara tirinya sendiri yang kini menyimpan dendam dan rasa iri padanya.
Mendengar ketulusan Laura, setitik air mata jatuh di pipi Rohaya. Rasa bersalah menghantam dadanya. "Ibu yang salah, Laura. Selama ini Ibu jahat sama kamu karena Ibu selalu melihat Sinta di dalam diri kamu. Ibu takut... Ibu takut kamu akan menyakiti Arka seperti wanita kota itu menyakiti Ibu."
"Tapi Ibu sadar, kamu wanita baik. Kamu tidak pantas menerima imbas dari dendam masa lalu Ibu. Maafkan Ibu ya, Nak..."
"Laura sudah memaafkan Ibu sejak lama. Kita mulai dari awal ya, Bu" Namun, keheningan pagi itu mendadak pecah saat terdengar suara langkah kaki yang dihentakkan dengan kasar dari arah tangga.
Bela, berjalan masuk ke area dapur dengan wajah masam khasnya. Bela langsung mendengus melihat kedekatan antara ibu dan adik iparnya itu. Ia berjalan menuju kulkas, mengambil botol air dingin, lalu menutup pintunya dengan dentuman yang cukup keras.
"Hebat ya, baru juga masalah badai kemarin reda, sekarang sudah pintar cari muka lagi," sindir Bela tajam, matanya melirik sinis ke arah Laura yang sedang berdiri di dekat Rohaya.
"Bela! Jaga bicaramu!" tegur Rohaya dengan nada tegas, membuat Bela sedikit terkejut karena biasanya sang ibu akan ikut menyudutkan Laura. Bela berkacak pinggang, menatap ibunya dengan tidak percaya.
"Lho, Ibu kenapa jadi belain dia? Ibu lupa kalau perempuan kota itu tipikalnya sama semua? Sinta sudah sukses ngancurin keluarga kita, dan sekarang Ibu mau pasrah begitu saja sama menantu kota Ibu ini? Jangan-jangan dia punya niat terselubung!"
"Kak, cukup!" bentak Arka yang akhirnya melangkah maju, berdiri melindungi Laura. "Laura gak ada hubungannya sama masa lalu Ayah dan Sinta. Jangan sangkut pautkan hal itu dengan istriku!"
"Halah, kamu itu sudah dibutakan cinta, Arka!" balas Bela sinis. Ia beralih menatap Laura dengan pandangan merendahkan. "Ingat ya Laura, jangan pikir karena Ibu sudah luluh, kamu bisa menguasai rumah ini. Di mataku, kamu tetap orang asing yang membawa sial sejak datang ke desa ini!"
Setelah menumpahkan kekesalannya, Bella menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan dapur, mengabaikan panggilan Rohaya yang mencoba menahannya. Suasana dapur kembali menegang, namun kali ini Laura tidak merasa sendirian lagi.
Genggaman tangan Rohaya dan pelukan hangat Arka di bahunya menjadi bukti bahwa posisinya di rumah ini perlahan mulai berubah, meski jalan untuk melunakkan hati Bella masih sangat panjang
Malam hari itu malam yang hening, Rohaya sendirian didalam kamarnya melihat kearah jendela lalu suara kaki Bela melangkah pelan memasuki kamar Rohaya
Bela tak menyangka ibunya berubah secepat itu ke laura, dengan tangan mengepal penuh emosi, Bela pun menghampiri ibunya "Bu kok bisa sih ibu tiba-tiba baik ke Laura" tanya bela dengan kekesalan yang ada didalam hatinya
Rohaya yang menatap bela penuh kasih sayang tangan nya mengelus lembut rambut bela "Bela, kamu harus tau Laura tidak salah, ibu yang salah menaruh dendam ke Laura padahal dia nggak ada sangkut pautnya dengan masalalu ibu" jawab Rohaya
Wajah bela semakin kesal mendengar jawaban ibunya "nggak Bu! Dia pasti mengancam ibu kan biar ibu bersikap baik gini ke dia"
Rohaya tampak kesal setelah Bela tak mendengarkan ucapannya malah semakin memfitnah Laura "jaga ucapan kamu Bela, ada masalah apa kamu sama Laura? Ibu sudah bilang kan kalo ini semua salah ibu bukan Laura kenapa kamu sulit sekali dibilangin!"
Bentakan keras dari rohaya itu semakin membuat Bela merasa terancam dengan keberadaan Laura dirumah itu "ibu sekarang berani bentak aku hanya untuk bela Laura?" Bela pun bergegas pergi dari kamar rohaya dengan keadaan penuh kemarahan
Sementara Arka dan Laura sedang menikmati makanan dari Laura dengan hati yang tulus ia pun merasa sangat senang karna akhirnya Rohaya bersikap baik padanya
"aku bersyukur banget ibu bisa berubah baik ke aku" ucap Laura
"aku juga dan semoga kak Bela secepatnya berubah, aku ga mau kamu disakitin sama orang-orang yang ada dirumah ini" jawab Arka dengan menggenggam tangan Laura
Kehangatan itu seketika berubah jadi ketegangan yang siap meledak karena kedatangan Bela yang tiba-tiba langsung memfitnah Laura "Laura! kamu apain ibu ha? Kamu pasti sudah mengancam ibu biar dia bisa baik ke kamu kan"
Bersambung....
Apa kira-kira yang bakal dilakukan Arka setelah mendengar ucapan itu dari kakaknya??
...****************...