Update 1 × 10 bab per 7 hari
*******************
Li Yu’er hanyalah seorang pekerja kantor biasa di dunia modern.
Hidupnya dipenuhi lembur, kopi pahit, dan rutinitas tanpa akhir… sampai sebuah kecelakaan merenggut nyawanya dan membuatnya terbangun di dunia Douluo Dalu.
Ia bereinkarnasi sepuluh tahun sebelum kelahiran Tang San.
Di dunia tempat kekuatan ditentukan oleh roh bela diri dan soul ring, Li Yu’er terlahir dengan bakat yang bahkan mampu mengguncang seluruh Spirit Hall
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mianno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan yang Membosankan
Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Langit kota dipenuhi awan hitam pekat. Kilatan cahaya dari gedung-gedung tinggi memantul di jalanan basah, sementara suara klakson kendaraan terdengar samar di tengah derasnya hujan malam.
Di lantai dua puluh tiga sebuah gedung perkantoran, seorang pria masih duduk di depan komputer dengan wajah lelah.
Namanya Li Yu’er.
Kemeja putih yang ia kenakan sudah kusut. Dasi hitamnya bahkan telah dilepas dan dilempar sembarangan ke atas meja. Di samping keyboard terdapat dua gelas kopi kosong dan beberapa bungkus makanan instan.
Jam digital di layar monitor menunjukkan pukul 23:57.
Hampir tengah malam.
Namun pekerjaan di layar komputernya masih belum selesai.
“Tch… revisi lagi?”
Li Yu’er mengusap wajahnya perlahan sambil membaca pesan dari atasannya.
“Bagian laporan keuangan kurang rapi. Perbaiki malam ini juga.”
Sudut bibir Li Yu’er berkedut.
Malam ini juga?
Dia bahkan belum makan malam dengan benar.
Namun pada akhirnya ia hanya menghela napas panjang dan kembali mengetik.
Suara keyboard terdengar memenuhi ruangan kantor yang hampir kosong.
Beberapa lampu sudah dimatikan. Hanya area tempat Li Yu’er bekerja yang masih terang.
Beginilah hidupnya selama beberapa tahun terakhir.
Bangun pagi.
Pergi bekerja.
Lembur.
Pulang larut malam.
Tidur beberapa jam.
Lalu mengulang semuanya dari awal.
Kadang Li Yu’er merasa dirinya seperti mesin, bukan manusia.
Tidak ada hal spesial dalam hidupnya.
Tidak punya pacar.
Lingkaran pertemanan kecil.
Tabungan biasa saja.
Bahkan masa mudanya perlahan habis hanya untuk mengejar target perusahaan.
“Kalau tahu begini, dulu aku cari jalan hidup lain aja…”
Li Yu’er bersandar di kursinya sambil menatap langit malam di balik jendela kaca.
Hujan masih turun deras.
Entah kenapa malam ini ia merasa sangat lelah.
Bukan tubuhnya.
Melainkan hatinya.
Ia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi novel yang biasa ia baca diam-diam saat istirahat kerja.
Novel favoritnya masih sama.
Douluo Dalu.
Dunia spirit master yang penuh kekuatan fantastis.
Orang-orang bisa terbang.
Menghancurkan gunung.
Membunuh spirit beast ribuan tahun.
Mereka hidup demi menjadi kuat.
Tidak seperti dirinya yang setiap hari hanya berkutat dengan laporan Excel.
Li Yu’er tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
“Kalau aku hidup di dunia begitu, mungkin hidupku bakal lebih menarik.”
Ia menutup aplikasi novel lalu mematikan komputer.
Pekerjaan akhirnya selesai.
Jam menunjukkan pukul 00:26.
“Pulang…”
Li Yu’er mengambil jaket hitamnya dan berjalan keluar kantor.
Lorong gedung terasa sunyi.
Suara langkah kakinya bergema pelan.
Setelah turun menggunakan lift dan keluar dari gedung, udara dingin langsung menyambut tubuhnya.
Hujan mulai mengecil menjadi gerimis.
Jalanan kota terlihat sepi karena sudah terlalu malam.
Li Yu’er memasukkan kedua tangan ke saku jaket sambil berjalan menuju halte bus di seberang jalan.
Matanya tampak lelah.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Saat sedang berjalan, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan dari atasannya muncul.
“Besok pagi meeting jam 7. Jangan telat.”
Li Yu’er terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa pelan.
Namun tawanya terdengar kosong.
“Kerja, kerja, kerja…”
“Kalau mati besok juga paling perusahaan langsung cari pengganti.”
Ia menggeleng sambil menyimpan kembali ponselnya.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Li Yu’er mulai menyeberang jalan.
Namun tepat di tengah jalan—
BRAAAAAK!
Suara keras tiba-tiba terdengar dari arah kanan.
Sebuah truk besar meluncur tak terkendali di jalan licin.
Mata Li Yu’er membesar.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Lampu kendaraan yang menyilaukan memenuhi pandangannya.
Suara rem memekakkan telinga.
Tubuhnya membeku.
Dan sedetik kemudian—
DUAAAAR!
Tubuh Li Yu’er terpental beberapa meter.
Rasa sakit luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya.
Pandangan matanya mulai kabur.
Hujan dingin membasahi wajahnya.
Suara orang-orang terdengar samar dari kejauhan.
Namun Li Yu’er tidak bisa mendengar dengan jelas lagi.
Kesadarannya perlahan menghilang.
Dalam detik terakhir sebelum semuanya gelap…
ia hanya berpikir satu hal.
“Ah…”
“Besok masih meeting jam tujuh…”
Lalu dunia berubah gelap gulita.
…
Entah berapa lama berlalu.
Li Yu’er merasa tubuhnya sangat ringan.
Seolah dirinya melayang di ruang kosong tanpa batas.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada rasa sakit.
Sampai akhirnya—
“Yu’er!”
Suara wanita terdengar samar.
“Yu’er! Bangun!”
Li Yu’er mengernyit.
Kelopak matanya terasa berat.
Namun perlahan ia membuka mata.
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu tua.
“…”
Li Yu’er menatap kosong beberapa saat.
Ruangan sederhana.
Dinding kayu.
Lampu minyak.
Bukan rumah sakit.
Bukan ambulans.
Dan jelas bukan apartemennya.
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, seorang wanita cantik tiba-tiba memeluknya erat.
“Syukurlah… kamu akhirnya sadar…”
Wanita itu menangis.
Tubuhnya gemetar.
Li Yu’er membeku.
Otaknya belum bisa memproses situasi ini.
Siapa wanita ini?
Di mana dia?
Kenapa tubuhnya terasa sangat kecil?
Li Yu’er perlahan menunduk.
Tangannya…
kecil.
Pendek.
Seperti tangan anak-anak.
Pupil matanya mengecil.
“Apa…?”
Tiba-tiba rasa sakit tajam menusuk kepalanya.
“UGHH!”
Li Yu’er memegangi kepala sambil meringis kesakitan.
Fragmen-fragmen ingatan asing mulai bermunculan di benaknya.
Nama.
Wajah.
Bahasa.
Tempat.
Kehidupan.
Semua bercampur menjadi satu seperti banjir besar.
Beberapa menit kemudian…
napas Li Yu’er menjadi kacau.
Matanya dipenuhi ketidakpercayaan.
Karena ia akhirnya mengerti.
Ia bukan lagi berada di dunia asalnya.
Ia telah bertransmigrasi.
Dan tempat ini…
adalah Benua Douluo.
Tubuh yang ia tempati sekarang juga bernama Li Yu’er.
Anak laki-laki berusia enam tahun dari desa kecil di pinggiran Heaven Dou Empire.
Li Yu’er terdiam lama.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Sebagai penggemar Douluo Dalu, tentu ia tahu dunia seperti apa ini.
Dunia tempat kekuatan adalah segalanya.
Spirit master kuat dapat menentukan hidup dan mati seseorang hanya dengan satu kalimat.
Orang lemah bahkan tidak punya hak memilih nasibnya sendiri.
Namun di saat bersamaan…
napas Li Yu’er perlahan menjadi berat.
Karena ia juga tahu sesuatu yang lebih penting.
Menurut ingatan tubuh ini…
besok adalah hari kebangkitan roh bela dirinya.
Hari yang akan menentukan masa depannya di dunia ini.
Apakah ia akan menjadi orang biasa…
atau melangkah ke dunia para spirit master.
Li Yu’er perlahan mengepalkan tangan kecilnya.
Tatapannya berubah rumit.
Di dunia ini…
tanpa kekuatan, seseorang bahkan tidak memiliki hak untuk hidup dengan tenang.
Dan kali ini—
Li Yu’er tidak ingin menjalani kehidupan membosankan seperti sebelumnya lagi.