NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: SAYAP YANG TAK DIINGINKAN

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

BAGIAN 1: KESEPIAN DI ISTANA EMAS

Lisa tumbuh menjadi gadis yang cantik, lembut, dan berhati malaikat. Ia hidup mewah tapi sepi.

Ia menyadari tanda ajaib di tubuhnya dan kekuatan magis yang luar biasa. Ia ingin diakui sebagai "Dewa", tapi para tetua dan Dewa lain menertawakannya. "Wanita tempatnya di sayap, bukan di tahta."

Rasa kecewa pada Ayahnya yang tak pernah hadir, tak pernah memeluk, dan seolah menganggapnya tidak ada. Lisa bertekad membuktikan diri, meski harus melawan seluruh alam dewa.

Perubahan Sifat kelembutannya mulai bercampur dengan ketegasan dan api semangat. Ia mulai berlatih sihir tingkat tinggi yang bahkan tak bisa dilakukan dewa laki-laki yang masih muda

Angin di Istana Eternity selalu berhembus lembut, membawa aroma bunga langit yang tak pernah layu. Namun, tak ada yang bisa menghangatkan dinginnya ruang tamu yang begitu luas ini.

Lisa duduk di tepi jendela awan, jari-jarinya yang lentik memainkan alunan musik dari harpa kristal. Gaun putihnya yang menjuntai membuatnya terlihat begitu suci, begitu sempurna seperti patung marmer. Semua orang berkata dia cantik, semua orang berkata dia anggun. "Sejauh ini dia hanyalah seorang Malaikat yang baik," bisik mereka.

Tapi mereka tidak tahu apa yang dirasakan Lisa.

Ia menunduk, menatap punggung tangannya. Di sana, samar-samar bercahaya sebuah tanda berwarna keemasan—simbol kekuatan inti para Dewa. Bukan simbol sayap malaikat.

“Aku bukan malaikat,” gumamnya pelan, suaranya serak karena terlalu sering berbicara pada diri sendiri. “Darah ini, kekuatan ini… ini milik seorang Dewa. Lalu kenapa dunia menolakku?”

Pikirannya melayang pada sosok yang paling ia rindukan, sekaligus paling ia benci. Ayahnya. Sang Raja Langit.

Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak ia terakhir kali melihat wajah itu. Saat usianya lima tahun, ayahnya pergi begitu saja tanpa pelukan, tanpa kata perpisahan. Orang-orang bilang Raja Dewa itu tak memiliki hati, batu es yang dingin. Lisa mulai percaya itu. Mungkin memang benar ia tak diinginkan. Mungkin karena ia perempuan, maka ia dianggap tak berharga.

“Nona Lisa,” suara pelayan membuyarkan lamunannya. “Rapat Dewan Agung akan dimulai. Mereka… meminta Anda hadir sebagai perwakilan pasukan Malaikat.”

Lisa mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya teduh kini menyimpan sesuatu yang lain. Sebuah percikan api.

Ia tersenyum tipis, senyum yang anggun namun menyiratkan keteguhan.

“Katakan pada mereka,” ucap Lisa pelan namun tegas, “Hari ini aku tidak datang sebagai Malaikat. Aku datang sebagai calon Dewa. Dan aku akan mengubah aturan bodoh itu.”

Di luar istana, guntur bergemuruh seolah langit sendiri mulai gemetarahkan perubahan yang akan datang.

• TANTANGAN DI BALAI AGUNG

Pintu marmer besar terbuka lebar. Lisa melangkah masuk dengan kepala tegak, meski jantungnya berdegup kencang. Seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya. Bukan tatapan kagum, melainkan tatapan sinis, meremehkan, dan penuh prasangka. Bisik-bisik terdengar jelas di telinganya.

“Lihat, putri sang Raja datang.”

“Cantik memang, tapi tetap saja wanita. Tempatnya di sayap, bukan di singgasana.”

Lisa menelan ludah, mencoba tetap tenang. Pandangannya beralih ke tengah aula, ke singgasana tertinggi. Di sana duduk sosok yang paling ia rindukan sekaligus paling ia takuti—Ayahnya, Sang Raja para dewa.

Wajah itu datar, tanpa senyum, tanpa kerutan. Wajah yang bebas ekspresi. Lisa menatap mata ayahnya, dan di sana ia hanya melihat kehampaan. Dia menatapku sinis, batin Lisa terluka. Dia bahkan tidak peduli. Ia tidak tahu, bahwa di balik mata dingin itu, tersimpan kekhawatiran yang begitu besar. Sang Ayah hanya tak bisa menunjukkannya.

Dengan suara gemetar namun tegas, Lisa akhirnya mengucapkan niatnya.

“Aku berdiri di sini untuk memohon… Aku ingin menjadi Dewa. Aku mohon, izinkan aku mengemban tugas sebagai seorang Dewa!”

Ucapannya sontak membuat keributan. Suara protes meledak di mana-mana.

Salah satu Dewa tertua, Dewa Matahari, berdiri dengan wajah murka.

“Tidak bisa! Kau tidak bisa menjadi Dewa!” teriaknya. “Aku sendiri memiliki seorang putri! Dia pun memiliki tanda Dewa di lengannya, kekuatan pun ada padanya. Tapi apa yang dia lakukan? Dia rela mengorbankan Inti Dewanya sendiri demi mengikuti aturan! Dia membuang kekuatannya agar bisa memunculkan sayap malaikat dan tunduk pada hukum alam! Lihat aku, aku adalah Dewa Matahari, dan anakku pun patuh! Lalu kenapa kau ingin memberontak?!”

Suara di aula semakin gaduh. Semua mendesak Lisa untuk menyerah.

Tiba-tiba…

Denggg

Suara itu tidak terlalu keras, namun getarannya mengguncang seluruh ruangan. Semua orang langsung terdiam seketika. Itu suara Sang Raja.

Ia menatap lurus ke arah Lisa, wajahnya tetap datar namun suaranya berat dan berwibawa.

“Apa kau benar-benar ingin menjadi seorang Dewa?” tanyanya.

Lisa menatap ayahnya, air mata hampir menetes tapi ia tahan. Ia mengangguk kuat-kuat.

“Aku ingin menjadi Dewa!” jawabnya lantang.

Sang Raja menyipitkan matanya.

“Kalau begitu… tunjukkan. Tunjukkan apa yang kau miliki. Tunjukkan kemampuan yang membuatku pantas mengakui kau sebagai Dewa.”

Bagi telinga orang lain, itu adalah tantangan. Tapi bagi Lisa, itu terdengar seperti penghinaan. Ayahku meremehkanku. Dia tidak percaya padaku.

Perasaan kecewa, marah, dan sakit hati bercampur menjadi satu. Kekuatan di dalam tubuhnya yang selama ini terpendam meledak tak terkendali. Gejolak dahsyat itu menguasai akal sehatnya. Dalam benaknya yang kabur, ia merasa satu-satunya cara untuk didengar adalah dengan menaklukkan mereka yang ada di depannya—termasuk sosok di singgasana.

Tanpa sadar, aura mematikan keluar dari tubuh Lisa. Tangannya terangkat, dan sihir gelap serta terang berputar kacau. Ia hampir saja melepaskan serangan mematikan tepat ke arah Ayahnya dan para Dewa lainnya!

“ANGKAT SENJATA TERHADAP RAJA DAN PARA DEWA?!”

Dua Penjaga Langit raksasa muncul seketika di atas aula. Mereka menghentakkan tangan ke bawah, menciptakan medan gravitasi yang luar biasa berat!

DUG!

Lisa terhempas ke lantai marmer. Tekanan magnetik itu menekan seluruh tubuhnya hingga ia tak bisa bergerak sedikitpun. Tulang-tulangnya terasa remuk.

“Karena kau berani mencoba melukai para penguasa, kau akan dihukum!” seru Penjaga Langit. “Kau akan dikurung di kedalaman istana sampai kau sadar!”

“TIDAKAKKK!!”

Lisa menjerit, memberontak sekuat tenaga di bawah tekanan gravitasi itu. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya, campur dengan rasa marah yang membara.

“AKU..TIDAK AKAN MENYERAH!” teriaknya memecah keheningan aula. “DENGARKAN KATA-KATAKU! SUATU HARI NANTI AKU AKAN MENJADI DEWA! AKU ADALAH DEWA YANG AKAN MENGUBAH ATURAN LANGIT INI! AKU AKAN MENENTANG SELURUH HUKUM YANG TIDAK ADIL INI!”

Tekanan emosi di dada Lisa meledak begitu saja. Rasa sakit hati karena diremehkan, ditambah perasaan bahwa ayahnya sendiri tak pernah memihaknya, membuat akal sehatnya lenyap seketika.

“JANGAN REMEHKAN AKU!!!”

Lisa menjerit keras. Matanya yang biasanya teduh kini berubah menjadi emas menyala. Aura emas pekat namun bercampur cahaya putih meledak keluar dari tubuhnya, membuat seluruh lampu dan ornamen di aula berguncang hebat.

Dari punggung dan kedua sisinya, tiba-tiba muncul dua sosok raksasa yang megah dan menakutkan.

ROAAAAAR!!!

Gemuruh suara menderu membuat tanah bergetar. Dua ekor Naga Surgawi—makhluk kuno yang paling suci dan legendaris—muncul melingkar mengelilingi Lisa. Sisiknya berkilau seperti permata, napasnya mengeluarkan petir, dan wujudnya begitu agung hingga membuat para Dewa terdiam ketakutan.

Bahkan para Dewa tua pun terkejut. “Itu… Naga Langit? Dua ekor sekaligus?! Bagaimana mungkin seorang gadis bisa memanggil mereka?!”

Lisa mengangkat wajah ke atas penuh amarah. Di bawah kendalinya, kedua naga itu membuka mulut lebar-lebar, mengumpulkan energi dahsyat yang siap meluluhlantakkan segalanya.

“Hancur… semuanya hancur!” teriak Lisa di tengah kegilaannya. “TERMASUK KALIAN, TERMASUK DIA!”

Matanya menatap tajam ke arah singgasana. Kedua naga itu siap melepaskan serangan mematikan tepat ke arah Ayahnya dan seluruh Dewa yang hadir! Aura keemasan yang bercampur dengan kekuatan suci itu membuat udara di aula terasa begitu panas dan mencekam.

Para Dewa lain berteriak panik dan bersiap bertahan, tapi kekuatan itu terlalu besar untuk mereka hadapi.

“BERHENTI, ANAK BODOH!!!”

Tepat saat ledakan akan terjadi, dua sosok raksasa muncul dari langit-langit aula. Penjaga Singgasana akhirnya turun tangan.

Pertarungan terjadi seketika. Naga-naga Lisa menyerang dengan taring dan cakar petir, sementara Penjaga Singgasana menangkis dengan perisai kosmik.

DOR! KRAAK! BUUM!

Aula Agung nyaris hancur berkeping-keping. Sungguh diluar dugaan, meski Lisa masih muda dan kekuatannya belum sepenuhnya matang, dia mampu menahan serangan para Penjaga . Mereka bahkan terlihat sedikit kewalahan menghadapi amukan dua naga surgawi yang dikendalikan oleh emosi gadis itu.

Namun, perbedaan level penguasaan kekuatan masih terasa. Penjaga Singgasana adalah ciptaan tertua yang tugasnya menjaga keseimbangan.

“CUKUP!!!”

Dengan satu hentakan kuat yang memanipulasi ruang dan waktu, mereka berhasil membelit kedua naga itu dan menekannya kembali ke dalam tubuh Lisa.

DUG!

Lisa terhempas keras ke lantai marmer. Naga-naga itu menghilang, kekuatannya terkuras habis, dan ia kembali terjepit di bawah tekanan gravitasi yang luar biasa berat. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar, tapi matanya masih menyala api perlawanan.

Ia berhasil ditaklukkan, tapi semua orang di sana kini tahu satu hal: Gadis di hadapan mereka bukan mainan. Dia memiliki kekuatan yang bisa mengguncang langit dan bumi.

Di atas singgasana, Sang Raja Dewa duduk tegak. Wajahnya tetap datar, tak bergerak sedikitpun, seolah dunia di bawahnya tidak sedang gempar. Namun, di dalam hatinya… badai besar sedang terjadi.

Matanya tak lepas dari sosok putrinya yang sedang memberontak. Saat kedua Naga Surgawi itu muncul, jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Itu… Naga Surgawi?” batinnya bergetar. “Dua ekor sekaligus? Kekuatan leluhur yang sudah hilang selama 10.000 abad… ternyata bersemayam di dalam tubuh anakku?”

Ia terkejut, namun rasa bangga itu langsung tertimpa rasa cemas yang mencekam. “Tapi dia masih terlalu muda, tubuhnya belum siap menampung kekuatan sebesar itu. Jika dia tidak bisa mengendalikannya, dia bisa hancur sendiri. Atau malah… dimangsa oleh kekuatan itu sendiri.”

Di bawahnya, aula sudah bagai sarang tawon.

“Gila! Itu kekuatan Dewa Agung Pertama yang menciptakan alam semesta!”

“Bagaimana mungkin seorang wanita mewarisi darah yang begitu murni?! Sejak zaman dahulu tak ada keturunan yang bisa memanggil mereka!”

“Ini berbahaya! Kekuatan sebesar itu di tangan seseorang yang menentang aturan? Kita semua bisa mati!”

“Dia harus dipatahkan! Dia harus tunduk! Wanita tetaplah wanita, dia tidak boleh mengacaukan tatanan!”

Para Dewa berteriak panik. Mereka merasa terancam. Semakin mereka takut, semakin mereka ingin menekan Lisa agar patuh dan tak berdaya.

Sang Raja menahan napas. Ia ingin sekali turun tangan, memeluk anaknya dan melindunginya. Tapi ia tahu, jika ia terlihat terlalu memihak atau melindungi Lisa secara terang-terangan, para Dewa tua yang iri dan licik itu justru akan mencari cara jahat untuk mencelakai putrinya. “Aku harus bersabar. Aku harus melindunginya dari bayang-bayang,” tekadnya dalam hati.

Tiba-tiba, langkah kaki yang tenang terdengar. Seorang sosok dengan pakaian berwarna perak kebiruan melangkah maju. Itu adalah Dewa Bulan, sosok yang dikenal bijaksana dan tenang.

Ia membungkuk hormat kepada Raja, lalu berkata lantang agar semua terdengar.

“Dengarlah, para tetua. Kita tidak bisa sekadar menghukum atau mengurungnya. Kekuatan sebesar itu jika ditumpuk akan meledak dan menghancurkan kita semua.”

Semua orang menoleh.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?!” tanya Dewa Matahari geram.

Dewa Bulan tersenyum tipis.

“Berikan dia ujian. Dan… turunkan dia ke Dunia Manusia.”

Ucapan itu membuat suasana hening sejenak, lalu meledak lagi.

“APA?! Turun ke dunia fana?!”

“Itu adalah syarat mutlak,” tegas Dewa Bulan. “Jika dia benar-benar ingin menjadi Dewa, dia harus membuktikan dirinya di tempat di mana kekuatan sihir dibatasi, di mana dia harus belajar bertahan hidup dan menerima 27 lebih emosi manusia lalu mengendalikannya . Di sana, kita akan mengamati. Apakah dia layak disebut Dewa, atau memang hanya sekadar Malaikat.”

Sang Raja di singgasana tersentak. “Dunia Manusia? Itu tempat yang berbahaya. Tapi… mungkin itu satu-satunya cara untuk menjauhkannya dari cakar para Dewa yang ingin membunuhnya di sini.”Batinya berucap

Ia tahu, di sana ia bisa mengatur perlindungan diam-diam tanpa diketahui orang lain.

Dengan wajah kembali dingin dan berwibawa, Sang Raja akhirnya angkat bicara. Suaranya menggema menutupi seluruh keributan.

“CUKUP.”

Semua langsung diam.

“Usulan Dewa Bulan disetujui,” ucapnya tegas, meski hatinya menangis. “Sebelum dikirim ke Dunia Manusia, dia akan melalui Ujian Penentuan Takdir. Kita akan tahu dia adalah Dewa apa, dan apa jenis kekuatannya yang sebenarnya. Barulah setelah itu… dia akan turun untuk membuktikan diri.”

Ia menatap Lisa yang masih tertekan di lantai dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Bertahanlah, anakku. Di sana, kau akan tumbuh menjadi kuat. Ayah akan pastikan kau tetap hidup.”

Saat kata-kata sang Raja keluar dari mulutnya—menyetujui untuk mengirimnya ke dunia manusia—sesuatu di dalam diri Lisa seakan pecah berkeping-keping.

Jadi ini benar-benar kenyataannya? batinnya hancur lebur. "Aku tidak diinginkan di sini. Bahkan ayahku sendiri ingin membuangku sejauh mungkin, ke tempat yang paling rendah dan fana."

Matanya berkaca-kaca, bukan lagi karena marah, tapi karena luka yang begitu dalam. Pikirannya langsung terbang kepada satu-satunya orang yang selalu mencintainya tanpa syarat: Ibunya.

Florin.

Ibunya adalah sosok yang luar biasa. Sebagai Malaikat agung yang memikul Singgasana, dialah satu-satunya yang mampu memikul beban tahta sang Raja Dewa yang begitu agung dan berat. Konon, sayap ibunya adalah yang terbesar dan terindah, begitu luas hingga bisa menutupi seluruh langit. Namun sejak dewasa, Florin tak pernah lagi memperlihatkannya sepenuhnya. Tak ada yang tahu betapa megahnya dan indahnya sayap itu kini, namun semua Dewa tahu—Malaikat Florin adalah satu-satunya malaikat yang dihormati bahkan oleh para Dewa tertua.

Dan sekarang, Lisa harus berpisah darinya.

“Kau… kau sungguh membuangku?” suara Lisa bergetar, memecah keheningan. “Karena kau tidak menginginkanku, kau menyuruhku pergi ke dunia yang kotor dan fana itu? Kau memisahkanku dari Ibu?”

Sang Raja menatapnya dengan wajah datar, meski hatinya menjerit kesakitan.

“Di sana,” ucapnya pelan namun tegas, “kau akan merasakan apa itu emosi manusia, apa itu rasa sakit, dan apa itu kebahagiaan. Kau akan belajar menjadi bijaksana dan memulai segalanya dari nol sendirian. Hanya di sana kau akan mengerti, betapa beratnya memikul tanggung jawab seorang Dewa.”

Lisa menelan ludah, air mata mulai jatuh membasahi pipinya.

“Dan… bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku tidak mampu melakukan semua itu?” tanyanya dengan harapan kecil yang tersisa.

Wajah sang Raja berubah lebih dingin.

“Jika kau gagal…”

Jantung Lisa seakan berhenti berdetak.

“…kau akan kehilangan segala sifat kedewaan. Kau akan menjadi manusia biasa yang bisa mati, dan kau tidak akan pernah lagi bisa kembali ke sini. Kau tidak akan pernah bisa melihat langit ini, dan tidak akan pernah bisa bertemu ibumu lagi.”

Bugh!

Seperti disambar petir. Lisa tahu risikonya sangat besar, bahkan mungkin mustahil. Tapi ayahnya sendiri yang memaksanya pergi.

Hatinya terasa mati. Sakit, perih, dan kosong. Ia terdiam lama, air mata mengalir tanpa suara. Perlahan, ia mengepalkan tangannya hingga kuku menancap ke daging, menyalurkan semua rasa sakit itu menjadi tekad yang membeku.

Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang dulu penuh kasih sayang, kini kosong dan dingin.

“Baiklah…” ucapnya pelan, namun setiap kata terasa seperti pisau tajam. “Jika itu keinginanmu, Wahai Raja Dewa Agung. Aku akan melakukannya.”

Ia melangkah setapak mundur, tatapannya tak lagi mengenali sosok di hadapannya itu sebagai keluarga.

“Tapi ingat ini, dan camkan baik-baik…”

Suaranya meninggi, penuh penekanan.

“SAAT INI JUGA, KAU TELAH KEHILANGAN SEORANG PUTRI! MULAI DETIK INI, AKU TIDAK AKAN PERNAH, TIDAK AKAN PERNAH LAGI MENGANGGAPMU SEBAGAI SEORANG AYAH!!!”

GUMUUUUURRR!!!

Langit bergemuruh dahsyat seakan alam semesta sendiri ikut merasakan kepedihan dan kemarahan itu. Awan hitam menutupi cahaya surga.

 

💫 POV FLOREN: IBU YANG TAK BERDAYA

Di sudut aula, tersembunyi di balik bayang-bayang tiang megah, berdiri sosok wanita dengan aura yang begitu tenang namun memancarkan keagungan tak terhingga. Itu Florin.

Sejak tadi ia hanya bisa menyaksikan, hatinya hancur melihat putri semata wayangnya diperlakukan begitu. Ia ingin sekali berlari, memeluk Lisa, dan membentengi putrinya dengan sayap-sayap besarnya yang tak pernah ia perlihatkan pada dunia—sayap yang siap menutupi segalanya demi melindungi anaknya.

Namun ia tak bisa. Sebagai Pemikul Singgasana, ia harus tunduk pada aturan dan keputusan suaminya, meski itu menyakitkan.

Saat mendengar Lisa berteriak memutuskan ikatan batin sebagai anak dan ayah, tubuh Florin gemetar. Air mata jatuh dari mata indahnya.

“Lisa… anakku…” bisiknya lirih, suaranya tertahan isak tangis. “Maafkan Ibu… Maafkan Ibu tidak bisa melindungimu saat ini. Pergilah… jadilah kuat, anakku. Ibu akan selalu menjagamu dari sini, dari jauh…”

Di dalam hatinya, sebuah janji terucap. Apa pun yang terjadi, ia akan memastikan putrinya selamat, bahkan jika ia harus membentangkan sayapnya sekali lagi setelah ribuan tahun lamanya.

Mendengar ucapan Lisa yang memutuskan hubungan sebagai anak dan ayah, Sang Raja tidak bergeming. Ia hanya menatap putrinya dengan mata yang dalam, lalu berkata dengan suara yang berat dan tegas.

“Kau salah, Lisa. Kau tidak bisa memutuskan ikatan darah yang mengalir di tubuhmu.”

Ia melangkah turun satu anak tangga, auranya menekan seluruh ruangan.

“Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan itu. Kau tetaplah anak dari Raja Dewa yang Agung, dan putri dari garis keturunan Malaikat Tertinggi. Darah itu… tak akan pernah bisa kau lepaskan. Tak akan pernah bisa kau putuskan.”

Lisa memalingkan wajah dengan dingin, tak mau mendengarnya.

“Baiklah. Karena kau sudah selesai bicara… mari kita mulai.”

Sang Raja mengangkat tangannya ke udara. Zwuut! Sebuah celah ruang-waktu terbuka lebar, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.

“Masuklah. Itu adalah Ujian Takdirmu sebagai Dewa. Di sana, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya.”

Tanpa ragu sedikitpun, Lisa melangkah maju dan masuk ke dalam portal itu.

 Bersambung....

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!