Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan rumah Farhan
Amira dan Ammar benar‑benar pergi ke rumah Farhan, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Setelah mengantar Amara ke rumah, keduanya tidak membuang waktu lagi mereka percaya Farhan sedang sibuk bersama kekasihnya, sedangkan Amira hanyalah penghalang.
Amira masih memegang kunci rumah Farhan, jadi ia bebas keluar‑masuk di sana. Seperti saat ini, ia sudah berada di dalam rumah besar itu dan mulai memasukkan pakaian serta beberapa barang miliknya, begitu juga dengan Ammar.
“Kakak bereskan pakaiannya dulu, nanti Kakak bantu merapikan barang Amara. Tapi kalau kamu sudah selesai, segera ke kamar Amara dan bereskan keperluannya,” ucap Amira memberi arahan kepada adik laki‑lakinya.
“Baik, Kak.”
Amira menatap kamar itu cukup lama, lalu membuka gorden besar sehingga cahaya matahari langsung masuk menerangi ruangan.
“Aku baru sadar bahwa kamar ini adalah saksi bisu percintaan yang dipaksakan. Kukira ini kebahagiaan, ternyata hanya pelampiasan saja,” gumamnya. Ia sempat melamun sejenak, lalu kembali membereskan pakaiannya ke dalam tas besar dan tas sedang yang dibawanya dari rumah.
Satu lemari penuh pakaian Amara sudah dipindahkan ke tas satu per satu. Barang‑barang perawatan diri seperlunya pelembap wajah, lipstik, bedak, dan yang lain dimasukkan ke dalam tas sedang miliknya, hingga meja rias besar itu kini benar‑benar kosong. Setelah itu ia ke kamar mandi untuk mengambil sikat gigi yang biasa dipakainya di rumah Farhan.
Amira tak berlama‑lama di sana. Ia merapikan kembali kamar, lalu menelusuri setiap sudutnya dengan pandangan tak ingin melewatkan apa pun.
“Terima kasih sudah membuatku tidur nyenyak selama di sini. Setelah aku pergi, tuanmu yang baru akan segera tiba. Aku yakin tak akan ada lagi malam yang kelam Mas Farhan akan melakukannya bersama wanita yang dicintainya. Pasti mereka saling menatap, tak perlu bersembunyi di balik kegelapan,” ucapnya pelan.
Amira kembali menutup gorden kamar Farhan, memastikan tak ada barang yang tertinggal selain jejak kakinya sendiri. Ia menutup pintu dengan perasaan sedih, karena bagaimanapun kamar itu adalah saksi bisu hubungan palsu antara Farhan dan dirinya.
Meskipun tak ada barang miliknya di ruang kerja Farhan, Amira seolah didorong untuk masuk ke sana. Ia mengamati sekeliling, hingga pandangannya terpaku pada sketsa wajah seorang wanita cantik.
“Ternyata memang dia,” ucapnya singkat. Amira berbalik hendak pergi, namun matanya menangkap lemari brankas yang terbuka sepertinya Farhan terburu‑buru hingga lupa menutupnya. Ia bermaksud menutupnya kembali, namun pandangannya terhenti pada tumpukan foto Clarisa dan Farhan, bukan hanya satu lembar melainkan sebuah album lengkap tersimpan di sana. Meski sudah tahu kenyataannya, rasa perih tak bisa disembunyikan baginya Farhan hanyalah lelaki pengecut.
Ada satu berkas yang menarik perhatiannya, bertuliskan Surat Gugatan Cerai. Ternyata Farhan sudah merencanakan hal ini sejak lama.
Amira membaca isi surat perjanjian itu alasan perceraian, pembagian harta gono‑gini satu rumah, satu ruko untuk ia membuka usaha, dan kendaraan roda empat yang akan diterimanya setelah ikatan terputus.
Tanpa sadar air mata menetes. Surat itu sudah ada sejak awal, sudah ditandatangani oleh Farhan, tinggal menunggu tanda tangannya. Farhan menunjuk firma hukum ternama untuk mengurus proses ini. Amira membubuhkan tanda tangannya sendiri, lalu menuliskan pesan di atas map tersebut: “Lakukan dengan tenang dan cepat.”
Amira akan meminta kurir untuk mengantarkan surat cerai, berdasarkan alamat kantor yang ada di map atau amplop berkas perceraian tanpa sepengetahuan Farhan.
#
Amira duduk sejenak di kursi kerja milik Farhan, tangannya masih menggenggam map itu erat. Air matanya jatuh membasahi kertas yang sudah disiapkan dengan begitu rapi.
“Jadi selama ini semuanya sudah diatur, ya?” bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan tangis. “Aku terlalu mendalami peran sebagai istri, ternyata akhirnya sudah ditentukan sejak awal.”
Ia mengusap pelan permukaan meja kayu itu seolah menyentuh sosok yang tak ada di sana.
“Kamu terlalu baik memberiku rumah, ruko, dan kendaraan untuk melepaskan orang sepertiku,” tangannya meremas dada kirinya. “Andai saja kamu bicara sejak awal, andai kamu tak membiarkanku berharap seperti ini.”
Amira menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang terasa hancur lebur.
“Kamu begitu mencintai Clarisa. Kalian berhak bahagia, dan aku… aku hanya berhak melangkah pergi,” lanjutnya dengan suara makin pelan. “Meski rasanya setiap langkah akan terasa berat, meski setiap kenangan akan terasa tajam, aku tak akan memintamu mempertahankanku.”
Ia menatap tanda tangannya sendiri, lalu melipat map itu kembali rapi.
“Terima kasih sudah pernah ada, walau tak pernah benar‑benar menjadi milikku,” ucapnya terakhir, lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan itu dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.
“Kak, aku sudah merapikan barang‑barang milikku dan Amara. Apa Kakak udah pesan taksi online untuk membawa barang kita, atau biar aku yang pesan?” tanya Ammar sambil menunggu di depan pintu ruang kerja.
“Kamu yang pesan aja. Oh iya, kunci motor dan kartu ATM yang dulu diberikan Mas Farhan, udah disimpan? Kalau belum, taruh aja di tempat aman di kamar yang pernah kamu tempati.”
“Sudah, Kak. Aku simpan di dalam sebuah kotak dan letakkan di atas meja belajar. Ponsel dan laptop juga ada di sana. Nanti Kakak tinggal kasih tau Mas Farhan aja,” jawabnya. Amira mengangguk ia tahu adiknya cukup paham dan cekatan tanpa perlu banyak diperintah.
#
Amira mengangguk pelan, lalu mengusap sisa air mata di pipinya agar tak terlihat oleh adiknya. Ia hanya perlu menyerahkan kunci rumah yang selama ini dia pegang, Amira akan memberikannya secara langsung sekaligus berterima kasih juga berpamitan.
"Kalau begitu nanti kakak tinggal serahkan kunci ini pada pemiliknya. Kita nggak akan lagi kembali ke sini," ucapnya lirih, matanya menelusuri sekali lagi lorong yang penuh kenangan pahit itu.
Ammar menyambut kunci tersebut dengan hati‑hati, lalu menatap kakaknya dengan iba. Ia tahu betapa berat hari ini bagi Amira.
"Siap, Kak. Taksi akan sampai sekitar sepuluh menit lagi," jawabnya lembut. "Kakak kuat, kan? Kita mulai hidup baru bersama‑sama."
Amira tersenyum tipis, meski matanya masih terlihat merah. Ia merangkul lengan adiknya, berusaha mengumpulkan sisa semangat.
"Tentu aja. Demi Amara dan kamu, aku harus kuat. Ayo kita pergi, jangan ada yang tertinggal sedikit pun."
Keduanya berjalan beriringan menuju pintu keluar, meninggalkan rumah besar itu selamanya meninggalkan masa lalu, menyimpan rasa sakit, dan bersiap melangkah menuju hari esok yang baru.