"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Cengkeraman tangan Alfie di pergelangan tangan wanita itu terasa begitu keras, seolah ia takut sosok di hadapannya akan menguap seperti bayangan jika ia melepaskannya.
Seluruh ketegangan yang membakar dada Alfie selama berminggu-minggu seakan memuncak pada detik ini. Matanya menatap tajam dari balik topeng kulit hitamnya
Emma memiringkan kepalanya sedikit. Bibirnya melengkung membentuk senyuman dingin. Ia menarik tangan kanannya dari genggaman Alfie dengan penuh keanggunan. Sinar di matanya mampu menghentikan aliran darah siapa pun yang menatapnya.
" Pardonnez-moi, Monsieur? " ucap Emma dalam bahasa Prancis yang sangat fasih, kental, dan sempurna. Suaranya terdengar begitu renyah, berkelas, dan asing.
" Avez-vous perdu la tête? " (Apakah Anda sudah gila?)
Alfie membeku. Nada suara itu begitu tenang, teratur, dan dipenuhi keangkuhan khas bangsawan Eropa.
"Flossie, ini kau, kan?" bisik Alfie panik.
Ia melangkah maju setengah sentimeter dan suaranya bergetar hebat.
"Jangan berpura-pura! Aroma ini, cara kamu berdiri, kamu Flossie Kincaid!"
Beberapa tamu di sekitar mereka mulai menoleh dan memandang Alfie dengan tatapan heran dan jijik seolah melihat seorang pria asing yang kehilangan akal sehat.
Troy melangkah panik mendekati atasannya.
"Pak Alfie! Tolong kendalikan diri Anda! Banyak wartawan dan elite bisnis yang memperhatikan!"
Sebelum Alfie sempat mengabaikan teguran Troy, Xavier Ellis muncul dari antara kerumunan tamu bertopeng. Pria itu memberikan kode mata pada Kevin untuk mendampingi Emma mundur sejenak ke area semi privat di dekat pilar utama.
Xavier melangkah maju dan berdiri kokoh tepat di hadapan Alfie dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku menyarankanmu untuk menahan dirimu, Alfie atau aku harus menyuruh pengawal membuangmu keluar?"
"Xavier!" bentak Alfie dengan suara parau yang ditahan.
Ia maju selangkah dan memotong jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa inci.
"Ikut aku bicara sekarang!"
Alfie menarik Xavier secara paksa ke sudut lorong samping yang sepi, jauh dari jangkauan kilatan kamera wartawan. Dua pengawal Kincaid dan tim keamanan Ellis bersiaga ketat di mulut lorong.
"Katakan padaku di mana Flossie!" tuntut Alfie dengan napas memburu dan matanya merah padam di balik topeng kulitnya.
"Aku tahu wanita bertopeng platinum tadi bukan cuma kebetulan! Aku tahu Flossie belum meninggal di malam badai itu!"
Xavier menyilangkan tangannya di dada dan melirik Alfie dengan senyuman tipis yang teramat sinis.
"Kamu mulai gila, Alfie. Kehilangan delapan belas persen nilai saham membuat otakmu tidak berfungsi?"
"Jangan membual padaku, Xavier!" potong Alfie murka.
Jemarinya mengepal rapat.
"Tim intelijensiku sudah memeriksa rekaman kamera pengawas lalu lintas di luar kediaman Kincaid pada malam dia menghilang empat tahun lalu! Ada mobil hitam terenkripsi milik Ellis Corporation yang melintas di area itu hanya sepuluh menit setelah Flossie pergi! Kamu yang membawanya! Kau yang menyembunyikannya dari aku!"
Atas tuduhan bertubi-tubi itu, Xavier justru terkekeh pelan. Sebuah jawaban yang begitu tenang, rasional, dan masuk akal keluar dari bibirnya tanpa cela sedikit pun.
"Bukti rekaman kamera? Mobil Ellis Corporation?"
Xavier menggelengkan kepala seolah prihatin dengan jalan pikiran musuhnya.
"Alfie, Ellis Corporation adalah konglomerasi korporasi global. Malam itu, tim keamanan kami sedang mengawal pengiriman aset dokumen berharga ke bandara melalui jalur lingkar luar. Apakah setiap mobil milik perusahaan kami yang melintas di jalan umum otomatis sedang menculik mantan istrimu yang kabur?"
"Kamu berbohong!" desis Alfie.
Rahangnya gemetaran.
"Gunakan otak bisnismu, Kincaid," pangkas Xavier.
Suara Xavier berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Empat tahun lalu, Flossie Kincaid hanyalah seorang wanita malang yang kamu terlantarkan dan kamu hancurkan mentalnya. Untuk apa seorang Xavier Ellis merepotkan diri menyusup ke tengah badai hujan hanya demi menyelamatkan seorang wanita tanpa aset, tanpa kekuasaan, dan tanpa nilai strategis bagi Ellis Corporation?"
Alfie bungkam. Kata-kata Xavier menghantam egonya tepat di ulu hati.
"Jika Flossie memang masih hidup," lanjut Xavier dengan penekanan dingin pada setiap kata.
"Dia pasti sudah lari ke ujung dunia yang tak tersentuh olehmu dan wanita yang baru saja kamu sentuh dengan kasar tadi adalah Madame Emma Ellis, aset paling berharga di dunia mode Eropa saat ini. Jika kamu terus mencampuradukkan paranoia masa lalumu dengan urusan bisnis, aku pastikan hancurnya saham Kincaid Group malam ini baru babak pembuka."
Xavier menepuk bahu Alfie dengan tepukan pelan yang menghina, lalu berbalik melangkah kembali ke aula utama.
Alfie berdiri mematung di lorong temaram itu dan napasnya tersengal-sengal.
Perkataan Xavier terasa masuk akal, tetapi nalurinya tetap menolak percaya. Alfie menyusul Xavier kembali ke tengah riuk pesta topeng.
Di dekat tangga utama, Emma sedang berdiri menunggunya. Xavier melangkah kembali ke samping Elena dan merangkul pinggang mulus wanita itu dengan protektif di hadapan semua orang.
Emma menyandarkan tubuhnya secara alami ke dada Xavier dan menatap Alfie dengan pandangan dingin seolah pria itu hanyalah pengganggu kelas rendah.
"Apakah pria tidak sopan ini sudah selesai mengacau?" bisik Emma manis dalam aksen Prancisnya yang kental.
Alfie terpaku syok melihat kedekatan dan kemesraan yang dipamerkan di depannya. Hatinya yang dingin mendadak terasa terbakar oleh kecemburuan yang hebat.
Namun, sebelum Alfie sempat bersuara, kerumunan tamu di belakang Xavier mendadak terbelah pelan. Dua anak balita melangkah keluar dari area VIP dan didampingi oleh Kevin.
Leon berjalan dengan langkah tenang namun berwibawa. Di sampingnya Leah menggandeng jemari mungil kakaknya.
Kedua anak kembar itu berhenti persis di samping gaun panjang Emma.
Alfie menundukkan pandangannya secara refleks dan matanya tertuju pada dua sosok mungil tersebut.
Waktu seolah berhenti berputar bagi Alfie.
Leon mendongakkan kepalanya pelan. Dari balik topeng perak kecilnya, sepasang mata yang amat tajam dan dingin menatap lurus ke arah mata Alfie.
Tatapan itu, ekspresi garis rahang itu hingga aura dominan nan angkuh yang memancar dari balita laki-laki berusia empat tahun itu sangat mirip dengan bayangan cermin Alfie Kincaid sendiri saat ia masih kecil.
Sementara di sebelahnya, Leah menatap Alfie dari balik topeng mutiaranya. Bibir tipis balita perempuan itu perlahan terangkat dan membentuk senyuman manis yang terasa amat licik, ekspresi persis yang selalu dipamerkan keluarga Kincaid saat meremehkan musuhnya.
Dada Alfie dihantam sesak melihat kemiripan garis wajah yang tak tertutupi topeng.