Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Surat Perintah Tugas
"Suster Aira tidak boleh pergi!" Potong Teddy tak memedulikan sikap gadis itu yang tak sama lagi seperti yang dulu. Ia menatap Weri dengan sorot tajamnya.
"Mulai sore ini, dia telah dipindahtugaskan secara eksklusif oleh direksi rumah sakit untuk menjadi perawat pribadi saya selama dua puluh empat jam kedepan. Segala jadwal di luar kepentingan medis saya, semuanya dinyatakan batal."
'Hah?!' Kening Aira mengerut dan kedua alis bertaut. Bahkan, ia sendiri tak tau ada perintah seperti itu.
'Sejak kapan ada aturan sepihak macam ini?' batinnya sedikit heran.
Sementara itu, Dokter Weri hanya bisa terdiam dengan senyum kaku, seakan kalah sebelum berperang.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak Teddy. Masih ada pasien lain yang harus saya periksa," ucap Weri akhirnya, memilih mundur teratur sebelum ia kena depak oleh pihak rumah sakit sebagai dokter residen. Ia melempar anggukan kaku pada Aira lalu melangkah pergi dengan langkah cepat.
Begitu siluet Dokter Weri menghilang di tikungan koridor, Aira langsung melepaskan tiang infus dengan kasar, lalu berkacak pinggang di depan Teddy. Topeng perawat sopannya langsung lepas begitu saja.
"Bapak ini apa-apaan, sih?!" semprot Aira sewot.
"Sejak kapan saya dinobatkan menjadi perawat pribadi Anda? Bapak pikir saya ini robot yang baterainya gak habis-habis? Asal Bapak tahu ya, saya ini mau pulang ke rumah buat istirahat. Kepala saya ini pusing banget. Namun, malah dikerjain sama kedua orang tua Bapak hingga nggak diizinkan pulang!"
Teddy tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah kesal Aira dengan tatapan yang perlahan sedikit merasa bersalah.
"Kalau saya tidak keluar, kamu pasti akan menerima ajakan makan malam si dokter itu kan?" tanya Teddy lirih.
"Ya terserah saya dong! Mau makan malam sama siapa saja, itu hak saya!" ketus Aira, wajahnya memalingkan pandangan. Ia enggan menatap mata Teddy terlalu lama karena takut hatinya kembali terasa perih.
"Sekarang cepat masuk kamar! Saya mau mengecek infus yang kata Bapak macet tadi."
Teddy tersenyum kering, telinga dan hatinya terasa bergerigi dengan panggilan yang terus membatasi jarak di antara mereka.
"Please, jangan panggil begitu lagi? Kamu membuat jarak kita semakin jauh," ucap Teddy mengikuti langkah pelan Aira dengan tertatih.
"Nggak mau, pokoknya Anda adalah pasien Bapak-Bapak," cetus Aira tak mau menatap Teddy.
"Aku ini belum setua itu. Kamu boleh memanggilku Mas atau Abang, kalau kamu tak mau memanggilku "Om" lagi."
Aira refleks menatap wajah Teddy yang ternyata sedang tersenyum penuh jebakan.
"Ogah!"
Setelah kembali naik ke atas ranjang, Aira menatap infus yang tadi dikatakan macet. "Mana yang macet?" Tatapan beralih ke Teddy yang tampak menahan senyum. "Kamu bohong ya?"
"Sebenarnya, bukan infus saya yang macet." Lalu tangannya menekan pada dadanya.
Aira semakin kesal oleh kelakuan kekanakan pria karatan ini. "Terus kenapa Bapak teriak-teriak bilang begitu?"
Teddy memasang wajah kesakitan. Ia menekan dada memicingkan mata.
"Sebenarnya, hati saya yang macet, Ra. Macet total sejak kamu pergi setahun lalu. Ini baru bisa berdetak normal lagi setelah melihat kamu menemaniku dari semalam."
Deg.
Aira terpaku di tempatnya berdiri, papan rekam medis di pelukannya mendadak terasa begitu berat. Beberapa detik suasana hening menggantung di antara mereka. Lalu, dengan kasar ia mengguncang tiang infus tadi.
"Aaaagghh," ringis Teddy.
Tak lama kemudian, Aira menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan Teddy, keluar dengan sedikit hempasan pintu.
Aira keluar dari kamar VIP 401 dengan napas memburu. Dadanya naik-turun menahan dongkol.
'Sialan, bisa-bisanya pria karatan itu mendadak jadi puitis setelah setahun berlalu!'
Namun, baru tiga langkah Aira kabur menuju ruang perawat, langkahnya mendadak dihadang oleh Nyonya Mirna berdiri di sana, memegang sebuah map putih dengan senyum kemenangan.
"Aira, Sayang, mau ke mana?" sambut Nyonya Mirna super manis.
Aira tersenyum kaku. "Eh, ini, Bu. Sif saya sudah selesai dari kemarin malam. Jadi, kayaknya saya harus segera pulang."
"Waduh, sayang sekali. Padahal Direktur Utama RSUD baru saja menandatangani surat tugas ini," Nyonya Mirna menyodorkan map putih Itu dengan gaya anggun
Aira membukanya dengan ragu. Begitu membaca isinya, matanya sukses melotot. Surat Pemindahtugasan Khusus. Aira dinobatkan sebagai perawat pribadi eksklusif Teddy Brian Wijaya selama di ruang VIP atas memo resmi Direktur. Maklum, perusahaan sang ayah baru saja menggelontorkan dana hibah miliaran rupiah untuk pengadaan alat CT-Scan terbaru di RSUD ini. Jadi, meminta satu perawat untuk fokus pada anaknya tentu perkara sangat mudah bagi pihak manajemen.
Ditambah lagi, ada ancaman halus terlampir: jika menolak, posisi Om Jovan sebagai kepala logistik akan dievaluasi ulang.
"Nyonya... ini pemerasan gaya baru ya?" gumam Aira lemas.
Nyonya Mirna tertawa anggun tanpa dosa. "Anggap saja ini investasi masa depan, Aira. Lagipula, kamu dapat insentif lembur tiga kali lipat. Masuklah lagi, rawat anak lapuk itu. Kalau dia rewel kamu diperbolehkan melakukan apa pun. Mama izinkan!"
Aira tertegun. Pelipisnya sedikit berkedut mendapat surat perintah di saat baterainya tinggal lima persen.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣