Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding es di tengah kemewahan
Pengakuan Ravion di lantai pantry bukannya membawa kelegaan, melainkan badai baru di hati Elfesya. Meskipun bayangan Ravion yang minum dari gelas plastik mulai menari-nari di ingatannya, rasa perih akibat penghinaan di masa lalu justru kembali lebih kuat daripada rasa cinta yang sempat tumbuh.
Logika Elfesya menolak kenyataan bahwa ia telah menyerahkan hatinya pada pria yang dulu begitu kejam merendahkannya. Ia merasa dikhianati oleh dirinya sendiri—bagaimana bisa ia mencintai pria yang ayahnya telah menghancurkan keluarganya?
Keadaan di apartemen berubah drastis. Jika sebelumnya Elfesya merasa canggung sebagai bawahan, kini ia berubah menjadi sosok yang dingin dan penuh jarak.
"Makan malam sudah siap," ucap Elfesya datar, meletakkan piring di meja makan tanpa menatap mata Ravion.
"Terima kasih, Elfesya," sahut Ravion lembut. Ia mencoba menyentuh tangan istrinya, namun Elfesya segera menariknya seolah baru saja terkena percikan api.
"Jangan sentuh saya, Pak Ravion. Oh, atau harus saya panggil 'Suamiku'?" sindir Elfesya dengan nada getir yang menusuk. "Ingatan saya mungkin belum kembali seratus persen, tapi rasa sesak di dada saya saat mengingat cara Anda memandang saya dulu... itu sangat nyata."
Ravion terdiam. Ia meletakkan sendoknya, nafsu makannya hilang seketika. "Aku tahu aku salah, Elfesya. Aku sudah mengatakannya berulang kali di desa dulu. Aku sudah berjanji untuk menebus semuanya."
"Menebusnya dengan apa? Dengan apartemen ini? Dengan membayar sekolah Elric?" Elfesya tertawa sinis, matanya berkaca-kaca. "Anda membeli maaf saya dengan uang, seperti cara keluarga Arshaka menyelesaikan semua masalah mereka."
Di sudut ruangan, Elric hanya bisa terpaku memegang buku sekolahnya. Ia melihat pemandangan yang menyayat hati: kakaknya yang biasanya lembut kini penuh duri, dan Ravion yang perkasa kini tampak begitu kerdil di hadapan kemarahan istrinya.
Elric ingin sekali melerai. Ia ingin berteriak pada kakaknya bahwa Ravion benar-benar telah berubah, bahwa Ravion rela membuang harga dirinya di atas pasir pesisir demi mereka. Namun, ia teringat pesan Ravion tempo hari untuk tidak ikut campur.
Bocah itu perlahan menutup bukunya dan berjalan masuk ke kamar tanpa suara. Ia tahu, ini adalah pertempuran dua jiwa yang sedang terluka, dan kehadirannya hanya akan menambah beban.
Malam itu, hujan turun membasahi kaca jendela penthouse. Ravion berdiri di balkon, membiarkan angin dingin menusuk kulitnya. Ia mendengar suara pintu kamar tamu yang dikunci dari dalam—sebuah pernyataan tegas dari Elfesya bahwa ia belum siap berbagi ruang.
Ravion memejamkan mata. Ia teringat kata-katanya sendiri dulu: “Kamu hanya ingin mengincar harta.”
Sekarang, kata-kata itu menjadi bumerang yang menghantam dirinya sendiri. Setiap kebaikan yang ia berikan kini dianggap sebagai "pembelian maaf". Ia menyadari bahwa memenangkan kembali ingatan Elfesya jauh lebih mudah daripada memenangkan kembali kepercayaannya yang telah hancur.
"Aku akan menunggu," gumam Ravion pada kegelapan kota. "Meski aku harus menjadi orang asing di rumahku sendiri selama sisa hidupku, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Sementara itu, di dalam kamar, Elfesya meringkuk di bawah selimut. Ia memegang cincin yang ia temukan di laci tempo hari. Air matanya jatuh membasahi bantal. Ia marah pada Ravion, tapi ia lebih marah pada dirinya sendiri karena di tengah kebencian itu, jantungnya tetap berdegup kencang setiap kali mencium aroma parfum jeruk yang tertinggal di jas pria itu.
Hubungan mereka kini seperti air laut yang sedang surut; tenang namun meninggalkan jejak karang yang tajam dan menyakitkan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...