"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan Hangat Sang Pelindung
Malam kembali turun menaungi rumah mewah di kawasan Menteng. Di dalam kamar tidurnya yang bernuansa biru muda, Abid duduk meringkuk di atas tempat tidur setinggi lututnya. Di tangan kecilnya, sebuah robot mainan berwarna merah menyala—pemberian Rendra dua hari lalu—dipegang dengan sangat erat. Bocah berusia empat tahun itu menatap mainan tersebut dengan pancaran mata yang dipenuhi rasa bimbang dan ketakutan khas anak-anak.
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara tawa lembut Bundanya yang sedang berbincang dengan Elang di lantai bawah. Abid merasa seperti menjadi anak yang nakal. Ingatan tentang ucapan ayah kandungnya di balik pagar sekolah kembali terngiang-ngiang di kepala kecilnya.
'Kalau Abid kasih tahu Bunda soal robot ini, Bunda bakal marah besar dan buang robotnya. Om Elang itu orang jahat yang mau usir kita.'
Kalimat manipulatif itu menjadi beban yang terlalu berat untuk mental anak sekecil Abid. Air mata bening mulai menggenang di sudut mata bulatnya, perlahan menetes membasahi pipi tembem nya. Dia benar-benar ingin memeluk Bundanya, tapi dia takut Bundanya akan marah karena dia sudah menerima barang dari orang asing.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu yang lembut seketika membuat Abid tersentak kaget. Dengan gerakan panik, bocah itu langsung menyembunyikan robot merahnya di balik bantal besar, menghapus air matanya dengan terburu-buru menggunakan punggung tangannya.
"Abid... Papa Elang boleh masuk, Sayang?" suara berat nan teduh milik Elang Danuarta terdengar dari balik pintu.
Belum sempat Abid menjawab, pintu kayu bercat putih itu perlahan terbuka. Elang melangkah masuk dengan senyuman hangat yang tulus terukir di wajah tampannya. Dia tidak lagi mengenakan setelan jas kerjanya, melainkan hanya kemeja kasual dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangan kanannya, Elang membawa segelas susu cokelat hangat beraroma manis.
Elang berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang Abid. Sebagai pria yang peka, Elang langsung bisa melihat jejak basah air mata di pipi Abid dan bagaimana tubuh bocah itu sedikit bergetar canggung saat dirinya mendekat.
"Abid belum tidur? Ini Papa Elang bawain susu cokelat kesukaan Abid. Diminum dulu yuk, biar tidurnya nyenyak," ucap Elang lembut, mengulurkan gelas kaca itu dengan gerakan yang pelan agar tidak mengejutkan Abid.
Abid menatap gelas susu itu, lalu menatap wajah Elang. Rasa bersalah di dalam dada bocah itu makin membubung tinggi. Pria di depannya ini selalu baik, selalu membelikannya mainan, dan menjaganya dengan tulus. "Kenapa kata Papa Rendra, Om Elang itu orang jahat?" Tanya Abid di dalam hati kecilnya yang bingung.
"Makasih... Papa Elang," cicit Abid pelan. Menerima gelas itu dengan kedua tangan kecilnya yang gemetaran, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
Elang terus mengawasi bahasa tubuh Abid dengan tatapan mata yang penuh kasih sayang. Dia tidak ingin menginterogasi Abid seperti seorang penyidik. Elang tahu, mental anak kecil yang sedang dilingkupi hasutan tidak boleh ditekan, melainkan harus dirangkul dengan rasa aman yang nyata.
Begitu Abid meletakkan kembali gelas susunya di atas nakas, Elang mengulurkan tangannya, mengusap lembut rambut hitam lebat milik anak Rania itu. "Abid... Papa Elang mau nanya sesuatu, boleh? Tapi Abid gak usah takut ya. Papa Elang gak akan marah, Bunda juga gak akan marah."
Abid langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemari tangannya bertautan erat mencengkeram selimut tidur. "Nanya... nanya apa, Papa?"
Elang dengan perlahan memajukan posisi duduknya, dengan gerakan yang halus, merengkuh tubuh mungil Abid ke dalam pelukannya. Dekapan Elang terasa begitu kokoh, hangat, dan memberikan rasa aman yang luar biasa—sesuatu yang tidak pernah Abid dapatkan dari sosok Rendra Wijaya seumur hidupnya.
"Papa Elang sayang sama Abid. Bunda juga sayang sama Abid," bisik Elang tepat di dekat telinga bocah itu, mengusap punggung Abid dengan ritme yang menenangkan. "Papa tahu, kemarin ada orang yang datang nemuin Abid di sekolah, kan? Orang itu kasih Abid mainan dan minta Abid buat merahasiakannya dari Bunda?"
Mendengar rahasia besarnya terbongkar, pertahanan mental Abid seketika runtuh. Ketakutan yang sejak kemarin dia pendam sendiri pecah. Tangisan bocah itu langsung meledak di dalam dada bidang Elang. Tangan kecilnya mencengkeram kemeja Elang dengan erat, meluapkan seluruh beban rasa bersalahnya.
"Huaaa... Papa Elang... Abid minta maaf! Abid anak nakal!" tangis Abid sesenggukan, tubuhnya berguncang hebat di dalam pelukan Elang. "Papa Rendra... Papa Rendra kasih Abid robot merah... dia bilang... dia bilang kalau Bunda tahu, Bunda bakal marah besar... Abid takut, Papa... Abid takut Bunda benci Abid... huaaa!"
Mendengar pengakuan jujur yang polos dari mulut Abid, rahang Elang sempat mengeras sesaat menahan amarahnya kepada Rendra. Bajingan itu tega membuat mental anaknya sendiri tersiksa ketakutan seperti ini. Namun, di depan Abid, Elang menekan ego dan emosinya, menggantinya dengan kelembutan seorang pelindung sejati.
Elang melonggarkan pelukannya sedikit, memegang kedua bahu kecil Abid. Menatap langsung ke dalam sepasang mata bulat Abid yang basah oleh air mata.
"Abid dengerin Papa ya, Sayang," ucap Elang dengan nada suara yang mantap dan menenangkan. "Abid bukan anak nakal. Abid anak yang baik dan pintar karena udah jujur sama Papa. Bunda gak akan pernah marah, dan Bunda gak akan pernah benci sama Abid cuma karena mainan itu."
Abid mengusap hidungnya yang memerah, menatap Elang dengan pandangan ragu. "Beneran, Papa? Bunda... Bunda gak akan buang Abid?"
"Beneran, Sayang. Papa Elang janji taruhan nyawa, gak akan ada satu orang pun yang bisa buang Abid atau marahin Abid. Selama ada Papa Elang di sini, Abid dan Bunda aman," tegas Elang, menyeka sisa air mata di pipi Abid dengan ibu jarinya. "Soal robot merah itu, kalau Abid mau simpan, simpan aja. Tapi Abid gak boleh rahasia-rahasiaan lagi ya sama Bunda dan Papa? Anak pintar gak boleh pegang rahasia yang bikin sedih."
Abid merasa sebuah beban berat yang menghimpit dada kecilnya menguap begitu saja. Rasa hangat dan kepercayaan penuh kepada Elang kembali pulih seutuhnya di dalam hati sucinya. Hasutan-hasutan jahat yang sempat ditanamkan Rendra luntur total, kalah telak oleh ketulusan dan pelukan nyata yang diberikan oleh Elang Danuarta malam ini.
"Iya, Papa... Abid janji gak bakal rahasia lagi," ucap Abid pelan, kini sebuah senyuman kecil mulai terbit di wajahnya yang masih sembap.
Elang tersenyum lega, lalu mengecup kening Abid dengan penuh kasih sayang. Setelah memastikan Abid kembali tenang dan merebahkan tubuhnya di bawah selimut, Elang melangkah keluar dari kamar dengan langkah kaki yang sunyi.
Begitu pintu kamar Abid tertutup rapat, senyuman hangat di wajah Elang seketika lenyap tanpa sisa. Wajahnya bertransformasi menjadi dingin, sedingin es kutub utara. Dia berjalan menuju koridor lantai dua, mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Baskara.
‘Pastikan Rendra tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan apa pun lagi di kota ini. Buat dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya sampai dia tidak punya muka lagi untuk menampakkan diri di depan anakku.’
Umpan Rendra tidak hanya gagal merusak hubungan mereka, melainkan kini telah berbalik mengunci takdir kehancuran total bagi sang mantan suami Rania tanpa ada jalan untuk kembali.
pst dapat cap pelakor😄🤭