Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 23 (Sabotase dan Alarm Berbahaya)
Rencana Baskoro untuk menjadikan ibu mertua Adrian sebagai sandera politik gagal total setelah sanatorium di Bogor dijaga ketat oleh tim militer swasta bentukan Yudha. Frustrasi dan gelap mata karena sisa waktu skorsingnya terus berjalan, Baskoro mengambil langkah paling ekstrem dalam hidupnya. Ia tidak lagi mengincar takhta bisnis, melainkan ingin menghancurkan kebahagiaan Adrian berkeping-keping.
Di sebuah bengkel tertutup di pinggiran Jakarta, Baskoro menyerahkan sekoper uang tunai kepada seorang oknum mekanik internal yang biasa mengurus perawatan kendaraan operasional penthouse Adrian.
"Pastikan rem pada SUV hitam yang biasa digunakan wanita itu tidak berfungsi saat mobil melaju di atas kecepatan delapan puluh kilometer per jam," perintah Baskoro dengan suara rendah yang menakutkan, matanya berkilat penuh dendam. "Aku mau ini terlihat seperti kecelakaan murni akibat kegagalan mekanis."
"Baik, Tuan. Semuanya akan beres sebelum jadwal kontrol kehamilan Nyonya Muda besok pagi," jawab mekanik itu dengan patuh seraya menerima uang suap tersebut.
Keesokan paginya, suasana di penthouse Sudirman tampak begitu tenang. Hari ini adalah jadwal kontrol kehamilan rutin Arini yang memasuki minggu keenam. Adrian sudah membatalkan seluruh agenda kerjanya sejak jauh-jauh hari demi bisa mendampingi istrinya ke rumah sakit ibu dan anak.
"Mas, jas hujan atau payung kecil perlu dibawa tidak? Di luar sepertinya agak mendung," tanya Arini sembari melangkah keluar kamar mengenakan gaun hamil terusan berwarna pastel yang longgar namun tetap terlihat sangat anggun.
Adrian yang sedang mengancingkan jam tangan kromiumnya menoleh. Ia berjalan mendekati Arini, lalu dengan manja merapikan beberapa helai rambut istrinya yang terlepas. "Tidak perlu, Sayang. Mobil sudah siap di lobi bawah. Kamu tidak akan kehujanan satu tetes pun selama ada di dekatku."
"Sifat berlebihanmu ini selalu keluar setiap kali kita mau ke rumah sakit," goda Arini manis sembari mencubit pelan pinggang suaminya.
Adrian tidak membalas gurauan itu, melainkan langsung menyurukkan tangan besarnya untuk menggandeng jemari Arini dengan sangat erat, menuntunnya masuk ke dalam lift pribadi. Di lobi bawah, sebuah SUV hitam antipeluru berukuran besar sudah terparkir rapi dengan mesin yang menyala halus.
"Selamat pagi, Pak Adrian, Nona Arini," sapa Yudha yang pagi ini bertindak sebagai pengemudi khusus, demi menjaga keamanan ekstra untuk calon pewaris Wijaya Group.
Mobil mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai padat. Adrian duduk di kursi penumpang baris kedua bersama Arini, membiarkan kepala istrinya bersandar nyaman di dada bidangnya sembari tangan besarnya mengelus perlahan perut Arini yang masih rata.
Namun, ketenangan itu mendadak hancur saat mobil memasuki jalur cepat jalan tol layang dalam kota. Yudha yang sejak tadi fokus mengemudi mendadak melihat sebuah indikator merah berkedip di layar dasbor mobil.
"Pak Adrian, ada yang aneh dengan sensor tekanan hidrolik rem kita. Angkanya turun drastis dalam waktu beberapa detik," lapor Yudha, suaranya mulai terdengar tegang.
Adrian seketika menegakkan posisi duduknya. Mata elangnya menatap tajam ke arah kaca spion tengah. "Coba lakukan pengereman bertahap, Yudha."
Yudha menginjak pedal rem secara perlahan, namun matanya langsung membelalak panik saat menyadari pedal tersebut terasa sangat blong dan ringan tanpa ada tekanan sama sekali. Kecepatan mobil mereka saat ini berada di angka sembilan puluh kilometer per jam, melaju kencang di atas jalur layang yang padat.
"Gawat, Pak! Remnya sama sekali tidak berfungsi! Seseorang telah memotong jalur kabel fluida hidrolik kita!" seru Yudha panik, berusaha sekuat tenaga mempertahankan kestabilan setir mobil di tengah kepungan kendaraan lain.
Arini yang mendengar hal itu langsung mencengkeram erat kemeja Adrian, rasa cemas dan takut seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia refleks memeluk perutnya sendiri, takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada janin di dalam kandungannya.
"Mas..." bisik Arini dengan suara yang bergetar hebat.
Dalam situasi kritis yang bisa merenggut nyawa tersebut, sifat dingin dan kalkulasi taktis Adrian justru keluar secara maksimal. Ia sama sekali tidak panik. Dengan gerakan yang sangat protektif, Adrian langsung menarik tubuh ramping Arini ke dalam dekapannya, memeluknya dengan sangat erat, menyembunyikan kepala istrinya di dada bidangnya untuk melindunginya dari benturan apa pun.
"Tenang, Sayang. Pejamkan matamu. Mas ada di sini, Mas tidak akan membiarkan apa pun menyentuhmu dan anak kita," bisik Adrian rendah, suaranya terdengar begitu serak namun sarat akan otoritas mutlak yang menenangkan batin Arini di tengah badai bahaya.
Adrian menatap tajam ke arah depan melalui celah pundak Yudha. "Yudha! Gunakan rem tangan elektronik secara berkala untuk menurunkan kecepatan paksa, lalu arahkan mobil ke jalur darurat dan gesekkan bodi samping mobil ke pembatas jalan beton untuk menghentikan lajunya!"
"Baik, Pak! Pegangan erat!" seru Yudha dengan nyali baja.
Creeeeekkkk! Duar!
Suara gesekan logam yang memekakkan telinga berpadu dengan dentuman keras saat bodi samping SUV mewah itu mulai menghantam dinding pembatas beton jalan tol. Guncangan hebat melanda isi mobil, namun Adrian tetap kokoh memeluk tubuh Arini, menjadikan tubuh bidangnya sendiri sebagai perisai hidup terkuat demi memastikan tidak ada satu pun goresan yang menyentuh belahan jiwanya.
Sabotase Baskoro hampir saja merenggut nyawa mereka, namun ketangkasan Adrian dan Yudha berhasil menyelamatkan situasi di detik-detik terakhir. Pasca-insiden mengerikan ini, amarah sang Es Kutub Utara dipastikan akan meledak dan ia tidak akan lagi menggunakan jalur hukum perusahaan untuk menghabisi Baskoro.