NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: DINDING KACA DI ANTARA KITA

Pagi itu, embun masih betah menempel di dedaunan taman rumah keluarga Hutama. Bramantyo, yang sudah tampak segar dengan setelan jas mahalnya, melangkah menuju garasi. Di sana, ia menemukan Reyhan sedang memeras kain kano yang basah. Mobil sedan hitam milik Bram berkilat-kilat, memantulkan cahaya matahari pagi seperti cermin.

​Bram terdiam sejenak, memerhatikan pemuda itu. Setengah tahun telah berlalu sejak insiden "begal" yang membawa Reyhan ke rumah ini.

​"Rey," panggil Bram.

​Reyhan menoleh, lalu berdiri tegak. "Ya, Tuan?"

​"Terima kasih untuk semuanya. Kamu sudah membuktikan padaku bahwa kamu bukan penjahat. Selama enam bulan ini, kamu bekerja lebih keras dari siapa pun di rumah ini," ujar Bram dengan nada bicara yang tidak lagi sedingin dulu. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal dari saku jasnya. "Hutangmu secara moral sudah lunas. Kamu bebas pergi hari ini. Ini... aku bayar semua keringatmu selama di sini. Nilainya lebih dari cukup untuk modal usaha."

​Reyhan menatap amplop itu, lalu menatap Bram dengan mata yang tenang. "Terima kasih, Tuan. Tapi bagi saya, komitmen adalah prinsip. Saya berjanji satu tahun, maka saya akan menyelesaikannya dalam satu tahun."

​Bram menghela napas, sedikit gusar dengan kekerasan kepala pemuda ini. "Rey, dengar. Kamu itu orang baik, aku akui itu. Tapi untuk menjadi orang yang bisa berada di dekat anakku, 'baik' saja tidak cukup. Dia butuh orang yang pintar, sukses, dan punya masa depan yang jelas secara finansial."

​Reyhan hanya diam, menyimak setiap kalimat yang menghujam harga dirinya.

​"Maaf kalau ini terdengar menghina, tapi aku tidak hanya memikirkan perasaan Vanya. Aku memikirkan perusahaan, periuk nasi keluarga Hutama. Vanya adalah anak semata wayangku, dia ahli waris tunggal dan dia belum mampu mengelola itu sendirian. Hanya Derian yang punya dedikasi dan tahu seluk-beluk perusahaan. Dia pasangan yang paling logis untuk Vanya."

"Rey, dunia bisnis itu kejam. Aku butuh tameng untuk Vanya, bukan cuma pendamping. Dan tameng itu bernama kekuasaan dan uang yang dimiliki Derian. Maafkan aku."

​"Saya sadar diri, Tuan," sahut Reyhan pendek. Ada getaran getir yang ia sembunyikan rapat-rapat.

​"Bagus kalau begitu. Jika kamu masih bersikeras bertahan enam bulan lagi, aku izinkan. Tapi dengan satu syarat mutlak: Jauhi Vanya. Jangan beri dia harapan, jangan bersikap terlalu manis padanya. Jaga jarakmu."

​Reyhan menarik napas panjang. "Baik, Tuan. Tapi tolong sampaikan juga kepada Nona Vanya... agar dia juga bisa menjaga sikapnya terhadap saya."

​Di balik daun pintu jati yang sedikit terbuka, Vanya berdiri mematung. Dadanya sesak, jantungnya seperti diremas tangan tak kasat mata. Ia mendengar semuanya. Kalimat-kalimat Papanya yang tajam dan jawaban Reyhan yang seolah menyerah pada kasta.

​Vanya segera berlari menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia luruh di balik pintu, air matanya jatuh tanpa permisi.

​"Papa kenapa sih?" isaknya pelan. "Reyhan kan cuma mengantar aku... aku nggak pacaran, aku nggak ada apa-apa sama dia! Kenapa harus dijauhi?"

​Vanya membenamkan wajahnya di bantal. "Aku nggak akan pernah c...i...n...ta sama Reyhan. Nggak mungkin," gumamnya, meski kata 'cinta' itu terasa sangat pahit di lidahnya sendiri.

​Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di meja rias berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama: Derian.

​Vanya menghapus air matanya dengan kasar dan mengangkat telepon itu. "Ada apa kamu, Buaya Buntung?!" semprotnya ketus.

​"Kamu nangis, Vany?" suara Derian terdengar cemas di seberang sana.

​"Nggak! Aku lagi keselek air keran sama kerannya sekalian! Puas?!" balas Vanya berbohong. "Kenapa telepon?"

​"Eh, malam ini kita kencan ya? Aku jemput. Kita makan di restoran biasa. Aku mau menjelaskan semuanya."

​"Nggak mau! Penjelasan apa lagi? Sudah jelas kamu itu pengkhianat!"

​"Vany, plis... kamu salah sangka. Cewek yang kamu lihat kemarin itu... dia sepupuku. Namanya Sherly. Kalau nggak percaya, tanya saja Clarissa. Dia tahu kok kalau aku dan Sherly saudara sepupu."

​Vanya terdiam. Keraguan mulai muncul. "Bohong! Aku nggak percaya."

​"Aku tunggu nanti malam. Biar semuanya jelas, Vany. Aku sayang kamu," ucap Derian manis sebelum mematikan sambungan.

​Penasaran, Vanya langsung menghubungi Clarissa, sahabatnya yang paling tukang gosip.

​"Halo, Clar! Yang kemarin bareng Derian, si Sherly itu... benar sepupunya?" tanya Vanya tanpa basa-basi.

​Clarissa, yang sebenarnya sudah menerima suapan berupa tas mewah dari Derian agar membantu melancarkan aksi bohongnya, menjawab dengan nada sangat meyakinkan. "Iya, Vany! Ya ampun, kamu itu , dia kan sepupu jauhnya yang baru datang dari luar kota. Kok kamu cemburu sih? Makanya, jangan suudzon dulu!"

​Vanya menghela napas lega, sekaligus merasa sangat bersalah. "Berarti aku yang salah dong sudah marah-marah sama Derian?" gumamnya polos. Der... maafin aku. Aku datang nanti malam, batinnya penuh harap. Vanya "ingin percaya" karena dia sebenarnya merasa kesepian dan butuh validasi bahwa dia tidak salah pilih cowok, meskipun hati kecilnya tetap ragu

​Malam itu, Vanya berdandan habis-habisan. Ia mengenakan gaun merah satin yang memeluk tubuhnya dengan indah, riasannya sempurna. Namun, di balik itu, ada rencana lain di kepalanya. Ia ingin mengajak Reyhan. Bukan sebagai pasangan, tapi sebagai "supir" yang akan ia pamerkan di depan Derian. Ia ingin melihat apakah Derian benar-benar cemburu, sekaligus ingin membuat Reyhan merasa "panas" melihatnya berbaikan dengan Derian.

​Vanya melangkah menuju gudang belakang yang telah disulap menjadi kamar sederhana bagi Reyhan. Baru saja ia hendak mengetuk pintu, pintu itu terbuka.

​Reyhan muncul dengan penampilan yang membuat Vanya hampir lupa cara bernapas. Reyhan mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan digulung hingga siku, celana chino gelap, dan rambutnya tertata rapi. Aroma parfum maskulin yang segar—aroma yang selama ini membuat Vanya merasa nyaman—kini terasa berkali-kali lipat lebih memikat.

​"Rey... kamu tahu aku mau berangkat?" tanya Vanya dengan mata berbinar. "Hebat ya, kamu punya indra keenam? Bisa baca pikiranku? Kamu kayak Deddy Corbuzier ya, buset deh!"

​Reyhan menatap Vanya datar, sangat berbeda dengan tatapan hangat yang biasanya ia berikan. "Eh, Nona... maaf, aku lagi ada orderan."

​Senyum Vanya luntur. "Maksud kamu? Kamu nggak mau mengantarku?"

​"Bukan. Aku mau mengantar orderan paket malam ini."

​"Dengan pakaian serapi ini? Kamu mau antar paket ke istana presiden atau gimana?" tanya Vanya sinis.

​"Memangnya tidak boleh rapi kalau antar orderan?" jawab Reyhan dingin. Ia teringat syarat dari Bramantyo pagi tadi. Jauhi Vanya.

​"Rey, tolong antar aku sekali ini saja. Aku mau ketemu Derian," Vanya memohon, suaranya sedikit melembut.

​Reyhan menatap mata Vanya sejenak, ada kilat kepedihan di sana sebelum ia membuang muka. "Maaf, Nona. Ini demi kebaikanku... dan juga kebaikan Nona. Silakan panggil Kang Ujang."

​Tanpa menunggu jawaban, Reyhan segera menyalakan motor matik bututnya. "Aku berangkat ya. Assalamu’alaikum."

​"Rey, tunggu!" teriak Vanya, namun suara motor itu sudah menjauh meninggalkan kepulan asap tipis.

​"Wa’alaikum salam," bisik Vanya lirih.

​Vanya berdiri sendirian di depan gudang yang kini terasa sangat sunyi. Gaun mewahnya terasa berlebihan, dan parfum mahalnya terasa hambar. Tiba-tiba, rasa sesak itu kembali. Bukan karena Derian, tapi karena punggung pria yang baru saja pergi meninggalkannya.

​"Kenapa... kok aku merasa sepi ya tanpa Reyhan?" gumamnya pada kegelapan malam. Aroma parfum maskulin digudang masih tercium walaupun melambat hilang. Untuk pertama kalinya, Vanya menyadari bahwa keramaian restoran mewah yang menantinya di depan sana tidak akan bisa menandingi kehadiran seorang pria yang selalu ia panggil "Gembel".

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!