NovelToon NovelToon
Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Douluo: Tongkat Besi Penghancur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18.Sekantong Jimat dan Jalan Sunyi Menuju Hutan Jiwa

Di dalam kediaman yang sunyi itu, Xiao Xuan duduk bersila dalam keheningan yang menyelimuti, pikirannya menelusuri setiap kemungkinan bahaya yang mungkin menghadangnya.

Ia sadar benar, di kedalaman Hutan Perburuan Jiwa, binatang roh buas memang menjadi ancaman nyata, namun yang jauh lebih berbahaya dan tak terduga justru adalah hati manusia yang dikendalikan oleh keserakahan.

Meski ia jarang membahas sisi gelap dunia ini dengan orang lain, ia telah bersiap sepenuhnya dalam hatinya untuk menghadapi apa pun baik taring buas maupun pisau yang ditusukkan dari belakang oleh sesama manusia.

Ada pepatah lama yang selalu ia pegang: senjata tajam tidak perlu selalu digunakan, namun tak boleh sesaat pun hilang dari sisi.

Dan mengenai izin masuk ke kawasan terlarang itu... baginya, hal itu hanyalah persoalan sepele. Ia sudah memikirkan jalannya.

Cukup pergi ke pasar ramai yang terletak tepat di gerbang luar hutan, mencari kelompok pemburu atau pengawal bayaran yang berniat masuk, lalu menyamar sebagai bagian dari rombongan mereka.

Serahkan beberapa keping perak, atau bahkan satu keping emas yang cukup menggiurkan kepada sang pemimpin rombongan, maka mereka akan dengan senang hati membiarkannya ikut serta.

Di mata orang-orang itu, uang adalah segala-galanya; entah nanti yang ikut serta itu hidup atau mati di dalam hutan, sama sekali bukan urusan mereka.

Lagipula, saat keluar kembali, para penjaga di gerbang tak akan pernah repot-repot menghitung jumlah orang yang masuk dan yang keluar.

Mereka hanyalah manusia biasa yang hidup di ambang bahaya, berjuang demi sesuap nasi, dan tak ada satu pun yang akan menolak uang mudah yang datang begitu saja.

Setelah memastikan kondisi fisik dan aliran energinya berada di puncak kemampuan, Xiao Xuan mengeluarkan selembar Jimat Penenang Roh dan menempelkannya tepat di dada bagian tengah.

Seketika itu juga, hawa sejuk yang menyejukkan hati menjalar dari titik itu, mengalir deras ke sepanjang urat saraf hingga mencapai kepalanya.

Rasa gelisah samar yang sempat hinggap di hatinya perlahan-lahan mereda, digantikan oleh ketenangan yang jernih. Pikirannya menjadi setajam mata pedang, bebas dari segala kekacauan atau keraguan.

Di bawah pengaruh energi itu, kemampuan Mata Roh Xuanqing miliknya pun terasa berubah; pandangannya menjadi jauh lebih halus, lebih tajam, dan menyimpan misteri yang tak terduga.

Kini saatnya tiba.

Xiao Xuan menarik napas panjang, paru-parunya terisi udara malam yang dingin. Ia mengangkat kuas tulang yang sudah lama tersimpan itu, memegangnya dengan gaya yang sangat spesial ibu jari menekan di satu sisi, jari telunjuk, tengah, dan manis sejajar menopang sisi lainnya, sementara jari kelingkingnya ditekuk masuk ke telapak tangan, berfungsi sebagai penyeimbang mutlak.

Perlahan namun pasti, ia mulai menyalurkan kekuatan rohnya. Energi mengalir dari pergelangan tangan, menyebar ke empat jari penuntun, sementara jari kelingking menjaga agar aliran itu stabil dan tak meluap.

Sebuah lingkaran energi tertutup terbentuk di ujung jarinya. Saat ritme itu sempurna, Xiao Xuan mulai menggoreskan kuasnya ke atas kertas khusus itu, satu demi satu goresan, penuh konsentrasi tanpa sisa.

Karya pertamanya adalah jimat paling dasar namun paling kokoh di antara Lima Elemen: Jimat Elemen Tanah.

"Tanah melahirkan segala yang ada, agung dan tak tergoyahkan. Jadilah perisai yang menjaga kedamaian, menolak segala kejahatan. Wahai Dinding Bumi yang Kokoh, teguhlah!"

Waktu berlalu seolah tak berhenti. Setengah jam penuh terlewatkan. Diperlukan percobaan berulang kali dan pengorbanan tiga lembar kertas berharga, hingga akhirnya...

Cahaya samar berwarna cokelat keemasan berkelap-kelip di ujung kuas.

Xiao Xuan tersenyum lega. Di tangannya kini tergenggam sebuah jimat yang mampu menciptakan benteng pertahanan yang cukup kuat untuk menahan serangan penuh dari seorang Master Roh yang memiliki satu cincin roh.

Rasa puas melintas di matanya. Ia merasakan masih ada lebih dari separuh cadangan kekuatan roh yang tersisa di dalam dirinya. Ia memutuskan untuk tak berhenti di sini.

Ia akan membuat beberapa lagi jenis pertahanan ini untuk melatih kepekaannya, sebelum beralih ke jenis jimat unsur lain yang bersifat menyerang.

Namun, ia segera menyadari kenyataan pahit. Hanya satu lembar Dinding Bumi Kokoh saja telah menyedot lebih dari tiga puluh persen energi dalam tubuhnya.

Dan jika ia mulai menggambar jimat elemen yang bersifat ofensif seperti api atau kayu berduri konsumsi energinya akan berkali-kali lipat lebih besar.

Maka dimulailah ritme kerja yang berat: menggambar hingga lemas, bermeditasi memulihkan tenaga, lalu menggambar lagi. Begitu terus berulang hingga waktu berlalu dengan cepat, dan dua hari pun terlewati tanpa terasa.

Berkat ketekunan dan kerja kerasnya siang malam, hasil akhirnya sungguh memuaskan. Dari persediaan kertas yang ia miliki, kini tersusun rapi tumpukan jimat beraneka ragam:

- Lima lembar Dinding Bumi Kokoh: Benteng pertahanan yang mampu menahan serangan tingkat Master Roh.

- Lima lembar Bola Api: Energi panas yang meledak-ledak, senjata serangan jarak jauh.

- Empat lembar Pemadatan Logam: Saat diaktifkan, bagian tubuh yang ditentukan akan berubah sekeras baja murni untuk sementara waktu. Efek ini bisa menyatu sempurna dengan Tubuh Roh Mistik, bahkan bisa ditempelkan pada Tongkat Besinya untuk meningkatkan kekerasan hingga batas maksimal.

- Tujuh lembar Duri Kayu Penusuk: Memanggil tunggul-tunggul kayu besar yang penuh duri tajam untuk menjebak atau menusuk musuh dari bawah tanah.

- Empat lembar Air Pemurni: Memiliki khasiat penawar racun, menolak energi jahat, dan mampu menyembuhkan luka ringan hingga sedang dengan cepat.

- Sepuluh lembar Langkah Angin: Meningkatkan kecepatan gerak secara drastis, sangat berguna untuk mengejar atau menghindar.

- Lima lembar Penenang Roh: Penjaga kewarasan dan ketenangan hati.

Melihat persediaan yang cukup lengkap itu, Xiao Xuan merasa beban berat di pundaknya terangkat sepenuhnya. Dengan perlengkapan magis sebanyak dan selengkap ini, ia yakin perjalanan berburu cincin roh kali ini akan berjalan jauh lebih mulus dan aman dibandingkan siapa pun yang pergi tanpa persiapan matang.

Langit di luar jendela sudah semakin larut, sinar bulan purnama bersinar terang membanjiri bumi dengan cahaya keperakan.

Xiao Xuan segera menyimpan semua jimat itu ke dalam kantong kulit kecil yang diikatkan erat di pinggang dan dada, tempat yang paling mudah dijangkau namun paling aman.

Ia membaringkan tubuhnya, memejamkan mata, dan membiarkan dirinya beristirahat sepenuhnya untuk memulihkan tenaga terakhirnya.

Keesokan paginya, fajar baru saja menyingsing saat ia bangun. Tubuhnya segar bugar, pikirannya jernih bagai air mata sungai.

Ia merapikan pakaiannya, memastikan setiap jimat berada di posisi yang tepat agar bisa diambil dalam sekejap mata saat bahaya datang.

Dari dasar kotak penyimpanan pribadinya, ia mengambil dua keping emas terakhir sisa seluruh tabungannya selama bertahun-tahun. Uang ini adalah kunci untuk membuka jalan masuk ke tempat terlarang itu.

Dengan bekal lengkap dan tekad yang membara, ia membawa tas punggung sederhananya, melangkah keluar dari pintu Asrama Nomor Tujuh, meninggalkan kompleks Akademi Notting selamanya untuk sementara waktu.

Menghadap sinar matahari pagi yang mulai terasa hangat, ia berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Cahaya keemasan matahari terbit memanjangkan bayangan tubuh mungilnya di jalan berdebu itu. Hatinya bergumam dalam diam: Setelah perjalanan ini selesai, saat aku kembali melangkah melewati gerbang akademi itu, aku bukanlah anak yang sama seperti yang berangkat pagi ini.

Di gerbang utama Akademi Notting.

Seorang penjaga gerbang yang dikenal dengan sifatnya yang membeda-bedakan orang sedang berdiri tegak.

Saat melihat sosok Yu Xiaogang baru saja kembali dari luar, ia segera mengubah wajahnya menjadi senyum lebar dan menyambutnya dengan sangat ramah.

"Selamat pagi, Guru Besar! Baru saja pulang dari luar kota ya?"

Yu Xiaogang hanya mengangguk lemah sebagai jawaban, pikirannya masih tertutup kabut pemikiran mendalam. Namun, saat matanya menangkap punggung kecil yang menjauh di kejauhan, ia berhenti melangkah dan bertanya penasaran.

"Anak kecil itu... dia murid kita juga? Kenapa dia baru saja meninggalkan gerbang pagi-pagi begini?"

Mendengar pertanyaan itu, penjaga gerbang seolah menemukan sasaran untuk melampiaskan pandangan rendahnya. Wajahnya berubah jijik saat menunjuk ke arah kepergian Xiao Xuan.

"Ah, dia? Itu cuma bocah yang punya mulut dan keberanian lebih besar daripada kekuatannya sendiri. Namanya Xiao Xuan, dari Desa Roh Suci, sama seperti murid Tuan Guru, Tang San. Tapi anak ini tak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan murid Tuan Guru yang jenius itu."

Ia meludah ke samping dengan nada sinis.

"Dasar anak dusun yang berbau tanah. Teman-temannya di asrama jalur kerja-sambil-belajar saja sudah pulang sejak lama ke rumah masing-masing. Dia baru mau pergi hari ini.

Aku curiga saja sebenarnya dia terlalu miskin dan malu pulang ke kampung halamannya yang kumuh itu, makanya menunda-nunda sampai detik terakhir begini."

Yu Xiaogang mendengar semua kata-kata pedas itu dalam diam, namun tak sepatah pun komentar keluar dari mulutnya. Ia tahu benar. Xiao Xuan tidak pulang ke rumah. Anak itu pergi demi mencari cincin roh pertamanya.

Mata sang Grandmaster menatap tajam ke arah punggung yang semakin menjauh itu. Ada keinginan dalam hatinya untuk menyusul, berbicara, dan memeriksa lebih dalam.

Ia sangat penasaran bagaimana cara anak itu mengembangkan roh bermutasi miliknya dengan kecepatan yang begitu mencengangkan.

Namun, ingatan akan fakta kekuatan roh bawaan Xiao Xuan yang hanya tingkat satu membuat niat itu menguap begitu saja.

Lupakan saja... batinnya bergumam dingin. Hanya anak dengan bakat dasar tingkat satu. Dia belum cukup layak untuk aku curahkan waktu dan perhatian.

Nanti saja, jika dia benar-benar mampu membawa pulang cincin roh dan membuktikan dirinya layak, baru aku akan menyuruh Tang San untuk menemuinya.

Dalam pandangan Yu Xiaogang, meski laju peningkatan kekuatan Xiao Xuan terlihat cepat, itu hanyalah sebuah trik semu—mempercepat proses di awal dengan cara mengorbankan potensi masa depan.

Jalan pintas yang merusak diri sendiri seperti itu, baginya, hanyalah jalan kecil yang tak bernilai, tak layak dipuji atau dijadikan contoh.

Sayang sekali, pikirnya lagi, tak semua orang bisa sehebat murid kesayangannya, Tang San. Memiliki kekuatan roh penuh bawaan, serta kemampuan roh kembar yang legendaris, dan salah satunya adalah Roh Alat yang konon terkuat di seluruh benua Douluo...

Dengan pikiran yang penuh rasa bangga akan Tang San, Yu Xiaogang berjalan masuk ke dalam gedung utama, berniat menyusun rencana pelatihan lanjutan untuk muridnya itu selama masa liburan ini.

Di sisi lain, Xiao Xuan telah sampai di perhentian kereta kuda. Ia membayar dua keping perak, lalu ikut serta dalam rombongan pedagang yang kebetulan bergerak ke arah selatan, menuju kawasan hutan terlarang.

Perjalanan memakan waktu seharian penuh. Tepat saat matahari berada di titik tertinggi langit keesokan harinya, Xiao Xuan akhirnya sampai di tujuannya.

Di hadapannya kini terbentang pasar besar yang tumbuh liar tepat di luar pagar alam Hutan Perburuan Jiwa.

Pemandangan itu cukup membuat mata Xiao Xuan terbelalak takjub. Di sini, di ambang pintu gerbang bahaya, kehidupan berjalan sangat ramai dan hidup.

Ada barak-barak militer tempat para penjaga berkumpul, rumah makan besar yang mengeluarkan aroma masakan menggugah selera, deretan toko yang menjual segala jenis perbekalan, camilan jalanan, hingga lapak-lapak pedagang yang memamerkan senjata tajam, baju zirah, dan perlengkapan petualangan.

Kota kecil dadakan ini berdenyut dengan energi tinggi. Di sini berkumpul orang-orang dari segala latar belakang: pemburu profesional, petualang nekat, pedagang berani nyawa, hingga Master Roh dari berbagai tingkatan.

Semuanya memiliki satu tujuan yang sama—hutan raksasa yang berdiri angker dan hijau tua di kejauhan sana.

Xiao Xuan berdiri di pinggir jalan, sosok kecilnya tampak kontras dengan hiruk-pikuk orang dewasa di sekelilingnya.

Ia mengamati sekeliling dengan pandangan yang tajam dan tenang, mencoba memahami ritme dan hukum alam pasar ini, menyusun langkah selanjutnya dalam benaknya.

Di sini, uang bisa membeli segalanya, dan ia masih memiliki modal yang cukup untuk membeli tiket masuk menuju bahaya sekaligus peluang besar yang ia cari.

1
Aisyah Suyuti
good
aldo
lanjut author
ag noja
sejak kapan ada binatang tingkat tiga bukanya jenis dan usianya dari binatang jiwa🤔
ag noja
tunggu sejak kapan di dunia soul land mengenal kata mantra 🤔
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Rusf
semangat terus.
aldo
wah bagus banget author Dan lanjut Kan author 🙏🙏🙏🙏
aldo
waw lanjut author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!