Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31: Benteng yang Menolak Dilindungi
Jarum jam dinding kamarnya baru saja melewati angka dua dini hari, namun kelopak mata Savya masih enggan terpejam. Kamar tidurnya yang biasanya menjadi tempat paling aman untuk melepas penat, malam ini terasa asing, dingin, dan menyesakkan. Setelah merenung cukup lama dalam kegelapan, sebuah keputusan berat akhirnya ia ambil. Besok, ia akan menutup Thalassa Coffee untuk sementara waktu. Ia butuh waktu untuk menghindar dari kejaran Katya, menarik diri dari keramaian, dan menenangkan pikirannya yang nyaris pecah.
Savya duduk meringkuk di atas tempat tidur, memeluk kedua lututnya erat-erat dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Ketenangan hidup yang sudah ia bangun dengan susah payah, bata demi bata, pasca-konflik traumatis dengan Katya beberapa waktu lalu, kini runtuh dalam satu kedipan mata hanya karena teror nekat yang dikirimkan wanita itu siang tadi.
Di dalam keheningan itu, batin Savya mulai berperang dengan sengit. Pikirannya melayang, menguliti rasa takut yang merayap di bawah kulitnya. Namun, yang membuat dadanya terasa benar-benar sesak bukanlah keselamatan dirinya sendiri, melainkan bayang-bayang orang-orang tercinta yang terancam ikut terseret.
Savya memejamkan mata, dan hal pertama yang terlintas di benaknya adalah kedua orang tuanya serta saudaranya di rumah. Mereka adalah segalanya bagi Savya. Ia tidak akan pernah sanggup membayangkan jika kegilaan Katya sampai menyentuh rumah mereka, meneror orang tuanya, atau merusak kedamaian keluarga yang selama ini selalu ia lindungi setengah mati.
Bukan hanya keluarga, wajah cemas Sila yang pucat pasca-kejadian siang tadi serta keberanian Farel juga terus menghantui pikirannya. Anak-anak kedai sudah ia anggap seperti keluarga kedua. Mereka bekerja dengan tulus, menggantungkan hidup di kedai itu, dan Savya merasa memikul tanggung jawab besar atas keselamatan mereka. Menutup kedai esok hari adalah satu-satunya jalan logis yang bisa ia lakukan saat ini agar Katya tidak menjadikan anak-anak kedai sebagai sasaran empuk. Ia merasa bersalah dan egois karena masa lalunya justru membawa awan hitam bagi orang-orang baik di sekitarnya.
Dan di atas semua kepasrahan itu, sosok Valerius menjadi pelengkap kegelisahannya malam ini. Pria itu adalah orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang lingkaran setan antara dirinya dan Katya, namun dengan berani menawarkan diri menjadi tameng siang tadi. Savya menolak menjadi pembawa sial bagi hidup pria itu. Ia harus menarik garis tegas sebelum Valerius melangkah terlalu jauh ke dalam masalah yang bukan miliknya.
Savya mengangkat kepalanya, melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Di bawah cahaya layar yang menyala minim, sebuah kartu nama kerja berwarna putih bersih tampak terselip di balik pelindung ponselnya. Kartu nama milik Valerius yang baru diserahkan siang tadi.
Setelah menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa keberaniannya, Savya akhirnya meraih gawai tersebut. Ini adalah pertama kalinya ia akan mengirimkan pesan ke nomor pribadi pria itu. Jemarinya yang kaku mulai mengetikkan nomor baru tersebut, membuka ruang obrolan kosong, lalu terdiam sejenak. Ada rasa canggung yang menahan jemarinya sebelum ia mulai mengetik untaian kalimat basa-basi yang diusahakan senatural mungkin.
‘Selamat malam, Valerius. Maaf mengganggu waktu istirahatmu jam segini. Ini Savya. Aku baru sempat menyimpan nomor yang kamu berikan siang tadi.’
Savya berhenti sejenak, menarik napas sebelum melanjutkan pesan teksnya ke bagian inti. Ia harus memberikan alasan yang cukup logis agar pria itu tidak merasa bersalah untuk mundur.
‘Aku hanya ingin berterima kasih kembali atas bantuanmu di kedai tadi siang. Namun, mengenai tawaran bantuanmu, aku rasa kamu tidak perlu khawatir atau melibatkan diri lebih jauh lagi. Kejadian tadi murni masalah internal yang melibatkan pihak luar kedai, dan aku khawatir jika ada pihak asing yang ikut campur, situasi justru akan semakin memperkeruh suasana. Katya cenderung mencari celah dari orang-orang di sekitarku, dan aku tidak ingin reputasi mu sebagai profesional ikut terganggu karena masalah pribadiku. Aku bisa menyelesaikan ini sendiri.’
Savya menatap paragraf itu cukup lama. Alasan yang ia berikan terasa sangat logis dan berdasar. Ia berharap Valerius akan paham bahwa mundur adalah pilihan terbaik demi keamanan bersama. Dengan satu sentuhan berat, pesan itu akhirnya terkirim.
Savya menghela napas, bersiap meletakkan kembali ponselnya ke atas kasur, mengira tidak akan ada jawaban di jam sepertiga malam ini. Namun, belum sempat layarnya meredup, sebuah getaran terasa di telapak tangan. Jantung Savya berdesir pelan.
Ada balasan masuk. Sangat cepat.
‘Belum tidur, Savya? Masih memikirkan kejadian siang tadi.’
Membaca baris kalimat pendek itu, pertahanan batin Savya sedikit goyah. Mengapa pria itu masih terbangun di jam seperti ini? Dengan perasaan campur aduk, Savya kembali mengetik balasan, mencoba tetap terlihat tenang dan rasional.
‘Aku hanya sedang menyelesaikan sisa pembukuan kedai yang sempat tertunda tadi siang. Kamu sendiri, kenapa belum tidur?’ Balas Savya
‘Ada beberapa dokumen kantor yang harus aku tinjau ulang,’
balas Valerius di seberang sana, memberikan jawaban yang terdengar wajar.
‘Dan mengenai pesanmu sebelumnya... kamu tidak perlu mencari alasan logis tentang nama profesional atau kekhawatiran situasi akan memperkeruh suasana, Savya. Aku tahu kamu sedang dilanda kegelisahan saat ini.’
Savya menggigit bibir bawahnya pelan. Valerius terlalu peka untuk dikelabui dengan alasan-alasan rasional.
‘Aku hanya mencoba realistis, Valerius. Wanita yang datang siang tadi bukan orang yang bisa dihadapi dengan logika biasa. Ini adalah urusanku dari masa lalu, dan secara perhitungan, melibatkan orang luar hanya akan membuat targetnya meluas. Aku tidak mau kamu menerima imbas buruknya. Aku bisa menangani ini dengan caraku sendiri.’ Savya mengetik kalimat itu dengan tegas, menegaskan kembali posisinya sebagai pelindung bagi dunia nya sendiri.
Ada jeda beberapa menit sebelum gelembung teks dari Valerius kembali muncul. Savya menunggu di dalam kegelapan dengan perasaan cemas yang tidak menentu, menatap layar yang berkedip-kedip.
‘Savya, dengarkan aku. Aku mengerti alasan logis mu untuk melindungi orang lain. Tapi siang tadi aku berdiri di sana, aku melihat sendiri bagaimana kamu berusaha keras menyembunyikan tanganmu yang gemetar. Kamu tidak bisa membohongi mataku tentang ketakutan yang sedang kamu rasakan.’
Kalimat itu terasa seperti hantaman lembut yang tepat sasaran di dada Savya. Ia terpaku menatap layar ponselnya.
‘Kita sudah saling mengenal, Savya. Dan bagiku, fakta bahwa kita saling mengenal adalah alasan yang paling logis mengapa aku tidak akan tinggal diam melihat situasi ini. Aku tidak peduli seberapa rumit masa lalu mu dengan wanita bernama Katya itu, dan aku juga tidak keberatan jika harus menghadapi risiko yang ada. Jadi, jangan berpikir untuk menanggung ini sendirian, dan jangan mencoba mendorongku untuk menjauh. Bagaimanapun situasinya nanti, aku akan tetap membantumu.’
Sepasang mata Savya terasa memanas membaca balasan itu. Kata-kata Valerius dikemas dengan bahasa baku yang tenang namun sarat akan ketegasan mutlak yang tidak bisa dinegosiasikan. Di satu sisi, ia merasa sangat tersentuh karena ada seseorang yang bisa membaca kerapuhannya di balik topeng ketegaran yang ia pakai selama ini. Namun di sisi lain, ketulusan itu justru meningkatkan alarm kewaspadaannya. Semakin keras kepala Valerius ingin membantunya, semakin besar pula ketakutan Savya jika Katya akan mencelakai pria itu.
‘Terima kasih atas niat baikmu, Valerius. Tapi tolong, kali ini saja, hargai keputusanku. Jangan ikut campur lebih jauh. Selamat istirahat.’
Savya segera mematikan daya layar ponselnya sebelum Valerius sempat membalas lagi. Ia melempar benda pipih itu ke ujung kasur dengan napas yang sedikit memburu. Pertukaran pesan singkat yang kasual namun intens itu justru meninggalkan debaran aneh yang asing di dalam dadanya.
Ia kembali memeluk lututnya di tengah kegelapan kamar yang sunyi. Savya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata kegelisahan yang sejak siang tadi ia tahan di depan semua orang, kini menetes perlahan membasahi pipinya. Ia telah mengambil keputusan untuk menutup pintu bantuan demi melindungi pria itu, tanpa pernah ia ketahui bahwa di luar sana, jaring-jaring tak kasat mata dari sang penguasa malam sebenarnya sudah bergerak jauh lebih cepat untuk mengunci pergerakan mereka semua.