"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Zayn berubah
Bab 32
•••
“Balasan?” ujar Varisha lagi.
“Arghh!” Varisha mencoba melepaskan dirinya dari jeratan tali di kedua tangannya.
Varisha seketika termenung. Ia kembali mengingat ucapan Zayn beberapa detik yang lalu.
“Gak, gak mungkin. Gak mungkin dia masih ingat hal itu.” Varisha menolak kenyataan.
“jangan nikahi Adam, Varisha. Aku beneran cinta sama kamu.”
Ingatan itu kembali terlintas di benaknya.
“Apa salahku padanya? Padahal itu kan salahnya dulu, bukan salahku.” Varisha kembali mencoba melepaskan dirinya. Namun, tetap saja tak bisa. Tangannya bisa terluka jika ia paksakan.
Varisha terdiam. Ia mendapati di kamar hotel itu hanya ada dirinya saja yang ditemani keheningan.
2 jam berlalu
Varisha hanya bisa tidur dengan posisi terlentang. Kedua tangannya sudah lelah sedari tadi.
Di seberang lain, Zayn masuk kedalam sebuah butik yang menjual berbagai jenis pakaian mewah untuk wanita dan pria.
Ia menatap sebuah gaun malam berwarna soft pink dan jilbab yang begitu cantik dan elegan.
Ia tersenyum tipis.
“Aku ingin ini.” tunjuk Zayn pada seorang penjaga toko didalam butik tersebut.
“Baik, tuan.”
•••
Cklek!
Pintu terbuka.
Zayn masuk kedalam kamar.
“Lepasin aku, Zayn!”
Zayn tersenyum miring, ia malah duduk di samping ranjang sambil meletakkan sebuah tas goodiebag besar diatas ranjang.
“Zayn, kamu itu dengar atau nggak sih?!” kesal Varisha yang diabaikan. Ia sudah lelah menjadi istri yang penurut selama ini.
Zayn masih diam. Ia malah mengisap sepuntung rokok miliknya dan mengeluarkannya dengan santai ke udara.
“Zayn!” jerit Varisha.
Zayn menoleh menatap Varisha tajam. Wanita itu langsung menciut.
“Loe berani ngelunjak, ya?!” kesal Zayn sembari menjatuhkan Putung rokok tersebut ke atas lantai dan menginjaknnya.
Dalam hitungan detik, kini Zayn sudah duduk diatas perut Varisha.
“Panggil gue ‘Mas’ sekarang.”
“Tidak akan lagi.”
Zayn mencengkram kedua pipi Varisha, “OHH, jadi sekarang loe udah berani banget sama gue ya. Oke!”
Zayn malah mendekatkan wajahnya pada Varisha. “Kamu mau apa?”
“Tentu saja melakukan apa yang biasa dilakukan suami istri pada umumnya.”
Mata Varisha melotot.
Ia memberontak dengan menggelengkan kepalnya ke kiri-kanan.
“Aku tidak mau. Aku tidak mau, Mas.”
Zayn menyeringai, “bagus.” ia membelai pipi Varisha sebentar.
Ia senang jika Varisha memanggil dirinya dengan sebutan “Mas”.
Perlakukan Zayn yang aneh ini kembali membuat Varisha bingung sekaligus risih.
“Mas, aku gak mau. Aku bukan bonek—” Varisha memberontak namun mendadak berhenti saat mendapati kedua tangannya sudah tidak terikat lagi.
Eh!
Zayn tersenyum miring.
Zayn menjauhkan dirinya dari Varisha.
“Pokoknya gue gak mau tau. Besok loe pakek ini.” Zayn menyerahkan goodie bag tadi pada Varisha.
Varisha tentu saja kaget dan mengintip apa isinya. Dan kembali menatap Zayn dengan aneh.
“Gaun?”
“Besok ada acara pertemuan para pembalap. Gue mau loe ikut dan pakek itu.” Zayn langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari Varisha.
Varisha masih terdiam.
Masih merespon apa yang dikatakan oleh Zayn barusan.
“Kenapa dia jadi mendadak begini lagi?” bingungnya sembari menyentuh gaun cantik tersebut.
Cantik. Bahkan, sangat cantik.
“Apa ini…gak! Aku gak boleh berharap banyak.”Varisha masih tak percaya.
Varisha masih terdiam.
“Andai saja dia beneran berubah, aku berharap banyak pada Engkau Ya Allah.”
•••
Selepas sholat Maghrib, Varisha langsung keluar kamar. Suasana begitu kosong sekali. Kamar hotel ini begitu luas sekali. Bahkan, dilengkapi dengan dapur dan ruang tamu.
“Pasti dia dengan Adinda lagi,” lirih Varisha sedih ia duduk di ruang tamu.
“Ayo kita makan malam diluar!”
“Astagfirullah!” kejut Varisha.
“Hahahaha…loe kenapa?” Zayn tertawa keras.
Varisha tersipu malu.
Bahkan, Zayn masih menertawakan dirinya dengan lepas.
Hal yang tidak pernah Varisha lihat sebelumnya.
“Ayo siap-siap! Gue mau ngajak loe makan malam diluar.” Zayn berucap sambil menyeka airmatanya yang hampir jatuh.
“Kamu yakin?” Varisha melihat kakinya.
“Ayo buruan, gue tunggu 5 menit loe gak siap. Awas aja!”
“Ah, iy-iya!” Varisha langsung bangkit sambil bertumpu pada sofa. Tanpa tongkat, tongkat miliknya sudah hilang.
Melihat Varisha yang kesusahan berjalan, membuat Zayn langsung mengendong tubuhnya.
“AA!” jerit Varisha pelan.
“Loe leleh banget,”
Varisha hanya tersenyum kejut.
Kenapa Zayn berubah begini?
Apa obat pria ini sudah habis?
Atau kabel otaknya sudah putus?
Zayn memperhatikan Varisha yang nampak melamun. Bahkan, setelah ia menurunkan wanita tersebut.
“Mau ganti sendiri atau gue bantu gantiin?”
“Hah? Iya?” Varisha kaget dengan ucapan Zayn.
“Sini biar gue bantu aja, loe leleh banget. Gue udah laper banget nih!” Zayn mulai mendekati Varisha.
Varisha tentu saja panik. Dan spontan menyilangkan kedua tangan di dadanya.
“Jangan!”
Zayn menyipitkan matanya saat mendengarkan penolakan dari Varisha.
Tentu saja Varisha langsung menciut.
Aura pria itu begitu seram dan aneh sekali.
“Loe istri gue atau bukan?”
Varisha diam. Otaknya seolah tak merespon sama sekali. Kan, selama ini mereka hanya suami istri di depan orang lain. Bukan, bagi Zayn sendiri.
“Jawab!” desak Zayn dingin.
“Istri kamu Zayn.”
“Panggil aku ‘Mas’.”
“Baik, Mas.”
Zayn tersenyum tipis dan mengusap lembut rambut Varisha.
“Bagus.”
Varisha hanya diam.
Zayn membantu dirinya dengan mengganti pakaian.
Memang malu.
Tapi, selama ini bukannya Zayn sudah melihat seluruh tubuhnya.
Bahkan, Zayn membantu memakaikan jilbab untuk Varisha. Sebuah French Khimar.
Varisha hanya membeku setiap perlakuan hangat Zayn padanya.
‘Ya Allah, apa Mas Zayn sudah berubah?’ batin Varisha.
“Loe melamun trus?”
“Gak apa-apa, Mas.” senyum Varisha lembut.
•••
Mereka keluar kamar hotel secara bersamaan. Dengan Zayn yang menggandeng tangan Varisha begitu erat. Mereka layaknya suami istri yang begitu harmonis sekali.
Namun, mendadak sebuah panggilan telepon pun berdering dari saku celana Zayn.
“Hallo, Adinda..”
Ekpresi di wajah Varisha langsung berubah. Ia bahkan kini sudah gak mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Zayn pada Adinda.
Perasaannya seperti hancur.
“Makan malam ini batalin aja ya. Gue mau lihat adinda dulu, loe bisa pesan makanan aja di kamar.” Zayn langsung pergi dengan buru-buru. Bahkan, tak ada niatan untuk mengantar Varisha kembali ke dalam kamar hotel. Bahkan, untuk sekedar meminta maaf.
Airmata itu jatuh.
Varisha tak berkata apapun.
Hatinya hancur.
Zayn tak sepenuhnya berubah.
Ia masih belum bisa memiliki hati pria itu.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya