Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Seraphina Dipermalukan Publik
Ballroom Imperial Palace yang sejak tadi dipenuhi musik elegan perlahan berubah kacau.
Bisik-bisik mulai menyebar ke segala arah.
Beberapa wartawan bergerak cepat mendekati area keluarga Moretti.
Kamera mulai diarahkan.
Ponsel terangkat.
Dan semua itu terjadi tepat setelah Selene kehilangan kendali emosinya di depan banyak orang.
“Aku muak melihat semua orang memujanya!”
Suara Selene tadi masih terdengar jelas di telinga para tamu.
Air matanya.
Tatapan penuh kebencian.
Dan ekspresi panik Seraphina…
semuanya terekam sempurna.
“Matikan kamera itu!”
Seraphina langsung membentak salah satu wartawan.
Namun justru bentakan itu membuat lebih banyak orang menoleh.
Seorang reporter wanita tersenyum tipis.
“Maaf, Nyonya Moretti. Kami hanya meliput acara.”
“Kalau begitu liput yang penting!”
“Bukankah ini penting?”
DEG.
Beberapa sosialita langsung menahan napas.
Karena semua orang tahu—
wartawan itu sengaja memancing.
Dan malam ini…
keluarga Moretti terlihat terlalu rapuh untuk mengendalikan keadaan.
Selene masih menangis sambil mencoba menenangkan napasnya.
“Ayo pergi dari sini,” bisik Seraphina tajam.
Namun putrinya justru menarik tangan sang ibu.
“Kenapa kita harus pergi?!”
Suara Selene meninggi lagi.
“Kenapa kita yang harus malu?!”
Semua mata kini benar-benar tertuju pada mereka.
Dan di kejauhan…
Elara memperhatikan semuanya dengan ekspresi datar.
Tidak puas.
Tidak juga kasihan.
Hanya diam.
Seolah keributan itu bukan lagi urusannya.
“Selene, cukup.”
Nada suara Seraphina mulai berubah dingin.
Namun wanita muda itu sudah terlalu emosional.
“Tidak! Semua orang sekarang memihak dia!”
Air matanya jatuh lagi.
“Damian bahkan tidak melihatku sedetik pun malam ini!”
BRAK!
Gelas champagne di tangan Selene jatuh pecah ke lantai marmer ballroom.
Suara pecahan kaca langsung membuat seluruh ruangan semakin sunyi.
Dan malam itu…
nama keluarga Moretti benar-benar mulai runtuh di depan publik.
“Bawa dia keluar.”
Seraphina memerintah dingin pada pengawal.
“Aku tidak mau!”
Selene memberontak.
“Lepaskan aku!”
Namun dua pengawal tetap mencoba menenangkan wanita itu.
Beberapa wartawan kini bahkan mulai siaran langsung.
Judul berita sudah muncul di layar ponsel mereka:
“KELUARGA MORETTI KEHILANGAN KENDALI DI IMPERIAL GALA”
“SELENE MORETTI MENANGIS DI DEPAN PUBLIK”
“APA HUBUNGAN KELUARGA MORETTI DENGAN SKANDAL TERBARU?”
Dan Seraphina melihat semuanya.
Secara langsung.
Dalam hitungan menit…
reputasi yang ia bangun selama bertahun-tahun mulai retak di depan matanya sendiri.
“Madam Seraphina.”
Seorang sosialita tua mendekat pelan dengan senyum tipis.
Senyum yang terdengar seperti ejekan terselubung.
“Kau baik-baik saja?”
Seraphina langsung menatap dingin.
“Aku sangat baik.”
“Syukurlah.”
Wanita itu melirik Selene yang masih emosional.
“Aku hanya khawatir keluargamu sedang mengalami masa sulit.”
Kalimat itu terdengar sopan.
Namun tamparannya terasa nyata.
Karena dalam dunia elit…
orang tidak menghancurkanmu dengan teriakan.
Mereka melakukannya dengan senyum.
Seraphina mengepalkan tangan.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
suara lain terdengar dari belakang.
“Aku rasa semua keluarga memang punya masalah.”
Cassian.
Pria itu muncul sambil membawa gelas wine dengan santai.
Tatapannya tajam namun senyumnya tetap ringan.
“Bedanya…”
ia melirik ke arah wartawan,
“…ada yang berhasil menyembunyikannya lebih lama.”
Beberapa tamu langsung menahan tawa.
Dan wajah Seraphina langsung membeku.
Karena semua orang tahu—
Cassian baru saja mempermalukannya secara halus di depan publik.
“Kau sangat menikmati ini rupanya.”
Nada suara Seraphina dingin.
Cassian tersenyum kecil.
“Tidak juga.”
Tatapannya bergerak ke arah Elara di kejauhan.
“Aku hanya suka melihat orang yang dulu diremehkan akhirnya berdiri lebih tinggi.”
DEG.
Kalimat itu menusuk telak.
Sementara itu, Damian masih berdiri beberapa meter dari Elara.
Namun pikirannya mulai terusik oleh keributan keluarganya sendiri.
Ia menoleh.
Dan ketika melihat Selene menangis histeris sementara Seraphina jadi pusat perhatian negatif—
rahangnya langsung mengeras.
Dulu…
ia pasti akan segera maju membantu mereka.
Melindungi nama keluarga.
Menekan media.
Mengendalikan situasi.
Namun malam ini…
anehnya ia merasa terlalu lelah untuk melakukan semua itu.
“Damian!”
Suara Seraphina memanggil tajam.
Semua mata langsung bergerak pada pria itu.
Karena semua orang ingin melihat—
pihak mana yang akan ia pilih.
Keluarganya?
Atau Elara?
Damian berjalan perlahan mendekat.
Wajahnya tenang.
Namun sorot matanya dingin.
“Ajak Selene pulang,” kata Seraphina cepat.
“Sekarang.”
Damian menatap adiknya sekilas.
Selene masih menangis dengan makeup yang mulai berantakan.
Tatapannya penuh amarah dan rasa malu.
“Damian…”
suara Selene bergetar,
“mereka semua menertawakanku…”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Damian berkata pelan—
dan kalimat itu menghancurkan semuanya.
“Kalau kau tidak ingin ditertawakan…”
tatapannya tajam,
“…jangan membuat keributan di depan publik.”
DEG!
Selene langsung membeku.
Seraphina menatap putranya tak percaya.
“Damian!”
Namun pria itu tetap tenang.
Untuk pertama kalinya…
ia tidak membela keluarganya.
Dan seluruh ballroom menyadari hal itu.
Bisik-bisik kembali menyebar.
“Dia bahkan tidak membela mereka…”
“Hubungan keluarga Moretti benar-benar retak.”
“Ini buruk.”
“Tidak…”
seorang investor senior berbisik pelan,
“…ini bencana.”
Wajah Selene perlahan berubah pucat.
“Aku ini adikmu…”
Air matanya jatuh lagi.
“Tapi kau mempermalukanku demi dia?”
Damian menatapnya datar.
“Tidak ada hubungannya dengan Elara.”
“BOHONG!”
Suara Selene menggema lagi.
“Sejak dia pergi kau berubah!”
Damian diam.
Dan diamnya terasa seperti pengakuan paling kejam.
Seraphina akhirnya melangkah maju.
Cukup.
Ia tidak bisa membiarkan keluarganya semakin hancur malam itu.
“Maaf atas keributan ini.”
Senyumnya dipaksakan sempurna.
“Kondisi adik Damian sedang kurang baik.”
Namun sebelum ia selesai—
seorang wartawan langsung menyela.
“Apakah ini berkaitan dengan rumor keterlibatan keluarga Moretti dalam penyerangan media terhadap Nona Elara?”
DEG.
Ballroom kembali sunyi.
Seraphina perlahan menoleh.
Tatapannya tajam seperti pisau.
“Apa maksudmu?”
Reporter itu tersenyum profesional.
“Kami hanya ingin klarifikasi.”
“Klarifikasi untuk fitnah?”
“Jadi Anda menyangkal?”
Seraphina membuka mulut.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
ia merasa seluruh ruangan seperti menunggunya jatuh.
Dan yang paling menyakitkan…
tak ada satu pun orang penting yang maju membelanya.
Biasanya para sosialita akan membantu mengalihkan topik.
Biasanya investor akan menjaga hubungan baik.
Namun malam ini?
Mereka hanya menonton.
Menunggu.
Menikmati.
Karena dunia elit menyukai satu hal lebih dari kekuasaan—
yaitu melihat orang berkuasa jatuh.
“Tidak ada komentar.”
Akhirnya Seraphina menjawab dingin.
Namun jawaban itu justru membuat para wartawan semakin agresif.
“Apakah benar investor mulai menarik dukungan dari Moretti Holdings?”
“Apakah hubungan keluarga Moretti dan Vasiliev benar-benar memburuk?”
“Apakah Tuan Damian masih memiliki hubungan pribadi dengan Nona Elara?”
Pertanyaan terakhir langsung membuat seluruh ruangan kembali panas.
Dan tanpa sadar…
semua mata bergerak ke arah Elara.
Wanita itu berdiri tenang di dekat balkon.
Elegant.
Tak tersentuh.
Seolah keributan ini terlalu kecil untuk mengguncangnya.
Dan justru sikap itu membuat Seraphina merasa semakin dipermalukan.
Karena malam ini…
semakin keluarganya kehilangan kendali—
semakin Elara terlihat berkelas.
“Cukup.”
Suara Damian akhirnya terdengar dingin.
Ia berdiri di depan ibunya.
Tatapannya tajam pada para wartawan.
“Imperial Gala bukan tempat konferensi pers.”
Seorang reporter langsung tersenyum tipis.
“Kalau begitu, apakah Tuan Damian bersedia menjawab satu pertanyaan saja?”
Damian menatap dingin.
“Apa?”
Reporter itu menunjuk samar ke arah Elara.
“Apakah Anda menyesal telah kehilangan Nona Elara?”
DEG.
Seluruh ballroom langsung sunyi total.
Bahkan musik terasa berhenti.
Dan untuk sepersekian detik…
Damian benar-benar tak bisa bergerak.
Karena pertanyaan itu terlalu tepat.
Terlalu telanjang.
Dan terlalu jujur.
Tatapan Damian perlahan bergerak ke arah Elara.
Wanita itu juga menatapnya.
Tenang.
Tanpa tekanan.
Tanpa harapan.
Namun justru itu membuat dadanya terasa semakin sesak.
Lalu akhirnya…
Damian tersenyum kecil pahit.
Dan berkata pelan—
cukup jelas untuk didengar seluruh ballroom.
“Setiap hari.”
DEG!
Keributan langsung pecah.
Wartawan mulai ribut.
Flash kamera menyala liar.
Beberapa sosialita bahkan langsung menutup mulut tak percaya.
Karena Damian Moretti—
pria dingin yang terkenal tak pernah menunjukkan emosi—
baru saja mengakui penyesalan terbesar hidupnya di depan publik.
Dan di saat bersamaan…
wajah Seraphina benar-benar hancur.
Pucat.
Tak percaya.
Malu.
Karena putranya sendiri baru saja memperkuat semua rumor yang beredar.
“Damian!”
Nada suara Seraphina hampir bergetar.
Namun Damian tak lagi melihatnya.
Tatapannya hanya tertuju pada Elara.
Dan untuk pertama kalinya…
semua orang di ballroom akhirnya mengerti satu hal:
Damian Moretti masih mencintai Elara.
Sangat mencintainya.
Dan ia terlambat menyadarinya.
Selene langsung mundur satu langkah.
Matanya membesar.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Karena malam itu…
ia akhirnya kalah sepenuhnya.
Bukan dari status.
Bukan dari kekayaan.
Tapi dari seseorang yang dicintai lebih tulus daripada dirinya.
Elara sendiri tetap diam.
Namun jauh di dalam dadanya…
ada sesuatu yang terasa sesak sesaat.
Bukan karena ia ingin kembali.
Bukan.
Tapi karena akhirnya…
ia mendengar sesuatu yang dulu selalu ingin ia dengar.
Hanya saja…
semuanya datang terlalu terlambat.
Cassian memperhatikan semua itu sambil tersenyum kecil samar.
“Wah…”
ia menyeruput wine santai,
“…malam ini benar-benar mahal.”
Sementara di tengah ballroom yang kacau—
Seraphina berdiri mematung.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun…
wanita itu dipermalukan di depan publik.
Dan yang menghancurkannya bukan musuh.
Melainkan keluarganya sendiri.
d psahkn dr bayi,rbut soal hrta....
tp mga aja kmbaran elara bkln jd plindung buat elara jg,biar para msuh ga brani ngusik mreka lg...
tp ga ush mksa jg kaleee....seribu maaf jg ga bs mnyembuhkn luka elara d msa lalu...mndingn mnjauh smntra,biarkn elara tnang...toh kl jdoh jg ga akn kmna kan?????
kl sdar y sukur,kl ga ya wasalam.....🙄🙄🙄
Ayo cari ide lain yg lbih konyol.....😛😛😛
enth dpt uang dr mna smp bsa mndtangkn orng hbat,hnya untk mnjtuhkn elara....yg msti d tes tu bkn elara,tp dia sndri....kira2 otaknya udh pndah kmna????
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....