Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Satu bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Xander, dan apartemen mewah itu kini telah kehilangan kesan sterilnya.
Di atas meja marmer, kini ada botol parfum Briella yang berserakan, dan di sudut ruangan, terdapat tumpukan jurnal medis yang beradu dengan maket otomotif Lexington.
Pagi itu, pukul delapan, sinar matahari menyelinap masuk ke ruang kerja Lexington yang kedap suara.
Sang Profesor—tampak sangat berwibawa di depan layar monitor besarnya. Ia mengenakan kemeja biru muda yang disetrika dengan presisi milimeter, jas gelap yang membungkus bahu tegapnya, dan kacamata berbingkai tipis yang membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dan berbahaya.
Namun, di balik layar kamera Zoom yang hanya menangkap bagian dada ke atas, realitanya sangat berbeda. Di bawah meja, Lexington hanya mengenakan celana pendek kain sisa semalam—celana yang sama yang ia pakai saat mereka berdua baru saja terlelap pukul tiga subuh setelah sesi percintaan yang melelahkan.
"Mengenai integrasi sistem transmisi elektrik pada model LX-2026, saya rasa kita perlu menekankan pada aspek..." Lexington bicara dengan nada bariton yang tegas.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka pelan. Briella muncul dengan rambut yang masih sedikit berantakan dan daster sutra tipis yang nyaris transparan di bawah sinar matahari. Wajahnya yang baru bangun tidur tampak sangat manja.
Kilas Balik: Semalam, Pukul 00.22
"Lex... berhenti bekerja. Mesin itu tidak akan lari ke mana-mana," gumam Briella sambil memeluk pinggang Lexington dari belakang saat pria itu masih sibuk di depan laptop.
Lexington menarik napas panjang, mencium tangan Briella yang melingkar di perutnya. "Tender ini menentukan masa depan divisi kita, sayang. Jutaan dolar dipertaruhkan."
"Tapi aku lebih berharga dari jutaan dolar itu," bisik Briella, mulai mencium tengkuk Lexington.
Dan tentu saja, sang Profesor yang logis itu langsung menyerah kalah. Ia mematikan laptopnya dalam hitungan detik, menggendong istrinya menuju ranjang, dan membuktikan bahwa bagi seorang Valerio, Briella adalah satu-satunya investasi yang tidak boleh ia abaikan.
Kembali ke Masa Kini (Ruang Kerja)
Briella berjalan mendekat ke arah kursi kerja Lexington. Ia melihat suaminya yang tampak begitu serius di depan kamera. Kacamata itu... Briella selalu merasa kacamata itu adalah kelemahan terbesarnya. Lexington terlihat sangat cerdas, dingin, dan... menantang untuk digoda.
"Sayang... nanti ya... kumohon... aku sedang bekerja..." bisik Lexington tanpa menoleh, namun tangannya di bawah meja sudah memberikan isyarat agar Briella menjauh.
Di layar, wajah Hadiyan muncul di salah satu kotak kecil peserta rapat. "Bagaimana, Tuan Valerio? Mengenai anggaran biaya untuk material karbon, apakah kita sudah setuju dengan harga dari Jerman?" tanya Hadiyan dengan raut wajah profesional.
Lexington berdehem, mencoba fokus. "Ya, Hadiyan. Menurut perhitungan saya—"
Kalimat Lexington terputus. Matanya membelalak sedikit di balik kacamata saat ia merasakan Briella, dengan segala kegilaannya, justru menyelinap masuk ke celah antara kursi dan meja, lalu dengan santai naik ke pangkuan suaminya.
Briella duduk menyamping di paha Lexington, melingkarkan lengannya di leher sang suami. Ia tidak peduli bahwa di depan sana, para petinggi otomotif dunia sedang menanti jawaban dari seorang Lexington Valerio.
"Bri... jangan sekarang..." bisik Lexington nyaris tak terdengar, wajahnya tetap berusaha menatap kamera dengan datar. "Saya rasa... material karbon itu... hmmm..."
"Tuan? Anda baik-baik saja? Wajah Anda sedikit memerah," tanya seorang investor dari Frankfurt melalui speaker.
Briella justru semakin menjadi-jadi. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lexington, sesekali menciumi rahang tajam suaminya, sangat dekat dengan mikrofon yang untungnya cukup canggih untuk tidak menangkap suara napas halusnya. Tangan Briella mulai bermain dengan kancing kemeja Lexington yang rapi.
"Maaf, saya rasa ada sedikit gangguan pada... suhu ruangan di sini," ucap Lexington dengan suara yang mulai serak.
Tangannya yang bebas di bawah meja memeluk pinggang Briella erat, bukan untuk menjauhkan, melainkan justru menariknya lebih rapat agar Briella tidak jatuh dan agar ia bisa merasakan kehangatan istrinya.
Hadiyan, yang sepertinya sudah mulai paham (karena ia melihat ujung rambut Briella yang sempat tertangkap kamera), segera berdehem. "Ehem... baiklah, sepertinya Tuan Valerio butuh waktu sepuluh menit untuk meninjau kembali datanya. Mari kita jeda rapat ini sebentar."
Begitu koneksi muted, Lexington langsung melepaskan kacamata dan menaruhnya di meja dengan kasar.
"Kau benar-benar ingin aku kehilangan tender jutaan dolar ini, ya?" geram Lexington, namun tatapannya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan gairah yang menyala.
"Aku hanya ingin sarapan," ucap Briella polos, mengedipkan matanya dengan nakal. "Dan sarapanku harus disiapkan oleh suamiku yang memakai jas tapi tidak bercelana panjang ini."
Lexington mendengus, lalu tiba-tiba ia memutar kursi kerjanya hingga membelakangi meja, menjauhkan mereka dari kamera yang sudah mati. "Kau tahu, Dokter Zamora? Kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuat seorang Valerio terlihat bodoh di depan para investornya."
"Dan kau menyukainya, kan?"
"Sangat," jawab Lexington sebelum ia membungkam bibir istrinya dengan ciuman panas, melupakan sejenak tender jutaan dolar yang ada di layar monitor. Baginya, satu senyuman manja dari Briella jauh lebih berharga daripada seluruh saham otomotif di dunia.
"Sepuluh menit, Bri. Setelah itu, biarkan aku menyelesaikan pekerjaan ini atau kita akan benar-benar miskin dan tinggal di klinikmu," bisik Lexington di sela ciumannya.
"Tidak masalah, aku bisa menghidupimu dengan suntikan botoks," canda Briella, yang disambut dengan tawa rendah Lexington yang memenuhi ruangan pagi itu.