NovelToon NovelToon
Kirei

Kirei

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Transmigrasi / Balas dendam pengganti
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Kehangatan Dapur Oma dan Undangan yang Terlilit

Pintu pagar besi rumah Oma berdentang menutup dengan suara keras, mengunci rapat jeritan keputusasaan Mirna yang diusir paksa dari luar halaman. Di dalam rumah, aroma sisa hujan sore yang basah berpadu dengan wangi seduhan teh melati dari arah dapur. Suasana yang tadinya panas mendadak senyap, menyisakan deru napas Kirei yang masih sedikit memburu menahan sisa amarah yang mengendap di dadanya.

Langkah kaki Kirei yang tadinya siap menghentak halaman kini mendadak terasa berat. Beban sebagai tumpuan keluarga kembali terasa nyata saat ia menatap dinding rumah sederhana ini. Namun, Vaxerion tetap pasang badan di sebelahnya, kokoh memberikan rasa aman. Pria itu menuntun Kirei melangkah masuk ke ruang tengah yang dipenuhi perabotan kayu jati kuno peninggalan almarhum kakeknya. Kehadiran Vaxerion dengan setelan jas hitamnya yang berkelas terasa begitu mencolok di dalam ruangan kecil itu, tetapi ketenangan sikapnya menghapus semua kecanggungan tempat.

"Kirei, Nduk, sudah pulang?"

Oma keluar dari balik tirai kain yang membatasi dapur, membawa nampan kayu berisi teko tanah liat tua dan sepasang cangkir kaca kecil. Tangan tuanya yang mulai dihiasi kerutan halus sedikit bergetar, pertanda sisa keterkejutan akibat teriakan Mirna di luar tadi belum sepenuhnya hilang. Meski begitu, senyuman teduh Oma langsung menyapu bersih kabut ketegangan dari wajah Kirei.

Kirei melangkah cepat, mengambil alih nampan berat itu dari tangan Oma dengan gerakan yang sangat lembut. "Oma, maaf ya. Tadi di luar agak berisik karena ada orang yang membuat kekacauan."

Vaxerion ikut melangkah mendekati meja makan kayu panjang yang terletak di sudut ruangan. "Biar saya saja yang bantu menata tekonya, Oma," ujarnya dengan suara bariton yang rendah dan sopan.

Kirei sempat tertegun saat melihat pria itu tanpa ragu melepas jasnya, menyampirkannya begitu saja di sandaran kursi kayu, lalu dengan telaten menyusun cangkir-cangkir teh di atas meja. Sosok tegap yang biasanya memimpin ribuan pekerja di pabrik Mahendra Motors dan mengontrol konsorsium itu, kini berdiri di dapur tuanya, menuangkan teh hangat dengan uap melati yang mengepul wangi. Kesederhanaan sikap Vaxerion sore itu terasa jauh lebih meluluhkan hati daripada kalimat manis sekalipun.

Rian menyusul duduk di kursi kayu sebelah Kirei, matanya bergerak mengikuti setiap gerak-gerik Vaxerion dengan binar kekaguman yang pekat. "Bang Vax, makasih banyak ya buat yang di teras tadi. Sumpah, gua hampir lepas kendali pengen menyiram air got ke mukanya kalau denger perempuan itu menghina Ibu lagi."

Vaxerion menepuk bahu Rian dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, memberikan gestur perlindungan seorang kakak laki-laki yang bisa diandalkan. "Kamu sudah melakukan bagianmu dengan baik dengan menjaga pintu depan rumah, Rian. Tapi ingat kata-kata Abang, di keluarga ini, kekuatan kalian ada di isi otak yang cerdas, bukan di kepalan tangan kosong. Biar hukum dan sistem yang membereskan orang-orang kotor seperti mereka."

Mendengar nasihat yang sarat akan ketenangan sikap itu, Kirei merasakan dadanya terasa penuh oleh rasa hangat seutuhnya. Di tengah belantara bisnis Jakarta yang penuh kepalsuan, pria di depannya ini adalah satu-satunya manusia yang bersedia berdiri melindungi keluarganya, tanpa pernah sekali pun merenggut kemandiriannya sebagai wanita kuat.

Namun, ketenangan yang manis di ruang makan itu mendadak terhenti ketika sebuah mobil sedan mewah hitam legam milik kediaman utama Mahendra berhenti tepat di depan gerbang halaman. Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas pelayan resmi melangkah masuk, lalu mengetuk pintu kayu depan dengan ketukan yang sangat teratur.

Maya, yang ternyata mengikut dari kantor sejak siang tadi untuk memastikan keamanan dokumen, menerima sepucuk surat berlapis emas dari pelayan tersebut. Ia membawanya masuk ke ruang makan dengan wajah yang mendadak pucat pasi.

"Nona Kirei... ada surat undangan privat darurat," bisik Maya, tangannya gemetar hebat saat menyerahkan amplop tebal beraroma harum kertas mahal itu ke hadapan Kirei.

Kirei membuka segel lilin merah berlambang singa emas di atas amplop tersebut dengan jemari yang perlahan menegang. Manik matanya yang jernih langsung menyipit tajam begitu membaca barisan kalimat bergaya kaligrafi klasik di dalamnya.

“Besok pukul sepuluh pagi. Minum teh privat di kediaman utama Mahendra. Datanglah sendiri tanpa membawa pengawal, Nona Zhaklyn. Mari kita lihat apakah isi otakmu sebanding dengan nekatnya cucuku yang berani memegang kendali atas urusan Bianca.” — Adrian Mahendra.

Jantung Kirei berdegup dua kali lebih cepat. Ini adalah undangan langsung dari Tuan Adrian, sang patriark tertinggi pemegang takhta kemewahan keluarga Mahendra yang paling disegani di Asia. Kakek Vaxerion sengaja memotong jalur komunikasi, mengundangnya secara rahasia tanpa melibatkan cucunya demi menguji kelayakan mental Kirei secara langsung di wilayah kekuasaannya.

Vaxerion yang melihat perubahan gelagat Kirei langsung merebut kertas surat itu dengan gerakan cepat. Begitu matanya membaca nama sang kakek, rahang tegas Vaxerion mengeras, dan tatapan matanya mendadak berubah menjadi sedingin es. "Kakek keterlaluan. Aku tidak akan membiarkanmu datang ke rumah besar itu sendirian, Kirei. Aku yang akan menemui Kakek dan menyelesaikan masalah ini malam ini juga."

Kirei langsung menahan lengan tegap Vaxerion yang hendak bangkit berdiri dengan cemas. Tatapan mata indahnya yang tenang namun penuh ketegasan murni menjadi penahan mutlak, memancarkan kembali ketangguhan seorang wanita yang menolak keras untuk bersembunyi di balik punggung orang lain.

"Nggak, Vaxerion. Aku akan datang sendiri besok pagi," suara Kirei mengalun lambat, sangat merdu, namun berwibawa, tidak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu. Dia menatap mata jernih Vaxerion dengan ketegasan. "Jika aku membiarkanmu malam ini, artinya aku membenarkan kata-kata kakekmu bahwa aku hanyalah kerikil lemah dari pinggiran rel yang cuma butuh belas kasihan. Aku membangun Zhaklyn Mobile pakai isi otakkku sendiri, dan besok... aku akan membuktikannya langsung di depan tongkat perak kakekmu."

Melihat keras kepala dan keberanian yang menyala di mata cantik Kirei, Vaxerion terdiam selama beberapa detik. Perlahan, gurat cemas di wajahnya mencair, berganti dengan binar rasa bangga yang begitu dalam dari balik manik matanya. Pria itu berdiri di dekatnya, menyadari bahwa wanita di depannya ini adalah satu-satunya pasangan sepadan yang pantas berdiri mendampingi seluruh takhta hidupnya.

1
Wawan
Salam kenal Kirey 💪✍️
T28J
keren kakak👍
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Tisa
Penulis menulis dengan sangat keren, alur ceritanya menarik. Tetap semangat!!!
Ika Yani
lanjut kak
Naura
Saya sebagai pembaca terlalu terbawa suasana Kirei dan Vaxerion.
udin sini
Lanjut kaka
Reni
Sangat bagus dan keren
Nayla
Cemburu itu mengerikan..😃 Lanjut thor
Rara Lani
Menarik!!
Tisa
Next! Semangat!! sukses ya!
Iki Riat
Pria yang sedang jatuh cinta pada satu wanita.
Ika Yani
Menarik
udin sini
Keren. Di tunggu kelanjutannya...
Cantika
😍 lanjut thor.. Semangat
Salma.Z: Iya. Terimakasih👍
total 1 replies
Cantika
Ayo UP segera
Sari
Nunggu bab 3 🤭
Salma.Z: di tunggu besok kak
total 1 replies
Hana Unil
next
Andy Rajasa
Bagus..lanjutkan!
Salma.Z: Ya.. siap
total 1 replies
Siti
Lanjut..
Salma.Z: Siap...
total 1 replies
Siti
Keren, ceritanya menarik. Semoga karyanya di baca semua orang..semangat!!!
Salma.Z: Aamiin. Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!