𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32| Godaan Gavian
Aluna celingak-celinguk ketika ia sampai di belakang gedung gudang sekolah, ia kembali melirik pesan singkat dari Gavian di layar ponselnya. Pria itu jelas memintanya datang ke sini saat jam istirahat. Kedua kelopak mata Aluna berkedip, ponsel di tangannya kembali disimpan di saku rok seragam sekolah. Kedua tangannya dilipat di bawah dada, bibirnya mengerucut.
"Itu anak mau ngapain sih sebenarnya, ngasih perintah kek bos gede aja. Giliran gue udah nyampek dia malah nggak ada? Nggak nongol puncak hidungnya," gerutu Aluna kesal.
Manik matanya mengedar, atensinya tertuju pada bangku kayu panjang yang dinaungi oleh pohon beringin rimbun, Aluna mengayunkan kedua tungkai kakinya menuju bangku kayu. Baru saja body belakangnya duduk di kursi, mata liar yang kini tertuju pada pepohonan di balik pagar sekolah seketika melebar dan berbinar-binar.
"Woah!" seru Aluna heboh sendiri, ia sontak saja langsung berdiri kembali.
Kedua kaki jenjangnya melangkah cepat menuju pagar besi, manik matanya mengedar mendapati surganya buah-buahan yang tampak bervariasi dan tengah berbuah lebat. Mulai dari rambutan yang buahnya tak begitu tinggi, atensi Aluna kembali bergerak ke pohon mangga tampak mulai menguning di pohonnya.
Kepala Aluna menggeleng tak percaya dengan harta karun yang ditemukan secara tak sengaja, ada jambu air yang memerah dan lebat hingga kapan saja rantingnya bisa patah karena buahnya yang begitu lebat.
"Jiwa maling buah gue mendadak meronta-ronta," gumam Aluna berbinar-binar. "Ah, sayang banget gue nggak bawa karung. Mayan banget itu, bisa gue bikin rujak."
"Apa yang dirujak?"
"Astaga naga!" seru Aluna berbalik ke belakang hampir saja ia terpeleset karena kehadiran Gavian yang tiba-tiba.
Pria yang baru saja berbisik di daun telinga Aluna terkekeh ringan, ia berdiri tegap menatap Aluna dengan saksama. Aluna mengusap dadanya, melototi Gavian—psikopat yang lebih horor dibanding setan.
"Kalo datang itu kasih kode kek, jangan datang tiba-tiba kek gitu deh Gavian. Lo kalo terus kek gitu, gue bisa mati kena serangan jantung tau," protes Aluna, masih mengusap dadanya hanya untuk menenangkan degup jantungnya yang menggila.
Gavian mencubit sebelah sisi pipi Aluna, membuat gadis itu meringis dan bergerak menepis tangan Gavian. Aluna melotot lalu tertegun beberapa detik kemudian, saat ia mendapati ekspresi aneh di wajah Gavian.
"Ja—jangan cubit-cubit pipi gue, entar pipi gue melar lagi," ujar Aluna tergagap, secara tak langsung ia memberikan alasan kenapa ia menepis tangan Gavian dengan kasar.
Oh come on, pria jangkung dengan sorot mata tajam dan kelam ini adalah psikopat sejati. Aluna masih sayang nyawa, ada banyak harta yang harus ia habiskan di dunia fiksi ini. Belum lagi ada Jayden si 'paling calon lakik' yang harus ia nikahi, sebagai bentuk tanggungjawabnya. Ia tak mungkin menyinggung Gavian, dari sekian banyak tokoh pria, sosok lelaki inilah yang harus Aluna jaga perasaannya.
"So, kalo gue cubit daging yang lain boleh?" Gavian menyeringai dengan tatapan mata jatuh ke bawah wajah Aluna.
Aluna ikut menunduk melirik kemana arah sorotan mata Gavian tertuju, mata Aluna melotot. Ia mundur dua langkah ke belakang, dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Pipinya bersemu merah, ketika ia mendongak melototi Gavian kesal.
"Eh! Mata lo! Nggak. Kagak boleh, gue masih dibawah umur ya, lo mes—ah. Hehe..., kita nggak boleh berbuat seperti itu. Itu perbuatan yang berbahaya, bisa garis dua. Gue tau lo 'kan cowok paling baik, tampan, mapan, dan pintar. Pasti paham 'kan apa yang gue maksud," tutur Aluna yang awalnya marah namun, kemarahannya harus dihilangkan ketika seringai Gavian surut.
Gavian malah menatap tajam ke arahnya, mau tak mau Aluna harus memutar otaknya untuk membujuk Gavian. Jika pria yang baru saja menatapnya dengan tatapan mesum itu adalah Kai, Aluna sudah pasti akan menghadiahkan pukulan maut serta nada makian bak rapper terfasih. Sayangnya yang baru saja membuat ia marah adalah Gavian bukan Kai, Gavian masih diam tak ada reaksi apapun.
Aluna mengigit bibir bawahnya. 'Berpikir Aluna, berpikir. Gimana caranya ngalihin pria psikopat satu ini.'
Aluna mengedarkan pandangan matanya, ide cemerlang terlintas di otaknya saat matanya tertuju pada pepohonan di balik pagar gedung sekolah.
"Ki—kita ke sana yuk! Gue pengen banget bikin rujak buah, lo mau makan rujak buah buatan gue nggak?" tawar Aluna tergagap di awal ia bicara, mengalihkan perhatian Gavian.
Tangannya langsung menunjuk-nunjuk ke arah pohon buah, ia tampak antusias menginginkan buah-buahan tersebut dari yang masih muda sampai yang sudah matang sempurna.
Alis mata tebal Gavian terangkat sebelah ke atas, "Lo mau nyolong buah-buahan itu?"
"Mana pula nyolong, itu pasti buah-buahan yang nggak begitu diinginin sama yang punya. Buktinya ada banyak yang udah rontok di tanah, tuh. Sayang banget itu kalo dibiarin kayak gitu aja," tukas Aluna menolak keras jika dirinya berniat mencuri.
"Lo yakin?" Gavian menaik-turunkan alis matanya menggoda Aluna.
Aluna membuang muka, kedua sisi pipinya mengembung jengkel. Ia berbalik membelakangi Gavian, kedua matanya berotasi malas.
"Ya udahlah, kalo lo nggak mau. Biar gue aja sendiri yang petik. Tapi, awas ya kalo lo ikut nyicipin rujaknya nanti!" Aluna bergerak memanjat pagar tinggi dengan cepat, seakan ia begitu ahli dalam panjat-memanjat pagar.
Sudut bibir Gavian terangkat tinggi ke atas, lucu juga melihat ekspresi kesal Aluna. Gadis remaja dengan rambut diikat satu ke belakang itu telah sampai di luar pagar sekolah, Gavian mengikuti jejak Aluna yang memanjat pagar sekolah.
"Eh," gumam Aluna di saat Gavian telah berdiri di sampingnya.
"Lo nggak mungkin nyolong sendirian 'kan, karena nyolong itu butuh kaki tangan buat beraksi," kata Gavian terkesan tak tahu malu.
...***...
Panen mendadak yang dilakukan oleh keduanya dihamparkan di bawah batang pohon rambutan, mata Aluna berbinar-binar menyapu buah-buahan yang ia panen. Keduanya bahkan tidak mendengar suara bell masuk yang mengalun lima menit yang lalu, Aluna berkacak pinggang.
"Dibikin manisan dan asinan buah keknya juga enak deh," gumam Aluna, kepalanya mengangguk-anggukkan puas.
Gavian menepuk-nepuk tangannya yang kotor sebelum menyapu peluh yang turun di dahinya, dari ekor matanya ia melirik Aluna yang tersenyum puas. Siapa yang menyangka gadis remaja di sampingnya ini bisa bahagia hanya dengan memetik buah-buahan, merasa ditatap Aluna mendongak ke arah Gavian.
"Kenapa? Apa ada yang nempel di wajah gue?" Aluna menyentuh kedua sisi wajahnya.
Gavian menggeleng, dan menjawab, "Nggak ada, gue cuman nggak nyangka aja nyolong buah-buahan bisa bikin senyum lo selebar itu."
Ingin menghardik Gavian dengan keras, Aluna kembali ingat pria ini tak boleh diprovokasi. Pada akhirnya Aluna hanya cengengesan, tak menyahut.
"No coment gue," sahut Aluna pelan, "sekarang ayo kita pikirin gimana caranya bawa ini buah-buahan ke sana."
Aluna menunjuk ke arah pagar sekolah, Gavian melirik buah-buahan yang tergeletak pasrah di rerumputan lalu atensinya bergerak ke arah pagar sekolah. Mata Aluna melotot lebar saat jari jemari panjang Gavian malah membuka satu persatu kancing seragam sekolahnya.
"Eh, eh! Lo mau ngapain?" Aluna melotot waspada.
Baju seragam Gavian terbuka, t-shirt putih tanpa lengan terpampang. Memperlihatkan otot-otot lengan Gavian, Aluna tercekat dengan kedua telapak tangan spontan saja menutupi wajahnya saat t-shirt putih itu ikut dibuka. Dari sela jari jemari lentiknya, Aluna mengintip Gavian.
Pipi Aluna terasa panas dan rona merah mulai menjalar merata di wajah putihnya hingga menjalar ke kedua daun telinganya, kedua matanya berbinar-binar takjub dengan pahatan sempurna dari segala sisi bentuk tubuh Gavian. Otot perut yang keras dengan sixpack yang menghiasi, turun ke bawah garis duyung yang terlihat menggoda.
Gavian membungkuk menjadikan baju seragam serta t-shirtnya digunakan untuk wadah penampung buah-buahan, kedua telapak tangan Aluna turun perlahan-lahan. Ia berjongkok di depan Gavian yang sibuk mengikat ujung seragam dan mengancingkan seragam sekolahnya tak lupa mengikat bagian kerah. Sebelum memasukan satu persatu buah-buahan ke dalam seragam, tatapan aneh yang dilayangkan ke arahnya mengalihkan perhatian Gavian dari buah ke arah Aluna yang ikut berjongkok di depannya.
"Kenapa?" tanya deep voice serak Gavian, "seksi nggak?"
Kepala Aluna mengangguk-angguk membuat rambut yang diikat satu ke belakang itu ikut berayun-ayun, senyum mesum terbit di bibirnya tanpa Aluna sadari.
"So hot," celetuk Aluna.
Gavian menyeringai, tangannya terulur ke depan menarik tangan Aluna diletakkan di atas otot perutnya yang terasa keras dan panas. Aluna tersipu tanpa mengalihkan pandangan mata nakalnya, rasanya ia ingin menjerit-jerit kegirangan saat jari jemarinya menyentuh otot perut Gavian.
"Mau turun kebawah?" tawar Gavian menyipitkan kedua matanya menatap saksama wajah Aluna.
"Oh-oh! Iya, boleh?" Aluna bertanya dengan ekspresi bodoh.
"Boleh," jawab Gavian menggoda Aluna, "tapi...."
"Tapi?"
"Kalo 'dia' bangun lo harus tidurin," sahut Gavian serak, menyeringai nakal.
Kepala Aluna mengangguk antusias. "Ya, ya, ya! Gue tidurin—eh, nggak! Ap—apaan sih lo." Aluna sontak saja menggelengkan kepala saat ia baru saja sadar jika dirinya telah masuk ke dalam perangkap Gavian.
Aluna sontak saja menarik tangannya ketika sadar, langsung berdiri kembali. Wajahnya merah padam hingga lehernya ikut memerah, mata Aluna melotot bibirnya bergetar.
"Lo—lo! Lo mesum si penggoda ulung! Lo berani-beraninya mau ngejebak gue 'kan? Woah! Lo lebih gila ketimbang si Kai." Aluna tergagap memarahi Gavian, ia lepas kendali.
Tawa Gavian menyembur, tertawa lepas karena kemarahan Aluna yang sadar dengan trik menggodanya secara halus.
'Nggak! Ini nggak benar. Dekat sama dia lebih celaka dua belas bisa-bisanya gue disekibidi papap sama ini orang. Seram eey!' Aluna bergidik ngeri.