Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Halus Sang Prabu
Di dalam ruang kerja yang remang, Arya menatap peta wilayah Amarta. Amarahnya yang semula berkobar kini mendingin, berubah menjadi perhitungan yang tajam dan taktis. Ia menyadari bahwa jika ia mengirim pasukan untuk menyerang Lawu secara terang-terangan, para pengikut setia Adipati Cakraningrat yang masih bersembunyi akan segera melarikan Ibu Suri dan Nastiti ke wilayah pesisir yang sulit dijangkau.
Arya memanggil Seno dan para Komandan pasukan Jagabaya yang paling ia percayai. Ia memberikan instruksi yang sangat spesifik, yang tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kemampuan bersandiwara yang ulung.
“Kalian tidak akan pergi ke Lawu untuk menangkap mereka,” ucap Arya, suaranya datar namun penuh tekanan. “Kalian akan pergi kesana sebagai pembawa berita duka sekaligus berita harapan. Gunakan seragam upacara, bukan pakaian perang. Bawa kereta kencana kebesaran, bukan kuda-kuda sergap.”
Seno mengerutkan kening, mencoba memahami jalan pikiran rajanya. “Maksud Gusti Prabu… kita akan berpura-pura?”
“Katakan kepada Ibu Suri dan Nastiti bahwa Sekar Arum telah menyerah pada racunnya,” Arya menjeda, hatinya perih mengucapkan kalimat itu, namun ia harus melakukannya. “Katakan dalam kedukaanku yang mendalam, aku menyadari bahwa kutukan ini terjadi karena aku melanggar tradisi. Sampaikan bahwa aku memohon Ibu Suri kembali ke istana untuk membantuku memimpin upacara perkabungan dan menata kembali masa depan kerajaan bersama Nastiti.”
Arya ingin memberikan rasa aman yang palsu kepada kedua wanita itu. Ia ingin mereka merasa telah memenangkan pertempuran ini, sehingga mereka akan melangkah keluar dari persembunyian mereka dengan kepala tegak dan tanpa pengawalan bersenjata yang lengkap.
“Ibu Suri sangat haus akan pengakuan, dan Nastiti akan haus akan takhta,” lanjut Arya. “Berita kematian Sekar akan membuat mereka lengah. Mereka akan mengira aku telah hancur dan kembali menjadi putra yang patuh. Biarkan mereka masuk ke dalam tembok keraton ini atas kemauan mereka sendiri. Biarkan mereka masuk ke dalam jebakan yang telah mereka gali sendiri.”
Seno membungkuk dalam, mulai mengagumi kecerdikan Arya. “Sendika dawuh, Gusti. Kami akan memastikan tidak ada satu pun pengikut mereka yang mencium aroma kecurigaan.”
Malam itu juga, rombongan Jagabaya berangkat dengan megah. Obor-obor menerangi perjalanan mereka, memberikan kesan bahwa keraton sedang menjemput kembali anggota keluarga besarnya yang hilang. Seno membawa sepucuk surat dengan segel lilin merah darah, berisi kata-kata permohonan maaf palsu yang ditulis sendiri oleh Arya dengan tangan yang gemetar menahan geram.
Di peraduan, Sekar masih terlelap. Arya duduk di sampingnya, membiarkan rencana itu. “Maafkan aku, Sekar, jika aku harus menggunakan kematianmu sebagai umpan. Tapi ini adalah cara satu-satunya agar mereka mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.”
Beberapa jam kemudian, rombongan tiba di lereng Lawu. Nastiti yang sedang terjaga melihat cahaya obor dari kejauhan. Jantungnya berdegup kencang antara rasa takut dan ambisi yang membuncah. Saat Seno masuk dan berlutut di hadapan Ibu Suri, menyampaikan kematian Sekar dan undangan kembali ke istana, wajah Nastiti bersinar penuh kemenangan.
Ibu Suri tersenyum tipis di balik kegelapan. “Jadi, Arya akhirnya sadar siapa yang ia butuhkan,” gumam Ibu Suri dengan nada sombong. “Siapkan barang-barang kita, Nastiti. Kita akan kembali ke rumah kita yang sebenarnya. Amarta telah kembali ke tangan yang tepat.”
Mereka tidak menyadari bahwa kereta kencana yang menjemput mereka bukan menuju singgasana, melainkan menuju pengadilan terakhir yang takkan mengenal ampun.
Di Pesanggrahan Lawu, suasana berkabung yang seharusnya menyelimuti pengasingan kini berganti menjadi kemegahan yang dipaksakan. Kabar kematian Sekar Arum yang dibawa oleh Seno bagaikan air yang menyiram api dendam Ibu Suri dan Nastiti, mengubahnya menjadi bara kemenangan yang membakar akal sehat mereka.
Ibu Suri berdiri di depan sebuah peti kayu jati besar yang selama ini ia kunci rapat. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa puas, ia mengeluarkan ageman kebesaran yang selama pengasingan dilarang untuk ia sentuh. Ia mengenakan kain jarik motif Semen Rama yang hanya boleh dikenakan oleh penguasa tertinggi, menyampirkan selendang sutra bersulam emas, dan memasang tusuk konde berlian yang memantulkan cahaya obor yang tajam.
Kain jarik motif Semen Rama adalah salah satu motif batik klasik Jawa yang sarat akan makna filosofis. Jarik ini sangat populer digunakan sebagai bawahan busana pengantin tradisional, khususnya gaya keraton Yogyakarta dan Surakarta.
“Kekuasaan tidak pernah benar-benar pergi dari tangan yang tahu cara menggenggamnya,” gumam Ibu Suri sambil menatap pantulan dirinya yang kembali terlihat angkuh di cermin tembaga. Ia merasa seolah-olah seluruh jagat Amarta telah tunduk kembali pada garis keturunannya.
Di kamar sebelah, Nastiti sedang bersolek dengan penuh gairah. Ia memulas bibirnya dengan gincu merah darah, memberikan rona kemenangan pada wajahnya yang semula kuyu. Ia mengenakan kebaya beludru hitam dengan hiasan bros emas murni di dadanya.
Setiap kali ia memasang perhiasannya, ia membayangkan Sekar yang terbujur kaku di istana. Nastiti mengambil sebuah sirkam bertahta permata dan menancapkannya di sanggulnya dengan gerakan yang mantap.
“Lihatlah dirimu, Nastiti,” Bisiknya pada bayangan di cermin. “Pada akhirnya, takhta tidak pernah memilih rakyat jelata. Mahkota itu tetap menjadi milikmu. Kau adalah pemilik istana itu, dan gadis desa itu hanyalah mimpi buruk singkat yang telah berakhir,”
Ia tersenyum sinis, merasa kecantikannya kini telah kembali sepenuhnya karena rasa puas akan dendam yang terbalaskan. Baginya, berjalan masuk ke istana kali ini adalah sebuah penaklukan kembali.
Saat pintu pesanggrahan dibuka, Seno dan pasukan Jagabaya berdiri tegap memberikan penghormatan senjata. Ibu Suri dan Nastiti keluar dengan langkah yang sangat angkuh, dagu mereka terangkat tinggi, menatap para pengawal dengan tatapan yang meremehkan.
“Bawa kami pulang,” perintah Ibu Suri dengan suara yang kembali berwibawa dan penuh tekanan. “Pastikan perjalanan ini cepat. Aku ingin segera menemui putraku dan menenangkan kerajaannya yang sedang berduka.”
Mereka menaiki kereta kencana Kiai Garuda Mulya yang dikirim Arya. Di dalam kereta yang harum oleh wangi melati dan dupa, Nastiti duduk bersandar pada bantalan sutra, menatap ke luar jendela ke arah lembah yang mulai terang oleh fajar.
Sepanjang perjalanan, Ibu Suri dan Nastiti saling bertukar pandang penuh arti. Mereka sudah menyusun rencana, mereka akan berpura-pura menangis di depan Arya, memberikan dukungan palsu, lalu perlahan-lahan mengambil alih kembali posisi-posisi penting di keraton saat Arya sedang dalam titik terlemahnya karena duka.
Mereka tidak menyadari bahwa setiap derap kaki kuda yang membawa mereka mendekati gerbang keraton adalah hitungan mundur menuju penghakiman. Mereka tidak melihat bahwa Seno, yang berkuda di samping kereta, tidak pernah sekalipun melepaskan tangannya dari gagang keris, matanya terus menatap lurus ke depan dengan dingin.
Di balik tembok tinggi keraton Amarta, Arya Wijaya telah berdiri di balik tirai gelap, menanti kereta kencana itu muncul di cakrawala. Singa itu telah menyiapkan panggung, dan para pemenang palsu itu kini sedang meluncur masuk ke dalam jaring yang tidak akan pernah melepaskan mereka lagi.