Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
[27] Hari Ini Langit Cantik
"Bumii... gue udah siap!"
Langit melompat ke depan cowok bersetelan jas hitam yang tengah duduk di sofa itu. Bumi yang tadi asik balas chat mendongak. Tatapannya terkunci pada wajah cantik dengan riasan natural itu. Sedang kepalanya di bungkus pashima dengan model sederhana.
Sesaat Bumi terlena. Dia sampai tidak mengerjap menatap Langit yang tersenyum manis. Bumi menelan ludah.
Sial. Kenapa malam ini Langit makin terlihat beda?
"Woi paman. Gue manggil! Malah melamun lo!" Langit mengibaskan tangannya di depan wajah Bumi. Cowok itu tersentak lalu berdecak kesal.
"Lo ngapain sih pakai make up segala?"
"Kenapa? Pesona gue makin keluar ya?"
Langit menungkup kedua pipinya dan mengedipkan mata.
"Lah apanya. Lo makin jelek. Kayak Mak
Lampir, " hina Bumi. Tidak mau mengakui yang sebenarnya. Lagian ngapain Langit dandan secantik ini hanya untuk ke acara Alden?
Cih
Langit mengerucutkan bibirnya. Dia lalu berputar hingga gaunnya ikut mengembang. "Padahal gue mirip Cinderella gini, dibilang jelek."
"Hapus aja make up lo sana."
"Ih gak mau. Gue udah cantik tahu. Gue juga makenya tipis. Natural."
"Kan gue bilang lo jelek."
"Mata lo mah perlu diobati," Langit menjulurkan lidahnya. "Lagian kita udah telat. Ayo deh paman. Alden dari tadi udah spam gue nih." Langit memperlihatkan layar ponselnya.
Bumi melirik chat mereka sesaat dengan malas.
"Lo gak usah pakai make up. Hapus bentar."
"Gak ah. Kalau lo lama gue duluan aja." Langit merapikan posisi tali sling bag berwarna creamnya dan berjalan
Meninggalkan Bumi yang sontak menyusul.
Mereka menggunakan motor. Sedikit kesusahan. Untung saja langit pakai jeans dan jaket Bumi menutupi kakinya. Biar tidak ada yang curiga, mereka akan pisah sedikit jauh dari hotel yang dimaksud
Acara ulang tahun itu diadakan di ballrom hotel bintang lima. Sebelum memasuki lobisudah ada dua petugas berjas yang mengarahkannya ke lantai 15 dan tempat ballrom berada. Langit dibuat takjub. Dia serasa mau hadir acara artis atau orang terpandang.
eh iya sih Alden kan kaya kata Bumi.
Tapi cowok itu memang gak pernah memperlihatkan kekayaannya di sekolah.
Alden seperti remaja pada umumnya.
Keluar dari lift dia banyak menemukan beberapa orang dengan pakaian formal melangkah menuju pintu ballroom. Langit menengok sekitar coba melihat ada gak sih yang dia kenal. Biar masuknya gak sendirian.
Sayangnya tidak ada.
Bumi pasti sudah di dalam
Bina juga dia gak tahu. Di chat malah gak dibaca.
Teman-teman kelasnya juga gak banyak.
Pada akhirnya kaki yang dibalut fakta shoes berwarna senada dengan bajunya itu kini berjalan anggun menuju pintu ballroom. Dia disambut kembali saat di depan pintu.
Langit tersenyum dan memberi anggukan. Memasuki ballrom. Sudah banyak lautan manusia yang berdiri dan mengobrol. Di tengah ruangan juga banyak meja panjang hingga bundar yang udah di isi oleh tamu. Rata-rata mereka berpakaian barang mahal.
Wah.
Semua orang sibuk dengan teman bicara mereka masing-masing. Langit masuk lebih dalam seraya menganggumi acara mewah Alden
Di sisi lain, di salah meja panjang. Anak-anak motor Xigroues memenuhi meja tersebut seraya berdiri. Mereka asik mengobrol. Di sana juga ada Alden, Bumi Liam serta Hugo.
"Itu beneran Langit?" Liam yang akan meneguk minumannya tidak sengaja melihat Langit yang kebingungan dekat pintu masuk. Dia sampai tidak berkedip. Langit yang biasanya sering terlihat memakai seragam sekolah, sekalinya pakai gaun dan berdandan
Bikin siapapun yang akan melihatnya pangling. Tidak hanya cantik. Juga anggun.
Ketiga cowok yang kenal betul Langit mengikuti arah pandang Liam. Termasuk Alden yang menarik kedua sudut bibirnya. Cowok yang hari ini berulang tahun itu menaruh gelasnya.
"Gue ke sana dulu." Alden merapikan jasnya. Tanpa menunggu anggukkan mereka, kakinya melangkah lebar menuju Langit.
Melihat hal itu tangan Bumi yang berada dalam saku celana mengepal.
"Et dah si Alden." Hugi bersiul. "Giliran Langit datang disamperin. Beda banget yak sama kita datang?" Hugo mengantung satu tangannya di pundak Bumi. "Kita ya harus di telfon dulu tu bocah," kekehnya.
"Siapa si Alden dia?" Aska. Salah satu anggota gang motor Xigrous menunjuk Alden yang kini tersenyum dan bicara pada wanita cantik.
"Incaran Alden." Liam menyelutuk.
"Diam-diam gitu dapatnya yang cakep. Si Alden ngeri juga ya." Anak-anak Xigrous yang lain menggoda Alden. Mereka memperhatikan interaksi Alden dan Langit. Berbeda dengan
Bumi yang menjadi gerah di ruangan yang dingin itu.
Dia sampai melonggarkan dasinya.
"Alden? Untung lo hampirin gue. Gue tuh kayak orang bego tahu karena sendiri." Langit senang tadi seseorang memanggilnya dan itu Alden.
Cowok yang menawan dengan jas mahalnya itu terkekeh. "Sorry. Kalau tahu lo sendiri. Gue bisa jemput?"
"Ya enggak juga dong." Langit mengibaskan tangannya. "Masa yang ulang tahun jemput."
"Daripada lo sendirian."
Langit nyengir.
"Oh ya Alden. Ini hadiah ulang tahun buat lo." Langit menyerahkan paper bag yang dia bawa. "Gak seberapa. Tapi gue harap lo suka ya?"
Alden menatap paper bag itu sebelum menerimanya. Dia mengangguk. "Gue pasti suka. Oh ya, bisa ikut gue bentar?"
"Hem ke mana?"
"Ada yang mau kenalan."
Kening Langit mengernyit. "Kenalan? Siapa?"
Alden hanya tersenyum. Dia hanya memberi instruksi Langit agar mengikuti langkahnya. Keduanya berjalan beriringan, beberapa orang melirik mereka.
"Dilihat-lihat si Alden sama Langit serasa juga ya? Gimana Bum? Lo setuju kan musuh lo sama sobat lo kalau jadian?" Hugo menatapnya.
Bumi berdecih. "Cocok apanya. Langit itu nakal."
"Tapi dia cantik dan baik Bro. Alden juga ganteng. Kalau gue sih mau sama Langit. Kalau ditanya nih."
Bumi hanya berekspresi datar dan tidak lagi menanggapi. Dia tidak bisa memberikan jawaban lagi sedang matanya terus mengawasi keduanya yang ternyata berjalan ke arah orang tua Alden.
"Widih langsung di kenalin ke bokap nyokap. Alden kayaknya seriuss nih sama Langit." Bima, anggota Xigrous itu malah makin membuat suasana hati Bumi berantakan.
Jelas saja
Langit itu miliknya
Cocoknya apanya sama Alden?
"Ma, Pa. Ini Langit." Alden terang-terangan memperkenalkan Langit dengan orang tuanya. Cowok itu tidak pernah begini sebelumnya. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya yang tadi ngobrol sama kolega tersenyum senang dan menatap hangat Langit.
Langit yang mikir Alden memang mengenalkan teman-temanya ke orang tua tidak terlalu memusingkan. Dia tersenyum ramah dan memberi anggukan kecil.
"Selamat malam Om, Tante," sapanya.
"Malam. Kamu cantik sekali, Sayang."
Wanita berpakaian mewah dan fashionable itu memeluknya dan cipika cipiki dengannya.
Langit sih tersipu di bilang cantik.
"Jadi Langit ini pacarnya putra Om?" tanya seorang pria gagah. Papa Alden.
Langit membulatkan matanya. "Eh enggak Om. Langit temanan sama Alden.
"Ooh begitu?" Papa Alden tersenyum. Dia mengerling putranya yang tersenyum.
"Papa tunggu kabar aja ya Bang?"
Langit menatap anak ayah itu dengan tak enak. Dia hanya tersenyum canggung saat dilihat orang tua Alden lagi.
"Langit kamu pasti belum cicip hidangan di sini kan? Ayo tante temani ke sana. Puncak acaranya masih setengah jam lagi. Ayo."
Langit ingin menolak tapi tidak enak. Ia juga keburu ditarik ke meja tidak jauh dari mereka. Mama Alden menawarinya beberapa hidangan. Beliau juga mengajaknya mengobrol tentang Alden.
Alden ternyata anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya masih kecil dan kelak Alden akan jadi penerus perusahaan papanya. Mamanya juga menceritakan kebiasaan Alden, kesukaan Alden dan semua tentang Alden.
Langit hanya memberi anggukan untuk menanggapi. Dia baru lega saat seseorang wanita
yang sepertinya teman mama Alden datang.
"Jeng Elna!"
"Oh ada teman tante. Langit nikmati dulu ya. Tante ke sana dulu." Langit mengangguk
Semangat. Seperginya Tante Elna, dia baru bisa bernafas lega.
Dia memilih duduk dan minum dulu sebelum memutuskan berkeliling nyari Bina. Beneran deh. Langit kalau sendiri jadi kayak orang asing di sini.
"Dekat banget ya sama nyokapnya, Alden," sindir sebuah suara dari sampingnya. Langit menoleh cepat. Dia menemukan Bumi yang tengah mengambil sepotong kue dan ikut duduk di kursi yang kosong.
"Dekat? Gue aja baru ngobrol."
Bumi mencebik. Wajahnya terlihat tidak bersahabat. Langit memperhatikan hal itu.
"Lo kesal ya sama gue?"
"Gak!"
"Kenapa ketus sih?"
"Siapa yang ketus?"
Langit mengernyit. Wajah Bumi saja terlihat masam. "Lo masih marah ya karena gue dandan?"
Bumi tidak menanggapi. Itu salah satunya. Dia kesal saja melihat sejak tadi banyak yang terang-terangan menatap Langit,
Dipuji lagi. Tapi yang membuatnya jelas tidak suka ya karena Langit dikenalkan ke orang tua Alden.
Alden tidak pernah mengenalkan cewek manapun. Apaan tadi?
"Tuh kan. Gue nanya lo malah diam."
"Bina mana?"
"Ngapain lo nanya Bina?"
"Mending lo sama Bina daripada kayak anak kehilangan sendirian di sini." Bumi lebih suka Langit dekat Bina. Kalau sendirian gini dia jadi was-was.
"Siapa yang sendiri? Gue ngobrol sama mama Alden kok."
"Tuh Bina." Bumi menunjuk seorang cewek yang berjalan ke arah mereka. Bina, gadis itu memakai gaun blue Sky.
Senyum Bina merekah melihat Langit. Dia melambai dari kejauhan. Bumi lalu berdiri dan pergi begitu saja. Langit menatap cowok itu heran.
"Bumi kayak cewek PMS," herannya.
"Langit lo cantik banget!! " Bina tersenyum amat lebar. Perhatiannya lalu pada
Bumi yang pergi. "Lah si Bumi ke mana?"
"Gak tahu. Ke tempat temannya kali," ujarnya ngasal. Netranya memperhatikan Bumi yang hilang di balik banyaknya orang.
"Ish padahal gue mau tanya dia tadi sore post foto tangan sama siapa?"
Tatapan Langit beralih cepat pada Bina.
"Gak usah ditanya. Itu kan privasi dia."
"Gue kan kepo Langit. Eh btw Alden mana sih? Yang ulang tahun kok gak kelihatan."
"Tadi di sana ngobrol sama-" Langit menunjuk tempat dia ngobrol sama orang tua Alden tadi. Lah orangnya udah hilang.
"Mana kok gak ada?" Bina menatap arah tunjuk Langit. Dia Menggeleng. Di saat bersamaan suara MC yang akan membuka acara ulang tahun Alden terdengar hingga perhatian mereka beralih ke panggung kecil di depan.
Nah di atas sana juga ada Alden.
"Wah kak Nik, rame banget ya tamu undangan malam ini." Seorang perempuan berjalan natural berdiri bersama seorang laki-laki di panggung.
"Iya nih Kak Fisya. Acara malam ini pasti
Bakal meriah." Acara yang sudah dimulai membuat perhatian para tamu terpusat ke depan.
"Langit, ayo ikut tante." Elna kembali datang. Dia mengajak Langit yang kebingungan. Bina menatapnya heran dan mengarahkan tatap pada mama Alden bertanya itu siapa?
"Tapi Tan."
"Ayo udah mulai acaranya." Langit tidak sempat menolak lagi saat mama Alden menariknya begitu saja. Ia meminta bantuan Bina. Tapi cewek itu berdiri tidak mengerti.
Yang narik Langit siapa?
Langit kira dia diajak berdiri di bagian paling depan saja. Tapi mama Alden balah membawanya naik ke panggung bersama papa Alden juga.
Semua mata menatapnya. Dia jadi tidak tahu harus beraksi apa. Apalagi banyak Teman-teman yang menatapnya. Terutama di depan sana. Bumi melipat tangan.
Aduh ini kenapa dia dibawa ke sini sih?
**
"Bum sumpah deh lo marah kenapa sih?"
Acara baru selesai pukul 12 malam. Langit tentunya pulang sama Bumi dan di hadapan Teman-teman cowok itu.
Cowok itu beralasan karena rumah mereka searah dan gak baik juga Langit pulang sendiri. Mau tidak mau langit pura-pura gak ada pilihan. Hugo dan Liam juga menyetujui jika Langit di antar saja sama Bumi. Liam malah tadi bilang, "Udah saatnya lo buat baik sama Musuh Bum."
Anehnya Bumi sepanjang jalan sampai mereka pulang tidak ngajak dia bicara sama sekali. Sikap cowok itu juga lebih dingin.
"Gue gak marah."
"Tapi lo diam terus."
"Buruan masuk." Bumi menaruh helmya dan mengunci pagar.
"Kenapa gue gak diantar ke rumah aja?"
Langit mengikuti Bumi yang tutup pagar, pikir dia bakal diantar ke rumah orang tuanya. Tapi mereka sekarang di rumah Bumi.
"Udah malam."
"Besok kan sekolah pagi. Baju gue?"
"Gue antar subuh." Setelah mengunci pagar, Bumi berbalik begitu saja dan masuk ke
Dalam rumah. Sekarang sih iya ngomong, tapi nadanya itu loh gak enak.
"Bum. Gue minta maaf deh kalau gak nurut. Jangan marah dong." Langit yang masih pakai helm mengejar Bumi. Gini-gini dia itu paham ilmu nikah dikit-dikit. Dia takut dosa kalau buat salah sama suami.
Langit menutup pintu dulu sebelum ngejar Bumi ke kamar. Cowok itu membuka jasnya.
"Gak lagi deh. Gue gak lagi bandel. Besok gak dandan lagi? Gimana?" Dua alisnya naik. Langit menyatukan telapak tangannya di depan dada. Minta maaf.
Bumi menoleh. Dia menatap wajah Langit. "Lo ganti baju sana. Habis itu tidur.
"Iya tunggu dulu. Lo masih marah ya?"
"Gak."
"Gak apanya? Bum ayo dong. Gue gak bisa ya tidur kalau lo marah." Langit sampai merengek.
Bumi menghela nafas. Dia menaruh jasnya di atas kasur lalu menghadapkan tubuhnya pada Langit. Matanya menatap lekat. "Gue gak marah. Sana lo ganti baju."
Cara bicara Bumi tidak lagi dingin. Sudah seperti biasa.
Sejak tadi dia menahan rasa yang makin kesal karena Langit ikut naik ke panggung. Telinganya panas karena teman-temannya menggoda di dekatnya.
Apalagi tadi setelah orang tua Alden, Langit yang dikasih kue. Ya walaupun yang suapin Elna. Tapi kenapa langit terlihat spesial bagi keluarga Alden?
Langit belum puas. Dia menatap mata Bumi.
"Gue minta maaf Bumi.
"Hm. Lo ganti baju."
ya?" "Gue gak punya baju ganti. Pinjem baju lo
Bumi mengangguk. Dia berjalan ke lemari. Mengambil kaus putih lengan pendek dan juga celana trainingnya. Dia kasih ke Langit.
Langit lekas menggantinya di kamar mandi. Selesai ganti baju, langit belum keluar. Bumi gak kasih jilbab. Aduh rambutnya??
Mana dia ke sini bawa pashmina. Ya kali Langit tidurnya pakai pashmina. Lagipula lucu
Sekali bajunya lengan pendek tapi pakai pashmina. Apa gak usah pakai jilbab aja? Toh Bumi juga halal ngeliat. Gak dosa juga dia buka jilbab kan?
Eh tapi gimana ya?
Langit juga agak malu. Dia mengetuk dagunya berpikir. Karena masih bimbang, dia sampai lama hingga Bumi ngetuk pintu.
"Langit? Lo masih lama? Sabun cuci muka gue sama pasta gigi di dalam."
"Aduh... " Langit lekas saja menggulung rambut hitamnya yang sepunggung. Poninya menutup dahinya, anak rambut di pelipisnya juga berjatuhan. Hal itu membuatnya tampak berbeda dan cantik.
"Ya udah lah ya? Gak apa deh. Bodo amat harus hilangin malu."
"Munah. Lo gak pingsan kan di dalam?"
"Enggak!" Setelah meyakinkan diri. Langit membuka pintu hingga dia melihat Bumi yang berdiri dan sudah ganti pakaian dengan yang lebih santai.
Cowok itu malah membeku menatapnya. Langit jari merasa aneh.
"Gue gak bawa hijab. Jadi ya gitu. Gak apa
Deh ya? Lo suami gue kok," jelasnya. Padahal gak ditanya juga. Langit menyelip anak rambutnya ke belakang telinga.
Hal itu malah membuat Bumi menelan salivanya. Langit hanya memperlihatkan rambut, tapi jantungnya sudah berdebar. Apalagi leher jenjang itu terekspos. Langit juga hanya berpakaian kaus pendek. Tapi lengannya yang putih dan bersih malah membuat Bumi sebagai laki-laki normal hilang fokus.
"Bumi? Hello?"
Bumi mengerjap. Ia mengalihkan tatap dan mengatur tengkuknya. "Hm."
"Gue tidur di mana?"
"Kamar ibu aja." Langit setuju sih kalau ini. Dia juga belum mau tidur bareng. Gimana kalau Bumi khilaf?
"Sana langsung ke kamar Ibu. Gak dikunci." Bumi enggan menatap langit lama. Dia lagi mengendalikan dirinya.
"Ya udah. Gue ke kamar Ibu."
Dia mengangguk saja. Begitu Langit menyingkirkan dari pintu kamar mandi, Bumi langsung masuk dan menutup pintu. Ia
Mengusap wajahnya.
Langit makin cantik tanpa hijab.
Dan dia hampir tergoda.
Ini gak bisa!
Di luar sana, Langit yang menatap pintu tertutup itu malah mengira Bumi masih marah. Dia sampai menghela nafas.
"Kualat gue gak nurut. Diketusin gak tuh." Bibirnya manyun. Langit lalu keluar kamar karena matanya udah ngantuk. Sudah larut dan jam tidurnya sebenarnya itu jam 10 malam. Begitu rebahin badan, dia langsung terlelap.
Beda dengan Langit. Bumi yang selesai mencuci muka dan gosok gigi, kala merebahkan tubuh di atas kasur matanya malah enggan terlelap, yang terbayang malah Langit.
Ada apa dengannya?
Tadi kesal karena Langit dilihatin banyak orang. Dekat pula sama Alden.
Sekarang dadanya berdegup kencang.
Apa yang terjadi dengannya?