Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: RAHASIA YANG DIPENDAM MIKO
Bab 19: Rahasia yang Dipendam Miko
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah-celah jendela kamar belakang rumah Miko terasa begitu hangat, namun tidak mampu mencairkan suasana kaku yang mendadak terbangun di antara dua remaja di dalamnya. Revan sedang sibuk merapikan kerah seragam putih-abunya di depan cermin kecil yang menggantung di dinding. Gerakannya tampak santai, bahkan sesekali ia bersiul kecil, memperlihatkan suasana hatinya yang sedang sangat bagus setelah berhasil mengantongi gaji pertamanya kemarin.
Sementara itu, di atas kasur busa tipis di sudut kamar, Miko duduk termenung dengan kedua tangan yang saling bertautan erat. Matanya tidak beralih dari punggung Revan, namun pikirannya melayang jauh pada memori semalam—pada sosok seorang ayah yang menangis tergugu di depan pagarnya sembari menyerahkan beberapa lembar uang lecek yang kini tersimpan rapi di dalam laci meja belajarnya.
"Mik, lo kenapa sih dari subuh tadi bengong mulu? Kesambet setan bengkel lo?" celoroh Revan, membalikkan tubuhnya sembari menyampirkan tas ranselnya ke sebelah bahu.
Miko tersentak kecil, buru-buru mengubah posisi duduknya untuk menyembunyikan kegugupan. "Ah? Enggak... enggak apa-apa, Van. Gue cuma... agak kurang tidur aja semalam gara-gara ngerjain tugas sosiologi."
Revan mendengus remeh, berjalan mendekati meja belajar Miko lalu menepuk bahu sahabatnya itu dengan bangga. "Makanya, gak usah terlalu ambis kayak anak-anak kelas sebelah. Hidup itu dibawa santai aja. Nih, liat gue," Revan merogoh saku celananya, mengeluarkan sisa uang empat ratus ribu rupiah hasil keringatnya di bengkel lalu mengipas-ngipaskannya di depan wajah Miko dengan senyuman sombong. "Gue gak perlu dapet nilai ceper atau sertifikat olimpiade buat bisa megang duit segini banyak. Seminggu kerja di Cak To, gue udah bisa beli sepatu baru, bisa jajan sendiri. Tanpa bokap-nyokap gue pun, gue terbukti bisa bertahan hidup, Mik!"
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Revan, dada Miko mendadak terasa begitu sesak, seolah-olah ada bongkahan batu besar yang menghimpit saluran pernapasannya. Ada rasa perih yang teramat sangat menyengat di hatinya.
Lo gak tahu apa-apa, Van... batin Miko, sepasang matanya menatap lekat-lekat ke arah lembaran uang di tangan Revan. Lo ngerasa hebat bisa dapet duit segitu, padahal semalam bokap lo dateng ke sini dengan tubuh yang hampir roboh cuma buat nitip duit belanja buat lo. Bokap lo kerja rodi sampai subuh demi abang lo dan lo, tapi lo di sini malah nyombongin diri dan ngutuk mereka.
Rahasia itu terasa begitu besar dan berat, seolah-olah siap meledak dari dalam dada Miko kapan saja. Bibir Miko bergetar hebat. Ada dorongan yang sangat kuat di dalam dirinya untuk mencengkeram kerah baju Revan, mengguncang tubuh sahabatnya itu, lalu berteriak tepat di depan wajahnya: "Bokap lo gak salah, Van! Uang itu diambil buat bayar rumah sakit Arka yang sekarat! Lo benci orang yang salah!"
Namun, Miko teringat akan tatapan mata memohon dari Ayah Revan semalam. Kilasan air mata di pipi pria paruh baya itu dan kalimat penuh keputusasaan yang diucapkannya kembali terngiang-ngiang jelas di kepala Miko.
"Jangan pernah bilang kalau uang ini dari Om, Mik. Kamu tahu sendiri kan gimana gengsinya anak itu? Kalau dia tahu ini dari Om, dia pasti bakal buang uang ini ke tempat sampah..."
Miko menelan ludahnya dengan susah payah, memaksa suaranya untuk tetap stabil di tenggorokan. Jika dia nekat membongkar rahasia itu sekarang, dengan ego Revan yang sedang tinggi-tingginya dan rasa sakit hatinya yang belum sembuh, Revan pasti akan mengamuk. Cowok keras kepala itu kemungkinan besar akan langsung angkat kaki dari rumah Miko malam ini juga, dan luntang-lantung di jalanan tanpa ada satu pun orang yang bisa memantau kondisinya. Miko tidak ingin itu terjadi. Dia terikat janji pada seorang ayah yang kini tengah mempertaruhkan sisa fisiknya di luar sana.
"Van..." panggil Miko akhirnya, suaranya terdengar agak lirih.
Revan yang sedang memasukkan kembali uangnya ke dalam dompet menoleh. "Apaan?"
"Lo... lo gak ada niatan buat pulang sebentar gitu? Maksud gue, cuma buat mastiin kondisi di rumah lo gimana. Bagaimanapun juga, mereka itu tetep orang tua lo, Van," pancing Miko berhati-hati, matanya menatap tajam, mencari celah keraguan di sepasang mata Revan.
Namun, binar di mata Revan seketika meredup, berubah menjadi dingin dan datar dalam sekejap mata. Sudut bibirnya berkedut sinis. "Pulang? Buat apa, Mik? Buat ditampar lagi sama Ibu karena dituduh nyuri uang yang gak pernah gue sentuh? Atau buat dengerin Ayah yang selalu ngebanding-bandingin nilai rapot gue sama prestasi si anak emas?" Revan mendengus hambar, menyampirkan tasnya dengan lebih mantap. "Rumah itu bukan tempat gue pulang. Tempat gue sekarang ya di sini, di bengkel, di jalanan. Di sana gue dihargai karena kerja keras gue, bukan karena seberapa pintar gue akting sakit di atas kasur."
Miko mengepalkan tinjunya di bawah kolong meja, menahan gejolak emosi yang membuat dadanya naik-turun dengan cepat. Rasa bersalah yang teramat sangat besar mulai menggerogoti hati Miko. Dia merasa seperti seorang penjahat yang sedang membiarkan sahabatnya sendiri berjalan menuju tepi jurang kehancuran tanpa mau menarik tangannya. Miko tahu betul, jika terus seperti ini, jika waktu yang mematikan itu tiba, Revan akan menjadi orang yang paling hancur di dunia ini karena keterlambatan sebuah kebenaran.
"Ya udah lah, yuk berangkat. Tar kita telat masuk kelas," ajak Revan memecah keheningan, menepuk punggung Miko sekali lagi sebelum melangkah keluar dari kamar lebih dulu.
Miko berdiri dari kursinya dengan langkah yang terasa sangat berat. Sebelum melangkah menyusul Revan, ia membuka laci mejanya sebentar, menatap bungkusan uang dari Ayah Revan yang masih tersimpan utuh di sana. Sebuah dilema besar kini resmi mengunci batin Miko. Dia harus menyimpan rahasia berdarah ini sendirian, menyaksikan Revan yang terus melangkah penuh kesombongan di atas penderitaan rahasia keluarganya, tanpa pernah tahu bahwa sisa waktu yang dimiliki keluarga Dirgantara untuk meluruskan semuanya kini sudah berada di titik nadir, bersiap menuju malam tragedi yang akan merubah seluruh alur hidup mereka selamanya.
bersambung....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...