Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14- Satu kamar
Satu Kamar
Perjalanan menuju Bandung berlangsung lebih tenang setelah Mona tertidur di bahu Wira. Awalnya pria itu berniat membangunkannya, namun setiap kali melihat wajah damai Mona yang tertidur pulas, niat itu selalu urung. Sampai akhirnya…
“Mona.”
“Mmhh…”
“Kita sudah sampai.”
Mona membuka mata perlahan. Butuh beberapa detik sampai otaknya kembali sadar sepenuhnya. Lalu… ia langsung membeku karena kepalanya masih bersandar di bahu Wira dan lebih parah lagi… tangannya tanpa sadar memegang lengan pria itu erat-erat.
Deg
Mona langsung menjauh secepat kilat.
“YA AMPUN!” pekik Mona.
Sopir di depan sampai kaget. Wira sendiri hanya mengusap pelan bahunya yang tadi jadi sandaran.
“Kamu tidur seperti orang pingsan.”
“Kenapa Bapak nggak bangunin?!”
“Kamu ngiler.”
Wajah Mona langsung merah padam.
“Saya nggak mungkin ngiler!”
Wira menatap bahunya sebentar, lalu tanpa bicara menunjukkan bekas kecil di jasnya. Mona hampir mati karena malu.
“Maaf… maaf banget…”
Anehnya, Wira justru terlihat ingin tertawa dan itu membuat Mona makin stres.
“Turun,” ujar Wira akhirnya.
Mona buru-buru turun dari mobil sambil menutupi wajahnya sendiri. Hotel tempat meeting mereka berlangsung ternyata sangat mewah. Bangunan tinggi dengan dominasi kaca itu berdiri megah di tengah kawasan elit Bandung.
Mona langsung gugup lagi. Ia merasa terlalu biasa berada di tempat seperti ini, namun Wira berjalan santai seperti selalu.
“Jangan bengong.”
“Iya…”
Begitu masuk lobby hotel, beberapa staf langsung menyambut hormat.
“Selamat datang, Pak Wira.”
“Meeting dimulai jam satu siang,” ujar salah satu panitia.
Wira mengangguk singkat.
“Kunci kamar saya?”
“Sudah siap, Pak.”
Mona menerima kartu kamar sambil membaca nomor yang tertulis. Lalu mengernyit bingung.
“Pak…”
“Apa?”
“Kenapa kamarnya satu?”
Langkah Wira berhenti. Panitia hotel langsung pucat.
“Ma-maaf Pak! Karena jadwal mendadak dan hotel sedang penuh, suite tersisa hanya satu…”
Mata Mona langsung melebar.
Suite?
Satu?!
“Saya bisa tidur di lobby,” ucap Mona cepat.
“Jangan berlebihan.”
“Tapi satu kamar—”
“Itu suite.”
“Memangnya beda?”
Panitia hotel buru-buru menjelaskan.
“Ada dua ruangan tidur terpisah, Bu.”
Mona akhirnya sedikit lega. Sedikit, namun tetap saja… itu masih terdengar sangat berbahaya.
***
Begitu masuk ke dalam suite, Mona langsung terpukau. Ruangannya luas. Sangat luas. Ada ruang tamu kecil, dapur mini, balkon, bahkan dua kamar tidur di sisi berbeda.
“Ya Tuhan…” gumam Mona pelan.
Wira melirik sekilas.
“Kampungan.”
“Saya memang rakyat biasa, Pak.”
Anehnya, Wira malah tersenyum tipis mendengar jawaban itu.
Mona mulai sadar, belakangan ini pria itu jadi lebih sering tersenyum di dekatnya dan itu masalah besar karena Mona jadi makin sulit menjaga hati.
“Meeting jam satu,” ujar Wira sambil membuka jasnya. “Istirahat dulu.”
“Oke.”
Mona segera masuk ke kamar tidurnya sendiri. Begitu pintu tertutup, ia langsung menjatuhkan diri ke kasur sambil memekik pelan ke bantal.
“MONA SADAR DIRI!”
Namun semakin ia mencoba mengingatkan dirinya sendiri… semakin sulit juga mengabaikan perasaannya.
***
Siang harinya meeting berjalan cukup lancar.
Mona duduk di samping Wira sambil membantu presentasi proyek hotel baru mereka, namun di tengah meeting… salah satu investor asing tiba-tiba tersenyum ke arah Mona.
“Your secretary is very beautiful, Mr. Wira.”
Mona langsung salah tingkah.
Sementara Wira menjawab datar, “I know.”
Jawaban itu membuat seluruh ruangan tertawa kecil dan Mona langsung menoleh tidak percaya.
Pak Wira habis ngomong apa barusan?!
Namun pria itu tetap terlihat tenang seolah tidak mengatakan hal mengejutkan. Setelah meeting selesai, Mona segera mengikuti Wira keluar ruangan.
“Pak!”
“Apa?”
“Kenapa jawab begitu?!”
“Karena itu fakta.”
Mona langsung diam. Selesai. Jantungnya benar-benar tidak aman hari ini.
***
Malamnya, setelah makan malam bersama klien selesai, Mona akhirnya bisa kembali ke hotel. Tubuhnya benar-benar lelah. Ia baru saja keluar dari lift ketika langkahnya mendadak goyah.
“Aduh…”
Wira langsung menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Sepatu saya…”
Tumit sepatu heels Mona ternyata lecet cukup parah hingga sedikit berdarah.
Wira mengernyit tajam. “Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Cuma lecet kecil.” Namun sebelum Mona sempat melangkah lagi…
Wira tiba-tiba jongkok di depannya.
“Hah?!”
“Diam.”
Pria itu memegang pergelangan kaki Mona hati-hati untuk melihat lukanya.
Mona langsung panik.
“Pak Wira! Orang-orang lihat!”
“Biarkan.”
Nada suaranya tenang, tapi justru itu yang membuat jantung Mona makin kacau. Beberapa tamu hotel memang mulai melirik ke arah mereka.
CEO terkenal yang dingin itu sekarang jongkok di depan seorang wanita sambil memeriksa kakinya. Kalau berita ini sampai keluar… habislah sudah, namun Wira sama sekali tidak peduli.
“Bisa jalan?”
“Bisa…”
“Bohong.”
Tanpa peringatan… Wira tiba-tiba mengangkat tubuh Mona.
“PAK WIRA?!” Mona refleks memegang bahu pria itu erat-erat karena kaget.
Princess carry.
Di lobby hotel.
Ya Tuhan.
Wajah Mona langsung merah total.
“Turunkan saya!”
“Kamu mau jatuh?”
“Tapi malu!”
“Berisik.”
Beberapa orang mulai berbisik heboh sambil diam-diam mengambil foto, namun Wira tetap berjalan tenang menuju lift sambil menggendong Mona seolah itu hal biasa dan sepanjang hidupnya… belum pernah Mona merasa jantungnya seberisik malam ini.
***
Begitu sampai di suite, Wira menurunkan Mona perlahan di sofa.
“Tunggu.”
Pria itu mengambil kotak P3K hotel lalu duduk di depan Mona.
Mona langsung gugup lagi.
“Pak… saya bisa sendiri.”
“Tutup mulutmu sebentar.”
Dengan hati-hati, Wira membersihkan luka lecet di kaki Mona. Gerakannya pelan, sangat hati-hati, sampai Mona sendiri tidak menyangka pria setegas itu bisa memiliki sisi selembut ini.
“Perih?”
“Sedikit.”
Wira mengangkat wajahnya perlahan dan untuk beberapa detik… tatapan mereka bertemu terlalu dekat. Suasana mendadak berubah hening. Sangat hening. Jantung Mona mulai tidak terkontrol, sementara Wira sendiri terlihat menatapnya terlalu lama.
“Mona.”
“Iya…”
“Kamu tahu apa yang paling saya benci akhir-akhir ini?”
Mona menggeleng pelan.
Wira tersenyum tipis. Namun kali ini senyumnya terlihat lelah.
“Perasaan saya sendiri.”
Deg
Dan sebelum Mona sempat memahami maksud kalimat itu… tiba-tiba terdengar suara notifikasi ponsel Wira. Pria itu langsung berdiri dan mengambil ponselnya. Ekspresinya berubah dingin seketika.
Mona mengernyit bingung.
“Kenapa?”
Wira menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Sandra pulang ke Indonesia.”