Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 Tidak Akan Menceraikan
Sepanjang Arash berbicara ditatap oleh Shafiya. Sungguh Shafiya sebenarnya tidak mengerti apa yang dikatakan pria di sebelahnya itu seolah-olah benar-benar sangat menginginkan dirinya.
"Apa maksudmu Arash!" Zidan tidak terima dengan pernyataan itu dan dengan penuh emosi mencengkram kerah baju Arash.
"Kau katakan sekali lagi ucapanmu itu!" tegas Zidan dengan menekan suaranya.
"Mau yang mana yang harus diulang? aku tidak akan menjatuhkan talak atau apa lagi?" jawab Arash dengan santai.
Brukkk
Zidan langsung melayangkan satu pukulan ke wajah Arash semua orang kaget, tetapi genggaman tangan itu tidak lepas.
"Kau bajingan? Apa yang kau lakukan hah!"
"Kau ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
"Lepaskan tangannya!"
Zidan sudah tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang tampak lemas dia tetap berusaha untuk melepaskan genggaman tangan pasangan suami istri itu. Semua orang semakin panik dengan kekacauan yang terjadi.
Ketika tangan mereka berdua terlepas, Arash ternyata membalas pukulan itu. Shafiya kaget dengan pertengkaran besar-besaran yang terjadi di depannya.
Kedua laki-laki itu seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.
"Hentikan semuanya!" bentak Thoriq akhirnya berhasil menghentikan kedua anak muda itu ketika dipisahkan oleh Laina dan juga Saras.
"Kalian benar-benar memalukan!" bentak Thoriq.
Arash terlihat begitu santai dengan mengusap darah di ujung bibirnya, bahkan masih sempat-sempatnya tersenyum.
"Om, saya tidak akan melakukan tindakan ini jika dia tidak memulai duluan, saya tidak pernah mengkhianati pernikahan ini dan saya hanya meminta dia untuk menjatuhkan talak kepada Shafiya!" tegas Zidan mencari pembelaan dari calon mertuanya.
"Lalu kau mau apa jika aku tidak melakukannya? Aku tidak mungkin menceraikan seorang wanita yang baru saja aku nikahi. Zidan aku mengenalmu sebagai laki-laki yang sangat fasih dalam beragama, tetapi kenapa penalaranmu begitu sempit, itu sama saja kau ingin mempermainkan janji suci pernikahan hanya karena keegoisanmu!" tegas Arash.
"Kau mengatakan aku egois, kau mengambil kesempatan untuk menikah dengan calon istriku di saat aku tidak ada di sini!" tegas Adam.
"Aku hanya menawarkan pertolongan untuk menyelamatkan dua nama keluarga yang nyaris hancur karena perbuatanmu, semua orang yang ada di sini menjadi saksi tidak ada paksaan yang aku lakukan dan justru wanita yang kau sebut sejak tadi sebagai calon istri menyetujui semuanya!" sahut Arash.
"Sudah-sudah cukup, Zidan semua ini sudah terlanjur dan Om saat ini bukan berpihak kepada siapapun, tetapi keputusan pernikahan itu tentang bagaimana perpisahan dan tentang apa yang harus diambil itu bisa diserahkan kepada Arash dan juga Shafiya!" tegas Thoriq yang juga tidak bisa mengambil keputusan apapun.
"Saya tekankan kepada semua orang yang ada di sini, saya tidak akan membatalkan pernikahan atau menjatuhkan talak kepada Shafiya!" tegas Arash kembali.
"Bukankah semua acaranya sudah selesai dan kita juga sudah mendengar penjelasan dari pelaku utamanya, jadi saya sudah waktunya pergi dan membawa istri saya!" lanjut Arash tidak lupa kembali menggenggam tangan Shafiya ingin membawanya pergi tetapi langkah itu tertahan membuat Arash melihat ke arah Shafiya.
"Ada apa? Apa kau juga akan memintaku untuk menceraikanmu?" tanya Arash dengan menaikkan satu alisnya.
"Beri saya waktu untuk mencerna semua yang terjadi, ini terlalu cepat bagi saya," ucap Shafiya dengan suara berat.
Bahkan sejak tadi mulutnya terkunci seolah-olah tidak tahu harus berbicara apa, sesungguhnya Shafiya hanyalah korban.
"Tidak lebih dari 24 jam, setelah itu aku akan datang kembali untuk membawamu," ucap Arash dengan suara dingin ternyata masih memberi kesempatan.
Pria tampan itu melepas genggaman tangannya dan merapikan pakaiannya, saling bertatap tajam dengan Zidan dan kemudian langsung meninggalkan ruang tamu tersebut.
"Shafiya kamu harus membatalkan pernikahan ini, kita sudah memiliki impian untuk menjalin pernikahan dan membentuk keluarga, semua keputusan ada di tangan kamu!" Zidan masih mengharapkan Shafiya akan menjadi istrinya.
Shafiya ternyata tidak bisa memberi keputusan apapun dan berlalu dari hadapan semua orang. Dia sendiri membutuhkan waktu untuk menenangkan diri atas apa yang terjadi.
******
Arash berada di dalam mobil dengan menyetir dengan kelajuan cukup tinggi.
"Ini...." Amelia memperlihatkan foto kepada Arash di saat mereka berada di ruang tamu.
"Siapa gadis ini?" tanya Arash.
"Calon istri Zidan," jawab Amelia.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Arash.
"Takdir yang menghubungkan semuanya, meski sudah terpendam selama 5 tahun, tetapi takdir tidak ingin semua ini terkubur bersama dengan Chantika," jawab Amelia.
"Maksud Tante?" tanya Arash.
"Shafiya Adelia Putri merupakan putri semata wayang dari Thoriq Muhammad dan Laina Hapsari, orang-orang yang dikenal dermawan, terlihat dari paras wajahnya sangat teduh, panutan banyak orang untuk menuju surga, selalu membimbing orang-orang, dengan semua kepalsuan yang ditutupi dengan tidak bertanggung jawab atas kematian gadis 20 tahun yang ditinggalkan begitu saja setelah nyawanya dihabisi," jawab Amelia.
"Jadi...."
"Benar, bukankah mereka sampai kapanpun harus tetap bertanggung jawab atas kematian Chantika?" tanya Amelia.
Arash meremas foto tersebut dengan penuh dendam, dia kembali mengingat bagaimana calon istrinya tertabrak di depan matanya ada yang ditinggalkan begitu saja tanpa adanya pertolongan.
"Jika mereka pergi begitu saja dan tanpa memiliki belas kasihan sedikitpun kepada gadis yang tidak berdosa itu dan bukankah seharusnya mereka akan menerima jika siapa yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," ucap Amelia.
"Aaaaaaa!" Arash memukul setir mobil dengan teriakan yang cukup kencang.
Wajah tampan itu mau merah dengan mata berkaca-kaca, bagaimana tidak jika kembali mengingat insiden as yang terjadi pada calon istrinya.
Arash bersama Amelia tak lain adalah ibu dari Chantika saat ini memang mengatur rencana untuk membalaskan dendam atau kematian Chantika yang tidak mendapat keadilan.
Shafiya ternyata menjadi korban dan siapa sangka Arash mengambil kesempatan dalam ikatan yang terjadi di pernikahan itu adalah sebuah jalan untuk membalas dendam kepada Shafiya.
"Jika kau pergi dan tidak merasa berdosa sama sekali ketika melihat wanita yang aku cintai tergeletak, maka tidak akan masalah bagimu jika melihat nyata bagaimana penderitaan putrimu berada di tanganku," batin Arash dengan mendengus kasar.
Dalam keadaan seperti itu dia masih sempat tersenyum, senyum terlihat begitu lirih, pria yang benar-benar sangat sakit hati dan seolah-olah menertawakan dirinya karena tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu.
***
Shafiya berada di dalam kamar sedang melaksanakan sholat malam. Hari bahagia yang dia impikan dalam pernikahannya ternyata tidak sesuai harapan. Shafiya saat ini hanya bisa mengadukan semua kepada sang pencipta.
"Ya Allah, sungguh saat ini hamba tidak mengerti apa maksud dari semua ini? Mengapa ya Allah begitu cepat jalan ini engkau berikan, posisi hamba saat ini sudah menjadi istri dari pria asing, perasaan hamba tidak tenang seolah-olah ada sesuatu yang ingin hamba tunggu jawabannya,"
"Hamba merasa ini bukan sebuah kebetulan, hamba merasa ada sesuatu hal semua kejadian ini?"
"Ya Allah, sekarang hamba tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menyerahkan semua kepadamu, engkau Yang maha mengetahui, engkau berikan kedamaian hati dan ketenangan bagi hamba untuk menjalani semuanya,"
Shafiya hanya bisa meminta pertolongan kepada sang penciptanya, benar-benar pasrah dan menyerahkan semuanya. Shafiya menutup doanya dengan Amin dan menutup cukup lama wajahnya, di balik tangan yang menutupi wajah itu tampak air mata berderai.
Bersambung....