Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Mungkin Tidak Bisa
“Saya izin mau pulang kampung.” Raut wajah Ayu tegang, menghindari tatapan Arvin.
Arvin tidak langsung merespon. Pandangannya berpaling sejenak sembari menghela napas dalam.
“Semua pakaian dan barang-barangmu sudah dikemas?” tanyanya kemudian, datar dan dingin.
Ayu mengangguk cepat.
“Untuk urusan surat cerai gampang. Kita bisa urus belakangan.”
Sebelah tangan Ayu mempererat genggaman tangannya pada gagang koper.
“Saya permisi,” pamit Ayu, pelan.
Mata Arvin berkedip pelan, isyarat mengizinkan.
Ayu cepat-cepat balik badan, berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar berlalu, Ayu menoleh pelan dan mengatakan sesuatu.
“Saya … benar-benar tidak ada tujuan untuk menghancurkan bisnis bapak. Saya akui saya yang salah. Semoga bisnis bapak diganti rezekinya dengan yang lebih baik. Sekali lagi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.”
Setelah menyampaikan itu, Ayu benar-benar pergi. Sementara Arvin, dia tetap terlihat datar dengan dua tangan masih bersarang di dalam dua kantong celananya.
Setelah memastikan Ayu sudah melangkah keluar dari pintu, baru dia berbalik badan, pergi mengambil penyapu dan sekop, dan mulai bersih-bersih.
Di sebuah terminal bus di pusat kota, Ayu duduk di kursi panjang di ruang area tunggu bersama para calon penumpang lain.
Satu jam lagi bus jurusan yang melewati daerah tempat desanya akan berangkat. Air mata Ayu mengalir di pipinya saat kembali mengingat betapa murka dan kasarnya Arvin kemarin. Mengingatnya saja membuat kulit putih bersihnya merinding.
Akan tetapi, Ayu rupanya juga nampak bimbang.
Jari-jari tangan Ayu bergerak gelisah. Mencari-cari pegangan agar tidak berdiri dan bergerak menuju bus yang sudah terparkir di area luar sana.
Ayu masih belum ingin berpisah.
Cinta Ayu kepada Arvin masih membutakannya.
Padahal dia sudah mengalami kasarnya tangan Arvin, tapi seakan separuh jiwanya belum jera, Ayu justru masih sempat-sempatnya merindukan pria itu.
Arvin yang dingin.
Arvin yang juga bisa meledak berapi-api.
Sosok pria yang bahkan tadi sangat gampang melepas Ayu begitu saja. Bahkan orang itu berkata ‘Urusan surat cerai gampang. Kita bisa urus belakangan,’ itu saja masih belum cukup membuat Ayu sepenuhnya tersadar kalau suaminya itu tak pernah menganggap dirinya berharga.
Dianggap beban dan b o d o h, iya.
Selain itu, rupanya Ayu juga bingung dan takut melihat reaksi ibu dan bapaknya di kampung nanti jika tahu putrinya akan bercerai dengan Arvin.
“Ibu sama bapak pasti bakalan sedih dan kecewa. Aku harus gimana?” gumam Ayu, menyeka air matanya di pipi dengan tisu.
Ayu yang tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah terlanjur bahagia melihat putrinya menikah dengan Arvin, kemudian mendapat ide untuk mencari nomor kontak Cintia saja. Si teman dekatnya itu.
“Mungkin aku bisa tinggal di kosan Cintia untuk sementara waktu sembari memikirkan rencana kedepannya,” harapnya sembari menggeser layar HP.
Ketika sudah menemukan nama Cintia di layar HP dan hendak menekan tombol ‘hubungi, ibu jarinya tertahan. Ayu berfikir ini bukan ide bagus.
Dia mengenal baik Cintia. Sahabatnya itu sejak awal tidak mendukung Ayu menikah dengan Arvin karena si CEO itu dicap tidak cocok dengan Ayu.
“Aku pasti bakalan terus-terusan diceramahi saat dia tahu aku akan bercerai dengan pak Arvin. Males dengerin!”
Ayu menggeser layar HP-nya lagi, terus ke bawah. Lalu terhenti ketika menangkap nama Hendrik Pradipta. Kakenya Arvin.
“Apa tidak apa-apa kalau aku minta solusi ke kakek?”
Cukup lama Ayu menimbang-nimbang, sampai ibu jarinya mantap menekan nama itu.
Sementara itu, di dalam salah satu puncak gedung pencakar langit, Alden berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja Arvin.
Kakak sepupu Arvin itu beraut kesal bercampur kecewa setelah mendengar curhatan Arvin soal Ayu.
“Kenapa kamu malah biarin dia pulang kampung, Vin!?” Alden terus mondar-mandir sambil berkacak pinggang, di depan meja Arvin.
Arvin yang duduk di kursi CEO-nya menatap malas sembari memangku pelipis. “Biarin aja Kak. Dia memang perempuan tidak berguna.”
“Ya ampun. Seharusnya kamu tidak perlu sampai bertindak sekasar itu. Dia pasti sangat ketakutan menghadapi orang sepertimu!”
Alden berhenti melangkah. Tangan sebelahnya memijat-mijat kening, tak percaya ucapan Arvin sekasar ini.
“Kenapa Kaka malah kasihan sama dia? Gara-gara Ayu, surat perjanjian kerjasama kita untuk proyek besar hilang!”
Bahu Alden tersentak heran. “Kamu kan bisa membuatnya lagi. Toh investor kita bisa sabar menunggu. Mereka sampai sekarang tetap setia!”
“Halah!”
Arvin menyambar pulpennya lalu memutar badan ke belakang.
Jari-jari tangannya mulai memutar-mutar pulpen mahalnya dengan mata tetap fokus ke depan, memandang dingin gedung-gedung kota di balik dinding kaca.
“Sudahlah jangan bicara itu. Masih banyak pembahasan lain yang lebih penting!”
Dengan raut lelah dan kepala menggeleng pasrah, Alden berjalan pelan menuju sofa.
Pria berwajah sedikit bercirikhas ala timur tengah itu, menghempaskan tubuh ke sofa lalu menyesap segelas whi s ky.
“Arvin … aku bukannya mau ikut campur dengan urusan rumah tanggamu. Tapi aku hanyal ingin bilang, jemputlah Ayu, ramah lah ke dia, meski kamu belum bisa menerima Ayu sebagai istrimu.”
“Aku tidak punya alasan untuk bisa bersikap baik ke dia.”
“Kau bisa! Dia istri yang baik dan penyebar. Dia tahan menghadapi sifat aroganmu dengan sangat lapang dada. Wanita lain mungkin tidak akan sanggup.”
Arvin menyeringai, sementara Alden mulai meneguk habis minumannya.
“Kau tahu. Dia bahkan rela meneleponku hanya untuk bertanya apa makanan favoritmu.”
“Masakannya tidak akan membuat surat perjanjian kerjasama yang ia hilangkan kembali!”
“Arvin!” Alden memanggil panjang. Lebih tepatnya sedikit ada nada bentakan.
Arvin lantas memutar badan, kembali menghadap Alden dengan raut tidak suka dengan nada panggilan itu.
Alden yang sudah malas terus berdebat dengan Arvin mengganti wajahnya dengan raut simpati.
“Kau beruntung dijodohkan dengan Ayu, dibandingkan dengan mantanmu dulu yang kabur menikah dengan laki-laki lain, aku rasa Ayu lebih baik.”
Arvin bersedekap. “Oh, Jadi sekarang kaka akan memulai bahas Aurelia lagi?”
Alden bangkit, melangkah mendekati Arvin.
Dia menepuk bahu Arvin pelan. “Please move on dan lupakan kenangan pahit masa lalu. Kalau bukan karena Ayu, kamu tidak akan mendapatkan gelar CEO seperti sekarang.”
Tanpa menghiraukan alis Arvin yang berubah menaut tajam, Alden buru-buru pergi menjauh.
Alden sempat berseru sebelum hilang di balik pintu, “move on!”
Arvin buang muka kesal, Terdiam sejenak
Tak ingin terpengaruh dengan ucapan kakak sepupunya, ia menghidupkan layar laptop kembali.
Baru mau menyambung tugas, sebuah pesan masuk ke HP-nya.
Arvin membaca pesan itu.
Bugh!
Arvin memukul meja keras.
Pesan itu rupanya dari sang kakek.
Isi pesan:
[Kamu apakan Ayu? Ke rumah kakek sekarang!]
Rahang Arvin mengeras seperti batu.
“Ayuu!” ucapnya geram.