Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Almamater
Mobil yang mereka sewa berhenti dengan halus di tempat parkir sebuah resor mewah di kawasan Uluwatu. Shane turun terlebih dahulu, memberikan tangannya pada Aiena yang tampak sedikit lelah setelah penerbangan tadi.
Setelah menurunkan barang-barang bawaan dan memberikannya pada petugas yang membantu membawakan hingga ke kamar, Shane melangkah menuju meja resepsionis sementara Aiena berdiri di sampingnya.
Aiena menyapu pandang seluruh ruangan dengan sedikit gugup. Pikirannya melayang pada pengakuan di pesawat tadi, memori kelam tentang Bali dan Haze masih menyisakan rasa was-was di hatinya.
“Ini kunci kamar Anda, Pak Shane,” ujar staf resepsionis sambil menyerahkan dua kartu akses.
Shane mengambil keduanya, lalu berbalik ke arah Aiena. “Ayo, aku antar ke kamarmu dulu. Letaknya di sayap kanan, menghadap langsung ke arah tebing.”
Aiena mengikuti langkah Shane menyusuri lorong terbuka yang asri. “Tunggu, Shane. Kamu bilang kamarmu? Maksudnya kita nggak…” Aiena menggantungkan kalimatnya, tidak berani melanjutkan.
Shane berhenti di depan sebuah pintu kayu ukir yang elegan. Ia menempelkan kartu akses hingga terdengar bunyi klik pelan, lalu membukanya. “Ini kamarmu, Na. Kamarku ada di seberang, nomor 402.”
Aiena terpaku di ambang pintu. Ia menatap interior kamar yang luas dengan ranjang king size yang tertata rapi, lalu beralih menatap Shane yang berdiri santai di hadapannya. “Kamu... kamu pesan dua kamar terpisah?”
“Iya. Biar kamu bisa istirahat tenang, nyaman.”
Aiena merasakan matanya memanas. Ia melangkah maju, meraih lengan Shane. “Terima kasih, Shane. Jujur... aku sempat ngira kamu bakal manfaatin momen ini. Apalagi yang baru aja aku ceritain di pesawat, aku takut kamu mikir kalau aku wanita yang mudah buat diajak…”
“Hush,” potong Shane lembut. Ia meletakkan ujung jarinya di bibir Aiena sejenak, lalu menariknya kembali. “Aku bukan dia, Aiena. Aku sayang kamu, cinta kamu. Aku mau bangun cerita baru di Bali ini, cerita yang dimulai dengan rasa hormat.”
Aiena menghembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan. Beban yang menghimpit dadanya sejak keberangkatan tadi seolah luruh seketika. “Kamu benar-benar luar biasa. Aku sangat menghargai ini, lebih dari yang bisa aku ucapkan.”
Shane mengusap bahu Aiena singkat. “Iya, Sayang. Sudah semestinya. Tidur dulu, istirahat. MUA bakal datang dua jam lagi. Jangan pikirkan apa pun selain istirahatmu.”
Aiena mengangguk patuh. Ia masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu perlahan sambil menyandarkan punggungnya di sana. Di kamar yang sunyi itu, ia menyadari bahwa pilihannya untuk menerima lamaran Shane adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Ia kini berada di tangan pria yang tidak hanya mencintainya, tapi juga menjaganya dengan penuh martabat.
***
Tepat dua jam kemudian, ketukan teratur di pintu kamar membuyarkan kantuk Aiena. Begitu pintu dibuka, suasana tenang kamar itu seketika berubah menjadi studio mini yang sibuk. Seorang penata rias masuk membawa koper-koper kosmetik profesional, disusul oleh seorang wanita muda dengan gaya vintage yang menjinjing tas khusus berisi peralatan manikur.
“Kak Aiena, ya? Kenalin, aku Juwita. Aku yang bakal bertanggung jawab atas kuku-kuku cantik Kak Aiena hari ini,” sapa wanita itu ramah, sembari mulai menggelar peralatannya di atas karpet.
Aiena duduk dengan patuh, membiarkan wajahnya mulai dipoles oleh MUA pilihan Shane, sementara jemari tangannya diambil alih oleh Juwita. Dengan sangat teliti, Juwita mulai memasangkan kuku palsu yang elegan, kemudian memulai dengan lapisan base coat pertama.
“Kak, tahu tidak? Pak Shane itu cerewet sekali kalau soal detail,” Juwita memulai percakapan sambil fokus menggoreskan kuas kecilnya. “Dia pesannya harus yang elegan tapi tetap kelihatan manis di tangan Aiena. Tidak boleh norak, tapi harus terlihat menonjol di foto. Dulu padahal zaman di kampus, dia mah cueknya minta ampun.”
Aiena sedikit tersentak, membuat MUA yang sedang memoles wajahnya harus berhenti sejenak. “Juwita, kamu dulu satu kampus dengan Shane?”
Juwita terkekeh, kepalanya mengangguk tanpa melepaskan fokus dari kuku Aiena. “Iya, Kak. Aku juniornya di Fakultas Ekonomi Bisnis. Beda dua tahun di bawah dia. Dulu dia itu idola di kampus, senior yang paling disegani tapi juga paling susah didekati. Banyak yang naksir, tapi dia nutup pintu.”
Ketika nama universitas disebutkan, Aiena terdiam, rupanya ia dan sang calon suami merupakan lulusan universitas yang sama. Dalam kepalanya, Aiena mencoba menghitung rentang usia mereka. Ia tahu Shane kini berusia dua puluh sembilan tahun dan dirinya dua puluh lima tahun.
“Tunggu, kalau kamu beda dua tahun dengan dia, dan aku terpaut empat tahun dengan Shane... berarti waktu aku jadi mahasiswa baru, Shane masih ada di sana?”
“Waktu Kak Aiena masuk semester satu, Shane itu sedang sibuk-sibuknya garap skripsi di semester akhir. Dia baru lulus beberapa bulan setelah angkatan Kak Aiena masuk. Wah, jadi sebenarnya kalian itu satu almamater, ya?”
Aiena tertegun, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak semakin asing dengan riasan cantik.
“Aku malah nggak pernah tahu kalau kami satu kampus. Tapi anehnya... aku juga sama sekali nggak pernah lihat dia atau dengar namanya dulu.”
“Ya gimana mau ketemu, Kak,” seloroh juwita sambil mulai mengoleskan lapisan warna yang pertama. “Kak Aiena kan dulu nempel terus sama Haze. Seluruh kampus juga tahu kalau kalian itu pasangan yang nggak bisa dipisah. Ke kantin bareng, ke perpus bareng, saling tunggu juga di depan kelas. Ruang gerak jadi terbatas di radar Haze aja.”
Aiena mendesah pelan, ada rasa sesak yang kembali menyelinap. Benar apa yang dikatakan Juwita. Selama masa kuliahnya, dunianya hanya berputar pada Haze. Ia tidak pernah memperhatikan senior berprestasi seperti Shane karena matanya selalu dipaksa untuk hanya melihat satu arah.
“Beneran? Kalian tahu aku? Tahu Haze?” Yang tak pernah Aiena sangka adalah hingga kakak tingkat seperti Juwita mengetahui mengenai dirinya dan sang mantan pacar.
“Tau lah. Haze kan ganteng banget, dibawahku setahun kan. Asli, waktu maba, banyak yang naksir Haze. Tapi langsung pada patah hati setahun kemudian. Kalian tuh couple goals kampus.”
“Ya… tapi nyatanya nggak jodoh. Malah jodohnya sama yang di kampus nggak pernah ketemu.”
“Padahal kalau ketemu Pak Shane lebih awal, mungkin ceritanya bakal beda. Tapi ya sudahlah, jodoh memang nggak lari ke mana. Sekarang malah mau nikah, kan?”
Aiena hanya bisa tersenyum getir. Ia menyadari betapa banyak waktu yang ia lewatkan dalam penjara yang ia kira adalah cinta. Namun, melihat kuku-kukunya yang kini tampak indah dan siap menyambut masa depan, ia tahu bahwa meski terlambat, setidaknya ia sudah bertemu dengan senior yang selama ini terlewatkan oleh pandangannya.
***