NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16: Surat itu Untuk Kita

Hujan masih rintik-rintik di luar ketika Aini menyusuri koridor menuju kelas XII IPS 2. Urusan OSIS tadi hanya sebentar—lima menit—cuma memastikan properti upacara sudah dirapikan semua. Sekarang ia hanya ingin menemui teman-temannya sebelum pulang.

Langkahnya ringan. Pikirannya masih di akhir pekan lalu—di toko buku, di antara rak-rak buku fantasi, di samping seseorang yang ternyata menyukai buku yang sama dengannya.

Ia tersenyum sendiri.

Di depan pintu kelas XII IPS 2, ia berhenti. Tangannya mendorong daun pintu, dan ia masuk dengan senyum yang masih terpasang.

Lalu langkahnya melambat.

Pemandangan di depannya aneh. Di sudut kelas dekat jendela—di bangku Bima—keempat orang itu berkumpul dalam formasi yang tidak biasa. Bima duduk di bangkunya, kedua siku di atas meja, kepalanya sedikit menunduk. Di sekelilingnya, Elang, Faris, dan Azril berdiri melingkar—seperti benteng yang mengelilingi sesuatu yang rapuh. Elang di sisi kanan, tangan disilangkan di dada, wajahnya sulit dibaca. Faris di sisi kiri, notebook-nya terbuka tapi kosong, jari-jarinya diam di atas kertas. Dan Azril di depan, menghadap Bima, satu tangannya bertumpu di pinggir meja.

Suasana hening. Bukan hening biasa. Hening yang tebal, seperti udara sebelum badai. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang bicara.

"Eh... ada apa ini?" Aini menutup pintu pelan, alisnya bertaut. "Tumben pada diem semua. Biasanya Kak Bima yang paling heboh. Kok malah dikerubungin kayak gini?"

Keempatnya saling pandang—tatapan cepat yang Aini tidak bisa mengartikan. Faris menunduk, tangannya mulai bergerak di atas notebook. Azril menegakkan punggungnya, seolah baru sadar formasi mereka terlihat mencurigakan. Dan Elang... Elang menatap adiknya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Lalu ia angkat suara.

"Bima baru ditembak adik kelas."

"Hah?!"

"Makanya kita kaget. Gak nyangka ada yang suka sama dia."

Butuh dua detik untuk kata-kata itu meresap. Dua detik di mana wajah Aini berubah dari bingung menjadi terkejut, dari terkejut menjadi antara geli dan tidak percaya. Seseorang menyatakan perasaan pada Bima? Dan kakaknya yang biasanya pendiam yang mengumumkannya?

"Hah?! Serius, Kak? Kak Bima ditembak? Sama siapa? Cantik gak?" Aini langsung melangkah mendekat, matanya berbinar penasaran.

"Oi! Maksud lu apa ngomong kayak gitu, Lang?!" Bima mendongak, wajahnya merah padam, langsung keluar dari karakternya yang tadi murung. "Gini-gini gue ganteng kali!"

"Ganteng apaan? Muka lo merah kayak kepiting rebus," Elang membalas datar.

Faris menulis sesuatu di notebook-nya, lalu menunjukkannya pada Aini:

[Bima baru aja dapet surat cinta. Kita semua kaget. Makanya pada diem.]

Aini membaca, lalu menatap Bima dengan seringai lebar. "Wih, Kak Bima. Ternyata ada juga yang mau sama Kakak. Siapa? Cantik? Kelas berapa? Kok bisa sih dia suka sama Kakak?"

"Rahasia dong!" Bima menyilangkan tangannya, masih merah padam. "Gue gak bisa sebutin sembarangan. Nanti malu orangnya. Dan emang kenapa kalo dia suka sama gue? Gue kan—"

"Heboh? Cerewet? Gak bisa diem?"

"Itu... itu kan kelebihan gue!"

Aini tertawa. "Iya, iya. Terus isi suratnya apa?"

"Itu... itu..." Bima melirik Elang sekilas—cepat, hampir tidak terlihat. "Dia bilang suka sama gue. Katanya gue lucu, suka heboh sendiri, sama perhatian banget. Udah gitu aja."

"Kok Kakak malu-malu gitu sih? Tumben." Aini menaruh map OSIS di atas meja kosong di sampingnya, lalu mendekat. "Sini suratnya, Aini mau liat."

"Udah gue simpen di tas."

"Amplopnya juga?"

"Amplopnya..." Bima merogoh saku celananya. Amplop putih yang sudah terlipat kecil itu ia keluarkan. "Ini doang yang ada. Tapi kosong."

"Kosong?"

"Iya. Isinya udah gue simpen. Amplopnya doang yang masih ada. Buat... buat kenang-kenangan."

Aini tersenyum tipis. "Kenang-kenangan? Ternyata Kakak romantis juga ya. Aini kira cuma bisa heboh doang."

"Ya kali gue cuma bisa heboh doang. Gue punya hati juga kali."

"Ya, ya. Aini percaya." Aini tersenyum, lalu menoleh ke arah Azril. "Zril."

Azril yang sedari tadi diam menoleh. "Iya?"

"Akhir pekan nanti, kamu bisa bantuin aku gak?"

"Bantuin apa?"

"Temenin aku beli novel. Yang kemarin kita omongin di toko buku. Aku udah gak sabar," Aini berkata sambil tersenyum manis.

Belum sempat Azril menjawab, Bima sudah menyenggol lengan Elang dengan seringai lebar. "Wah, Lang. Adik lo ngajak Azril beli novel berdua. Ini sih udah kayak—"

"Bim." Azril memotong, telinganya mulai memerah.

"Kayak apa, Kak Bima?" Aini menoleh, alisnya terangkat.

"Kayak... kayak..." Bima menahan tawa. "Kayak orang yang mau—"

"Kayak orang yang hobi baca," Elang memotong datar. "Udah, Bim. Jangan godain mereka."

"Loh, gue kan cuma—"

"Hujannya udah reda." Elang menunjuk jendela. "Kita pulang."

Aini masih menatap Bima dengan ekspresi heran, tapi ia mengangguk. "Iya, Kak."

Bima masih menyeringai puas melihat Azril dan Aini yang sama-sama merah padam. Azril menatap lantai, satu tangannya mengusap tengkuk. Aini pura-pura sibuk mengambil map OSIS-nya, menyembunyikan wajahnya yang merona.

"Yaudah, kita semua pulang," Elang berkata sambil berjalan ke pintu. "Ai, ayo."

Aini mengangguk dan mengikuti kakaknya. Di depan pintu, ia menoleh dan melambai pada yang lain. "Kak Bima, Kak Faris, sama Azril hati-hati di jalan ya."

"Iya, Ai. Lo juga," jawab Bima.

Faris mengangguk sambil tersenyum kecil. Azril hanya mengangkat tangan sebentar.

Elang dan Aini keluar lebih dulu. Suara motor butut mereka terdengar menyala di parkiran, lalu meraung pelan menjauh.

Bima berdiri, meregangkan tubuhnya. "Yaudah, gue pulang duluan. Ris, lo ikut gue? Gue bisa anterin."

Faris menggeleng, lalu menulis di notebook-nya:

[Aku jalan kaki aja. Rumahku deket kok.]

"Oke, hati-hati ya."

Faris mengangguk, membereskan notebook-nya, lalu berjalan keluar kelas.

Tinggal Bima dan Azril di ruangan yang mulai gelap.

"Zril." Suara Bima berubah. Tidak lagi heboh. "Lo serius soal Pak Kevin?"

Azril mengangguk pelan. "Gue gak tau pasti. Tapi firasat gue ngerasa ada yang gak beres."

Bima menatap amplop putih yang masih terlipat di sakunya. "Kalo dia beneran terlibat... itu berarti Marcel bukan satu-satunya masalah kita."

"Gue tau."

Mereka berdua berdiri dalam diam. Di luar, langit masih mendung. Hujan sudah reda, tapi udara masih lembap dan dingin.

"Kita harus siap-siap," Bima akhirnya berkata. "Apapun yang terjadi."

"Kita hadapi bareng-bareng."

Bima tersenyum kecil. "Lo berubah, Zril. Dulu lo selalu diem. Sekarang lo yang ngomong 'hadapi bareng-bareng'."

Azril terkekeh. "Kan lo yang ngajarin gue."

Mereka berdua keluar kelas. Di gerbang sekolah, Bima menyalakan motornya. Sebelum melaju, ia menoleh ke Azril.

"Zril."

"Apa?"

"Makasih. Buat... percaya sama gue. Buat gak maksa gue cerita soal... soal nyokap gue dulu."

Azril menatapnya. "Lo cerita kalo lo siap. Itu yang penting."

Bima mengangguk. Lalu ia memacu motornya, melaju ke barat menuju rumahnya.

Azril mengayuh sepedanya ke selatan. Angin sore yang lembap menerpa wajahnya. Pikirannya masih berkecamuk—amplop putih, Pak Kevin, Dinda, Aini. Tapi di antara semua kekacauan itu, ada satu hal yang ia tahu pasti.

Mereka tidak sendiri.

...~•~•~•~...

Malamnya, ponsel Azril bergetar.

Sebuah grup chat baru. Dibuat oleh Elang. Nama grupnya: "Empat". Hanya ada empat anggota—Elang, Bima, Faris, dan Azril. Aini tidak diundang.

Elang: Kita pake grup ini buat ngomongin surat itu.

Bima: Oke.

Faris: Siap.

Azril: Gue masih mikirin kata-kata Pak Kevin.

Elang: Ceritain lagi. Detail.

Azril mengetik panjang. Setiap kata yang ia ingat dari percakapan pagi tadi ia tuliskan. Tentang ucapan selamat. Tentang pertanyaan soal keluarga. Tentang Dinda. Tentang "apapun untuk melindungi mereka."

Bima: Lo pikir dia ngancam lo?

Azril: Gue gak tau. Tapi caranya ngomong... Kerasa beda sih.

Faris: Pak Kevin ayahnya Marcel kan ya?

Elang: Iya.

Bima: Jadi lo pikir Marcel yang ngirim surat itu?

Elang: Mungkin. Tapi bisa juga bukan.

Faris: Suratnya pake tinta merah. Itu kayak ancaman serius.

Bima: Terus kita harus apa?

Jeda panjang. Tidak ada yang mengetik.

Lalu Elang mengirim pesan:

Elang: Kita tunggu. Kita liat. Kalo ada apa-apa, kita kumpul.

Azril: Di mana?

Elang: Rumah lo. Itu yang paling aman.

Bima: Setuju.

Faris: Aku juga.

Azril menatap layar ponselnya. Di luar, hujan sudah berhenti. Tapi mendung masih menggantung di langit malam.

Azril: Oke. Kita tunggu. Tapi mata kita harus tetap buka.

Elang: Pasti.

Bima: Selamat malam.

Faris: Malam.

Azril: Malam.

Ia meletakkan ponselnya. Di atas meja belajar, inhaler biru, pion catur, kacamata retak, dan teks pidato masih tergeletak seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Tapi entah kenapa, Azril merasa bahwa ketenangan ini tidak akan bertahan lama.

Di luar, langit malam masih diselimuti mendung. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan, menunggu hujan berikutnya turun. Dan di dalam kamarnya yang sempit, Azril menggenggam pion catur putih—pion yang hampir menjadi menteri, tapi belum sampai ke ujung papan.

Surat itu untuk kita, pikirnya. Dan akan kita hadapi bareng-bareng.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!