Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
DEG.
Jantung Lilian rasanya berhenti berdetak dan telinganya berdenging hebat "Apa? Tinggal... di Istana? Dengan Pangeran Kaelen?"
Lilian mencengkeram jok kereta sampai kuku-kukunya memutih "Tidak mungkin! Itu pasti bohong! Pangeran Kaelen membencinya! Dia hanya sampah cacat! Kenapa... KENAPA DIA YANG ADA DI SANA?! SEHARUSNYA AKU!"
Lilian berteriak histeris, menendang-nendang pintu kereta. Kebencian yang tadi berupa api kini meledak menjadi lava yang menghanguskan akal sehatnya. Bagaimana mungkin gadis yang selalu ia injak-injak kini tidur di atas sutra istana sementara dirinya baru saja keluar dari sel tikus?
"Pangeran itu gila! Dia pasti digoda dengan sihir hitam" Lilian menjambak rambutnya sendiri dan wajahnya yang kotor karena air mata terlihat sangat mengerikan "Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan memberitahu Kak Cassian! Ya Kak Cassian sangat hebat!"
Lilian menoleh ke arah Julian dengan mata melotot "Di mana Kak Cassian?! Kenapa dia tidak ada di sini?! Kalau Kakak pertama tahu perbuatan Elara dia pasti akan memenggal kepala gadis sialan itu tanpa ampun! Panggil dia pulang sekarang Kak Julian!"
Julian membuang muka merasa muak dengan histeria adiknya "Kak Cassian tidak bisa pulang Lilian. Dia sedang memimpin patroli di perbatasan Utara menggantikan posisi Ayah yang dicabut izin komandonya sementara oleh Raja gara-gara ulahmu"
Lilian tertegun "Perbatasan? Tapi... tapi dia harus menolongku!"
"Cukup Lilian!" bentak Duke Alaric hingga kereta itu berguncang "Gara-gara ulahmu kita semua merangkak di lantai istana tadi! Kakakmu sedang menebus kesalahan keluarga kita di tempat paling berbahaya sementara kau... kau hanya akan tinggal di rumah sampai Raja merasa kau sudah tobat!"
Lilian jatuh terduduk di lantai kereta. Dunianya runtuh, Kakak pertamanya yang paling ia andalkan jauh di perbatasan sementara musuh besarnya kini sedang bermanja-manja (dalam pikirannya) dengan pria impiannya di istana.
"Elara..." Lilian membisikkan nama itu dengan suara yang sangat rendah namun penuh dengan racun "Lihat saja. Kau mungkin punya Pangeran Mahkota sekarang. Tapi aku punya ribuan cara untuk membuatmu memohon kematian di tanganku sendiri. Aku bersumpah demi namaku... kau tidak akan pernah melihat musim semi berikutnya"
Di luar, kereta Astoria itu terus melaju menjauh dari istana membawa dendam yang lebih gelap dari malam yang mulai turun.
___
Malam telah jatuh sepenuhnya saat kereta kuda itu kembali berhenti di depan dinding tebing yang sama dengan yang mereka kunjungi pagi tadi. Namun kali ini tidak ada lagi rasa penasaran. Yang tersisa hanyalah rasa lelah yang menggelayuti pundak Elara dan kantuk yang luar biasa berat di mata Mina.
Begitu Kaelen merapalkan mantra pembuka, dinding batu itu memudar perlahan, menyambut mereka dengan pendaran cahaya biru dari kristal-kristal gua yang seolah bernapas. Udara di dalam gua terasa jauh lebih hangat dan segar dibandingkan hutan pinus yang membeku di luar.
"Kalian kembali lebih lama dari dugaanku" suara parau Kakek Zoff menggema saat mereka melangkah masuk ke halaman rumah kayu yang menyatu dengan dinding gua. Beliau berdiri di sana sambil memegang sebuah lentera kuno "Terjadi sesuatu di jalan?"
Kaelen membungkuk hormat "Sedikit gangguan Guru, tapi semuanya sudah diatasi"
Kakek Zoff mendengus dan matanya yang tajam melirik Elara yang masih memeluk kotak kayunya "Baguslah kalau belum jadi mayat. Elara, bawa pelayanmu masuk, Kaelen tugasmu sudah selesai. Pulanglah sebelum aku berubah pikiran dan menguncimu di luar"
Kaelen tersenyum tipis lalu menatap Elara untuk terakhir kalinya malam itu "Jaga dirimu. Aku akan kembali saat kau sudah bisa meledakkan satu bukit"
"Dih, jangankan bukit perasaanmu aja bisa aku ledakin Pangeran! Canda ya mwehehe, omong-omong, makasih sudah mengantarkan aku kesini pangeran" ucap Elara sambil tersenyum manis ke arah Kaelen.
Kaelen terdiam melihat senyum Elara dan matanya yang ikut tersenyum "Sama-sama, jika latihannya sudah selesai aku akan menjemputmu kembali. Semangat dan jangan menyusahkan Kakek Zoff" balas Kaelen sebelum akhirnya berbalik dan memacu keretanya keluar meninggalkan sunyinya lembah tersembunyi itu.
Kakek Zoff memimpin mereka masuk ke dalam rumah. Interiornya sangat unik, lantai kayu yang dipolish rapi dan furnitur yang tampak kokoh "Kamar kalian ada di atas. Satu kamar dengan tiga tempat tidur. Sederhana tapi cukup untuk membuat kalian tidak mengeluh seperti bangsawan manja"
Begitu pintu kamar dibuka Elara langsung disambut oleh wangi kayu cendana yang menenangkan. Ada tiga tempat tidur kayu yang tertata rapi dengan sprei kain linen yang bersih.
"Wah akhirnya... kasur!" Mina langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur paling kiri bahkan tidak sempat melepas sepatunya "Lady kalau besok ada gempa tolong jangan bangunkan saya ya..."
"Iya Mina, tidurlah" sahut Elara sambil meletakkan kotaknya di meja samping tempat tidur. Rhea juga sudah mengambil posisi di tempat tidur dekat jendela, matanya tetap waspada memantau situasi sekitar meski tubuhnya juga lelah.
"Sekarang istirahatlah" ucap Kakek Zoff dari ambang pintu "Besok saat cahaya pertama masuk ke celah gua kau sudah harus ada di ruang tengah Elara. Mengerti?"
"Siap Kek! Laksanakan!" jawab Elara sambil hormat gerak. Setelah Kakek Zoff pergi Elara segera naik ke kasur tengahnya dan menarik selimut tinggi-tinggi "Semoga aja besok sarapannya bukan batu ya Rhea..." gumamnya sebelum akhirnya terlelap dalam hitungan detik.
___
Sementara itu di luar gua tepatnya di sisi tebing yang tertutup sihir penghalang suasananya jauh dari kata damai.
Seorang pria bertopeng hitam nampak sedang memukul-mukul udara kosong dengan tangan kirinya. Setiap kali tangannya menyentuh batas tak kasat mata itu percikan api ungu muncul dan menyengat kulitnya.
"Sialan! Kenapa sihir ini keras kepala sekali?!" gerutu Xander, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat gusar. Dia sudah mencoba mencari celah selama lima belas menit tapi dinding tak kasat mata milik Kakek Zoff benar-benar tidak memberi ampun.
Oliver yang duduk santai di atas akar pohon sambil mengunyah dendeng daging hanya bisa menghela napas panjang "Tuan Muda, menyerah sajalah, itu Kakek Zoff sang Pahlawan sihir. Mantranya bisa mengurung naga apalagi cuma pengintai seperti kita"
"Aku harus memastikan dia beneran istirahat Oliver! Bagaimana kalau kakek itu menyuruhnya tidur di lantai batu?!" Xander mencoba lagi kali ini dengan tendangan pelan ke arah penghalang yang langsung dibalas dengan getaran sihir yang membuat kakinya kesemutan hebat "Aduh! Brengsek, sakit juga!"
Oliver tertawa kecil, suara tawanya sangat mengejek di keheningan malam "Wah... Pangeran Ketiga kita yang beringas ternyata bisa merana juga gara-gara tidak bisa melihat Lady Elara tidur, Tuan Muda terlihat bodoh sekali memanjat-manjat tebing seperti ini"
Xander menoleh dengan tatapan membunuh "Kau ingin aku kirim ke perbatasan utara untuk menggantikan Cassian hah?"
"Ampun Tuan, tapi serius, lebih baik kita kembali ke toko daripada di sini lumutan, lebih baik kita cek stok cupcake buat besok" saran Oliver tanpa rasa berdosa.
Xander mendengus kasar, ia menyandarkan punggungnya ke pohon besar sambil menatap ke arah dinding tebing yang tampak kokoh itu "Tiga bulan... tanpa bisa mengawasinya dari jarak dekat rasanya aneh"
"Tuan di dalam sana ada Kakek Zoff, Rhea, dan Mina. Yang harusnya Anda khawatirkan itu nasib Kakek Zoff kalau Lady Elara mulai kumat cerewetnya, bsa-bisa kakek itu yang minta dipulangin!" sahut Oliver telak.
Xander terdiam sejenak lalu sedikit menyunggingkan senyum di balik topengnya. "Benar juga. Dia wanita yang sangat merepotkan"
"Nah gitu dong, ayo pulang Tuan. Kaki saya sudah digigit semut hutan, nanti kalau bengkak saya tidak bisa membuat donat lagi untuk Anda!" keluh Oliver sambil garuk-garuk kaki.
Dengan satu lirikan terakhir ke arah tebing yang membisu Xander akhirnya menghilang ke dalam bayangan diikuti oleh Oliver yang terus mengomel soal semut di sepanjang jalan. Di dalam gua Elara bermimpi sedang makan nasi rendang sebaskom, tidak tahu kalau ada seorang Pangeran Ketiga yang hampir "gila" di luar sana karena terhalang tembok sihir.......
Yahhh Xander ngerasa LDR sama Elara, Padahal Elara ngga ngerasa apa-apa. Kasian banget Xander ngga bisa ngawasin Elara 3 bulan T_T
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/