Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama di Sekte Awan Kelabu
Cahaya fajar pertama menyelinap melalui jendela kamar tamu.
Xiao Chen sudah terjaga. Sebenarnya, dia tidak yakin apakah dia benar-benar tidur. Sepanjang malam, dia hanya duduk bersila di dipan kayu, matanya terpejam, tapi kesadarannya tetap terjaga. Bukan karena dia tidak bisa tidur—dia hanya tidak merasa perlu. Tubuhnya tidak mengenal lelah. Pikirannya tetap jernih tanpa henti.
Dia membuka matanya saat sinar matahari menyentuh wajahnya. Warna ungu keemasan di irisnya menyerap cahaya itu dan memantulkannya kembali seperti permata hidup.
"Pagi," gumamnya pada dirinya sendiri.
Dia bangkit, merapikan jubah putihnya, dan melangkah ke jendela. Dari lantai dua paviliun, dia bisa melihat seluruh halaman Sekte Awan Kelabu. Para murid sudah berkumpul—sekitar tiga puluh orang, kebanyakan remaja dan pemuda, berdiri dalam formasi berbaris. Wei Zhen berdiri di depan mereka, memberikan instruksi dengan suara tegas. Di sampingnya, Wei Ling dan Feng Mo berdiri sebagai murid senior.
Xiao Chen memperhatikan latihan itu dengan rasa ingin tahu. Gerakan-gerakan mereka lambat dan penuh konsentrasi. Tangan mereka membentuk segel-segel aneh, dan aliran energi tipis—nyaris tidak terlihat—bergerak di sekitar tubuh mereka. Itu pasti yang disebut kultivasi.
"Menarik," gumamnya.
Dia berjalan keluar kamar, menuruni tangga kayu, dan muncul di ambang pintu halaman. Kehadirannya langsung terasa.
Satu per satu, para murid berhenti bergerak.
Seorang murid laki-laki yang sedang membentuk segel menjatuhkan tangannya. Murid lain yang sedang menarik napas dalam-dalam tiba-tiba tersedak. Dua murid perempuan di barisan depan—keduanya remaja seusia Wei Ling—langsung membeku, wajah mereka berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik.
Ini pertama kalinya mereka melihat Xiao Chen di bawah cahaya matahari.
Rambut putihnya berkilau seperti benang perak yang dipintal dari cahaya bulan. Matanya yang ungu keemasan bersinar lebih terang dari sebelumnya. Wajahnya... bahkan di antara tiga puluh orang yang terbiasa melihat satu sama lain setiap hari, tidak ada yang bisa menemukan satu pun cacat di wajah itu.
"Semuanya, lanjutkan latihan!" suara Wei Zhen memecah keheningan.
Para murid tersentak, beberapa dari mereka hampir terjungkal karena terlalu lama menahan napas. Mereka kembali ke posisi latihan, tapi jelas bahwa konsentrasi mereka sudah hancur. Terutama para murid perempuan.
Wei Zhen berjalan ke arah Xiao Chen, wajahnya campuran antara pasrah dan sedikit kagum. "Kau sudah bangun."
"Aku tidak benar-benar tidur," jawab Xiao Chen jujur. "Tapi aku merasa segar."
"Tidak tidur?" Wei Zhen mengerutkan kening. "Apa kau berkultivasi semalaman?"
"Aku... tidak yakin. Aku hanya duduk dan berpikir. Tentang banyak hal."
Wei Zhen menatapnya beberapa detik, lalu memutuskan bahwa mencoba memahami pemuda ini adalah usaha yang sia-sia. "Kau ingin belajar tentang dunia ini, kan? Mulailah dengan melihat latihan pagi. Ini dasar dari semua kultivasi—Teknik Pengumpul Napas Fana tingkat Rendah."
Xiao Chen mengangguk dan duduk di anak tangga paviliun, satu kakinya tertekuk, satu tangannya bertumpu di lutut. Posisi yang santai tapi entah bagaimana terlihat... agung.
"Teknik Pengumpul Napas Fana tingkat Rendah," ulangnya pelan, mencerna nama itu. "Kenapa disebut 'Fana'?"
"Karena itu teknik untuk Alam Fana," jawab Wei Zhen. "Semua teknik, artefak, pil, dan formasi dikategorikan berdasarkan alam dan tingkat kualitasnya. Alam Fana adalah tempat kita sekarang—alam terendah dari tiga alam semesta."
"Alam terendah," Xiao Chen mengangguk. "Berarti ada alam yang lebih tinggi."
"Alam Immortal dan Alam Dewa. Tapi itu di luar jangkauan kita." Wei Zhen menatap murid-muridnya yang sedang berlatih. "Bahkan untuk mencapai puncak Alam Fana—Tahap Setengah Dewa—dibutuhkan waktu ratusan ribu tahun. Dan risiko kegagalannya... sangat tinggi."
Xiao Chen memperhatikan seorang murid laki-laki di barisan belakang. Pemuda itu—mungkin sekitar lima belas tahun—sedang mencoba membentuk segel tangan, tapi aliran energi di sekitarnya goyah, tidak stabil. Setelah beberapa saat, dia tersentak, napasnya tersengal, dan dia hampir terjatuh.
"Itu Zhang Yuan," kata Wei Zhen. "Dia sudah di Tahap Pemurnian Qi tingkat 3 selama dua tahun. Belum bisa naik ke tingkat 4."
"Kenapa?"
"Kultivasi tidak mudah, Xiao Chen. Setiap kemajuan membutuhkan akumulasi energi spiritual, pemahaman teknik, dan... bakat. Tidak semua orang dilahirkan dengan bakat yang sama. Zhang Yuan memiliki akar spiritual yang lemah. Dia mungkin butuh sepuluh tahun lagi untuk mencapai tingkat 4—itu pun kalau dia berhasil."
Xiao Chen menatap Zhang Yuan dengan saksama. Ada sesuatu dalam diri pemuda itu—bukan bakat, tapi ketekunan. Meski gagal, dia tidak menyerah. Dia menarik napas, menenangkan diri, dan mencoba lagi.
"Bolehkah aku membantunya?" tanya Xiao Chen tiba-tiba.
Wei Zhen menoleh. "Membantunya bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku merasa... aku bisa."
Wei Zhen ragu-ragu. "Zhang Yuan," panggilnya. "Kemari."
Zhang Yuan tersentak mendengar namanya dipanggil. Dia berjalan ke arah mereka dengan kepala sedikit menunduk—kebiasaan seorang murid yang terbiasa menjadi yang terburuk. "Ya, Tetua?"
"Xiao Chen ingin membantumu."
Zhang Yuan mengangkat kepalanya, dan langsung terpaku saat melihat Xiao Chen. Seperti semua orang, dia butuh beberapa detik untuk memulihkan diri. "A-aku... membantu bagaimana?"
Xiao Chen bangkit dari duduknya. Gerakannya lambat, setiap pergerakan terasa disengaja tapi alami. Dia berdiri di depan Zhang Yuan, dan untuk sesaat, hanya menatap pemuda itu.
"Aku bisa melihatnya," kata Xiao Chen pelan.
"Melihat... apa?"
"Energi di dalam tubuhmu. Itu seperti... sungai kecil yang tersumbat di beberapa tempat." Xiao Chen mengangkat tangannya, dan tanpa menyentuh Zhang Yuan, dia membuat gerakan kecil di udara. "Di sini. Dan di sini. Ada sumbatan."
Zhang Yuan membelalak. "Itu... itu benar. Tetua Wei mengatakan aku memiliki sumbatan di meridian sekunderku. Tapi untuk membukanya butuh Pil Pembersih Meridian Fana tingkat Menengah, dan harganya..."
"Tiga puluh Batu Spiritual Menengah," potong Wei Zhen. "Terlalu mahal untuk murid biasa."
Xiao Chen memiringkan kepala. "Batu Spiritual?"
"Mata uang dan sumber energi untuk kultivasi. Satu Batu Spiritual Menengah setara dengan seribu Batu Spiritual Rendah. Untuk konteks, seorang murid luar seperti Zhang Yuan hanya menerima lima Batu Spiritual Rendah per bulan."
"Hm." Xiao Chen menatap Zhang Yuan lagi. "Kalau begitu, aku akan mencoba cara lain."
Dia meletakkan ujung jarinya di bahu Zhang Yuan.
Sentuhan itu ringan—hampir tidak terasa. Tapi Zhang Yuan langsung merasakan sesuatu. Kehangatan. Bukan kehangatan biasa, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam, seperti sinar matahari yang menembus kulit dan tulang dan mencapai bagian paling dalam dari dirinya.
"Taruh napas dalam-dalam," kata Xiao Chen.
Zhang Yuan melakukannya. Dan saat dia menarik napas, dia merasakan sumbatan di meridian sekundernya... terbuka. Bukan dengan paksa. Bukan dengan rasa sakit. Hanya mengalir, seperti es yang mencair di bawah musim semi.
"Se-sekarang..." suara Zhang Yuan bergetar. "Aku bisa merasakan alirannya. Lebih lancar. Jauh lebih lancar!"
Wei Zhen melangkah maju, matanya membelalak. Dia meletakkan tangannya di punggung Zhang Yuan, mengirimkan sedikit energi untuk memeriksa. Dan apa yang dia temukan membuatnya hampir tidak percaya.
Meridian sekunder Zhang Yuan—yang seharusnya membutuhkan pil langka atau teknik khusus untuk dibersihkan—sekarang terbuka sepenuhnya. Aliran Qi di tubuh pemuda itu sudah mencapai tingkat yang biasanya hanya terlihat pada kultivator Tahap Pemurnian Qi tingkat 5.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Wei Zhen, suaranya hampir berbisik.
"Aku hanya... menginginkannya," jawab Xiao Chen dengan polos.
Zhang Yuan menjatuhkan diri berlutut. "Terima kasih! Terima kasih banyak!" Air mata mengalir di pipinya. "Aku... aku sudah berusaha selama dua tahun. Setiap malam. Setiap pagi. Dan sekarang..."
"Bangunlah." Xiao Chen membantunya berdiri. Senyumnya hangat. "Teruslah berlatih. Sekarang kau tidak punya alasan untuk menyerah."
Zhang Yuan mengangguk dengan semangat baru, lalu berlari kembali ke formasi latihan. Para murid lain menatapnya dengan campuran kagum dan iri.
Wei Ling, yang mengawasi dari dekat, menatap Xiao Chen dengan mata berbinar. Apa yang baru saja dilakukannya... itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh kultivator biasa. Bahkan ayahnya, yang merupakan kultivator Tahap Pendirian Fondasi tingkat 7, tidak bisa membuka meridian hanya dengan satu sentuhan.
"Siapa kau sebenarnya?" bisiknya pada diri sendiri.
—
Setelah sesi latihan pagi selesai, Wei Zhen mengundang Xiao Chen ke ruang kerjanya.
Ruangan itu lebih besar dari kamar tamu, dipenuhi gulungan-gulungan teknik dan beberapa artefak sederhana di rak-rak kayu. Sebuah pedang tua—Artefak Fana tingkat Menengah—tergantung di dinding, bersama dengan lukisan pemandangan gunung berkabut.
"Apa yang kau lakukan tadi pada Zhang Yuan," Wei Zhen memulai, "itu bukan teknik penyembuhan biasa. Itu bukan teknik kultivasi apa pun yang pernah kulihat."
Xiao Chen duduk di bantal tamu, menyilangkan kakinya. "Aku tahu."
"Kau tahu?"
"Aku tahu aku berbeda, Tetua Wei. Sejak aku muncul di bukit itu, aku bisa merasakannya. Kekuatan di dalam diriku... tidak sama dengan apa yang kulihat dari kalian." Dia menatap tangannya sendiri. "Aku tidak perlu mengumpulkan energi. Aku tidak perlu membentuk segel. Aku hanya... melakukan."
Wei Zhen duduk di belakang mejanya, mengusap pelipisnya. "Itu tidak normal."
"Aku tahu."
"Dan kau benar-benar tidak ingat dari mana asalmu?"
Xiao Chen menggeleng. "Aku hanya ingat namaku. Dan kain emas ini." Dia menyentuh balik jubahnya. "Tapi kain itu... aku tidak bisa membacanya. Aku bahkan tidak tahu bahasa apa yang digunakan."
Wei Zhen menatapnya lama. "Kau menyadari bahwa kau bisa menjadi ancaman terbesar yang pernah dilihat kota ini—atau aset terbesarnya."
"Aku tidak ingin menjadi ancaman," kata Xiao Chen. "Aku hanya ingin belajar."
"Belajar apa?"
"Segalanya. Bagaimana kultivasi bekerja. Siapa yang berkuasa di dunia ini. Di mana tempat-tempat berbahaya. Bagaimana orang membuat pil dan artefak dan formasi." Dia menatap Wei Zhen dengan mata yang bersinar. "Dunia ini sangat luas, kan? Ada sembilan benua hanya di Alam Fana saja. Dan di atasnya ada Alam Immortal dan Alam Dewa. Aku ingin melihat semuanya. Tapi aku harus mulai dari suatu tempat."
Wei Zhen terdiam lama.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak disangkanya akan dia lakukan: dia bangkit, berjalan ke rak gulungan, dan mengambil tiga gulungan usang.
"Ini adalah Gulungan Dasar Kultivasi Fana tingkat Rendah," katanya, meletakkan gulungan pertama di meja. "Isinya penjelasan tentang sembilan tahap kultivasi di Alam Fana, dari Pemurnian Qi sampai Setengah Dewa."
"Ini adalah Gulungan Pengenalan Profesi," gulungan kedua. "Menjelaskan tentang Alkemis, Grandmaster Artefak, Grandmaster Formasi, Grandmaster Teknik, dan Tabib Spiritual."
"Dan ini adalah Peta Benua Tengah," gulungan ketiga. "Menunjukkan kota-kota besar, sekte-sekte, dan wilayah-wilayah utama di benua ini."
Xiao Chen menatap ketiga gulungan itu dengan mata berbinar. "Kau memberikannya padaku?"
"Kau ingin belajar, kan? Mulailah dari sini."
Xiao Chen menerima gulungan-gulungan itu dengan kedua tangan—sebuah sikap hormat yang alami. "Terima kasih, Tetua Wei. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
—
Sore harinya, Xiao Chen duduk di bawah pohon di sudut halaman. Tiga gulungan terbentang di depannya, matanya bergerak cepat dari satu gulungan ke gulungan lain. Tangannya sesekali menunjuk bagian tertentu, lalu bergerak ke gulungan lain untuk membandingkan.
Dia sudah membaca semuanya. Sekali. Dan dia mengingat setiap kata.
Gulungan Dasar Kultivasi memberinya pemahaman tentang sembilan tahap Alam Fana. Waktu yang dibutuhkan. Risiko kegagalan. Fenomena yang muncul saat penerobosan. Itu semua masuk akal sekarang—kenapa Zhang Yuan kesulitan naik tingkat, kenapa Wei Zhen harus hidup lebih dari empat ratus tahun untuk mencapai Pendirian Fondasi tingkat 7. Kultivasi memang jalan yang panjang dan sulit.
Gulungan Pengenalan Profesi menjelaskan bahwa selain kultivasi, ada orang-orang yang mengkhususkan diri dalam membuat pil, artefak, formasi, dan teknik. Mereka disebut Alkemis, Grandmaster Artefak, dan seterusnya. Tingkat kemampuan mereka—Murid, Ahli, Master, Grandmaster, Leluhur—menentukan kualitas produk yang bisa mereka buat.
Dan Peta Benua Tengah menunjukkan betapa kecilnya Kota Kayangan Awan. Hanya sebuah titik di perbatasan. Jauh di pusat benua, ada kota-kota besar, sekte-sekte raksasa, dan tempat-tempat yang bahkan di peta ditandai sebagai "berbahaya."
"Alam Fana saja sudah sebesar ini," gumam Xiao Chen pada dirinya sendiri. "Dan masih ada Alam Immortal dan Alam Dewa." Dia tersenyum. "Aku tidak akan bosan."
"Xiao Chen!"
Suara itu milik Wei Ling. Gadis itu berjalan ke arahnya dengan nampan berisi semangkuk nasi dan sayuran. Wajahnya masih sedikit merah—tapi dia terlihat lebih tenang daripada pagi tadi. "Kau belum makan seharian. Aku membawakan ini."
Xiao Chen menatap nampan itu, lalu menatap Wei Ling. "Kau tidak perlu repot-repot."
"Ini... ini bukan repot." Wei Ling meletakkan nampan di sampingnya, lalu duduk dengan jarak yang aman—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. "Kau tamu kami. Sudah tugasku untuk memastikan kau nyaman."
"Kalau begitu, terima kasih." Xiao Chen mengambil mangkuk itu dan mulai makan. Gerakannya sopan, terukur. Setelah beberapa suap, dia berkata, "Kau tahu, kau sangat baik."
Wei Ling hampir menjatuhkan diri dari tempat duduknya. "A-aku hanya melakukan tugasku!"
"Aku tahu. Tapi tidak semua orang akan melakukannya untuk orang asing yang muncul dari retakan ruang." Xiao Chen tersenyum padanya. "Aku menghargainya."
Wei Ling tidak bisa berkata-kata. Dia hanya duduk di sana, memainkan ujung jubahnya, sementara matahari sore mewarnai halaman dengan warna jingga.
—
Malam tiba. Para murid kembali ke asrama mereka. Wei Zhen duduk di ruang kerjanya, membaca laporan harian. Tapi pikirannya tidak bisa lepas dari Xiao Chen.
Pemuda itu telah membaca tiga gulungan dalam satu hari—dan dari apa yang Wei Ling laporkan, dia sudah memahaminya. Itu bukan prestasi kecil. Bahkan murid paling cerdas di sekte ini butuh waktu berminggu-minggu untuk mencerna isi Gulungan Dasar Kultivasi.
Dan yang lebih penting... apa yang dia lakukan pada Zhang Yuan.
Wei Zhen melihat Zhang Yuan sore tadi. Pemuda itu sudah mencapai Tahap Pemurnian Qi tingkat 4—naik satu tingkat hanya dalam waktu setengah hari. Itu hampir tidak pernah terdengar.
"Apa sebenarnya dia?" gumam Wei Zhen pada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang berhembus melalui jendela.
—
Di kamar tamu, Xiao Chen berdiri di depan jendela lagi. Bulan menggantung di langit, cahayanya yang perak menerangi atap-atap Kota Kayangan Awan.
Dia sudah belajar banyak hari ini. Tapi baru sebagian kecil. Sangat kecil. Alam Fana memiliki sembilan benua. Benua Tengah saja memiliki ribuan kota dan ratusan sekte. Dan di atas Alam Fana, masih ada dua alam lagi.
"Langkah demi langkah," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku akan memahami segalanya. Lalu... aku akan menemukan jawabannya."
Tangannya menyentuh kain emas di balik jubahnya. Pola-pola formasi itu berdenyut—pelan, stabil, seolah mengiyakan.
Besok, dia akan melanjutkan belajarnya. Mungkin bertanya pada Wei Zhen tentang sekte-sekte lain. Mungkin menjelajahi kota. Mungkin membantu lebih banyak murid.
Dunia ini terbentang di depannya. Dan Xiao Chen siap.
—
Bersambung ke episode 2...